
Temaram lampu malam ini menemani Banyu dan bapak nya Tasya yang duduk di beranda rumah milik keluarga Tasya. Suara binatang malam sahut menyahut dari balik semak-semak di sekitar rumah yang terletak di pedesaan tersebut. Dua gelas kopi yang masih terlihat uap panas nya terletak diatas meja, berdampingan dengan pisang rebus yang baru saja di rebus oleh menik.
Beberapa pekerja juga masih terlihat membereskan sisa-sisa acara yang tadinya diperuntukkan untuk pertunangan Tasya dan Putra. Tetapi semua rencana berubah begitu saja tanpa terduga. Acara pertunangan itu berubah menjadi acara pernikahan antara Banyu dan Tasya. Walaupun itu semua cukup mengejutkan, terutama bagi warga sekitar dan juga keluarga, tetapi semua berjalan dengan lancar dan nyatanya kini Tasya sudah sah mendapatkan gelar nyonya Banyu pada hari ini.
"Setelah ini apa rencana mu nak?" Tanya bapak nya Tasya, yang duduk tepat di samping Banyu.
Banyu tersenyum dan menatap bapak mertuanya itu. Lalu ia merubah posisi duduknya dan kembali menatap lelaki lanjut usia itu.
"Rencana saya.. hmmm.. mungkin untuk sementara Tasya saya bawa ke rumah saya pak."
"Rumah? Di Jakarta?"
"Iya pak."
"Hmmm.." Lelaki itu hanya mengangguk dan menatap pepohonan yang tumbuh subur di sekitar rumahnya.
"Bagaimana nanti dengan kedua orangtuamu dan juga adik mu yang tau tentang pernikahan kalian?" Tanya bapak nya Tasya lagi.
Banyu terdiam sejenak. Ia belum memikirkan masalah tersebut. Dirinya belum mengatakan apa pun pada keluarga intinya tentang pernikahan dadakan nya yang dilaksanakan tadi sore.
"Tidak mungkin kamu merahasiakan nya kan nang?"
Banyu masih diam membisu. Dirinya terus mencoba mencari jawaban yang tepat untuk ia ucapkan kepada mertua laki-laki nya itu.
Menik kembali muncul di beranda rumah tersebut, membawa satu baskom kacang rebus untuk Banyu dan majikan nya itu. Bapak nya Tasya hanya tersenyum kepada asisten nya itu, kala menik meminta izin untuk meletakkan kacang rebus yang ia bawa di atas meja. Setelah menaruh kacang rebus itu, menik pun menundukkan tubuhnya dan beranjak dari hadapan dua lelaki tersebut.
"Saya akan mengatakan yang sebenarnya, tetapi nanti saat saya dan Tasya menemui kedua orangtua saya," Ucap Banyu.
"Adikmu bagaimana?" Tanya bapak nya Tasya lagi.
"Hmmm.. masalah Putra, dia harus tahu juga yang sebenarnya. Saya tidak peduli apa pun lagi. Sekarang Tasya sudah menjadi istri saya, maka apa pun itu harus berani saya hadapi pak."
__ADS_1
Bapak nya Tasya menatap Banyu dengan seksama. Lalu ia tersenyum puas dengan jawaban menantunya itu.
"Kamu hebat nang.. Bapak tidak salah memilihmu jadi menantu. Yang bapak bingung, mengapa Tasya tidak memilihmu dari awal. Andaikan dia memilih mu dari awal, mungkin tidak ada kejadian seperti ini."
"Semua sudah digariskan pak. Tuhan memberikan jalan seperti ini dulu, agar saya bisa menikahi putri bapak." Sahut Banyu.
Lelaki tua itu tertawa, dan menepuk pundak Banyu yang kokoh.
"Alhamdulillah, kamu yang terbaik di kirimkan Tuhan, sebelum semua terlanjur jadi masalah yang lebih rumit lagi. Kasihan Tasya, saya pernah salah memilihkan lelaki untuk nya. Setelah ia memilih lelaki lain untuk masa depan nya, ia pun mendapatkan yang salah lagi. Tapi, begitulah cara unik Tuhan, kamu datang di waktu yang tepat. Harapan bapak tidak banyak nang, Bapak hanya ingin kamu membahagiakan putri bapak dan mencintainya, sebagaimana bapak mencintai dan membahagiakan dirinya sejak ia dalam kandungan ibunya hingga ia sedewasa ini."
Banyu membalas tatapan bapak nya Tasya, lalu ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan pasti.
"Saya akan berusaha untuk menjadi suami dan bapak bagi Rafis pak. Tolong tegur saya bila ada yang tidak baik dari saya. Saya bersedia untuk merubah apa yang tidak baik dari saya, menjadi baik untuk semua."
"Alhamdulillah.." Dengan mata yang berkaca-kaca, bapak nya Tasya mengangguk dan kembali menepuk pundak Banyu.
"Silahkan di makan nang... mumpung masih hangat."
Mereka berdua pun kembali melanjutkan perbincangan antara dua lelaki di teras rumah tersebut.
.
Putra membuka kedua matanya. Kepalanya terasa pusing, serta wajahnya dan tubuhnya pun terasa nyeri. Ia menatap langit-langit kamar ruang perawatan di rumah sakit itu. Putra mencoba menyentuh wajahnya, terasa sakit yang luar biasa dari hidungnya yang patah yang kini terbalut perban. Ia pun beranjak duduk dan memperhatikan ke sekeliling kamar itu. Terlihat kedua orangtuanya yang tertidur di sofa ruangan itu. Terlihat juga dua orang bodyguard Anton yang berdiri tegak di sudut ruangan seraya menatap dirinya dengan tatapan yang dingin.
"Saya dimana?" Tanya nya dengan suara yang terdengar serak.
Namun, dua orang bodyguard itu hanya diam dan mengabaikan pertanyaan nya.
Merasa todak diacuhkan, Putra pun mencoba memanggil kedua orangtuanya yang sedang tertidur lelap.
"Ambu, bapak.."
__ADS_1
Tetapi kedua orangtuanya itu bergeming. Terlihat dengan jelas lelah, dari raut wajah kedua orangtuanya yang masih tertidur pulas.
Putra mencoba beranjak dari ranjang. Namun seorang bodyguard menghampiri dirinya.
"Mau kemana kau!"
"Sa-sa-saya mau ke kamar mandi," Ucap Putra dengan terbata.
"Tidak kah kau lihat kalau kaki mu masih di gif? Kaki mu patah lagi! Dan lihat ini! Kau cukup buang air disini!" Ucap bodyguard itu seraya menunjuk ke kantung urine yang tersangkut di ujung tempat tidur.
Putra menelan saliva nya. Ia baru menyadari bila keadaan nya saat ini benar-benar babak belur.
"Yang bisa kau lakukan saat ini hanya merenung dan bersiap untuk tidur di hotel prodeo!"
Putra menatap bodyguard itu dengan mata yang mulai basah. Ia menyadari bila kali ini ia benar-benar tidak bisa menghindari masalah. Mau tidak mau dirinya harus melalui hasil dari perbuatan nya. Ia pun tertunduk lesu. Di benak nya muncul bayangan Tasya dan Rafis. Sejak ia meninggalkan acara itu, ia belum sempat meminta maaf pada dua orang yang ia cintai itu. Bagaimana bisa? Dirinya di seret oleh bodyguard Anton begitu saja dari acara yang harusnya menjadi acara yang membahagiakan bagi dirinya tersebut.
Putra mencoba mencari ponsel nya yang entah berada dimana. Ia berniat untuk menghubungi Tasya dan mencoba meminta maaf pada wanita itu. Namun ia tidak melihat ponsel miliknya itu. Ia pun mulai panik dan mencoba bertanya pada dua bodyguard yang sedang menjaga dirinya.
"Ponsel saya mana?" Tanya nya dengan ekspresi wajah yang panik.
Dua bodyguard itu tidak menjawab pertanyaan nya. Melainkan dua bodyguard itu memberikan dirinya secarik kertas pesan terakhir yang di tulis pleh Alia.
"Kamu renungkan saja ini. Ponselmu sudah kami musnahkan."
Putra terkejut, lalu denga tangan gemetar ia meraih secarik kertas yang disodorkan ke hadapannya.
"Simpan baik-baik. Sebagai bahan renungan mu di hotel prodeo nanti." Pungkas bodyguard itu, sebelum bodyguard itu kembali berdiri di sudut ruangan itu.
Putra membaca kertas yang ternoda tetesan darah tersebut. Lalu perlahan air mata terjatuh membasahi pipinya. Ia menyadari, gara-gara dirinya semuanya hancur. Harapan kedua orangtuanya, harapan Tasya dan Rafis, pun juga dengan harapan Anton dan Alia. Ia baru menyadari betapa jahatnya dirinya. Kata-kata Alia yang tertulis di atas kertas tersebut sungguh memilukan. Rasa bersalah pun muncul, namun itu semua terlambat. Anton tidak lagi mau memberikan dirinya kesempatan, kecuali membawa dirinya ke ranah hukum.
Ya, mau tidak mau dia harus mendekam di penjara. Karir nya hancur, masa depan nya pupus, orang tua kecewa, dan dirinya sudah pasti kehilangan wanita yang tulus pada dirinya. Yaitu, Alia.
__ADS_1
"Bodohnya aku." Gumam nya seraya terisak diatas ranjang di ruangan tersebut.