Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
71. Hentikan!


__ADS_3

"Kamu cantik sekali nduk.." Ibunya Tasya berdecak kagum kala melihat Tasya yang baru saja di dandani oleh seorang perias di kamarnya.


Tasya tersenyum kepada ibunya, lalu ia menyambut Rafis yang baru saja memasuki kamar tersebut dan berlari menghampiri dirinya.


"Terima kasih bu.."


"Hai anak mama.."


Tasya mengucapkan Terima kasih kepada ibunya lalu menyapa Rafis dengan wajah yang semringah.


"Mama cantik..!" Seru Rafis seraya memeluk Tasya. Tasya hanya tersenyum menanggapi pujian buah hatinya tersebut.


Tasya memang terlihat sangat cantik pada hari ini. Ia memakai kebaya berwarna baby blue serta kain batik Tumpal yang bercorak segitiga sama kaki di ujung kain nya. Sedangkan rambut Tasya di sanggul sederhana saja dengan sedikit hiasan rambut yang ditancapkan di bagian tepi sanggul. Riasan wajah yang kini melekat di wajah cantiknya pun tampak begitu flawless, namun sangat elegan.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar ketukan dari luar kamar tersebut, dan di susul dengan terbukanya pintu kamar itu. Terlihat bapak nya Tasya memasuki kamar itu dengan tatapan yang terlihat kagum kala melihat Tasya yang sudah siap untuk di lamar oleh Putra.


"Kamu cantik sekali nduk." Ucap bapak Tasya seraya tersenyum kepada anak perempuan nya itu.


"Terima kasih pak." Sahut Tasya serya tersenyum malu-malu.


"Oh iya, calon suami mu dan keluarga nya sudah datang. Apakah kamu sudah siap?"


"Aku sudah siap." Sahut Tasya tanpa keraguan sedikitpun."


"Ya sudah, nanti kalau sudah mulai acaranya kamu turun ya. Bapak dan ibumu turun terlebih dahulu."


"Iya pak."


"Ayo bu."


"Ato Rafis, calon papa mu sudah datang," Ucap bapak nya Tasya.


"Papa!" Seru Rafis seraya berlari menuju ke ruang tamu rumah dengan bangunan berbentuk rumah adat Jawa tengah tersebut.


Kedua orang tuanya Tasya dan Rafis pun meninggalkan kamar Tasya. Sedangkan Tasya kini hanya berdua dengan sang penata rias yang masih membantu dirinya untuk mengoreksi riasan Tasya yang sudah terlihat sempurna tersebut.


.


"Assalamu'alaikum.."


"Waalaikumsalam.." Keluarga Tasya menyambut salam dari Putra dan kedua orangtuanya. Mereka saling bersalam-salaman dan berkenalan dengan calon besan mereka tersebut. Keluarga Putra pun di persilahkan untuk masuk dan duduk di bangku yang telah dipersiapkan untuk mereka. Putra dengan ramah memperkenalkan dirinya dan kedua orang tuanya. Lelaki itu terlihat begitu sopan dan berpendidikan, hingga kesan pertama yang di tangkap kedua orangtua dan keluarga Tasya adalah, Putra adalah lelaki yang terbaik dan yang tepat untuk mendampingi Putra. Terutama saat melihat Rafis yang menyambut Putra dengan pelukan hangat nya. Bocah laki-laki itu terlihat sangat akrab dan sangat menyayangi Putra yang baru pertama kali bertatap muka dengan keluarga Tasya.

__ADS_1


"Wah, sudah akrab dengan calon papanya ya..." Celetuk seorang keluarga dari pihak Tasya. Putra dan kedua orangtuanya hanya tersenyum menanggapi ucapan keluarga Tasya yang tampak kagum dengan kedekatan Rafis dan Putra.


"Papa... papa kemana saja? Papa sudah sembuh?" Tanya Rafis dengan ekspresi wajah polos nya.


"Rafis kan kemarin-kemarin di sini. Kan jauh.. papa jadi baru sempat kesini." Terang Putra seraya mengusap rambut bocah tersebut.


Putra tampak tampan dengan balutan kemeja batik berwarna biru tua, serta celana berwarna hitam. Sedangkan kedua orangtuanya juga tampak rapi. Ibunya Putra memakai setelan kebaya ala Sunda. Sedangkan bapak nya memakai batik yang hampir mirip dengan yang dikenakan oleh Putra.


Setelah berkenalan diantara dua keluarga, tidak menunggu lama, prosesi lamaran pun dimulai dengan pembukaan dan ramah tamah dari pihak keluarga Tasya. Hingga masuklah ke inti acara, yaitu mempertemukan kedua insan yang siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, yaitu mempertemukan Putra dan Tasya.


Tasya melangkag keluar dari kamarnya di iringi seorang sepupunya. Wanita itu berjalan dengan anggun menuju ke ruang tamu yang sudah di dekorasi sedemikian rupa yang diperuntukkan untuk acara lamaran tersebut. Saat Tasya muncul, Putra menatap wanita pujaan nya itu dengan tatapan yang terpesona dan terpana. Lelaki itu menelan saliva nya kala melihat Tasya tersenyum manis kepada dirinya. Pun dengan kedua orang tua Putra yang terpana saat melihat calon menantu mereka yang baru pertama kali ini berjumpa dengan mereka.


"Cantik sekali calon mu jang.." Ucap Ibunya Putra saat Tasya baru saja bersalaman dengan dirinya. Putra tersenyum puas saat mendengar ibunya memuji wanita pilihan nya itu.


"Pastinya dong bu.. ini lebih cantik dari teh Tika bukan?" Ucap nya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, saat menyebut nama almarhumah istri dari kakak nya, Banyu.


"Jelas sekali, ini jauh lebih berkelas dan cantik jang!" Ucap ibunya dengan mata yang terlihat berbinar.


Putra semakin bangga, kala ibunya terlihat sangat mengagumi Tasya yang memang cantik.


Tasya pun duduk di apit oleh kedua orang tuanya. Kedua keluarga inti itu pun duduk saling berhadapan. Kedua keluarga saling bertatapan dan saling mengagumi. Terlihat semua akan berjalan dengan sangat lancar, tanpa ada masalah apa pun kedepan nya.


Keluarga Tasya pun terlihat memuji Putra dan keluarganya yang terlihat begitu mengagumkan. Terutama Putra yang terlihat sangat cocon bila bersanding dengan anak mereka, Tasya. Kedua orang tua Tasya tidak terlihat ragu, kelak melepaskan Tasya ke pelukan Putra. Karena mereka tidak melihat sedikitpun kesalahan pada calon menantu mereka tersebut.


Kini sampaikanlah di puncak acara. Kedua insan yang akan meresmikan hubungan mereka dengan ikatan pertunangan tersebut pun diminta untuk berdiri di samping orang tua mereka masing-masing. Putra mengeluarkan cincin dari saku celana nya yang sudah ia persiapkan untuk calon istrinya tersebut. Seorang pembawa acara menyerahkan sebuah mic kepada Putra. Lelaki itu menyambutnya dengan gestur yang tampak grogi.


"Tasya, maukah kamu menjadi tunangan ku?" Ucap Putra seraya memperlihatkan cincin yang berada di tangan nya kepada Tasya.


Dengan wajah malu-malu, Tasya menatap Putra dengan grogi. Pembawa acara, menyodorkan mic yang sedang ia pegang, mendekat ke bibir Tasya. Agar apa yang diucapkan Tasya dapat terdengar oleh semua orang yang hadir disana.


Tasya menelan saliva nya. Ia menatap kedua orang tuanya dan juga Rafis yang terlihat menunggu jawaban dari dirinya, dengan tatapan yang harap-harap cemas. Lalu Tasya kembali menjatuhkan tatapan nya kepada Putra yang berdiri di depan nya dengan ekspresi wajah yang sama dengan semua hadirin disana. Tasya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan.


"Saya... ber.. se...


"Putra!"


Semua orang menoleh ke arah pintu rumah tersebut. Terlihat seorang lelaki paruh baya dan empat orang bodyguard nya menatap Putra dan Tasya dengan tatapan yang terlihat begitu emosi.


"Apa yang kamu lakukan di sini! Dasar bajingan!" Lelaki itu menghampiri Putra dan bersiap untuk mendaratkan pukulan di wajah Putra yang masih terlihat samar bekas memar di sebagian wajahnya, yang pernah dihadiahkan Anton dan juga beberapa bodyguard nya di wajah Putra.


"Ba-ba-bapak Anton!" Seru Putra dan Tasya.


Mendengar Tasya mengucapkan nama yang sama, Putra pun menatap Tasya dengan seksama. Ia tidak menyangka bila Tasya juga mengenali Anton. Pun dengan Tasya yang terlihat bingung saat mendengar Putra menyebutkan nama boss nya yang pernah mengatakan cinta kepada dirinya.

__ADS_1


"Kamu kenal?" Dengan bersamaan mereka saling bertanya.


Bug!


Saat itu juga Putra terpental ke lantai dan menabrak dekorasi pertunangan nya. Putra tertimpa styrofoam yang bertuliskan namanya yang terjatuh dari dinding dekorasi.


Brakkk..!


Styrofoam yang bertuliskan namanya itu pun patah seiring dengan suara keluhan yang terdengar dari bibir Putra.


Ya, sebuah tendangan mendarat di perut Putra yang sedang memeluk styrofoam yang bertuliskan nama dirinya.


"Lelaki biadab!" Maki Anton yang siap untuk menghantam Putra dengan kursi yang baru saja ia raih dari belakang nya.


"Pak! Apa-apaan ini...!" Seru Tasya seraya mencegah Anton untuk mendaratkan kursi tersebut ke tubuh Putra.


Anton mengurungkan niat nya dan menatap Tasya dengan tatapan penuh amarah dan kecewa.


"Kamu tahu siapa dia?" Tanya Anton seraya menaruh kursi yang sudah ia angkat kembali ke atas lantai.


"Maksudnya?" Tanya Tasya seraya menatap Anton dengan tatapan yang bingung.


"Bapak kenal dengan tunangan saya?" Tanya Tasya lagi.


Anton tersenyum sinis, seraya menahan emosi nya yang kian membara. Lalu ia menunjuk Putra seraya terus menatap kedua mata Tasya yang tampak shock.


"Dia.... dia... dia adalah lelaki brengsek yang telah membuat anak ku jatuh cinta, melecehkan nya dan juga berjanji untuk menikahi anak ku!"


Tasya terbelalak, pun dengan semua orang yang berada disana.


"Tidak hanya itu, dia tinggal di rumahku dan menandatangani surat perjanjian untuk menikahi anak ku!. Dan kini... kau juga ingin merebut wanita yang aku cintai..! Dasar lelaki sampah!!!" Sambung Anton seraya kembali mendaratkan pukulan nya di wajah Putra.


"Hentikannn! Hentikannn! Eh! Kamu teh siapa!" Jerit ibunya Putra yang berlari kearah Putra dan mencoba untuk melindungi anaknya tersebut.


"Ada apa pak? Ada apa! Jangan emosi...! Bapak siapa? Kenapa merusak acara orang lain?" Keluarga Tasya tidak tinggal diam, mereka mencoba menengahkan acara yang dikacaukan Anton tersebut. Namun masing-masing dari mereka di halangi oleh bodyguard yang datang bersama dengan Anton.


"Tidak kah kalian mendengar kata-kata ku? Lelaki itu adalah lelaki yang sudah merusak anak ku dan juga merebut wanita yang aku cintai ini!" Ucap Anton seraya menunjuk Tasya.


Tasya terlihat shock, ia merasa sangat malu dan juga tidak menyangka ataupun tidak percaya dengan semua yang diucapkan Anton. Kedua lutut Tasya pun terasa melemas, tatapan nya pun mulai nanar dan sejurus kemudian mulai gelap. Tubuhnya pun lunglai dan terjatuh di atas lantai. Samar ia mendengar jeritan histeris ibunya dan juga Rafis yang memanggil-manggil namanya.


"Tas!"


"Mama...!"

__ADS_1


Dan hening...


__ADS_2