
Suasana kaku terlihat jelas sekali di ruang tamu kediaman Banyu. Abah dan ambu duduk di hadapan Banyu dan Tasya. Terlihat Tasya menundukkan wajahnya dalam-dalam, layaknya seseorang yang sedang bersalah dan akan di adili saat itu juga. Sedangkan Banyu terlihat lebih santai di hadapan kedua orangtua nya.
"Jadi kalian teh sudah menikah jang?" Tanya ambu dengan wajah yang tak percaya.
"Sudah ambu, abah.. hari itu juga kami menikah." Terang Banyu.
"Kok bisa? Alasan nya apa? Tapi Tasya kan...
"Ambu.. abah.. Banyu memang mencintai Tasya sudah sejak lama." Banyu menggenggam tangan Tasya yang terus menundukkan kepalanya.
"Tapi jang... aduh.. kamu teh.." Ambu sudah habis kata-kata saat menerima kenyataan bila Banyu menikahi calon tunangan adik nya sendiri.
"Ambu.. abah.. apa tidak berpikir malunya kedua orangtua Tasya di kampung?"
Ambu dan abah terdiam, mereka berdua saling bertatapan sejenak, lalu kembali menatap Banyu dan Tasya yang sama sekali tidak berani menatap mertuanya tersebut.
"Niat ku menikahi Tasya bukan hanya sekedar menutupi malunya keluarga Tasya. Tetapi aku memang ingin menikah dengan nya. Aku mencintai dia, sangat mencintai dirinya."
"Sejak kapan kamu mencintai calon tunangan adik mu sendiri jang?" Tanya ambu lagi.
"Sejak pertemuan pertama kami, aku sudah mulai tertarik padanya. Hanya saja saat itu aku tidak mau berpikir macam-macam, karena aku baru beberapa bulan kehilangan Tika. Tetapi, di pertemuan selanjutnya aku mulai yakin kalau aku jatih cinta padanya. Tetapi, Putra sudah lebih dahulu mendekati dirinya. Saat itu aku hanya bisa pasrah dan berdoa, atas kebahagiaan dirinya. Siapa sangaka, kalau akulah kebahagiaan nya," Ucap Banyu seraya tersenyum tipis.
Tasya mengerutkan dahinya dan menoleh ke arah Banyu. Ia tidak menyangka dengan pengakuan konyol dari suami nya itu.
"Jadi kalian teh benar-benar sudah sah gitu? Sudah bobo berdua?"
"Ambu.." Tegur abah.
"Ambu teh cuma bertanya atuh kang!"
"Sudah ambu, kami sudah benar-benar sah dimata agama. Tetapi belum mengurus surat-surat nya. Ini lah mengapa aku ingin ambu dan abah kemari. Selain mengurus Putra, aku juga ingin mengatakan kalau dalam waktu dekat ini, aku mau menikah resmi dengan Tasya."
Ambu dan abah pun terdiam. Mereka terus menatap Banyu dan Tasya. Terlihat Tasya semakin gugup dan gemetar. Ia takut sekali bila dirinya dan Banyu tidak akan di setujui untuk menikah resmi.
"Aku mohon doa dan restu dari abah. Terus aku mohon kesediaanya abah dan ambu untuk menjadi pendamping aku di acara pernikahan resmi kami."
"Tapi jang.. apakah Putra sudah tahu?"
"Sudah.. Putra sudah mengetahui pernikahan kami."
"Apa pendapat nya?"
Banyu menghela nafas panjang, lalu ia menatap kedua orangtua itu.
__ADS_1
"Dia marah padaku. Tetapi, ya sudahlah.."
Mereka berempat pun terdiam membisu beberapa saat. Hingga akhirnya abah memberanikan diri untuk berbicara.
"Jodoh teh ditangan Tuhan. Kalau Tasya akhirnya menikah dengan Banyu, abah teh tidak apa-apa."
"Bah..!" Terlihat ambu ingin protes dengan statment dari abah.
"Ambu.. semua teh sudah di atur sama yang diatas. Kalau mereka berjodoh, itu sudah pasti semua karena rencana Tuhan. Kenapa pertunangan itu gagal? Ya mungkin Tasya teh tidak berjodoh dengan Putra. Tetapi jodoh nya teh, Banyu. Coba ambu pikir... kita teh hanya bisa berencana, tetapi segala sesuatunya itu tetap keputusan Tuhan, ambu..."
Ambi terdiam, ia menghela nafas panjang dan kembali menatap Banyu dan Tasya.
"Apa kamu teh benar-benar mencintai Banyu? Apa Banyu tidak hanya sekedar menutup malu saja, sehingga kamu teh mau dinikahi oleh Banyu?" Tanya ambu kepada Tasya.
Tasya mengangkat wajahnya dan menatap mertuanya itu. Lalu ia melirik Banyu yang terlihat siap untuk membela dirinya.
"Ya.. sebenernya saya juga mencintai mas Banyu bu.."
"Bagaimana bisa kamu mencintai kedua anak saya?" Tanya ambu dengan raut wajah yang terlihat bingung.
"Hmmm.. bukan begitu ambu.." Potong Banyu.
"Jadi bagaimana jang? Masa iya habis dari Putra ke kamu!" Ambu mulai terlihat emosi.
"Jujur, awalnya saya jatuh cinta kepada mas Banyu. Tetapi, mas Banyu terlihat tidak mencintai saya. Terus mas Putra mendekati saya ambu... Mas Putra dekat sekali dengan anak saya, yang akhirnya membuat saya luluh. Bukan karena saya mencintai dia, hanya saja... saya seorang janda, saya pasti mencari sosok bapak untuk anak saya. Jadi, bukan sekedar suami." Terang Tasya.
Ambu dan abah terdiam mendengar penjelasan Tasya.
"Saat mas Putra melamar saya pun, saya tidak langsung menerimanya kok ambu, abah. Karena saya masih ragu, dan.. saya masih memikirkan mas Banyu, mungkin saja ada kesempatan bagi saya untuk bersama dengan mas Banyu. Tetapi, tampaknya mas Banyu tidak mencintai saya. Kebetulan, ibu saya sakit dan meminta saya untuk segera menikah. saya kalut, dan akhirnya menerima lamaran mas Putra."
"Ternyata saya salah, selama ini saya mengira mas Banyu tidak mencintai saya. Ternyata mas Banyu menawarkan dirinya untuk menjadi pengganti mas Putra. Bagaimana saya bisa menolak? Selain saya mencintai mas Banyu, ternyata bapak saya pun setuju." Sambung Tasya.
Abah dan ambu menghela nafas panjang, lalu mereka terlihat mulai salah tingkah. Pun dengan Banyu dan Tasya yang tak kalah salah tingkah nya dengan kedua orangtua Banyu tersebut.
"Jadi intinya teh apa bah...?" Tanya ambu dengan ekspresi wajah yang polos.
"Aduh ambu teh... masa begitu tidak mengerti? Mereka teh sudah saling suka dari dulu."
"Oh... terus..."
"Ya sudah atuh ambu.. restui saja. Memang itu jodohnya Banyu. Cukup sudah Banyu menderita, biarkan dia bahagia."
Ambu terdiam mendengar ucapan abah. Lalu ia kembali menatap Banyu dan Tasya yang menatap mereka dengan tatapan penuh harapan.
__ADS_1
"Kami mohon doa restu nya abah.. ambu.." Ucap Tasya dan Banyu secara bersamaan.
Ambu terus mengamati Tasya dengan tatapan yang tidak dapat Tasya artikan. Tatapan ambu itu membuat Tasya mulai merasa gelisah tak karuan.
"Jadi bagaimana abah, ambu?" Tanya Banyu dengan suara yang terdengar begitu memelas.
"Jang... sebelumnya teh ambu dan abah meminta maaf atas kesalahan kami selama ini. Sekarang teh, kalau kamu bisa memaafkan kami, mengapa kami tidak bisa bertoleransi dengan pilihan mu? Bahagia lah.. kami teh hanya bisa berdoa untuk kehidupan mu yang lebih baik." Ucap abah.
Tasya dan Banyu langsung bertatapan. Lalu terbingkai senyum di wajah mereka berdua.
"Jadi, abah dan ambu merestui kami?" Tanya Banyu.
"Pasti, kami teh pasti merestui kalian berdua. Hidup lah dengan baik hingga maut memisahkan kalian berdua," Ucap abah.
"Terima kasih abah, ambu...!" Banyu beranjak dari duduknya dan bersimpuh di kaki kedua orang tuanya.
"Terima kasih.." Ucap Banyu lagi.
"Sama-sama jang... kamu juga Tasya.. dengan senang hati kami menerima kamu."
Bahagia bukan kepalang, Tasya pun melakukan hal yang sama seperti yang Banyu lakukan. Ia bersimpuh di kaki kedua mertuanya itu. Memohon restu dan ridho dari keduanya. Karena Tasya tahu, tanpa restu dan ridho dari kedua orang tua Banyu, tetap ada yang kurang dari pernikahan mereka berdua.
"Terima kasih abah ambu," Ucap Tasya seraya menahan tangisan haru nya.
"Sama-sama.." Sahut abah.
Sedangkan ambu hanya diam saja, wanita tua itu masih tampak bimbang dengan keputusan abah. Namun bagaimanapun, tugasnya sebagai orangtua yang pernah bersalah kepada Banyu, hanyalah memberikan restu. Dengan harapan, dengan restu tersebut, hubungan nya dengan Banyu akan semakin membaik.
"Tapi nanti Putra...
"Halah... sudah..." Potong abah.
"Bah..."
"Ya?"
"Abah teh..."
"Apa sayang?"
"Ih.. abah teh..."
"Saranghae ambu.."
__ADS_1
Ambu tersipu malu, di susul tawa geli dari Banyu dan abah. Sedangkan Tasya hanya bisa mengulum senyum nya melihat tingkah kedua mertuanya itu.