Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
121. Pernikahan (End)


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu pasca kecelakaan yang menimpa Putra. Hari ini adalah hari pernikahan Putra dan Alia. Pernikahan yang di tunggu-tunggu oleh kedua mempelai, akhirnya sudah di depan mata. Pernikahan yang bernuansa putih itu dilaksanakan di kediaman Anton, selaku orangtua dari pihak wanita.


Terlihat dekorasi bunga-bunga yang indah melengkapi tema pernikahan putih ini. Seluruh tamu undangan dan keluarga pun memakai pakaian serba putih. Sebenarnya ada arti tersendiri mengapa Alia dan Putra memilih nuansa putih tersebut. Bagi mereka berdua, putih adalah lambang kesucian. Mereka hendak melangkah dengan hati yang suci, pun dengan kedua keluarga mereka yang kembali ke fitri, saling memaafkan dengan setulus hati. Maka dari itu, nuansa putih menjadi pilihan mereka berdua.


Alia yang baru saja selesai di rias, duduk di depan cermin, di kamarnya. Ia terus menatap wajahnya yang cantik dengan senyuman yang mengembang di sudut bibirnya. Namun walaupun ia tersenyum, tetap terlihat dirinya yang grogi karena ijab qobul akan di laksanakan beberapa menit lagi.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar ketukan dari luar kamarnya. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka dan terlihat Anton dan Devonna memasuki kamar tersebut. Alia menatap kedua orangtuanya dengan tatapan haru yang tak dapat ia bendung. Air mata menetes di pipinya yang merona karena sentuhan blush-on. Alia langsung memeluk kedua orangtuanya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Lantas Devonna langsung membalas pelukan putri semata wayangnya tersebut, sedangkan Anton terlihat ragu saat hendak membalas pelukan sang putri.


"Ma, pa.. Terima kasih sudah memberikan restu untuk Alia," Ucap Alia di sela tangisannya.


"Iya sayang," Sahut Devonna. Namun Anton masih diam membisu. Walaupun ia sudah mengizinkan Alia menikah dengan Putra, namun sebagai seorang ayah, dirinya masih belum rela melepaskan Alia kepada lelaki yang pernah menyakiti putrinya tersebut. Namun ia berusaha menepis segala perasaan yang mengganjal tersebut, hanya demi kebahagiaan Alia dan Eijaz.


"Pa.. Terima kasih, karena papa bersedia menjadi wali Alia." Sambung Alia.


Anton menundukkan wajahnya dan menghela nafas panjang. Lalu ia hanya mengangguk dan berusaha tersenyum kepada Alia.


"Mama!" Eijaz berlari masuk kedalam kamar tersebut dan lantas langsung memeluk sang ibu dengan erat.


"Sayang.." Sambut Alia dengan wajah yang tampak begitu bahagia.


"Mama cantik sekali..!" Seru Eijaz.


"Terima kasih sayang." Alia tersenyum dan membalas pelukan sang putra.


"Oh iya, papa sudah datang."

__ADS_1


"Oh ya?"


"Iya.. aku disuruh memanggil mama, opa dan oma." Terang Eijaz.


"Ok, sekarang.. Eijaz kembali ke sana ya. Mama mau bicara sama opa dan oma dulu. Nanti mama menyusul," Ucap Alia.


"Siap mama!" Sahut Eijaz dengan bersemangat dan kembali berlari keluar dari kamar itu.


Kini Alia kembali menatap kedua orangtuanya dengan kedua mata yang berbinar.


"Apa kamu siap?" Tanya Anton dengan suara yang nyaris tak terdengar. Lalu ia mengulurkan tangan nya yang gemetar untuk menuntun putri semata wayangnya itu untuk dinikahkan dengan pria pilihan putri nya.


Alia hanya mengangguk dan menyambut tangan sang ayah. Lalu ia juga menggandeng tangan sang ibu, dan mereka pun berjalan menuju ke halaman rumah mereka, dimana proses ramah tamah dan akad akan dilaksanakan disana.


.


Beberapa menit kemudian, terlihat sang pengantin wanita melangkah mendekati keluarga Putra yang sudah duduk di kursi yang di sediakan. Sang pengantin wanita terlihat begitu anggun tak tercela. Melihat kedatangan Alia, Putra tak kuasa menahan rasa haru nya. Hingga ia menangis kala melihat betapa cantiknya calon istrinya itu dengan balutan kebaya berwarna putih. Ambu mencoba menenangkan Putra yang menangis penuh emosional. Hingga Alia pun kini duduk di depan nya. Tatapan Putra begitu penuh arti, pun dengan Alia yang tersenyum kepada Putra yang sesekali menyeka air matanya.


Acara ramah tamah pun dimulai, kedua keluarga bertemu di tengah-tengah. Sebagai orang tua dari pihak laki-laki, ambu menyerahkan seserahan untuk Alia, sebagai bagian tradisi dari kedua keluarga yang sebentar lagi akan menjadi satu. Setelah acara ramah tamah, tibalah saatnya acara akad yang di tunggu-tunggu oleh kedua mempelai dan juga para tamu undangan. Alia dan Putra diminta untuk duduk berhadapan dengan Anton dan juga penghulu yang sudah lebih dahulu duduk di kursi tepat di depan meja akad. Terlihat sekali wajah kedua mempelai begitu tegang. Tidak hanya kedua mempelai, ketegangan itu juga melanda Anton yang akan menikahkan putri nya dengan Putra.


"Apakah sudah siap?" Tanya penghulu kepada kedua mempelai.


"Siap," Sahut Putra dengan bersemangat. Sedangkan Alia hanya mengangguk dan tersenyum.


Penghulu pun mulai melakukan rangkaian tata cara sebelum ijab qobul. Mulai dari doa, hingga nasihat untuk kedua mempelai. Semua orang mendengar dengan seksama. Suasana pun terasa hening dan khidmat.


Setelah semua terlewati, tibalah saatnya Anton mengucapkan Ijab untuk Putra dan di lanjutkan Qobul yang harus Putra sebutkan dengan sekali tarikan nafas. Suasana terlihat begitu tegang, hingga Anton selesai mengucapkan kalimat Ijab dan di sambut kalimat Qobul dengan lantang dan lancar oleh Putra.

__ADS_1


"Sah?" Tanya sang penghulu kepada para saksi yang termasuk Banyu diantaranya.


"Sah...!" Sahut para saksi.


"Alhamdulillah.." Sahut semua para undangan dan kedua mempelai.


Alia dan Putra kini sudah sah menjadi suami istri, baik di mata Agama maupun di mata hukum. Putra pun tersenyum bahagia saat Alia mengecup punggung tangan nya. Ia sangat bersyukur pada akhirnya Alia sudah sah menjadi miliknya seutuhnya. Sedangkan Alia dengan suka cita menyambut kecupan pertama Putra di keningnya.


Acara pun dilanjutkan dengan acara 'sungkem'. Yang dilakukan kedua mempelai kepada kedua orangtua dan mertua mereka dengan tujuan berterima kasih, memohon restu dan doa-doa terbaik dari kedua orangtua, maupun mertua mereka.


Tiba saatnya Putra harus sungkem kepada Anton. Dengan ekspresi yang datar, Anton menyambut Putra yang bertekuk lutut dihadapannya.


"Om.. eh.. pa... saya..."


Belum selesai Putra menyelesaikan satu saja kalimat, Anton langsung memotong ucapan Putra.


"Sekali saja kau sakiti Alia, ku gantung kau di puncak Monas!" Bisik Anton.


Seketika Putra merinding mendengar ancaman Anton. Ia hanya tertunduk lesu dan terus mengecup punggung tangan Anton yang terlihat malas saat Putra mengecup punggung tangannya.


Kini Putra beranjak ke Devonna. Terlihat ekspresi yang sama seperti Anton di wajah Devonna. Wanita itu terlihat malas namun terpaksa menerima Putra melakukan tradisi 'sungkem' di hadapannya.


"Ma... saya..."


"Tidak usah banyak bicara, kalau kau berani mempermainkan anak ku lagi. Ku potong timun mu!" Bisik Devonna. Putra terus merunduk dengan wajah yang mulai terlihat pucat.


"Hufff.. pernikahan yang penuh dengan ancaman!" Batin Putra. Namun ia berusaha memaklumi sikap kedua mertuanya itu. Setelah apa yang pernah ia lakukan kepada Alia selama ini. Yang terpenting bagi Putra saat ini adalah, dirinya sudah berhasil menikahi Alia dan bercita-cita akan membahagiakan istri dan anaknya tersebut.

__ADS_1


Setelah semua rangkaian acara di lewati, tibalah saatnya Putra dan Alia bersanding di pelaminan. Seluruh tamu undangan mulai memberikan selamat kepada kedua mempelai. Band pun mulai melantunkan lagu-lagu cinta yang terdengar begitu indah. Hari ini, acara pernikahan mereka berjalan dengan lancar, dan di tutup dengan foto keluarga yang kelak akan Putra dan Alia cetak dan di gantung di dinding rumah mereka.


__ADS_2