Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
112. Berita buruk


__ADS_3

Dering di ponsel Banyu, membuat konsentrasi Banyu yang saat ini dalam meeting dengan klien pun buyar. Beberapa kali ia terlihat sibuk menolak panggilan itu hingga ia pun berusaha untuk mengganti mode dering menjadi mode silent di ponselnya. Kliennya pun terlihat terganggu, namun tetap mencoba memaklumi kesibukan orang yang akan ia jadikan partner nya itu.


"Dari istri pak? Kalau memang dari istri atau keluarga, saya bisa menunggu," Ucap klient Banyu, berbasa basi.


"Tidak tahu pak, biar saja. Ok kita lanjut saja," Ucap Banyu seraya tersenyum. Lalu ia melanjutkan meeting nya pada siang menjelang sore ini.


.


Pun dengan kediaman keluarga Banyu. Karena memang tidak ada orang disana, telepon itu terus berdering tanpa ada satupun yang menerima telepon tersebut. Polisi masih terus berusaha memanggil pihak keluarga Putra yang ada di Indonesia. Hingga polisi menerima panggilan dari Alia yang sedang berusaha mencari tahu keadaan Putra. Melihat ada panggilan masuk, polisi yang sedang memegang ponsel Putra pun menerimanya.


"Halo, selamat siang,"


"Siang pak, saya calon istrinya Putra. Apakah Putra baik-baik saja?" Tanya Alia yang sudah tahu bila itu bukanlah suara Putra yang sedang menerima panggilan dari dirinya.


"Syukurlah, dari tadi kami berusaha untuk menghubungi keluarga korban, tetapi tidak ada satupun yang mengangkat. Kami terus menyelusuri kontak korban. Mbak bisa langsung ke rumah sakit?"


"Pak, saya ada di luar Negeri. Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Alia masih dengan sesenggukan menahan tangisan nya yang siap untuk meledak lagi. Sedangkan disisinya, Eijaz masih di peluk erat oleh Alia, untuk mengenangkan anak semata wayangnya itu yang tampak mulai stress juga menanti kabar tentang ayahnya.


"Korban sudah dibawa kerumah sakit bu. Prihal kondisinya, saya belum tahu."


"Rumah sakit mana pak?"


"Rumah sakit Harapan Kita yang terdekat dari lokasi kecelakaan. Bila ibu tahu nomor keluarga yang bersangkutan, silahkan hubungi untuk mendampingi beliau."


"Jadi, Putra baik-baik saja kan pak?"


"Saya tidak bisa mengatakan apa-apa bu. Yang jelas, untuk lebih pastinya, baiknya keluarga menyusul ke rumah sakit itu dan kami akan segera kesana juga untuk mengembalikan ponsel korban."


Alia menangis seraya menutup rapat bibirnya.


"Baik pak."

__ADS_1


Panggilan itu pun berakhir. Alia terlihat bingung bagaimana cara menghubungi keluarga Putra. Ia tidak sama sekali menyimpan nomor keluarga dari Putra, karena memang dirinya tidak pernah berhubungan sama sekali dengan keluarga lelaki yang ia cintai itu.


"Apa yang harus aku lakukan?" Gumamnya. Akhirnya ia pun memberanikan diri untuk menghubungi papanya, Anton.


Lelaki paruh baya itu sedang sibuk di depan laptopnya kala Alia menghubungi dirinya. Ia sempat melirik panggilan dari Alia yang sangat jarang menghubungi dirinya. Hubungan Anton dan Alia kurang baik, karena Alia ngotot untuk mempertahankan anak hasil hubungan Alia dengan Putra. Bahkan, kehadiran Eijaz tidak sekalipun membuat egonya runtuh. Justru ia menahan Alia tetap di Zurich untuk tinggal disana, dengan alasan dirinya malu bila Alia kembali ke Indonesia dengan anak hasil hubungan haram Alia dengan Putra.


Merasa tidak ada satu orangpun yang bisa membantu dirinya, ia pun berusaha menghubungi Devonna, ibunya. Devonna yang kini tinggal dengan Anton lah yang sedikit bisa mengerti keadaan Alia. Devonna juga yang kerap mengunjungi Alia ke Zurich untuk menemui cucunya, Eijaz. Walaupun sebenarnya keputusan Alia tidak di dukung oleh Devonna, tetapi kehadiran Eijaz juga meluruhkan egonya. Bagaimanapun Devonna adalah seorang ibu sekaligus seorang nenek dari Eijaz. Terlepas Eijaz itu darah daging siapa dan dari mana asalnya.


"Halo Alia," Sapa Devonna dengan ramah. Seketika raut wajah Devonna terlihat berubah, kala ia mendengar tangisan Alia di ujung sana.


"Mam..."


"Are you ok?" Tanya Devonna dengan raut wajah khawatir.


"Bisakah mama membantu aku?" Tanya Alia dengan to the point.


"Ada apa Alia?"


Mendengar nama Putra, ada perasaan geram dihati Devonna. Namun wanita itu berusaha untuk mendengarkan terlebih dahulu apa yang diinginkan oleh Alia.


"Ada apa dengannya? Sejak kapan kamu berhubungan lagi dengan dia." Tanya Devonna dengan nada suara yang terdengar datar.


"Ma, ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Aku mohon datang saja ke rumah sakit. Aku mohon ma..."


Devonna terdiam, ia menghela nafas panjang dan mencoba mencerna apa yang telah terjadi.


"Ada apa dengannya?" Tanya Devonna lagi.


"Dia kecelakaan ma, bagaimanapun dia adalah ayah dari Eijaz. Cukup sudah membenci dirinya, dia sedang membutuhkan kita dan Eijaz juga membutuhkan dia mam!"


Devonna terdiam, ia bingung akan mengatakan apa kepada putri semata wayangnya itu.

__ADS_1


"Ma... please.. Mama yang mengajarkan aku tanpa dendam. Mama yang mengajarkan aku tentang memaafkan. Aku mohon, berikan aku contoh nyata tentang memaafkan." Ucap Alia dengan diplomatis.


Devonna masih diam membisu. Hatinya dipenuhi rasa bimbang.


"Ma..."


"Baik. Di rumah sakit mana?" Tanya Devonna.


Setelah mengetahui lokasi rumah sakit yang di maksud, akhirnya Devonna pun memutuskan untuk ke sana dan mencari tahu keadaan Putra yang baru saja terlibat kecelakaan di ruas tol siang ini.


.


Banyu yang baru saja selesai meeting mengamati nomor telepon asing yang masuk ke ponselnya. Sebagian lagi terlihat nomor Putra yang tidak sempat ia terima.


"Putra? Sudah sampai saja dia di Indonesia," Gumamnya seraya tersenyum. Lalu ia mencoba menghubungi adiknya itu.


Terdengar nada sibuk dari nomor ponsel Putra yang membuat Banyu mengurungi niatnya untuk menghubungi adiknya tersebut. Lalu ia kembali melangkah menuju ke mobilnya yang berada di parkiran sebuah restoran. Tak lama kemudian, terdengar ponselnya yang berbunyi. Ia pun menghentikan langkahnya dan menerima panggilan yang berasal dari nomor Putra.


"Halo," Sapanya seraya kembali melanjutkan langkahnya.


"Selamat sore bapak, kalau boleh tahu, bapak apanya bapak yang memiliki ponsel ini ya?" Tanya lelaki du seberang sana. Seketika Banyu menghentikan langkahnya, setelah sadar bila itu bukanlah suara Putra.


"Saya kakak kandungnya, ada apa ya pak? Apa bapak menemukan ponsel adik saya atau bagaimana?" Tanya Banyu yang terlihat mulai panik.


"Kami dari kepolisian lalu lintas, adik bapak mengalami kecelakaan dan sekarang sedang berada di rumah sakit untuk ditangani."


"Jangan bercanda pak!"


"Adik bapak sedang di rumah sakit Harapan Kita, bila bapak ingin mengambil ponselnya ada bersama saya dan bapak bisa ke kantor saja."


Banyu terdiam, seakan semuanya mimpi baginya. Yang ia tahu, Putra sedang dalam perjalanan menuju ke Indonesia, dan kini adiknya itu mengalami kecelakaan di ruas tol menuju ke rumahnya. Seketika kakinya terasa lemas dan mencoba menghubungi keluarganya, termasuk abah dan ambu.

__ADS_1


Dengan cepat berita kecelakaan itu menyebar hingga ke keluarga besar dan teman-teman terdekat mereka. Semua orang yang menyayangi Putra pun segera bertolak ke rumah sakit yang dimaksud untuk mencari tahu keadaan lelaki itu. Semua tidak menyangka, bila kecelakaan di ruas tol siang ini melibatkan orang yang mereka sayangi, yaitu Putra.


__ADS_2