
"Saya mengucapkan banyak terima kasih ya pak.." Ucap Tasya, kala seluruh karyawan di ruangan meeting sudah membubarkan diri.
"Sama-sama," Sahut Anton seraya menatap Tasya dengan mata yang berbinar. Tasya pun menundukkan pandangan nya, karena ia menganggap Anton terlihat sedikit berlebihan kala menatap dirinya.
"Kalau begitu, saya kembali keruangan saya ya pak. Sebelumnya saya juga meminta maaf karena telah menuduh bapak tanpa bukti yang kuat."
"Tidak apa-apa."
"Sekali lagi terima kasih pak."
"Iya.. silahkan," Anton mempersilahkan Tasya untuk kembali ke ruangan nya. Saat itu juga Tasya tersenyum dan beranjak dari duduk nya.
"Oh iya," Anton mencegah Tasya, saat wanita itu mulai melangkah untuk meninggalkan ruangan tersebut.
"Ya pak?" Tanya Tasya seraya menatap Anton dengan seksama.
"Jangan lupa, pukul lima sore, kita harus berada di Polsek untuk dimintai keterangan. Karena kamu korban, kamu harus ke Polsek bersamaku yang statusnya sebagai saksi."
Tasya terdiam, kasus ini membuat ia terus menerus harus berada di samping Anton. Hal itu tentu saja membuat dirinya risih, karena ia tahu betul bila Anton memiliki perasaan kepada dirinya. Dan sekarang, Anton seakan menjadi pahlawan bagi dirinya. Tentu saja hal itu membuat Tasya sedikit merasa risih. Tetapi bagaimana lagi? Bukankah memang ketentuan hukum nya seperti itu?
"Baik pak, saya akan ke sana."
"Biar dengan saya saja."
"Tidak usah Repot-repot pak, saya bawa mobil kok."
"Tasya.. saya ingin banyak bicara denganmu. Biar kamu saya antar saja, kan tujuan kita sama."
Tasya kembali terdiam. Bukan karena ia tidak bisa menolak, tetapi ada baiknya menghargai orang yang telah membantu dirinya untuk keluar dari masalah yang memalukan seperti ini. Akhirnya, ia pun mengangguk untuk menyetujui pergi bersama dengan Anton ke kantor polisi, untuk memberikan keterangan atas kesalahan yang sudah Riyanti perbuat kepadanya.
Tasya mengangguk, lalu ia meninggalkan ruangan meeting tersebut.
Anton menghela nafas panjang dan tersenyum puas. Ia merasa bangga kepada dirinya sendiri, bila ia mampu melindungi wanita pujaan nya, Tasya. Anton meraih gelas kopinya dan menyeruput nya dengan perlahan.
"Semoga, dengan begini dia akan membuka pintu hatinya untuk ku dan meninggalkan tunangan nya yang tidak jelas itu."
"Eh, sebenarnya siapa tunangan Tasya ya? Apa ada orang kantor yang mengerti tentang hal ini? Aku harus mencari tahu!" Batin Anton. Ia pun mulai menghubungi Nur yang sedang berada di ruangan nya.
Nur yang sedang asik bergosip tentang Riyanti di ruangan nya pun beranjak dengan terburu-buru ke arah meja nya. Lalu ia mengangkat gagang telepon yang sedang berdering menunggu untuk segera ia angkat.
"Halo." Sapa Nur dengan logat Jawa Timur nya yang sangat kental.
"Nur, keruangan meeting sekarang."
"Siappp pak!"
"Ya sudah, saya tunggu."
__ADS_1
Lalu panggilan itu pun berakhir.
Nur yang baru saja meletakkan gagang telepon kembali ke tempat nya, menatap Tasya yang sedang berjalan di lorong kantor itu. Tampak Tasya masih merasa malu pada seluruh mata yang sedang menatap dirinya yang baru saja kembali ke ruangan tersebut.
"Tas!" Panggil Nur, seraya menghampiri Tasya.
"Ya mbak?"
"Piye perasaan mu? Sudah lega toh?"
"Alhamdulillah mbak." Sahut Tasya yang berusaha tersenyum kepada Nur.
"Yo wes, aku tak ke ruangan meeting dulu."
"Memang ada apa mbak?" Tanya Tasya yang penasaran, mengapa Nur dipanggil keruangan meeting. Tasya merasa takut bila Nur mendapatkan masalah, karena sikap Nur yang tidak terkendali pada saat menginterogasi Riyanti.
"Mbuh.. gak ngerti aku." Sahut Nur yang dengan cuek nya berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
"Semoga mbak Nur gak dapat masalah." Batin Tasya, lalu ia kembali ke meja nya dengan sesekali mencoba memastikan tatapan orang-orang di ruangan itu, kepada dirinya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" Ucap Anton dari dalam ruangan itu.
"Permisi..."
"Apa jangan-jangan pak Anton mulai terpesona dengan ku ya? Kok tumben sekali aku disuruh duduk di sampingnya." Batin Nur yang mulai beranjak duduk di samping Anton.
"Nur, saya mau bertanya," Ucap Anton tanpa berbasa basi sebelumnya.
"Mau tanya apa pak?" Nur mulai berasa jantung nya berdebar kala Anton mulai terlihat serius, kala akan bertanya kepada dirinya.
"Nur, apa kamu tahu, bila Tasya memiliki tunangan?"
"Heh?" Nur membulatkan kedua matanya dan menatap Anton dengan seksama. Tanda ia tidak percaya mendengar berita Tasya yang sudah memiliki tunangan. Pasalnya, Tasya tidak pernah bercerita pada dirinya masalah kekasih atau pun tunangan.
"Ti-tidak pak.." Nur menggelengkan kepalanya dengan mimik wajah yang terlihat polos.
"Kamu serius?" Anton mencoba untuk memastikan ucapan Nur.
"Serius pak. Memangnya dia sudah bertunangan?" Nur balik bertanya kepada Anton.
"Lah..." Anton menatap Nur yang terlihat semakin bingung.
"Jadi dia sama sekali tidak pernah bercerita?"
"Tidak." Nur kembali menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya sudah.. kamu kembali ke ruangan mu! Mencari informasi sama kamu malah saya jadi ikut bingung!"
"Lah, gitu doang pak?" Tanya Nur dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal pada Anton.
"Iya, memang mau apa lagi?"
"Kirain mau ngajak saya nge-date pak."
Anton tercengang menatap Nur yang terlihat sangat polos, saat berterus-terang pada dirinya.
"Kamu ini ngomong apa sih? Ngedat nge-date..!"
"Lah pak.."
"Apa lagi? Kembali sana!"
"Iya pak iya..." Nur menghentakkan kakinya ke lantai dan mulai berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
"Kamu kesal Nur?"
Nur menghentikan langkah kakinya, lalu ia menatap Anton dengan tatapan yang memang terlihat kesal kepada lelaki itu.
"Enggak!" Nur kembali berjalan dan meninggalkan ruangan meeting itu.
"Dasar, pegawai kurang ajar!" Gumam Anton.
Lalu Anton kembali berpikir tentang siapa sosok tunangan Tasya. Ia benar-benar dibuat penasaran dengan lelaki yang berhasil mengambil hati wanita pujaan nya itu.
"Siapa dia.." Batin Anton, seraya menatap langit-langit ruangan itu.
"Tidak, aku tidak boleh menyerah. Aku harus benar-benar bisa memenangkan hati Tasya. Walaupun aku harus merampas nya dari tunangan nya yang misterius itu. Tidak, Tasya hanya boleh menjadi milik ku. Tidak dengan yang lain.."
Anton meraih ponselnya yang terletak di atas meja, lalu ia mencoba untuk menghubungi seseorang. Beberapa detik kemudian, panggilan nya pun tersambung dengan seseorang di ujung sana.
"Halo," Sapa Anton kepada seseorang di ujung sana.
"Halo pak, apa kabar?"
"Baik..., saya butuh bantuan."
"Siap laksanakan." Sahut orang diseberang sana.
Anton tersenyum licik, ia melakukan apa pun untuk dapat memiliki Tasya. Ya, kali ini ia mencoba untuk mencari tahu siapa sebenarnya tunangan Tasya, lewat seseorang mata-mata yang biasa dia sewa untuk menjatuhkan lawan bisnis nya.
Begitulah Anton, lelaki dengan kuasa yang begitu luar biasa di dunia nya. Apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan hal yang menjadi tujuan nya. Termasuk masalah hati.
Anton tersenyum, setelah panggilan telepon tersebut berakhir. Ia telah memberikan perintah pada orang yang baru saja ia hubungi. Dan kini, ia sedang mengirimkan foto Tasya untuk menjadi target yang akan di mata-matai oleh orang suruhan nya. Sebentar lagi, tidak menutup kemungkinan bila Anton akan mengetahui siapa sebenarnya lelaki yang telah berani memiliki hubungan asmara dengan pujaan hatinya tersebut.
__ADS_1