
"Lantas, bagaimana kamu bisa begitu sabar menghadapi sikapnya setelah.... hmmm, maaf, berapa tahun kamu menikah dengan nya?" Tanya Banyu saat dirinya dan Tasya berjalan menyusuri lorong gedung Lawang Sewu.
"Cukup lama. Yah.. bertahun-tahun lah," Ucap Tasya yang terlihat enggan mengatakan usia pernikahan nya dengan Antoni.
"Hmmmm, ok... bagaimana kamu bisa begitu sabar?" Banyu mengulangi pertanyaan nya.
"Ya.. sabar saja. Namanya manusia, aku berharap dia bisa berubah. Ternyata tidak..." Tasya melangkah masuk kedalam ruangan yang penuh dengan jejeran lukisan yang di pamerkan di ruangan itu. Banyu menyusul dan terus menatap punggung Tasya.
"Kamu hebat."
Tasya terdiam, lalu ia menoleh kepada Banyu yang tengah menatap dirinya. Matanya terpaku pada senyuman manis lelaki itu, serta sorot mata yang teduh dari Banyu membuat Tasya merasakan hal yang tidak biasa, yaitu kedamaian.
"Kenapa? bukan kah banyak wanita diluar sana yang melakukan hal yang sama dengan ku?"
"Hanya wanita yang terpilih, bukan banyak wanita."
Tasya tersenyum malu dan kembali mencoba terlihat sibuk memperhatikan lukisan-lukisan di depan nya.
"Kamu mencintai Putra?"
Pertanyaan yang baru saja di lontarkan oleh Banyu membuat Tasya mematung. Hingga Banyu merasa bersalah dengan pertanyaan nya sendiri.
__ADS_1
"Ok skip, maaf sudah lancang bertanya." Banyu melangkah mendekati salah satu lukisan sebuah gerbong kereta api, karya anak bangsa. Ia mencoba melihat setiap detil lukisan yang berada di depan nya itu.
"Tidak apa. Wajar saja seorang kakak bertanya seperti itu. Karena bagaimana pun, seorang kakak pasti ingin memastikan teman dekat adiknya benar-benar serius atau tidak."
"Luar biasa! Masih ada wanita yang berpikiran seterbuka ini pada jaman yang seperti ini?" Batin Banyu.
"Sebenarnya, aku dan mas Putra baru saja dekat. Kebetulan, Rafis lah yang lebih dekat dengan mas Putra, dari pada dengan ku."
"Rafis?" Tanya Banyu, yang baru mendengar nama asing tersebut.
"Ya, Rafis. Anak semata wayang ku mas."
"Oh..." Banyu mengangguk paham.
Putra dan Banyu sangat bertolak belakang. Putra anak yang nakal, sejak ia kecil. Sedangkan Banyu, lebih pendiam, walaupun sesekali ia sedikit jahil. Saat hendak masuk universitas, sebenarnya Banyu memiliki impian untuk berkuliah di negeri orang. Hanya saja, ia memikirkan kondisi keuangan orangtuanya saat itu. Orang tua Banyu dan Putra saat itu sedang mengalami kesulitan karena pendapatan usaha mereka sedang turun. Bahkan bapak nya Banyu harus menjual dua mobil nya untuk menyambung hidup mereka. Berbeda dengan Putra yang merupakan anak bungsu. Putra yang sangat penuntut dan gengsian, membuat orangtuanya kalang kabut saat Putra meminta untuk kuliah di Amerika. Walaupun Putra mendapatkan beasiswa, tetapi mendapatkan beasiswa harus ada biaya yang harus dikeluarkan untuk persiapan keberangkatan dan segala yang dibutuhkan saat Putra tinggal di negeri itu. Namun, Putra tidak mau tahu. Ia merasa iri pada teman-teman nya yang sukses mendapatkan universitas yang mereka inginkan di negeri orang. Maka, dengan berat hati, Banyu lah yang memberi tambahan biaya, agar Putra bisa tetap berangkat untuk mengejar cita-cita nya. Padahal, saat itu Banyu juga baru saja merintis karier nya, bekerja sambil berkuliah. Tentu saja untuk diri sendiri saja Banyu belum merasa cukup. Tetapi ia harus menguras tabungan nya yang ia persiapkan untuk melanjutkan S2 di Singapura.
Sedangkan kedua orang tua Banyu, sangat menyayangi Putra. Putra sangat dimanja, hingga Putra kurang peka dan mau menerima keadaan. Sejak kecil, Banyu di tuntut selalu mengalah dalam hal apa saja dengan Putra. Hingga Banyu pernah menarik diri dari keluarganya, karena sebenarnya dia pun merasa iri dengan adiknya itu. Tetapi, setelah dirinya dewasa, ia mulai paham, tidak seharusnya dia merasa iri. Tetapi harusnya dia mendekati adiknya dan memberikan pemahaman kepada Putra, bila hidup tidak selamanya indah. Kita harus paham dan mau menerima kenyataan bila sedang berada di bawah.
Tidak hanya itu, semakin dewasa, Putra juga lebih baik. Ia sedikit bisa berpikir, bila Banyu adalah kakak nya yang baik. Karena terlalu banyak hal yang harus Banyu korbankan untuk dirinya. Saat itu juga ia mulai mendekat kepada Banyu dan mulai mau mendengarkan semua nasihat yang Banyu berikan kepada dirinya. Putra memang sudah berubah dalam hal pola pikir. Hanya saja masalah wanita, Putra tidak bisa menahan hasratnya untuk bermain-main. Hal itu saja yang membuat Banyu merasa kecewa dengan adiknya itu. Karena, Banyu adalah tipe lelaki setia. Bagaimana tidak, ia mampu bertahan dengan wanita yang sama selama belasan tahun. Tanpa sedikitpun ada kasus perselingkuhan di dalam hubungan nya dengan Tika.
Hal yang membuat Banyu terus merasa tidak percaya adalah, saat ia mendengar Putra akan serius dengan Tasya yang sudah memiliki seorang anak. Banyu masih penasaran apakah Putra merasa putus asa setelah Queen menikah, atau Putra memang benar-benar jatuh cinta dengan Tasya. Rasa khawatirnya mulai muncul pada Tasya, kala Putra memutuskan akan mendekati dan memiliki hubungan dengan Tasya. Kekhawatiran itu adalah, Banyu sangat takut bila Putra mempermainkan Tasya. Kekhawatiran itu pun semakin bertambah, saat Banyu tahu, bila Tasya merupakan seorang yang pernah gagal dalam pernikahan sebelumnya.
__ADS_1
"Mas, kita ke sana yuk.."
Banyu kembali dari lamunannya, lalu ia mengangguk dan berjalan beriringan dengan Tasya.
"Kalau mas, pasti berat ya menghadapi kehilangan yang sangat tiba-tiba begitu. Aku mendengar kisah mas dari Queen. Kalian sangat serasi dan pasangan yang luar biasa. Satu hal yang aku salut dari mas Banyu, adalah kesetiaan."
Banyu tersenyum getir dan melirik Tasya yang berjalan berdampingan dengan nya.
"Berat pasti, karena aku sangat mencintai Tika. Tetapi Allah lebih menyayangi dan mencintai dia. Aku hanya anak manusia yang sangat ingin menemui cinta sejati. Makanya aku belajar untuk setia dengan satu wanita."
Tasya menatap Banyu dengan seksama. Entah mengapa hatinya mulai merasa getaran yang tak biasa. Entah karena dirinya merasa begitu salut dengan lelaki yang sedang berjalan beriringan di sebelah nya itu, atau ia hanya merasa tersentuh dengan kesetiaan dan sikap Banyu yang baru kali ini dapat bertukar cerita dengan nya.
"Kenapa?" Tanya Banyu seraya tersenyum dan menatap Tasya dengan sorot mata teduh nya.
"Kalau tadi mas mengatakan aku hebat. Sekarang aku ingin mengatakan, bila mas adalah lelaki yang hebat."
Banyu tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Bukan aku yang hebat, tetapi wanita yang ku cintailah yang hebat. Dia mampu membuat aku hanya terpaku dengan nya. Tanpa mampu berpaling darinya."
Deg!
__ADS_1
Entah mengapa hati Tasya mulai merasakan hal yang aneh. Ada perasaan cemburu dan iri dengan sosok Tika yang sebenarnya dirinya pun tidak pernah berjumpa dengan Tika. Tetapi Tika seakan terus hidup di sekeliling nya. Queen selalu menceritakan hal yang baik tentang Tika, dan kini Banyu. Cerita Queen mampu membuat Tasya terpesona dengan sosok Tika. Namun mengapa ia tidak dapat merasakan hal yang sama kala Banyu menceritakan tentang Tika kepadanya?