
Putra melenguh, kala setiap tetes kenikmatan tengah ia rasakan. Seluruh tubuhnya melemas, pun dengan tulang dan sendinya. Ia tergeletak di samping Alia yang tengah merasakan hal yang sama dengan nya. Kini cairan merah mulai membasahi seprai, tanda dirinya baru saja kehilangan keperawanan yang selama ini ia pertahankan. Alia meringis saat melihat seprai ternodai cairan merah yang baru saja keluar dari anggota tubuhnya. Lalu ia menatap Putra yang terlihat tidak peduli kepada dirinya.
"Sayang..." Panggilnya.
Putra menoleh dan mengangkat kedua alisnya, seraya menatap Alia dengan seksama.
"Apa?"
"Darah.." Ucap Alia seraya menunjuk ke seprai.
"Oh.." Hanya itu yang keluar dari bibir Putra. Lelaki itu dengan malas beranjak dari ranjang dan berjalan menuju ke kamar kecil. Alia terperangah saat melihat sikap tak acuh dari Putra. Perlahan air matanya menetes dari sudut mata indah nya.
"Segitu tidak pedulikah kamu?" Batin Alia. Saat itu juga ia mulai merasakan sakit yang luar biasa. Sakit di hatinya mengalahkan rasa sakit di setiap inci tubuh indahnya.
"Jadi, arti ini semua apa?" Batin Alia lagi. Air mata terus mengalir semakin deras, hingga ia terisak di atas ranjang itu.
Sejurus kemudian, Putra keluar dari dalam kamar kecil. Lalu ia menatap Alia yang masih terbaring dengan tubuh yang tertutupi selimut. Putra berjalan mendekati Alia yang sedang menghapus air matanya.
"Kenapa nangis?" Tanya Putra tanpa ada perasaan sama sekali.
Alia menatap Putra dengan tajam, terlihat sekali ia mulai membenci lelaki itu.
"Kenapa?" Tanya Alia tak percaya.
"Iya, bukan nya kita melakukan nya tanpa ada paksaan?"
Deg!
Alia beranjak duduk dengan wajah yang tampak menahan rasa sakit. Lalu ia kembali menatap Putra dengan tatapan penuh rasa kesal.
"Kamu tidak mencintaiku, mengapa kamu melakukan nya padaku?" Tanya Alia, seraya terisak.
__ADS_1
Putra terdiam, lalu ia menghela nafas panjang dan membuang pandangan nya ke sudut ruangan itu.
"Kamu yang mau."
"Aku?" Alia tampak tak percaya dengan jawaban Putra yang terkesan menyalahkan dirinya.
"Aku?" Tanya Alia lagi. Dadanya terasa sesak, air mata semakin deras mengalir di pipinya.
"Ya kamu. Ini semua salah mu yang terlalu murah*n."
Deg!
"Kamu!"
PLAKKKKKK...!
Alia mendaratkan tamparan keras di pipi Putra. Matanya melotot dan nafasnya semakin sesak. Ia tidak menyangka bila dirinya begitu tidak ada harganya sama sekali dimata Putra. Bahkan dirinya dianggap orang yang bersalah atas terjadinya hubungan terlarang ini.
"Kamu!" Alia kembali hendak melayangkan tamparan di wajah tampan Putra. Tetapi, kali ini lelaki itu dengan sigap nenangkap tangan gadis tang sudah tidak suci itu.
"Jangan pernah main tangan denganku! Ini akibat kamu selalu memaksakan kehendak mu padaku. Ini semua salahmu! Kamu yang bersalah! Beginilah resiko perempuan yang terlalu gampang mengejar lelaki. Bahkan, terlalu obsesi ingin memiliki. Yang rugi kamu! Aku tidak ada bekasnya!"
Alia menatap Putra dengan penuh dendam. Tetapi, satu sisi ia sangat mencintai lelaki itu. Memang benar, dikala seorang wanita yang tidak mampu menghargai dirinya sendiri di depan lelaki, tentu saja ia menjadi tidak berharga dimata lelaki itu sendiri. Walaupun sebenarnya lelaki juga salah, bila mengambil kesempatan dalam kelemahan wanita itu sendiri. Wanita terlalu banyak bermain perasaan, sedangkan lelaki hanya mengemukakan nafsu belaka. Kecuali ia bertemu dengan wanita yang benar-benar mampu membuat ketulusan hadir di hatinya.
"Sudah! Sana keluar! Aku sudah tidak membutuhkan kamu. Apa masih kurang, aku siap melayani kamu."
Alia menggelengkan kepalanya. Hatinya benar-benar merasa sakit yang tak terhingga. Ia beranjak dari ranjang dan mengemasi pakaian nya yang tergeletak di atas lantai. Lalu ia memakai pakaian nya dengan air mata yang terus mengalir deras di pipinya.
"Apa? Kamu mau mengatakan nya pada papa mu? Katakan! Biar aku mati sekalian! Aku sudah capek menghadapi kamu yang terlalu obsesi untuk memiliki ku. Bahkan liciknya, kamu menahan ku disini! Kamu pikir aku tidak bisa membalas dendam ku padamu dan papamu. Kamu licik, aku pun bisa licik!"
"Aku bersumpah, suatu saat, kamu yang mengemis padaku!" Ucap Alia dengan suara yang bergetar. Lalu gadis itu beranjak meninggalkan kamar tersebut.
__ADS_1
Putra hanya tertawa kecil kala mendengar ancaman Alia yang baginya tidak masuk akal sama sekali. Ia menganggap semua hanyalah omong kosong semata. Tidak mungkin ia akan mengemis pada Alia, perempuan manja dan murah dimatanya. Sedangkan ia akan segera memiliki Tasya, wanita yang terhormat dan elegan.
"Tidak akan Alia..." Batin Putra.
.
Hari sudah larut malam, jam menunjukkan pukul satu dini hari. Banyu pun bergegas untuk berpamitan kepada Anton, sang pemilik rumah. Setelah ia mendengarkan segala keluh kesah Anton tentang banyak hal, termasuk pekerjaan dan Tasya, wanita yang Anton cintai. Tanpa Anton sadari, wanita yang ia ceritakan pada Banyu adalah wanita yang juga Banyu cintai. Sekaligus wanita yang akan menjadi calon tunangan Putra, yang Anton tahu, dalam waktu yang akan datang lelaki itu akan menjadi menantunya.
"Terima kasih ya Bay.."
"Sama-sama mas," Ucap Banyu, seraya menjabat tangan Anton dengan erat.
"Kamu iti hebat, sesibuk apa pun kamu, kamu selalu ada untuk ku. Oh iya, apa kabar adik mu yang sering kamu ceritakan padaku?"
Banyu terpana sejenak saat Anton bertanya tentang Putra. Memang Anton tidak pernah bertemu sekalipun dengan Putra. Tetapi, Banyu kerap berkeluh kesah tentang Putra kepada Anton. Sama saja seperti yang Anton lakukan kepada Banyu. Mereka saling vercerita tentang apa saja yang membuat mereka terganggu ataupun mencari solusi tentang apa saja.
"Ah.. ya... dia baik-baik saja. Dia akan segera bertunangan." Sahut Banyu dengan sikap yang salah tingkah.
"Kapan-kapan kenalkan aku padanya ya..."
"Siap... mas bro.." Banyu tersenyum canggung dan berjalan ke arah pintu rumah mewah tersebut, di iringi oleh Anton yang hendak mengantarkan Banyu hingga kedepan pintu rumah nya.
Saat tiba di depan rumah tersebut, Banyu langsung memasuki mobil sedan nya dan membuka kaca mobilnya. Ia tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Anton.
"Sampai jumpa.." Ucap Banyu seraya melajukan mobilnya dengan perlahan.
"Sampai jumpa dan terima kasih."
Anton tersenyum melepas sahabatnya itu. Lalu ia kembali masuk kedalam rumahnya setelah ia mengunci pintu rumah tersebut. Ia berjalan ke ruang keluarga. Saat itu ia melihat Alia berlari menuju ke kamarnya. Tetapi tidak ada sedikitpun pikiran aneh pada Anton. Ia menganggap Alia hanya sedang terburu-buru kembali ke kamarnya. Lagi pula ia tidak melihat Alia keluar dari kamar Putra. Ia merasa aman, padahal ia sedang memelihara Serigala berbulu Domba di dalam rumahnya sendiri. Tanpa ia tahu, malam itu adalah malam kehancuran bagi putri nya sendiri.
Begitulah hidup, kala mempermainkan seorang wanita, tidak menutup kemungkinan bila anak mu sendiri menjadi incaran lelaki yang sama denganmu.
__ADS_1