Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
91. Malam yang indah


__ADS_3

Hari mulai larut malam, kedua orang tua Banyu sudah kembali ke kamar mereka. Sedangkan Rafis, sudah tidur bersama dengan baby sitter nya. Asisten rumah tangga yang baru saja selesai mengerjakan tugas nya di dapur, pun beranjak masuk kedalam kamarnya yang berada di paviliun samping rumah tersebut. Suasana mulai sepi, sebagian lampu di rumah itu pun sudah di padamkan oleh asisten rumah tangga sebelum dirinya kembali ke kamarnya.


Banyu masih asik dengan kopi nya yang masih tinggal setengah di gelas kopi nya. Di beranda rumah itu, ia asik menikmati malam dan belum beranjak dari sana, setelah berbincang berdua saja dengan abah yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam untuk tidur. Matanya tertuju pada bunga Anggrek peninggalan Tika. Bunga itu begitu sehat dan subur, sehingga warnanya yang ungu terlihat begitu indah saat terkena pantulan cahaya lampu. Banyu tersenyum dan beranjak dari duduk nya. Lalu ia menyentuh bunga Anggrek tersebut dengan lembut.


"Besok aku akan mengunjungi kamu. Maaf bila belakangan ini aku terlalu sibuk. Tika, ada banyak hal yang ingin aku katakan kepadamu. Hidupku kini sudah lebih baik. Kamu wanita hebat yang tidak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku. Bahkan sampai aku mati."


"Tika, bahkan setelah kamu tiada, kamu tetap memperhatikan aku dari sana. Entah itu lewat mimpi ataupun isyarat. Mungkin hanya pikiran ku saja, tetapi aku benar-benar merasakan kehadiran kamu."


"Tenang lah disana.. wahai wanita cantik ku, bersama dengan anak kita. Aku disini sudah siap untuk melanjutkan hidup, seperti ucapan mu di dalam mimpi. Terima kasih sudah menjadi kenangan indah di hidupku. Kini.. izinkan Tasya menggantikan peran mu, dan sampai jumpa di kehidupan selanjutnya." Batin Banyu.


"Mas.."


Banyu menoleh dan menatap Tasya yang tampak tersenyum kepada dirinya. Banyu membalas senyuman Tasya seraya menghampiri istrinya itu.


"Ya?" Sahut nya.


"Gak tidur?"


"Ini baru mau ke kamar, eh sudah di samperin."


Banyu kembali tersenyum dan membelai lembut rambut panjang Tasya.


"Kopi nya belum habis?" Tasya melirik kedalam gelas kopi milik Banyu. Lalu ia beranjak duduk di kursi beranda rumah itu.


"Aku temani sampai kopi nya habis ya," Ucap Tasya lagi.


Tasya adalah istri yang begitu pengertian. Dari dulu dirinya seperti itu. Tidak banyak protes dan selalu memberikan sikap terbaiknya pada pasangannya. Hanya saja, Antoni tidak pernah bersyukur telah memiliki Tasya. Dan kini Tasya sudah menjadi milik Banyu yang begitu bersyukur memiliki Tasya.


Banyu menatap Tasya yang begitu pengertian, lalu ia beranjak mendekati istrinya itu.


"Tidak usah dihabiskan, mari kita ke kamar," Ucap Banyu.


Tasya mengulum senyumnya dan mengangguk pelan.


"Ya sudah, aku bawa gelas nya ya.."


"Tidak usah, biar si mbak saja besok pagi." Cegah Banyu.


"Tapi mas.."


"Ayo kita ke kamar, aku ingin memeluk mu dengan erat." Bisik Banyu.


Lagi-lagi Tasya terlihat malu dan pipinya mulai memerah. Lalu ia mengikuti apa kemauan suaminya itu. Mereka berdua pun melangkah masuk kedalam rumah dan menutup serta mengunci pintu depan rumah itu.


.


Setibanya mereka di kamar, jantung Tasya mulai berdegup kencang kala Banyu menuntun dirinya hingga ke ranjang. Mereka saling bertatapan hingga masing-masing dari mereka tertawa canggung.


"Apa sih mas?" Ucap Tasya yang maaih terlihat malu-malu.


"Gak apa.. kenapa?" Tanya Banyu seraya terus tertawa kecil.


"Mas..."


"Tas..."


Mereka saling memanggil dengan bersamaan, hingga mereka kembali tertawa karena salah tingkah.


"Mas duluan saja."

__ADS_1


"Tidak, kamu duluan."


"Mas saja.."


"Kamu saja," Banyu yang masih berdiri di depan Tasya yang sedang duduk diatas ranjang pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Terlihat suasana semakin canggung diantara keduanya.


"Mas kan suami.. mas duluan saja," Ucap Tasya.


"Kamu istriku, kamu prioritas ku."


Tasya tersenyum dan menundukkan pandangan nya, saat mendengar ucapan Banyu yang terdengar begitu romantis di telinganya.


"Ya sudah, aku hanya....


Tasya menghentikan ucapannya, ia menundukkan wajahnya dalam-dalam, seakan ia begitu malu untuk mengatakan apa yang ingin ia sampaikan pada Banyu.


"Hanya apa?" Tanya Banyu seraya beranjak duduk tepat di samping Tasya.


"Tidak jadi, aku ke kamar mandi dulu ya.."


Banyu menahan tangan Tasya yang hendak beranjak dari sisinya. Mereka pun kini saling bertatapan dengan wajah yang sama-sama canggung.


"Kamu sudah selesai haid?" Tanya Banyu secara terus terang.


Tasya pun mengulum senyumnya dan menundukkan wajahnya karena malu.


"Hei... istri cantik ku.. kamu sudah selesai? itu kan yang mau kamu sampaikan?"


Tasya kembali menatap Banyu. Lalu dengan wajah yang semakin memerah, ia pun mengangguk ragu dan di susul dengan senyuman Banyu yang begitu tampak bersemangat.


"Apakah kita sudah bisa?" Tanya Banyu seraya menepikan rambut Tasya yang terjatuh menutupi pipinya yang memerah.


Lalu mereka berdua terdiam, layaknya bujang dan gadis, mereka terlihat begitu canggung untuk memulainya.


"Kamu mau ke kamar mandi dulu?" Tanya Banyu.


Tasya mengangguk tanpa berani menatap kedua mata teduh suami nya.


"Ya sudah, silahkan." Banyu mempersilahkan Tasya untuk ke kamar mandi terlebih dahulu. Lalu tanpa menunggu lama, Tasya punn beranjak menuju ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi ia tampak gelisah. Ada perasaan tak percaya diri yang mulai menyerang dirinya. Entah karena bentuk tubuh nya yang ia nilai semakin berisi, entah masalah bekas luka di lengan, atau apa saja mulai terlihat kurang di matanya. Tasya mendengus kesal karena rasa tak percaya dirinya sendiri. Tetapi sejurus kemudian ia pun mulai menenangkan dirinya dengan membasuh wajah nya dengan air yang baru saja ia nyalakan di wastafel.


Setelah membasuh wajahnya, tasya mengeringkan wajahnya dengan selembar handuk dan Tasya pun mulai menghampiri rak yang berada di dalam kamar mandi itu, disana sudah ada baju tidur tipis dengan bahan satin yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Ia sengaja menaruh baju tidur itu disana, dengan maksud ingin memberikan kejutan untuk sang suami. Tetapi kini ia tampak ragu memakainya, karena rasa malu yang mulai menyelimuti hatinya.


"Pakai gak ya?" Gumam Tasya.


"Uhukkkk..!" Terdengar kode yang di sampaikan oleh Banyu dari dalam kamar, yang menandakan bila Tasya sudah terlalu lama di dalam kamar mandi, dan Banyu tak sabar menunggu dirinya.


"Ah sudah lah! Pakai saja... bodo amat sudah! Harus pede... semangat Tasya!" Gumam nya seraya mulai melepaskan pakaian nya dan menggantinya dengan pakaian tidur yang sudah ia persiapkan.


.


Banyu berjalan mondar-mandir di dalam kamar, saat menunggu sang istri yang sedang berada di dalam kamar mandi. Wajahnya terlihat gelisah, jantungnya pun terus berdebar tak karuan. Sesekali ia melirik ke arah pintu kamar mandi, hanya ingin memastikan sang bidadari keluar dari dalam kamar mandi itu. Banyu mengigit kuku-kuku nya sambil terus berjalan mondar-mandir, untuk mengusir rasa groginya.


Cklekkk!


Suara pintu kamar mandi terbuka, reflek Banyu menoleh kearah kamar mandi tersebut. Sejurus kemudian terlihat sang bidadari melangkah keluar dari dalam kamar mandi. Banyu pun terpana saat melihat Tasya yang berdiri mematung di depan pintu kamar mandi. Tasya terus menundukkan wajahnya dalam-dalam, saking merasa tidak percaya dirinya. Tasya terus berdiri disana dan mematung membisu.


Sadar bila sang istri terus mematung, Banyu pun berinisiatif untuk menghampiri Tasya. Perlahan ia berjalan mendekati wanita yang terlihat sangat cantik malam ini, hingga membuat jantung nya terasa ingin melompat keluar dari dadanya. Banyu menghentikan langkah kakinya tepat di depan Tasya. Kedua matanya terus menyusuri setiap detil tubuh yang terbungkus dengan pakaian tidur yang super tipis itu.

__ADS_1


"Kamu cantik, kamu indah," Ucap Banyu pelan.


Perlahan Tasya mendapatkan kepercayaan dirinya, ia mulai mengangkat wajahnya dan menatap sang suami yang terlihat kagum kepada dirinya.


"Te-te-terima kasih mas," Ucap Tasya pelan.


Banyu tersenyum dan langsung membopong tubuh Tasya dan membawanya ke atas ranjang. Matanyanterus menatap wajah sang istri tanpa sempat berkedip sedetik pun.


Perlakuan Banyu kepada Tasya, membuat Tasya begitu bahagia, baru kali ini ia merasakan diperlakukan layaknya sang Ratu. Kedua matanya pun tak teralihkan dari wajah sang suami. Kini dirinya sudah terbaring diatas ranjang, sedangkan Banyu duduk di tepi ranjang seraya terus menatap wajah Tasya.


Perlahan Banyu mendekati wajahnya untuk mencoba mencicipi bibir indah sang istri. Hingga bibirnya menyentuh hangatnya bibir Tasya yang terlihat merah bagaikan kelopak bunga mawar. Banyu mulai melancarkan aksinya, ia mulai menjelajahi bibir sang istri, hingga ia tidak mampu mengendalikan deru nafasnya. Rasa ingin itu terus mendesak dari balik pakaian Banyu yang mulai terasa mengganggu baginya. Banyu mulai melepaskan kecupan nya, dan kembali menatap Tasya yang terlihat pasrah dengan apa pun yang akan Banyu lakukan pada dirinya.


Banyu mulai melepaskan kaos nya. Kini Tasya lah yang mulai merasa gelisah saat ia melihat otot perut dan dada yang bidang milik Banyu. Jantung nya berdegup kencang, nafasnya mulai menderu. Perlahan ia mulai menyentuh otot perut Banyu dengan tangan nya yang lembut. Seolah ia ingin menyampaikan bila dirinya sangat mengagumi perut sang suami.


Banyu pun tersenyum kala melihat ekspresi wajah Tasya yang begitu kagum kepada dirinya. Ia kembali membuai Tasya dengan sentuhan lembut nya. Ia mulai menjelajahi setiap inci tubuh Tasya yang halal baginya. Hingga ia menyentuh bagian sensitif milik Tasya, yang membuat Tasya merasakan getaran yang tak biasa. Melihat ekspresi sang istri, Banyu mulai merasa tak kuasa ingin segera melakukannya. Ia pun mulai menanggalkan pakaian nya yang tersisa dan menunjuk kejantanan nya kepada Tasya tanpa rasa malu.


Tasya terpaku, ia menelan saliva nya seiring sentuhan lembut yang terus menjelajahi tubunya.


"Mas.."


Namun panggilan nya kepada Banyu di abaikan oleh lelaki itu. Banyu mulai menenggelamkan wajahnya di bawah sana, yang membuat Tasya menggelinjang hebat. Ia meremas rambut Banyu, sesekali erangan keluar dari bibir mungilnya. Hingga Tasya tak mampu lagi menahan rasa yang indah itu, ia pun hampir menjerit dan meremas rambut Banyu dengan kuat.


Banyu terlihat puas dengan apa yang ia berikan pada Tasya, kini tanpa basa basi ia mulai menancapkan miliknya ke rongga tubuh Tasya. Ekspresi Tasya yang menggila, membuat Banyu semakin bringas, ia pun memberikan persembahan terbaiknya untuk sang istri. Hingga Tasya kembali mengerang dengan kuat.


Dengan nafas terengah, Banyu tersenyum dan mengecup kening sang istri. Pun dengan Tasya yang terlihat mulai berpeluh, ia mencengkram kuat kedua lengan sang suami, lalu ia beranjak duduk dan mendorong tubuh Banyu hingga terbaring diatas ranjang.


"It is my turn," Ucap Tasya dengan raut wajah yang terlihat begitu liar dan menggoda, hingga Banyu terlihat pasrah kala Tasya berada di atasnya.


"Kamu nakal," Bisik Banyu seiring dengan gerakan Tasya yang kian membuai dirinya.


"Tasya... sayang.. arghhh...!" Banyu mulai tak tahan dengan rasa yang terus memuncak.


"Mas... aku..." Tasya mulai mengigit bibirnya sendiri.


"Sayang! Hhhhhh..." Banyu memeluk erat tubuh sang istri. Pun dengan Tasya yang mencengkram kuat kedua bahu Banyu.


Nafas mereka terengah, senyum mulai mengembang di wajah keduanya. Seiring rasa nikmat yang menjalar keseluruh tubuh mereka. Rasa itu adalah rasa yang selama ini sangat ingin mereka rasakan kembali. Setelah sekian lama mereka bertahan dengan kesendirian.


Banyu mengusap lembut punggung Tasya yang berpeluh, sedangkan Tasya mengecup lembut telinga Banyu.


"I love you," Bisik Banyu.


"I love you too.." Balas Tasya seraya menjatuhkan tubuhnya di samping Banyu.


Keduanya menatap langit-langit kamar, sambil mengatur nafas yang memburu, untuk normal kembali. Sesaat kemudian, mereka saling bertatapan dan terlihat begitu bahagia.


"Lagi?"


"Siapa takut!" Sahut Tasya.


"Kali ini aku yang mengendalikan kamu!"


"Lakukan apa yang kamu mau.."


Banyu pun tersenyum dan kembali beraksi.


..... .....


..

__ADS_1


__ADS_2