Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
66. Keraguan yang mulai muncul


__ADS_3

Banyu berjalan dibelakang Tasya, lelaki itu terus menatap Tasya yang sedang berjalan memutari lorong di sebuah toko oleh-oleh. Sesekali Banyu pura-pura terlihat sibuk memperhatikan oleh-oleh yang tertata rapi di rak, kala Tasya menoleh kebelakang dan menatap dirinya. Ia tidak mau bila Tasya mengetahui kalau dirinya terus memperhatikan wanita pujaannya itu.


"Sudah mas, kita ke kasir yuk." Ajak Tasya, kala oleh-oleh yang ia pilih untuk keluarganya di Kota Solo sudah cukup.


"Segini saja?" Tanya Banyu seraya melihat isi keranjang yang sedang ia bawa.


"Iya mas, keluarga ku tidak banyak kok. Hanya keluarga inti saja. Lagipula di sana pasti sudah masak-masak untuk menyambut mas Banyu dan keluarga." Tasya tersenyum menatap Banyu. Tetapi Banyu mendadak salah tingkah kala Tasya tidak menyebut nama Putra, melainkan hanya menyebut nama dirinya dan keluarga.


"Oh, baik," Ucap Banyu. Lalu Banyu dan Tasya pun melangkah menuju kasir di toko oleh-oleh tersebut.


"Habis ini kita mau kemana mas? Katanya mau bicara padaku.." Tanya Tasya, saat belanjaan nya sedang dihitung oleh petugas kasir.


"Hmmm... anu.." Banyu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seraya membuang pandangan nya ke keramaian orang yang sedang mengantri.


"Kenapa sih?" Tanya Tasya sambil mengernyitkan dahinya dan menatap Banyu dengan tatapan yang terlihat bingung.


"Pokoknya ikut saja ya, kita makan siang," Ucap Banyu seraya mengeluarkan kartu debit nya.


"Loh.. mas.. aku saja yang bayar.. kan aku yang belanja.." Cegah Tasya seraya menahan tangan Banyu yang hendak menyerahkan kartu debit nya kepada petugas kasir yang baru saja merapikan belanjaan Tasya yang baru saja dihitung.


"Semuanya lima ratus enam puluh enam ribu pak." Ucap petugas kasir.


"Ini mbak." Banyu terus memaksa petugas kasir untuk menerima kartu debit nya.


"Jangan mbak... buar saya saja." Cegah Tasya, seraya mengeluarkan kartu debit nya.


"Jadi yang mana ini mbak, mas? Lagi antri loh." Tegas petugas kasir itu.


"Punya saya saja." Banyu memaksa petugas kasir itu menerima kartunya. Demi menghemat waktu dan menghindari perdebatan, petugas kasir itu langsung mengambil kartu milik Banyu dan mengurus pembayaran nya. Tasya hanya bisa terdiam seraya menatap Banyu yang pura-pura tak acuh kepada dirinya.


"Mas mah begitu.. aku kan jadi tidak enak. Sudah diantar, dibayarin, dan sekarang mau diajak makan siang," Ucap Tasya.


Banyu melirik wanita pujaan nya itu seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Tenang, aku baru saja dapat bonus dari bos ku. Ini semua karena kamu juga yang ikut memilih barang-barang berkwalitas dari perusahaan kami."


Tasya membulatkan kedua matanya dan tersenyum kepada Banyu.

__ADS_1


"Beneran mas?"


"Iya dong.."


"Asik...! Jadi ini ceritanya mau traktir aku?" Tanya Tasya dengan bersemangat.


"Iya.. jadi, jangan merasa tidak enak. Ini semua juga karena kamu." Banyu kembali tersenyum lebar dan mengusap puncak kepala Tasya. Tasya mengulum senyum nya kala Banyu mengusap puncak kepalanya dengan penuh perasaan. Entah mengapa ia merasa Banyu sangat memanjakan dirinya.


"Yuk," Ucap Banyu, seraya membawa oleh-oleh yang sudah di packing.


"Yuk.." Sahut Tasya.


.


Banyu dan Tasya berjalan berdampingan di parkiran toko oleh-oleh tersebut. Sesampainya mereka di mobil Banyu, Tasya masuk kedalam mobil terlebih dahulu, sedangkan Banyu memasukkan belanjaan kedalam bagasi mobil milik nya dan setelah itu ia menyusul masuk kedalam mobil tersebut. Ia menghela nafas panjang dan menatap Tasya yang sedang memakai sabuk pengaman.


"Hmmm.. Tas.."


"Ya mas?" Tanya Tasya seraya melirik Banyu yang terus menatap dirinya.


"Bagaimana di kantor?" Tanya Banyu lagi.


"Aku tahu itu sangat berat."


Tasya mengerutkan keningnya dan menatap Banyu dengan seksama.


"Maksudnya mas?"


"Aku sudah mendengar cerita tentang kejadian kemarin. Apa kamu benar-benar baik-baik saja?"


Deg!


Tasya kembali diam membisu.


"Tasya, aku tahu kamu...


"Mas.. siapa yang memberitahu kamu?" Potong Tasya.

__ADS_1


"Hmmm, tentu saja Anton. Siapa lagi? Dia kan sahabat baik ku. Apa saja pasti akan dia ceritakan kepadaku."


"Oh.." Sahut Tasya, lalu wanita itu terdiam beberapa saat.


Banyu meraih tangan Tasya dengan lembut, lalu ia mengusap punggung tangan Tasya dengan ibu jarinya.


"Tas, kamu kuat.. aku tahu itu. Aku bertanya tentang ini, hanya karena aku ingin tahu keadaan kamu yanh sebenarnya. Tetapi, aku melihat kamu sebenarnya tidak baik-baik saja."


Tasya menatap Banyu dengan genangan air mata di kedua pelupuk mata indah nya.


"Kamu bisa bercerita apa pun kepadaku. Walaupun nanti kamu sudah resmi menjadi istri adik ku. Tas, percayalah kepadaku."


Tasya mulai menangis, menunjukan kelemahan nya sebagai seorang wanita yang membutuhkan perlindungan dan dukungan dari seseorang. Tanpa membuang waktu, Banyu langsung membuka sabuk pengaman Tasya yang sudah terpasang, lalu ia merengkuh tubuh wanita itu kedalam pelukan nya yang hangat.


"Tas, menangislah... aku tidak akan menganggap kamu lemah. Justru bila kita menangis, itu tandanya kita berusaha untuk tetap kuat. Kamu kuat Tas, aku akui itu," Ucap Banyu seraya mengusap punggung Tasya yang terisak di dalam pelukan nya.


"Mas... kenapa aku selalu di buat seperti ini? Seakan aku tidak ada harganya. Rumah tangga ku yang dulu aku di buat seperti tidak ada artinya. Setelah aku bercerai pun, aku seakan tidak di hargai dan dianggap sampah oleh keluarga mantan ku. Sekarang, aku di kantor aku dibuat seperti ini, hanya gara-gara wanita itu cemburu padaku yang diajak pak Anton ke pertemuan kemarin. Aku salah apa mas? Mengapa aku selalu sial?" Tasya terus mengungkapkan ketidak puasan nya pada hidup nya yang ia rasa tidak adil kepada dirinya.


"Bukan.. justru kamu hebat, makanya kamu diberikan ujian yang mungkin lebih daripada manusia biasanya. Kamu yang sabar ya..." Banyu berusaha menenangkan Tasya.


"Aku berusaha sabar mas, tapi kenapa sih... orang-orang disekitar ku? Mereka punya masalah apa denganku?"


"Sssttt.... sudah..." Banyu melepaskan pelukan nya dan lalu meraih kedua pipi Tasya dan mengusap air mata Tasya yang terus mengalir di pipi wanita itu.


"Jadi bagaimana? Apa kamu mau membuka toko kue?"


Tasya berhenti terisak, ia menatap Banyu dengan tatapan yang tak percaya.


"Ma-maksudnya mas?"


"Nih, usap dulu air matanya. Setelah itu kita makan siang sambil membahas usaha kita bersama," Ucap Banyu seraya meraih beberapa lembar tisu dari atas dashboard mobilnya dan menyerahkan nya kepada Tasya yang terlihat masih bingung dengan ucapan Banyu.


"Ini.. ambil tisu nya, usap air matanya. Aku mau menyetir dulu dan membawamu ketempat yang asik. Biar tidak sedih lagi."


Dengan ragu, Tasya meraih beberapa lembar tisu yang Banyu berikan kepada dirinya. Ia hanya bisa terus menatap Banyu yang tersenyum kepada dirinya dan lalu mengendarai mobil tersebut menuju tempat yang dijanjikan Banyu untuk dirinya.


"Mas Banyu... kenapa kamu selalu ada disaat-saat terpenting? Bahkan mas Putra tidak seperti dirimu. Mengapa mas? Mengapa bukan kamu orang nya..?" Batin Tasya.

__ADS_1


"Astaghfirullah.. aku sedang memikirkan apa? Tidak baik aku membandingkan kebaikan mas Banyu dan mas Putra. Sedangkan mas Putra adalah sosok pengganti seorang ayah, yang sangat cocok untuk Rafis. Lagipula, tinggal esok hari... ya... esok hari aku akan bertunangan dengan mas Putra."


"Tetapi, kenapa mas Putra seakan hilang ditelan bumi saat ini? Kami hanya berkomunikasi lewat pesan saja. Apakah besok dia akan benar-benar datang? Apakah.... Ah... aku kenapa mulai ragu..." Batin Tasya lagi seraya memijat pelipisnya yang terasa pusing.


__ADS_2