
"Huffff..." Tasya menghembuskan nafas secara kasar saat ia duduk di balik meja kerjanya. Terlihat beberapa rekan kerjanya menoleh kepadanya. Mereka paham betul perlakuan Riyanti kepada Tasya. Nur memundurkan kursinya hingga merapat ke meja kerja Tasya. Lalu ia memijat pundak Tasya, seakan ia memberikan semangat dan tahu apa yang dialami Tasya di dalam ruangan Riyanti.
"Sabar yo."
Tasya hanya tersenyum kala rekan kerja nya itu memberikan simpati kepada dirinya. Setelah Tasya mencoba menenangkan diri, akhirnya ia pun memulai pekerjaan nya. Baru saja ia membuka laptop nya, matanya tertuju kepada seorang pria tampan yang baru saja melintas di depan nya. Ya, dia adalah Banyu. Lelaki itu sempat melemparkan senyuman kepada Tasya saat mata mereka bertemu pandang. Tasya terpana dan terus menatap punggung Banyu yang berjalan menuju ke ruangan Anton.
"Mas Banyu," Gumam Tasya. Seketika ia mengingat perjalanan selama dua hari satu malam diluar Kota bersama dengan Banyu. Meskipun perjalanan itu terasa canggung bagi keduanya, entah mengapa Tasya merasa ada sisi manis nya dari perjalanan tersebut.
Tasya mengedipkan kedua matanya saat Banyu menghilang di balik pintu ruangan Anton. Lalu ia tersenyum sendiri, entah apa pun alasan dari senyuman itu. Hanya saja, Tasya tidak kuasa menahan senyuman di bibirnya.
"Ganteng ya.."
"Innalillahi!" Pekik Tasya saat Nur yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
"Bikin kaget saja sih!" Tasya menepuk dadanya yang sedang berdegup kencang saat ini.
"Kamu kenal toh sama dia?"
"Dia siapa?" Tasya mengerutkan keningnya, seakan ia tidak tahu orang yang dimaksud oleh Nur.
"Itu loh.. mas yang barusan lewat. Sing mirip-mirip artis Turki," Ucap Nur dengan bersemangat.
"Oh.." Tasya mengalihkan pandangan nya kearah laptop dan mencoba sibuk di depan laptopnya.
"Kenal toh?" Desak Nur.
"Iya." Sahut Tasya dengan ekspresi yang datar dan tatapan masih tertuju pada layar laptopnya.
"Namanya siapa?"
"Siapa?" Tanya Tasya seraya menatap Nur dengan seksama.
"Ya cowok itu lah.." Nur mendengus kesal, karena Tasya pura-pura tidak mengerti maksud dirinya.
"Oh.. kenapa?" Tasya kembali bertanya pada Nur.
"Ya tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu. Siapa tahu aku bisa dekat dengan nya." Bisik Nur seraya tersenyum penuh arti.
"Percuma, orang nya dingin kayak es batu!"
"Loh.. memang nya kamu sudah pernah mencoba mendekati dia?"
__ADS_1
Seketika Tasya terdiam dengan wajah yang memerah, karena ucapan Nur.
"Owalah... pantesan tatapan mu seperti itu sama dia." Nur terkekeh seraya kembali ke meja nya.
Tasya tersenyum canggung dan kembali menatap laptop nya. Perlahan senyum nya menghilang begitu saja. Entah mendekati atau memang hanya sekedar ingin tahu siapa lelaki itu, yang jelas Tasya merasa dirinya kemarin sengaja ingin mendekatkan diri pada Banyu. Hal itu membuat ia merasa bodoh, mengingat segala usaha dirinya yang selalu bertanya ini itu kepada Banyu.
Tasya menatap pintu ruangan Anton. Lalu ia menghela nafas panjang dan tertunduk malu.
"Apa iya aku berusaha mendekati mas Banyu? Perasaan tidak, kami dekat karena terjadi begitu saja kok. Lagipula ia adalah kakak nya mas Putra, jadi apa salahnya? Toh mas Banyu sudah bilang kalau dia hanya ingin mengenalku secara pribadi, karena aku sedang dekat dengan adiknya. Tetapi... hmmm"
Kringgggg...!
Kringgggg...!
Tasya terhenyak dari lamunan nya karena suara dering telepon yang terletak di sisi kiri meja nya. Saat itu juga ia mengangkat telepon itu dan menyapa Anton yang sedang menghubungi dirinya.
"Tas, kamu bisa ke ruangan saya?" Ucap Anton dari ruangan nya.
"Bi-bi-bisa pak." Sahut Tasya dengan gugup.
Tasya meletakkan gagang telepon tersebut dan beranjak dari duduknya. Ia merapikan rok dan kemejanya, lalu ia menghela nafas panjang seraya menatap pintu ruangan Anton.
"Di panggil boss?" Tanya Nur.
Tok! Tok! Tok!
Tasya mengetuk pintu ruangan Anton. Tidak menunggu lama, Tasya langsung dipersilahkan untuk masuk ke ruangan tersebut.
"Pagi pak, pagi pak Banyu." Sapa Tasya saat ia baru saja menutup pintu ruangan yang baru saja ia masuki.
"Pagi," Sahut Anton seraya menatap dirinya. Sedangkan Banyu hanya mengangguk kepada Tasya.
"Ada yang bisa saya bantu atau kerjakan pak?" Tanya Tasya.
"Duduk dulu." Anton mempersilahkan Tasya untuk duduk di salah satu kursi kosong diantara dirinya dan Banyu.
Tasya beranjak duduk dan menundukkan pandangan nya.
"Kamu kemarin kan mengantarkan pak Banyu meninjau kantor kita yang di Semarang,"
"Betul pak," Sahut Tasya.
__ADS_1
"Nah, kebetulan pak Siswoyo belum sembuh karantina, Jadi kamu saja yang saya tugaskan untuk memilih dan mengecek mebel di gudang nya pak Banyu. Biar cepat-cepat di produksi dan kantor semarang langsung bisa di tempati. Kebetulan minggu depan kantor sudah jadi," Ucap Anton.
Tasya mengerutkan keningnya dan menatap Anton dengan seksama.
"Tapi pak.."
"Sudah jangan banyak tanya. Kamu saya angkat menjadi asisten Siswoyo sekarang! Gaji mu saya naikan! Saya pusing dengan banyak nya karyawan yang terinfeksi, sehingga tidak ada satupun yang bisa diandalkan!"
Seketika wajah Tasya terlihat semringah, ia tersenyum tipis dan melirik Banyu yang diam-diam tersenyum dalam diam nya.
"Bapak serius?" Tanya Tasya, layaknya seorang anak yang baru saja dijanjikan sesuatu dari orangtuanya.
"Iya. Nanti saya suruh Riyanti membuat perjanjian baru untuk mu. Sudah jangan banyak tanya. Kamu siap-siap untuk ikut dengan pak Banyu sana!"
"Siap pak!" Tasya beranjak dari duduknya dan membungkuk kepada Anton dan juga Banyu. Lagi-lagi Banyu hanya tersenyum tipis. Sedangkan Anton hanya mengangguk dengan ekspresi wajah datar.
.
"Dia cantik ya?"
Pertanyaan Anton saat Tasya baru saja meninggalkan ruangan tersebut, sempat membuat Banyu terdiam dengan ekspresi wajah yang bingung.
Anton yang merupakan kakak kelas Banyu saat masih duduk di SMA, menatap Banyu dengan seksama.
"Dia adalah karyawati tercantik disini. Aku menyukai nya, tetapi entah mengapa aku tidak bisa menunjukan perasaan suka ku padanya," Ucap Anton secara berterus-terang kepada Banyu.
Banyu tersenyum dengan wajah yang canggung, entah mengapa ada perasaan tak rela, jauh di dalam lubuk hatinya.
"Kenapa begitu?" Ucap Banyu, yang berusaha biasa saja, terlepas apa pun yang sedang ia rasakan saat itu.
"Entahlah, dia membuatku canggung. Aku ingin sekali bersikap ramah padanya, tetapi yang keluar hanya ekspresi marah saja. Bagaimana menurutmu? Apakah dia cocok menjadi calon ibu dari anak ku?"
Banyu terdiam dan menundukkan pandangan nya.
"Hei.. kakak kelas mu ini bertanya."
Banyu kembali menatap Anton dan mencoba untuk tersenyum kepada mantan kakak kelas yang lebih tua dua tahun dari dirinya tersebut.
"Entahlah." Jawab Banyu.
"Hei.. kenapa jawaban mu seperti itu? Apa aku terlalu tua untuk dia?" Tanya Anton seraya tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Lagi-lagi Banyu hanya tersenyum menanggapi ucapan Anton. Ia enggan sekali berbicara tentang Tasya pada Anton. Entah mengapa dadanya terasa sesak saat Anton memberikan pengakuan kalau Anton menyukai Tasya.
"Banyak juga yang menyukai dia." Batin Banyu seraya menggelengkan kepalanya dengan perlahan.