
Tasya menatap Banyu yang sedang membersihkan luka di betis nya. Tidak sekalipun wanita itu melepaskan pandangan nya dari wajah tampan lelaki yang sedang berjongkok di depan nya itu. Sesekali tampak Banyu mengusap peluh yang terus mengalir hingga ke tulang pelipis nya yang terlihat begitu sempurna.
"Ahhh..." Tasya meringis kala Banyu membubuhi obat luka di bekas goresan yang berbentuk memanjang di betis Tasya.
"Maaf," Ucap Banyu tanpa sekalipun melirik Tasya.
Suasana kembali hening di antara mereka berdua. Walaupun sekitar mereka suara mesin milik pekerja bangunan yang sedang memotong keramik, begitu memekakkan telinga.
"Pukul berapa kita ke bandara?" Tanya Banyu, lagi-lagi lelaki itu tidak berani menatap Tasya yang masih terus menatap dirinya.
"Pukul setengah sebelas mas, karena kita harus chek-in pukul dua belas siang. Sedangkan keberangkatan pesawat pukul satu kurang." Jelas Tasya dengan ekspresi wajah yang terlihat datar.
"Ok, sudah." Banyu menurunkan kaki Tasya yang bertumpu di dengkul nya ke atas lantai.
"Terima kasih mas, maaf aku merepotkan," Ucap Tasya seraya memperhatikan perban yang Banyu balut di betis nya.
"No problem. Apa kamu bisa jalan?"
"Bisa." Sahut Tasya seraya beranjak dari duduk nya dan meraih tas tangan milik nya yang ia taruh di atas meja.
"Apa kita ke bandara sekarang?"
Tasya membulatkan matanya, lalu ia melirik arlojinya. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Segitu terburu-buru nya?" Tanya Tasya.
"Dari pada macet." Sahut Banyu seraya meraih koper kecil milik nya.
Tasya hanya mengangguk dan ikut meraih koper milik nya.
"Aku saja yang bawa. Kamu jalan saja duluan." Banyu meraih koper milik Tasya dan menatap Tasya dengan tatapan matanya yang teduh.
"Baiklah," Tasya berjalan mendahului Banyu. Sedangkan Banyu menyusul Tasya dengan dia koper kecil di kedua tangan nya. Ia terus memperhatikan Tasya yang berusaha jalan sesempurna mungkin, walaupun rasa nyeri di betis nya begitu mengganggu wanita itu.
Mereka berdua kini sudah berada di depan kantor. Kebetulan kantor itu terdapat tepat di pinggir jalan utama Kota Semarang, maka mereka tidak perlu susah-susah untuk mencari taksi. Banyak taksi dan kendaraan lain nya yang melintas hampir setiap detik di jalan tersebut. Para pekerja tersenyum saat melihat mereka keluar dari kantor itu. Banyu dan Tasya pun membalas senyuman para pekerja dengan ramah.
"Sudah mau pulang bu, pak?" Tanya mandor yang sedang mengawasi para pekerja nya.
"Iya mas, saya tinggal dulu ya," Ucap Tasya dengan ramah.
"Baik bu, pak, hati-hati di jalan."
"Terima kasih." Sahut Tasya dan Banyu.
Tak lama kemudian sebuah taksi berhenti tepat di depan mereka. Dengan sigap, Banyu membukakan pintu untuk Tasya dan membiarkan Tasya untuk masuk terlebih dahulu. Setelah itu, Banyu membantu supir taksi memasukkan koper miliknya dan Tasya kedalam bagasi taksi. Setelah memastikan koper-koper tersebut masuk kedalam bagasi, Banyu pun menyusul Tasya untuk duduk di kursi penumpang. Lagi-lagi mereka duduk bersebelahan dengan wajah yang terlihat canggung.
__ADS_1
"Nanti, main-main lah dengan Putra ke rumah ku. Jangan lupa membawa anak mu." Banyu berusaha memecah keheningan diantara dirinya dan Tasya, saat taksi sudah berjalan sekitar lima menit meninggalkan kantor.
Tasya menoleh dan menatap Banyu dengan seksama. Lalu ia tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
"Banyak-banyak bersabar dengan Putra ya.."
Tasya yang baru saja membuang pandangan nya ke luar jendela, kembali menatap Banyu dengan kerut di keningnya.
"Maksudnya?" Tanya Tasya.
"Ya, terkadang dia sedikit kekanak-kanakan. Maklum lah, dia anak bontot."
Tasya kembali tersenyum dan menundukkan pandangannya.
"Selama ini dia cukup dewasa dan baik kepada anak ku. Tidak sedikitpun ada terlihat kalau fia kekanak-kanakan."
"Ya... mungkin saat ini dia ingin mengambil hatimu. Maka, sikap dewasalah yang ia keluarkan untuk mencuri perhatian kamu."
Tasya tertawa mendengar ucapan Banyu.
"Memangnya seperti apa sisi kekanakan mas Putra, mas?"
"Ya ada saja... nanti juga kamu tahu." Banyu tersenyum tipis dan membalas tatapan Tasya.
Tasya menundukkan wajahnya. Ia tidak menyangka bila Banyu berbicara seperti itu kepada dirinya. Kini Tasya percaya, bila Banyu benar-benar menganggap dirinya hanya sebatas calon adik ipar saja, tidak lebih. Tasya menghela nafas panjang, ada perasaan kecewa di hatinya.
"Mas,"
"Ya?" Banyu menoleh dan menatap Tasya dengan seksama.
"Apa aku boleh melihat foto Tika?"
Banyu terdiam, lalu ia terlihat mengalihkan pandangannya dari Tasya.
"Untuk apa?" Tanya Banyu setelah ia terdiam beberapa saat.
"Hanya ingin melihat, wanita hebat yang membuat mas Banyu mencintai dia begitu hebatnya."
Banyu tersenyum canggung dan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku kemejanya.
"Boleh ya mas.." Tasya tampak memohon karena rasa penasaran yang ia miliki. Sebenarnya Tasya sudah pernah melihat foto Tika sekilas saat Queen memberitahu dirinya sosok Tika, sahabat baik Queen. Tetapi kali ini ia hanya ingin melihat foto Tika dari Banyu.
Banyu pun menyodorkan ponselnya kepada Tasya. Terlihat dilayar ponsel tersebut foto Tika yang tersenyum lebar kearah kamera.
"Kok tidak foto berdua?" Tanya Tasya dengan mimik wajah yang penasaran.
__ADS_1
"Ada, tinggal di slide."
"Boleh?" Tasya mencoba meyakinkan Banyu.
"Boleh," Banyu mengangguk dan mempersilahkan Tasya untuk melihat semua foto fi galeri ponselnya.
Tasya mulai mencoba menggeser satu persatu foto yang ada di galeri ponsel milik Banyu. Hingga ia berhenti di sebuah foto yang memperlihatkan Banyu dan Tika terlihat begitu bahagia saat dihari pernikahan mereka berdua. Banyu tampak tampan dengan setelan jas berwarna silver, sedangkan Tika terlihat tersenyum lepas dengan gaun berwarna senada dengan sang mempelai pria.
"Dia cantik sekali."
Banyu tersenyum saat Tasya memuji Tika.
"Ya.. dia sangat cantik. Terutama sifat dan sikap nya."
Tasya menatap Banyu yang sedang memuji Tika. Terlihat wajah Banyu begitu bersemangat saat membahas tentang Tika.
"Mungkin gak ya, aku bisa seperti dia?"
Banyu menatap Tasya dengan seksama.
"Kenapa kamu mengatakan itu? Semua orang punya kelebihan dan kekurangan nya masing-masing. Kamu akan sempurna di tangan orang yang mencintaimu, yang menganggap kamu tidak ada kurang nya."
Tasya tersenyum dan memberikan ponsel itu kepada Banyu.
"Andaikan semua lelaki berpikir seperti mas Banyu," Ucap Tasya.
Banyu meraih ponselnya dan kembali memasukkan nya kedalam saku kemejanya. Lalu ia kembali menatap Tasya dengan seksama.
"Lelaki itu gampang, kalau dia benar-benar mencintaimu, dia akan otomatis berpikir seperti itu."
Tasya membalas tatapan Banyu dengan begitu dalam.
"Apakah mas Banyu akan mencari pengganti Tika?"
Banyu terdiam, ia tidak mengerti mengapa Tasya bertanya seperti itu kepada dirinya.
"Apakah mungkin ada yang menggantikan kesempurnaan sosok Tika?" Tanya Tasya lagi
Kali ini Banyu melemparkan pandangannya ke luar jendela.
"Mas.." Panggil Banyu.
Taksi yang mereka tumpangi menepi di pinggir jalan akses masuk ke terminal keberangkatan di Bandara Jenderal Ahmad Yani.
"Kita sudah sampai," Ucap Banyu seraya membuka pintu taksi tersebut dan beranjak keluar dari taksi itu. Tasya hanya terdiam dan menatap punggung lelaki itu dengan tatapan yang kecewa.
__ADS_1