
"Bagaimana keadaan si brandalan itu?" Anton yang sedari tadi sudah menunggu kepulangan Devonna pun langsung bertanya kepada istrinya itu saat Devonna baru saja muncul di ruang keluarga.
Devonna membanting tas nya dan beranjak duduk di samping Anton.
"Kamu kenapa?" Tanya Anton lagi.
"Aku tidak mengerti mengapa orang tua lelaki itu menyalahkan Alia. Sedangkan Alia adalah korban. Masih untung Alia mau bertanya tentang keadaan lelaki itu." Keluh Devonna.
"Memangnya apa yang dilakukan orang tua lelaki itu?"
"Dia memakiku dan merampas ponselku."
"Hah?" Anton terlihat geram mendengar cerita dari istrinya tersebut.
Ting! Tong!
Bunyi bell terdengar, Anton dan Devonna pun saling bertatapan. Mereka tidak memiliki janji sama sekali dengan siapapun.
Terlihat asisten rumah tangga berlari untuk membukakan pintu rumah tersebut. Tak lama kemudian, asisten rumah tangga itu pun kembali ke ruang keluarga untuk menemui Anton dan Devonna.
"Siapa yang datang?" Tanya Anton kala melihat asistennya datang menghampiri dirinya.
"Mas Banyu pak."
"Banyu?" Anton terlihat terkejut kala mendengar nama tersebut.
"Mau apa dia?" Tanyanya lagi.
"Dia ingin bertemu dengan bapak dan ibu." Sahut asistennya.
"Bagaimana ini Anton?" Tanya Devonna yang terlihat enggan untuk menerima Banyu yang merupakan kakak laki-laki dari lelaki yang telah memberikan dirinya satu orang cucu tersebut. Anton terdiam beberapa saat, lalu ia pun mengizinkan asistennya untuk menerima Banyu dan mempersilahkan lelaki itu untuk ke ruang keluarga.
Selang beberapa menit, terlihat Banyu memasuki ruangan tersebut. Sedangkan Anton dan Devonna menatap dirinya dengan tatapan yang terlihat datar.
"Apa kabar?" Banyu mengulurkan tangannya.
Dengan dingin, Anton dan Devonna mengabaikan begitu saja uluran tangan dari Banyu.
"Silahkan duduk dan berikan penjelasan, ada urusan apa kamu kemari?" Ucap Anton.
__ADS_1
Banyu menghela nafas panjang dan menarik kembali tangannya. Lalu ia duduk di atas sofa empuk yang berada di ruang keluarga tersebut.
"Aku ingin meminta maaf kepada istrimu atas kejadian tadi di rumah sakit." Terang Banyu.
"Lalu?" Tampaknya Anton tak ingin berlama-lama dan banyak basa basi. Ia ingin lelaki dihadapannya itu segera mengutarakan inti dari masalah apa yang membawa Banyu kini duduk dihadapannya.
"Aku ingin membahas masalah Alia dan anaknya," Ucap Banyu berterus terang.
Anton dan Devonna sudah menebak maksud kedatangan Banyu. Hanya saja, mereka ingin mendengar secara langsung dari bibir Banyu.
"Apakah anak itu adalah anak Putra?" Tanya Banyu tanpa basa basi.
"Bukan."
"Anton, come on.." Banyu terlihat memelas untuk kejujuran Anton.
Anton menghela nafas panjang. Ia sebenarnya tidak sedikitpun membenci Banyu. Terlepas Banyu telah menikahi wanita yang sempat ia cintai, Tasya. Hanya saja, ia merasa Putra dan keluarganya tidak perlu mengetahui prihal Eijaz.
"Sudah aku katakan, anak itu bukan anak Putra."
"Lalu? Apakah setelah dengan Putra Alia menikah dengan lelaki lain? Apakah secepat itu? Anak itu berusia Balita!"
"Kenapa? Apakah kau takut mengatakan yang sebenarnya? Anton, dengarkan aku. Kita bersahabat sudah cukup lama. Aku sangat mengenalmu. Jadi tidak usah berbohong kepadaku. Ini menyangkut seorang anak, mengapa kalian tidak mengatakan hal ini kepada keluarga kami!"
"Lalu kau mau apa!" Anton terlihat begitu emosi.
"Aku tahu adikku, dia tidak mungkin jauh-jauh ke Zurich kalau tidak ada tujuannya."
"Putra ke Zurich?" Tanya Anton, lalu ia saling bertatapan dengan Devonna. Devonna hanya dapat mengangkat bahunya.
"Anton aku mohon." Banyu memijat pelipisnya dan sejurus kemudian ia menatap Anton dengan seksama.
"Lupakan masa lalu.. aku mohon. Bila memang Alia dan Putra ditakdirkan bersatu, kita bisa apa? Terutama mereka memiliki seorang anak. Sekarang anak itu membutuhkan seorang ayah."
"Jangan sok tahu kamu Banyu!"
Banyu terdiam, ia seperti kehilangan akal untuk berbicara dengan mantan sahabatnya itu.
"Sekarang lebih baik kamu pergi dari sini. Kami tidak membutuhkan kamu ataupun keluargamu. Terutama adikmu yang sekarat itu."
__ADS_1
Kata-kata Anton begitu menusuk hati Banyu. Lalu ia pun beranjak dari duduknya dan menatap Anton yang terlihat emosi.
"Anton, aku tahu adikku bersalah. Tetapi dia sudah menebus semuanya di penjara. Sekarang dia sudah banyak berubah dan memperbaiki semua kesalahannya. Aku tahu, Alia masih mencintai Putra. Terutama Eijaz yang sudah bertemu dengan Putra."
"Tahu dari mana kamu anakku masih mencintai adikmu yang brengsek itu!" Anton terlihat semakin emosi.
Dengan tenang Banyu merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel milik Putra yang baru saja ia ambil dari pihak yang berwajib. Lalu ia membuka galeri foto yang ada di dalam ponsel tersebut.
"Lihat ini."
Mau tidak mau, Anton dan Devonna melihat layar ponsel milik Putra. Di sana terlihat foto-foto bahagia yang diabadikan oleh Putra selama dirinya di Zurich dengan Alia dan Eijaz.
Lalu Banyu kembali memperlihatkan sebuah video saat Putra, Alia dan Eijaz sedang berkemah di belakang rumah milik Alia.
"Hai, kami sedang berkemah di belakang rumah mamanya Eijaz. Nah.. ini Eijaz, anak papa yang ganteng sekali," Ucap Putra di video tersebut.
"Dan ini adalah wanita tercantik, dia adalah ibu dari anakku, Eijaz." Lanjut Putra seraya memperlihatkan wajah Alia yang tersenyum kearah kamera ponsel milik Putra.
Anton dan Devonna pun terdiam. Mereka tidak menyangka bila Alia tidak memberitahukan prihal kedatangan Putra ke Zurich untuk menemui anak mereka.
"Masih ada lagi," Ucap Banyu seraya memperlihatkan video lain nya yang ada di galeri ponsel itu.
"Hai... kalian begitu mirip," Ucap Alia yang dalam posisi merekam video itu.
"Jelas dong, anak papa Putra!" Ucap Putra seraya mencium lembut pipi Eijaz yang tersenyum kepada Putra. Dalam video itu terlihat sekali keharmonisan Alia dan Putra. Serta kedekatan antara Eijaz dan Putra. Melihat itu semua Anton dan Devonna seperti tidak berdaya. Mereka merasa di khianati anak mereka sendiri, yang sudah mereka wanti-wanti untuk tidak bertemu lagi dengan Putra. Namun takdir berkata lain, Putra menemui Alia dan Eijaz dan anak mereka, Alia tidak bisa menolak lelaki yang sudah buruk citranya di mata mereka.
"Apakah masih maumenyangkal lagi? Masuh banyak video dan foto-foto mereka. Aku kesini bukan untuk cari ribut. Aku hanya ingin kamu jujur Anton, walaupun aku sudah tahu jawabannya." Tegas Banyu.
Anton tertunduk gelisah. Ia sudah tidak bisa mengelak lagi tentang sosok Eijaz.
"Aku sudah menghubungi Alia melalui ponsel Putra. Dia akan segera ke Indonesia, besok lusa. Aku permisi dulu." Banyu mulai beranjak untuk meninggalkan ruangan tersebut.
"Banyu." Panggil Anton.
Banyu menghentikan langkahnya, lalu menoleh dan menatap Anton dengan seksama.
"Mari kita bicara empat mata." Pinta Anton dengan segala keegoisannya yang mulai luntur.
Banyu menghela nafas panjang dan tersenyum. Lalu ia mengangguk untuk menyetujui ajakan lelaki yang pernah menjadi sahabat dekatnya itu.
__ADS_1