Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
109. Saling memaafkan


__ADS_3

"Mom, siapa dia?" Tanya Eijaz kala mereka sudah duduk di kursi meja makan.


Alia tampak bimbang, ia menatap Eijaz dengan seksama, lalu ia melemparkan pandangannya kepada Putra. Putra pun tampak terdiam, ia tidak tahu akan memulainya darimana.


"Mom.." Panggil Eijaz lagi.


"Hmmm, ya?"


"Dia siapa?" Tanya Eijaz lagi.


"Hmmm.. itu.. hmmm.."


"I'm your father, Eijaz."


Ruangan itu mendadak hening, Eijaz mengalihkan pandangannya kepada Alia yang tampak terkejut dengan pengakuan Putra yang terlalu cepat dan berterus terang.


"My... my... my.. father?" Tanya Eijaz.


"Ya..., Eijaz, papa minta maaf bila selama ini papa tidak ada untuk kamu. Papa mohon, izinkan papa untuk menebus kesalahan papa pada mama dan kamu."


Eijaz masih terdiam, pun dengan Alia yang terus menatap kedua bapak dan anak tersebut.


"Eijaz, selama ini papa kerja di luar negeri. Tepatnya di Indonesia."


"Indonesia? My hometown?"


"Ya..., karena saat itu mama harus pindah ke sini, jadinya papa dan mama untuk sementara waktu berpisah. Sekarang papa datang untuk Eijaz dan mama. Papa rindu sama Eijaz."


Sekali lagi Eijaz menatap wajah sang ibu yang tampak semakin serba salah. Lalu ia menatap Putra yang terlihat begitu haru dengan air mata yang hampir saja menetes dipipi lelaki itu.


"Ma.."


Alia mengangguk tanpa ragu, lalu ia mencoba tersenyum kepada Eijaz dan Putra. Melihat ibunya membenarkan ucapan Putra, Eijaz pun terlihat begitu bersemangat dan langsung memeluk Putra dengan erat.


"Dad!" Seru bocah laki-laki itu."


"My son.." Putra menyambut pelukan Eijaz dengan suka dan cita.


"I miss you dad!" Eijaz menangis haru, namun senyuman tetapnterukir di wajah imut nya. Sedangkan Alia tak kuasa menahan air matanya, hingga ia pun menangis di dalam diam.


"I miss you too my boy! I love you. Maafkan papa yang baru bisa melihat kamu sekarang."


"No problem dad, I love you too!" Seru Eijaz.


Pertemuan itu, menjadi pertemuan yang sangat membahagiakan bagi Eijaz maupun Putra. Sejak pengakuan tersebut, Eijaz tidak mau lepas dari Putra. Ia terus menempel dan tidak mengizinkan papanya untuk jauh-jauh dari dirinya. Eijaz mendadak manja, hingga ia minta disuapi oleh Putra. Pun dengan momen saat Eijaz membuka kado dari Putra yang ternyata isinya adalah tokoh robot di film favorit Eijaz. Betapa bahagianya anak laki-laki itu. Hingga malam semakin larut, Eijaz pun tertidur di pelukan Putra.


"Bisakah kamu memindahkan dia ke kamarnya?"


"Tentu saja." Sahut Putra yang sedang menggendong Eijaz, seraya beranjak menuju ke lantai atas, dimana kamar anak laki-lakinya itu berada.


Dengan berhati-hati, Putra membaringkan tubuh Eijaz diatas ranjang. Lalu menyelimutinya dan mengecup kening anaknya itu. Sedangkan Alia hanya menatap perlakuan Putra kepada Eijaz dari ambang pintu kamar itu. Setelah itu, Putra pun beranjak dari kamar itu dan menutup pintu kamar itu dengan berhati-hati. Lalu ia menatap Alia yang berdiri di hadapannya dengan tatapan yang penuh dengan kerinduan dan juga penyesalan.


"Alia... hmmm.."


"Kita bicara di ruang tamu saja." Potong Alia, seraya beranjak dari hadapan Putra. Mau tidak mau, Putra pun mengikuti apa kemauan sang pemilik rumah tersebut.

__ADS_1


Di ruang tamu, mereka duduk berhadapan. Putra terus menatap Alia yang tampak serba salah kala mengetahui dirinya terus menerus di tatap oleh Putra. Lama mereka saling terdiam, hingga akhirnya Putra memberanikan diri untuk memulai obrolan mereka secara pribadi.


"Seperti tadi yang aku katakan di cafe, aku kesini hanya ingin berteku dengan kamu dan Eijaz. Dan juga..... aku ingin meminta maaf dan mendapatkan maaf darimu."


Alia menatap Putra dengan seksama, lalu ia kembali menundukkan pandangannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Aku tidak bilang, hukuman ku dipenjara selama tiga tahun itu cukup. Aku merasa, kesalahan ku itu terlalu luar biasa. Dengan segala penyesalan, aku mohon maaf darimu Alia," Ucap Putra dengan penuh penyesalan. Lalu ia meraih tangan Alia yang duduk di depannya. Dengan cepat Alia menarik tangannya dan kembali diam seribu bahasa.


"Maaf, kalau tidak boleh menyentuh tanganmu." Putra lembali merasa bersalah karena Alia menarik tangannya sesaat dirinya menyentuh tangan Alia.


"Sekarang kembalilah ke hotelmu. Malam semakin larut. Aku akan menelepon taksi untuk kamu," Ucap Alia seraya beranjak dari duduknya.


"Alia.." Putra menahan tangan Alia dan kini ia menjatuhkan lututnya ke lantai ruangan itu dan dengan penyesalan serta tertunduk dalam, ia pun mulai menangis untuk mendapatkan maaf dari Alia.


"Aku mohon, maafkan aku Al. Aku sudah terlalu jahat dan bersalah padamu. Aku tidak tahu umurku sampai diangka berapa. Yang jelas aku sangat menyesal dan aku harus mendapatkan maaf darimu. Dengan segala kerendahan hati diri yang hina ini, aku mohon kebaikan dirimu untuk memaafkan aku."


Alia terdiam mematung, hatinya terasa begitu perih, hingga ia tak kuasa menahan air matanya yang kini mulai membasahi pipinya.


"Alia... Terserah kamu mau menghukum ku dengan cara apapun. Bahkan, malam ini kamu membunuhku pun aku ikhlas. Asalkan aku mendapatkan maaf darimu. Aku mendengarkan kata maaf dari bibirmu."


Alia masih diam membisu, lalu dengan perlahan ia kembali duduk di bangkunya dan menatap Putra yang masih bertekuk lutut di hadapannya.


"Aku sudah memaafkan kamu," Ucap Alia dengan suara yang terdengar pelan.


Seketika Putra mengangkat wajahnya dan menatap wajah cantik Alia dengan seksama.


"Aku juga ingin meminta maaf darimu, atas apa yang aku lakukan. Aku terlalu memaksakan kehendak kepadamu. Lalu aku memenjarakan kamu, hingga aku menyembunyikan tentang kehamilan ku. Aku minta maaf," Kini Alia menatap kedua mata Putra.


Rasa tak percaya, Putra membalas tatapan Alia yang dengan jujur meminta maaf atas segala yang terjadi diantara mereka berdua.


Alia membalas pelukan Putra, ia tidak tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari. Yang jelas, saat ini ia merasa tenang karena sudah saling memaafkan dan melepaskan masa lalu mereka yang suram.


"Kapan kamu kembali ke Indonesia?" Tanya Alia seraya melepaskan pelukannya setelah sekian menit mereka berpelukan.


"Aku belum tahu, kenapa?" Tanya Putra seraya mengusap air mata yang masih tersisa di pipi Alia.


Terlihat pipi Alia memerah kala Putra bersikap manis kepada dirinya.


"Tidak apa-apa. Kalau masih lama, silahkan kamu menghabiskan waktu dengan Eijaz," Ucap Alia.


"Hanya dengan Eijaz?" Tanya Putra.


Alia terdiam, lalu ia kembali terlihat salah tingkah.


"Aku maunya kita. Bagaimana?"


"Kita?"


"Ya.. Aku ingin Eijaz merasakan dia memiliki orangtua yang utuh. Lalu aku kembali ke indonesia dan mengatakan pada keluargaku bila aku memiliki anak denganmu. Dan....


"Dan apa?" Tanya Alia dengan wajah yang tampak penasaran.


"Dan aku akan menemui papamu."


Alia terdiam saat Putra menyinggung soal papanya.

__ADS_1


"Dimana papamu tinggal saat ini?"


"Masih di Indonesia. Dirumah yang lama." Sahut Alia.


"Apapun konsekuensinya, aku akan memberanikan diri untuk meminta maaf darinya. Bahkan bila dirinya membunuhku pun, aku tidak peduli. Bila dulu aku adalah orang yang pengecut, tetapi tidak kali ini. Aku akan membuktikan kepada semua, bila aku adalah lelaki yang bertanggung jawab atas segala perbuatanku."


Alia terpana saat Putra mengucapkan kata-kata tersebut. Lalu ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Baik, selamat berjuang," Ucap Alia.


"Ya.. Terima kasih."


"Sekarang kamu aku antarkan ke depan. Kembalilah ke hotel, besok kamu bisa datang kembali. Oh iya, jangan lupa diskon untuk furniture yang aku pesan."


"Arghhhh.. wanita.. lagi begini masih ingat diskon." Celetuk Putra.


"Kamu mau maafku atau tidak?" Tanya Alia seraya menahan senyumannya.


"Eh... iya... mau.."


"Ya sudah... diskon dong..! Gimana sih. Ya sudah pulang sana!" Ucap Alia seraya berjalan mengantarkan Putra ke pintu depan rumahnya.


"Gak boleh nginap?"


"Boleh kalau kamu sudah menjadi suamiku."


Dan mereka berdua pun terdiam, lalu Alia tampak menyesal telah mengucapkan kata yang tidak sama sekali ia rencanakan.


"Apa kamu masih mencintai aku?"


Alia menundukkan wajahnya, karena ia tidak ingin Putra mengetahui dirinya masih mencintai lelaki itu.


"Alia.."


"Hmmmm.. ya?"


"Apa kamu masih mencintai aku?" Putra mengulangi pertanyaan nya.


"Pulang sekarang, aku ngantuk. Good night." Alia mendorong tubuh Putra dengan perlahan keluar, lalu dengan cepat ia menutup pintu rumahnya.


Putra tersenyum sendiri, lalu ia terlihat begitu bersemangat meninggalkan kediaman Alia.


"Selamat berjuang Put!" Batin Putra seraya tersenyum sendiri.


Cklek!


Putra menoleh kebelakang, setelah ia mendengar pintu rumah Alia terbuka. Ia menatap Alia yang tampak salah tingkah.


"Boleh menginap?" Tanya Putra dengan antusias.


"Bukan, kamu mau pulang pakai apa? Aku kan belum memesan taksi."


"Oh iya.." Putra menepuk dahinya pelan.


Alia tersenyum dan mulai memesan taksi untuk Putra.

__ADS_1


Lalu mereka berdua duduk di depan rumah hingga taksi pesanan itu datang dan membawa Putra kembali ke hotelnya.


__ADS_2