Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
86. Berakhirnya persahabatan


__ADS_3

Kringgg..! Kringgg..! Kringggg..!


Anton yang sedang fokus dengan laptop nya pun meraih gagang telepon yang berdering di atas mejanya.


"Halo," Sapa nya dengan nada suara yang terdengar datar.


"Pak, ada yang ingin bertemu dengan bapak." Ucap sekretaris baru yang menggantikan Riyanti.


"Siapa?" Tanya nya, masih dengan mata yang fokus pada layar laptop nya.


"Bapak Banyu dan ibu Tasya."


Anton terdiam sejenak.


"Pak, apakah mereka di izinkan untuk memasuki ruangan bapak?" Tanya sekretaris itu lagi.


"Ada keperluan apa?"


"Sebentar ya pak, saya tanya pada yang bersangkutan." Ucap sekretaris itu. Lalu, samar terdengar percakapan antara sekretaris itu dengan Banyu. Dan tak lama kemudian, sekretaris itu kembali berbincang pada Anton.


"Kata ibu Tasya, beliau ingin berpamitan pada bapak. Dan bapak Banyu ingin bertemu dan berbincang dengan bapak."


Anton menghela nafas panjang. Ingin sekali ia menghindari dua orang itu. Tetapi sebagai seorang lelaki, ia tidak mungkin melakukan hal yang tampak sebagai seorang pengecut.


"Ya sudah, izinkan mereka masuk." Ucap nya seraya meletakkan gagang telepon itu kembali ke atas tempatnya.


Ia menutup laptop nya dan bersiap untuk menunggu kehadiran Banyu dan Tasya. Sambil menunggu, ia baru merasakan hal yang aneh, mengapa Banyu dan Tasya datang berdua untuk menemui dirinya. Bukan kah itu hal yang aneh?


Anton terlihat penasaran hingga bunyi ketukan di luar ruangan nya, membuyarkan segala pertanyaan di hatinya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" Ucap Anton.


Pintu ruangan itu pun terbuka. Terlihat sekretaris nya mempersilahkan Banyu dan Tasya memasuki ruangan tersebut.


"Amel, buatkan tiga cangkir kopi." Perintah nya pada sang sekretaris.


"Baik pak," Sahut Amel seraya kembali menutup pintu ruangan itu.


Kini Anton berhadapan dengan dua orang yang sangat ia kenal. Satu sahabat baik nya, dan yang satunya lagi wanita yang sempat ingin sekali ia miliki.


"Silahkan duduk," Ucapnya dengan nada suara yang terdengar datar.


"Terima kasih," Sahut Banyu.


Lalu mereka bertiga duduk di sofa tamu di ruangan kerja Anton tersebut. Mereka bertiga tampak berusaha bersikap biasa saja. Hingga akhirnya Banyu memberanikan diri untuk membuka obrolan diantara mereka bertiga.


"Apa kabar?"


"Baik," Sahut Anton seraya melirik Tasya yang duduk disamping Banyu.

__ADS_1


"Mengapa kalian berdua begitu kompak menemui saya?" Tanya nya dengan berterus terang.


"Karena tujuan kami sama, maka kami berangkat bersama." Sahut Banyu.


Anton tersenyum kecil, lalu ia menatap Banyu yang sedang menatap dirinya dengan tatapan yang biasa saja kepada dirinya. Seakan tidak terjadi apa pun diantara mereka berdua.


"So?" Anton kembali mempertanyakan maksud kedatangan mereka berdua.


"Saya mau mengundurkan diri pak, dan surat pengunduran diri sudah saya serahkan pada HRD." Terang Tasya.


"Ya.. tidak apa." Sahut Anton dengan nada suara yang datar.


"Terima kasih atas beberapa bulan ini pak. Bekerja di perusahaan bapak adalah pengalaman terbaik bagi saya." Tasya mencoba berbicara seformal mungkin.


"Terima kasih kembali." Sahut Anton dengan sikap nya yang tampak tak peduli. Lalu ia menatap Banyu dengan seksama.


"Dan kau?" Tanya nya kepada Banyu.


Banyu tersenyum tipis dan membalas tatapan Anton.


"Saya kesini ingin meminta maaf atas kelakuan adik saya."


Anton menghela nafas panjang dan melemparkan pandangannya ke sudut ruangan itu.


"Saya tidak akan membela adik saya yang nyata bersalah pada putri mu. Dan saya juga ingin meminta maaf bisa selama ini saya terkesan menutupi fakta."


Anton menatap Banyu dengan tatapan yang tajam, ia masih merasa sakit hati dengan sikap Banyu yang lebih memilih diam kala ia menceritakan hubungan khayalan nya dengan Tasya, sedangkan faktanya Banyu tahu bila Tasya memiliki hubungan dengan Putra, adik kandung Banyu sendiri.


"Hanya itu." Sahut Banyu.


"Apakah kalian benar saling mencintai?"


Banyu dan Tasya menatap Anton yang baru saja melontarkan pertanyaan nya pada mereka berdua.


"Seperti apa yang dibilang oleh adik kandung mu yang brengsek itu?" Sambung Anton.


Banyu menundukkan pandangan nya sesaat dan lalu kembali menatap Anton dengan seksama.


"Ya.. dan sekarang kami sudah menjadi suami istri."


Tok! Tok! Tok!


Bunyi ketukan di pintu mengiringi rasa terkejut Anton dengan kenyataan yang baru saja diucapkan oleh Banyu.


Amel muncul dengan tiga gelas kopi, lalu beranjak mendekati mereka dan menghidangkan kopi itu di atas meja.


"Ada yang lain pak?" Tanya Amel.


"Tidak, kembali lah bekerja." Sahut Anton.


"Baik pak, bu, selamat menikmati." Ucap Amel seraya berjalan meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Mereka bertiga pun kembali ke topik pembicaraan mereka. Setelah Anton mempersilahkan Banyu dan Tasya untuk menikmati kopi yang di suguhkan untuk mereka berdua.


"Apa saya tidak salah dengar?" Ucap Anton setelah Banyu menyeruput kopi yang masih mengeluarkan uap panasnya itu.


"Tidak," Sahut Banyu seraya meletakkan gelas kopi itu kembali keatas meja.


Anton menelan saliva nya dan menatap Banyu dan juga Tasya secara bergantian.


"Selamat," Hanya itu yang terucap dari bibirnya yang terasa kaku.


"Terima kasih." Sahut Banyu dan Tasya.


"Masalah pertemanan dan bisnis....


"Lebih baik kita sampai disini.." Tegas Anton.


Banyu terdiam, ia paham mengapa Anton memutuskan hubungan persahabatan dan juga pekerjaan dengan dirinya. Bagaimana pun juga Anton pasti merasakan kekecewaan yanh mendalam atas sikap Banyu dan juga Putra.


"Baik, tidak apa-apa." Sahut Banyu.


"Dan kamu Tasya,"


Tasya nenatap Anton yang tengah menatap dirinya dengan tatapan yang begitu dalam.


"Maaf bila aku pernah memaksakan kehendak ku padamu. Dan... semoga kamu berbahagia dengan suami mu ini. Entah bagaimana, aku tak mengerti mengapa kalian bisa menikah, sedangkan bukankan kamu kekasih dari Putra si bajingan itu?" Sindir Anton.


"Hmmm.. saya...


" Saya menawarkan diri kepada orang tua Tasya. Lalu kami dinikahkan. Tidak ada yang salah bukan?" Potong Banyu.


Anton menghela nafas dan mengangguk dengan ekspresi wajah yang terlihat malas.


"Ya... terserah kalian. Saya rasa pembicaraan sudah sampai disini saja. Saya sibuk." Tutup Anton.


Mau tidak mau, Banyu dan Tasya pun merasa harus meninggalkan ruangan tersebut.


"Kami berdua minta maaf atas semua yang terjadi," Ucap Banyu seraya menyodorkan tangan nya untuk berjabat tangan yang terakhir dengan Anton.


Anton menatap Banyu dan Tasya, lalu ia mengangguk tanpa menyambut tangan Banyu.


"Ya.. silahkan keluar." Pintanya.


Banyu menghela nafas panjang dan kembali menarik tangan nya. Lalu ia merangkul pundak Tasya dan membawanya keluar dari ruangan itu.


"Assalamu'alaikum."


'Wa'alaikumussalam," Sahut Anton dengan nada suara yang dingin.


Kedua matanya hanya dapat menatap punggung Banyu dan Tasya. Hingga mereka berdua menghilang di balik pintu.


Anton terdiam membisu. Bukan karena Tasya menikah dengan Banyu, melainkan yang ia sesali adalah, persahabatan yang telah ia bangun dengan Banyu selama lebih dari dua puluh tahun, hancur begitu saja karena Putra. Bila saja Putra bukan adik kandung Banyu, mungkin kesalahan Banyu dapat ia maklumi. Tetapi hal ini menyangkut keluarga. Ia tidak bisa memaafkan begitu saja kelakuan Putra. Apalagi semua menyangkut tentang putri semata wayangnya.

__ADS_1


"Aku juga minta maaf Banyu.. Tasya.." Batin nya, seraya tertunduk lesu.


__ADS_2