Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
106. Bencilah aku, sampai rasa benci itu hilang


__ADS_3

"Sedang memikirkan apa?"


Alia tersadarkan dari lamunan panjangnya tentang pertemuan dirinya dengan Putra tadi malam. Lalu ia menatap Greta yang memang berpura-pura tidak tahu akan kejadian yang Alia alami tadi malam.


"Ti-ti-tidak ada." Alia mencoba tersenyum dan mengalihkan pandangannya dari wajah Greta.


"Hmmm, bagaimana kabar perusahaan mebel lain nya?" Alia mencoba mengalihkan pembicaraan, sebelum Greta banyak bertanya kepada dirinya.


"Hmmmm..." Greta terlihat bimbang untuk berkata-kata. Sebenarnya dirinya sudah menerima katalog dari perusahaan lain yang mencoba memberikan penawaran kepada perusahaan Alia. Namun ia merasa bimbang untuk berterus terang. Masalahnya ia ingin sekali Alia dapat berhubungan kembali dengan Putra. Bukan karena dirinya membela Putra, tetapi Greta hanya ingin masalah Alia dan Putra dapat menemukan jalan tengahnya. Terutama karena Putra dan Alia memiliki seorang anak yang tidak pernah merasakan indahnya memiliki seorang ayah.


"Greta..?"


"Ah.. iya?" Greta tersadar dari lamunannya, ia berpura-pura untuk mengecek email yang ada di kotak masuk alamat email perusahaan itu. Lalu ia menghapus semua penawaran dan setelah itu ia kembali menatap Alia dengan tatapan yang terlihat kecewa.


"Yah.. belum ada yang menawarkan ke kita." Ucapnya dengan nada bicara yang terdengar sangat kecewa.


"Apa-apaan ini! Sombong-sombong sekali mereka. Kita mau beli loh! Dan ini tidak murah!" Alia terlihat kesal sekali.


"Ya.. mungkin mereka merasa pengiriman itu sulit keluar negeri bu."


"Dari sekian banyak perusahaan?" Tanya Alia.


Greta hanya mengangguk dan kembali berpura-pura sibuk.


"Arghhhhh..!" Alia memukul meja kerjanya dan meremas rambutnya sendiri. Sebentar lagi perusahaan barunya yang mengusung tema Indonesia akan segera grand opening. Tetapi mebel yang ia butuhkan tidak kunjung deal dengan perusahaan perusahaan mebel di Indonesia.


"Bu..."


"Ya?" Alia menatap Greta dengan tatapan panik.


"Perwakilan dari perusahaan Banyu Biru kan sudah datang ke sini. Pembicaraan kita di email kan banyak ketidakpuasan nya. Kenapa tidak ibu temui saja utusan perusahaan itu?"


Alia terdiam, lalu ia melirik tanggalan yang berada di atas meja kerjanya. Tinggal dua bulan lagi, perusahaan nya yang baru harus di buka.


"Mana tahu kan, lebih enak berbicara langsung daripada di email. Dan mana tahu juga bisa deal dengan harga yang di discount."


Mendengar kata diskon, Alia membulatkan matanya. Lalu ia mengangguk paham dengan masukan yang diberikan oleh Greta.


"Bagaimana bu?"


"Boleh, kapan saya bisa bertemu dengannya?" Tanya Alia dengan bersemangat.


"Dia selalu bisa kapan saja, katanya. Ibu mau jam berapa? Biar saya infokan kepada dia."


"Hmmmm," Alia melirik arlojinya. Saat ini sudah memasuki waktu makan siang.


"Sekarang! Bilang sama dia, kalau saya akan menemui dia di caffe shop di simpang jalan itu." Tegas Alia.

__ADS_1


"Baik bu." Greta tersenyum lebar. Semua rencananya berjalan dengan mulus tanpa harus menimbulkan kecurigaan dari Alia.


.


Putra termenung di balkon kamar hotelnya, mengingat kejadian tadi malam dan sikap Alia kepada dirinya. Ia paham, mengapa Alia begitu membenci dirinya. Karena memang segala perbuatan dirinya kepada Alia di masa lalu, tidak ada yang baik. Putra merasa sangat menyesal dengan segala yang pernah terjadi. Bahkan ia sesekali memukul pipinya sendiri dengan Sekuat-kuatnya.


"Bodoh lu Put! Bodoh!" Ucapnya dengan penuh emosi seraya menampar pipinya sendiri hingga menyisakan bekas merah di pipinya sendiri.


"Kenapa lu dulu brengsek banget! Sekarang mau lu jujur, mau lu sudah berubah pun, tidak akan ada yang percaya sama lu!" Sesalnya seraya meremas rambutnya Sekuat-kuatnya.


Ting!


Putra melirik ponselnya yang berada di atas meja. Lalu dengan malas ia pun meraih ponsel itu dan mulai membaca pesan yang baru saja ia terima.


"Greta?" Batinnya. Kini wajahnya tampak mulai bersemangat. Lalu ia membuka pesan dari wanita yang sudah sangat baik mau membantu dirinya itu.


Hai, Alia sudah mau bertemu denganmu. Satu yang saya harapkan, jangan pernah kecewakan dia. Bila harus mengemis, mengemis lah. Tahan emosimu, anggap semua adalah penebus dosa-dosa mu di masa lalu. Oh iya, berpura-pura lah kamu tidak tahu bila pemilik perusahaan Eijaz adalah Alia. Saya sengaja mengatur pertemuan kamu dan Alia. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan ini.


Air muka Putra berubah menjadi penuh harapan. Ia tersenyum riang dan segera membalas pesan dari Greta.


Greta, terima kasih banyak. Aku tidak akan pernah mengecewakan siapa pun lagi. percayalah. Kapan pertemuannya?


Ting!


Ponsel Putra kembali berbunyi setelah ia menunggu kurang lebih tiga menit lamanya.


Balas Greta dengan melampirkan alamat coffee shop yang ia maksud.


Baik, aku akan segera kesana!


Balas Putra.


Putra langsung melompat dari duduknya dan segera mengganti pakaiannya. Wajahnya terlihat berseri-seri. Seakan ia menaruh harapan besar dari pertemuan dirinya dengan Alia kali ini.


"Bismillahirrahmanirrahim.. Ya Allah, lembut kan lah hati Alia. Aku mohon, lancarkan lah niat baik ku untuk Alia dan Eijaz." Batin nya, sebelum ia meninggalkan kamar hotelnya untuk menemui wanita dari masa lalunya itu.


.


Alia membuka pintu coffee shop yang terletak tidak jauh dari kantornya. Beberapa pegawai coffee shop itu menyapa dirinya dengan ramah saat Alia memasuki caffe shop itu. Alia tidak sekali dua kali mampir ke coffee shop tersebut, oleh karena itu seluruh pegawai yang ada di coffee Shop itu sudah mengenal dirinya dengan baik.


"Guten Tag, Alia!" Sapa mereka dengan senyuman yang ramah.


"Hai... Guten Tag." Sahut Alia seraya berjalan menuju meja favoritnya yang ada di coffee shop itu. Seperti biasa, seorang pegawai menghampiri dirinya dan memberikan buku menu kepada Alia. Alia yang lapar, akhirnya memesan segelas kopi dan sepiring cordon bleu. Cordon bleu adalah satu masakan dari Swiss yang popular , yang memiliki komposisi berupa potongan daging yang diisi oleh irisan tipis ham dan keju Gruyère, lalu diberi lapisan tepung roti dan digoreng dalam minyak panas dalam wajan ataupun dipanggang dalam oven. Menu ini juga termasuk makanan favorit Alia di Negara itu. Setelah memesan menu yang ia inginkan, Alia kembali tenggelam dalam lamunannya tentang kejadian tadi malam.


Bagaimana bisa dia tahu alamat rumahku? Apa yang dia mau dariku? Mengapa ia baru muncul? Kenapa dia dulu begitu jahat padaku? Mengapa dia tahu bila Eijaz adalah anaknya? Mengapa? mengapa dan mengapa? Ribuan pertanyaan memenuhi otak Alia yang kini semakin stress, setelah ia merasa begitu stress dengan pekerjaan dan sikap Eijaz belakangan ini kepada dirinya.


"Selamat siang ibu Alia, saya utusan dari perusahaan Banyu Biru."

__ADS_1


Alia yang sedang termenung dan menatap keluar jendela, pun menoleh ke arah sumber suara yang baru saja menyapa dirinya. Saat itu juga kedua mata indahnya terbelalak, ia benar-benar tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat.


"Ka-kamu!"


"Boleh aku duduk disini? Kita berbicara sebagai dua orang yang profesional dalam bekerja."


Alia terdiam, lalu ia mengingat perusahaannya yang mulai di pepet deathline.


"Aku datang sebagai utusan yang ingin meminta maaf atas kesalahan komunikasi antara perusahaanmu dan perusahaan milik kakak ku. Sebagai permintaan maaf, kami akan memberikan diskon dan juga bonus beberapa set meja dan kursi ukiran Jepara."


Alia menghela nafas panjang dan kembali melemparkan pandangannya keluar jendela.


"To the point saja Putra. Perusahaan mana yang mau membiayai utusan hanya untuk meminta maaf jauh-jauh dari Indonesia ke Swiss? Tujuanmu itu hanya satu, aku dan Eijaz. Darimana kamu tahu kalau aku disini? Dan masalah Eijaz, dia bukan anakmu."


Putra terus menatap Alia yang duduk di depannya tanpa mau kembali menatap dirinya yang terlihat pasrah dengan sikap sinis Alia.


"Ya.. aku kesini karena kalian berdua. Mengapa baru sekarang? Karena aku baru tahu keberadaan kamu. Tanpa adanya Eijaz pun, aku sudah berniat untuk menemui kamu dan meminta maaf atas segala perbuatanku padamu. Ternyata, aku baru tahu bila ada Eijaz. Disitulah niatku untuk segera menemui kalian berdua begitu menggebu-gebu. Aku tidak ingin menunda untuk memohon maaf darimu. Aku menyesal, aku bodoh dan juga brengsek."


Alia menggeser tatapannya, kini ia membalas tatapan Putra yang terlihat begitu dalam penuh makna.


"Alia, ada banyak pelajaran yang aku petik. Aku tahu aku tidak mungkin termaafkan. Tetapi, setidaknya aku berhenti menjadi seorang pengecut. Aku mohon maaf, aku menyesal. Saat ini kamu mau menghukum aku dengan cara apapun aku akan terima."


"Rasanya aku ingin membunuhmu," Ucap Alia dengan nada suara yang terdengar begitu menyeramkan di telinga Putra.


"Hmmm, gitu ya..? Ti-tidak apa-apa. Aku pasrah. Tetapi, sebelum aku mati, maukah kamu berkata jujur? Eijaz itu anak ku bukan?"


"Bukan!" Alia terlihat begitu emosi.


"Lantas mengapa dia begitu mirip denganku?"


Kali ini pertanyaan Putra membuat Alia tidak mampu berkata-kata.


"Aku akan bertanggungjawab atas Eijaz. Bagaimanapun dia adalah darah dagingku. Maafkan aku yang tidak ada untukmu saat kamu menghadapi segala kesulitan dalam mengandung dan membesarkan dirinya. Aku tidak diakui atau kamu mau dia tidak tahu kalau aku adalah bapaknya, tidak apa-apa. Itu semua hak kamu sebagai orang yang telah aku kecewakan dan hancurkan dengan kebodohanku di masa lalu. Tetapi, izinkan aku membiayai dan juga tahu kabarnya. Hanya itu Alia."


Alia masih diam membisu. Segala yang diucapkan oleh Putra seakan-akan membuat amarah dihatinya perlahan mulai padam.


"Alia.. bencilah aku sampai rasa benci itu hilang. Tetapi, izinkan aku untuk setiap harinya meminta maaf kepadamu. Aku memang salah dan aku telah menyadari itu semua. Aku benar-benar menyesal berbuat dan melontarkan segala kata-kata yang membuat kamu kecewa hingga membenciku."


Air mata kini menetes di pipi Alia. Lalu ia beranjak dari duduknya dan menyelipkan beberapa lembar uang kertas untuk membayar pesanannya yang belum sempat diantarkan ke meja nya. Lalu ia berjalan meninggalkan coffee shop itu. Melihat sikap Alia seperti itu, Putra pun hanya bisa pasrah. Ia sudah berjanji pada Greta bila ia tidak akan egois dan memaksakan kehendaknya kepada Alia. Kini ia ingin memberikan ruang untuk Alia memikirkan segala ucapan fan permintaan maaf darinya.


.


.


.


Alia melangkah seraya menyapu air matanya yang memburamkan pandangan matanya. Ia berjalan kembali ke kantornya. Segala perasaan bercampur aduk dan berkecamuk di dalam hatinya.

__ADS_1


"Tuhan... apakah ini jawaban dari doaku beberapa hari yang lalu?" Batin Alia.


__ADS_2