Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
119. Haru membiru


__ADS_3

Pesawat yang ditumpangi oleh Alia dan Eijaz mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Sudah dua tahun Alia belum pernah lagi kembali ke Indonesia. Terakhir kali ia kembali ke Indonesia, saat Eijaz berusia satu tahun. Kala itu ia sengaja membawa Eijaz ke tanah air untuk mempertemukan Eijaz dengan Anton. Namun sikap Anton terlihat tidak menyukai kehadiran Eijaz, maka sejak itu Alia tidak pernah lagi kembali ke Indonesia. Sikap Anton sangat mengecewakan Alia, seakan papanya itu tidak mendukung dirinya yang memiliki anak diluar pernikahan sah. Terutama yang menjadi penyebab sikap Anton seperti itu adalah, karena Eijaz adalah anak dari Putra, lelaki yang paling di benci oleh Anton.


Setelah Alia mengambil barang barang bawaannya yang ia titipkan ke bagasi pesawat, ia pun melangkah keluar dari gedung bandara tersebut bersama dengan Eijaz. Tak hanya Alia, Eijaz juga tampak begitu bersemangat, ia tidak sabar untuk bertemu dengan keluarga ibunya, papanya dan juga keluarga besar papanya.


"Eijaz..." Panggil Devonna yang berjongkok sambil memanggil nama cucu kesayangannya itu seraya membuka lebar tangannya, berharap cucunya datang menghampiri dirinya dan memeluk erat tubuhnya yang sudah mulai renta.


"Oma!" Seru Eijaz seraya berlari menghampiri Devonna yang sengaja menjemput Alia dan Eijaz di Bandara.


"Cucu oma.. i miss you so much. Kamu semakin besar ya.." Ucap Devonna saat Eijaz sudah berada di pelukannya.


"I miss you too oma. Oma kenapa tidak pernah datang lagi mengunjungi aku dan mama?" Tanya Eijaz dengan polosnya.


Devonna terdiam sejenak, bukan karena ia tidak ingin mengunjungi cucunya tersebut. Hanya saja Anton terus melarang dirinya untuk mengunjungi Alia dan Eijaz, karena Anton mesih memiliki amarah untuk Alia.


"Hmmm, oma ada pekerjaan sayang... Jadi oma tidak sempat ke Zurich. Tapi kan sekarang kamu ke Indonesia. Selamat datang cucu ku..!" Devonna kembali memeluk Eijaz dengan erat dan menggendong tubuh mungil sang cucu.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Devonna kepada Alia seraya berjalan mengiringi Alia ke arah parkiran di Bandara tersebut.


"Baik," Sahut Alia seraya tersenyum ragu kepada Devonna.


"Syukurlah. Sekarang kita pulang dahulu dan beristirahat. Aku tahu perjalanan mu sangat jauh. Jadi lebih baik kamu dan Eijaz beristirahat saja dahulu."


"Tapi ma.."


"Alia... temui papamu dulu. Dia sudah menunggumu di rumah."

__ADS_1


Alia terdiam, sebenarnya ia sangat ingin langsung ke rumah sakit menemui Putra dan sedikit merasa malas untuk bertemu Anton. Hanya saja permintaan mamanya membuat dirinya tidak dapat beralasan lagi. Mau tidak mau ia harus menuruti permintaan Devonna, karena Anton dan Devonna lah yang mengizinkan dirinya dan Eijaz kembali ke tanah air.


"Ya sudah," Ucap Alia dengan raut wajahnya yang terlihat pasrah.


.


Anton yang sedang menunggu kehadiran anak dan cucunya di beranda belakang rumahnya pun terlihat gelisah. Ia terus membakar rokok baru saat rokok ditangannya habis. Seakan melukiskan bahwa dirinya benar-benar merasa gelisah. Bukan karena ia tidak suka bertemu dengan anak dan cucunya. Hanya saja, Anton merasa bersalah dan tidak enak hati dengan sikapnya selama ini kepada Eijaz dan Alia.


"Bagaimana cara menyambut mereka?" Gumamnya lirih. Karena selama ini sikapnya selalu dingin dan masih ada perasaan gengsi dihatinya untuk bersikap tidak seperti biasanya kepada Alia dan Eijaz. Jadi ia benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana untuk menyambut kehadiran anak dan cucunya itu.


"Assalamu'alaikum.."


Seketika tubuh Anton membeku, kala ia mendengar ucapan salam dari anak semata wayangnya. Perlahan ia menoleh kebelakang dan menatap Alia dan Eijaz yang berdiri tidak jauh dari dirinya. Dimatanya, kini Alia terlihat begitu cantik dan anggun. Sedangkan Eijaz jauh lebih besar daripada terakhir kali ia melihat cucunya itu.


"Papa apa kabar?"


"Ba-baik" Sahut Anton.


"Terima kasih papa, papa sudah mengizinkan aku untuk pulang."


Ucapan Alia seketika membuat ego Anton pun luruh. Dengan bersusah payah, ia pun mencoba menahan tangisan harunya.


Alia melepaskan pelukannya, lalu ia memanggik Eijaz untuk memberikan salam kepada lelaki yang Eijaz panggil 'opa' tersebut.


"Eijaz, sini.. beri salam opa mu." Pinta Alia.

__ADS_1


Langkah lelaki kecil itupun mendekat, saat itu juga Anton memberanikan diri untuk menatap sosok mungil itu dengan ekspresi yang tak tahu akan dibawa kemana.


"Apa kabar opa..? It's me, Eijaz."


Tubuh Anton semakin gemetar, hingga membuat lututnya terasa lemas. Ia pun berlutut dan menatap Eijaz dengan seksama. Terbayang wajah Putra disana, wajah lelaki yang sedang ia coba maafkan segala khilaf dan kesalahannya. Dengan bersusah payah, Anton berusaha melawan perasaan bencinya. Ia tahu, sudah tidak saatnya ia menunjukan egonya. Faktanya Alia bersama atau tidak dengan Putra, bayang-bayang Putra akan terus ada di wajah cucunya tersebut. Lalu untuk apa terus memendam dendam? Bukankah Eijaz yang akan menjadi korban dari keegoisan dirinya.


Anton berusaha untuk menyentuh kedua pipi Eijaz, namun bocah itu langsung memeluk tubuh Anton, yang membuat Anton terdiam membisu.


"Eijaz senang bertemu opa. Terima kasih opa sudah mengundang Eijaz dan mama untuk datang ke Indonesia."


Anton masih terdiam, terasa hantaman keras memukul keras di hatinya yang beku.


"Iya sama-sama." Ucapnya dengan suara yang bergetar.


Eijaz melepaskan pelukannya dan menatap Anton dengan senyuman di wajah tampannya.


"Mama.. ternyata opa masih muda dan tampan. Aku senang bertemu dengan opa," Ucap Eijaz kepada Alia. Alia dan Devonna hanya tersenyum menanggapi ucapan sang putra. Tetapi tidak dengan Anton, lelaki itu merasa haru dengan ucapan Eijaz. Ia tidak lagi dapat membendung perasaannya. Ia kembali memeluk Eijaz dengan erat hingga ia menitikkan air mata penyesalan atas sikapnya selama ini kepada sang cucu.


"Maafkan opa ya.. Opa sudah jahat sama kamu dan mamamu. Maafkan opa," Ucap Anton lirih.


Eijaz yang polos tidak mengerti apa maksud dari ucapan opa nya. Ia hanya terdiam di dalam pelukan Anton. Sedangkan Alia dan Devonna terlihat ikut terharu dengan sikap Anton kepada Eijaz. Bila saja Putra tidak pernah datang menemui Alia, dan bila saja tidak ada kejadian buruk pada Putra, tentu saja perdamaian antara Alia, Eijaz dan Anton tidak akan pernah terjadi. Hidup Alia akan terus seperti apa yang ia jalani di Zurich.


Selalu ada kebaikan dari setiap musibah, karena ketentuan Tuhan tidak ada yang buruk untuk umatnya. Itupun bila umatnya dapat memandang musibah sebagai hal yang sudah di tentukan. Dan tentu saja mencoba ikhlas dan juga menerima adalah kunci dari segala hasil yang terbaik.


Suasana haru membiru terukir di beranda belakang rumah Anton. Senyuman tulus dari hati yang ikhlas mulai merebak. Saling memaafkan, menerima bila setiap manusia bisa saja melakukan kesalahan itu adalah jalan yang terbaik. Seperti apa akhir dari permasalahan yang sedang kita hadapi, itu adalah tergantung dari apa yang kita sikapi.

__ADS_1


__ADS_2