
Tok! Tok!
Anton yang sedang duduk di kursinya menatap pintu ruangan nya, tak lama muncul lah Tasya dengan peluh yang terlihat bercucuran di dahi wanita cantik itu. Anton menatap Tasya yang tampak terburu-buru menghampiri dirinya.
"Maaf pak, saya terlambat. Pesawat saya delay dan...
"Sudah, duduk saja." Perintah Anton seraya menunjuk ke kursi di depan nya.
Tasya terdiam, lalu ia menarik kursi di depan meja kerja Anton dan duduk di sana. Sesaat kemudian Tasya terperangah saat melihat Anton memberikan nya beberapa lembar tisu.
"Ambil dan seka peluh mu."
Tasya masih terpaku, lalu dengan ragu ia meraih tisu tersebut dan mengucapkan terima kasih kepada Anton yang sudah begitu baik memberikan tisu untuk nya.
"Bagaimana keadaan ibu mu?" Tanya Anton, dengan masih terus menatap Tasya dengan seksama.
"I-ibu saya sakit kanker paru-paru pak. Jadi, kemarin saya langsung izin dengan HRD melalui sambungan telepon kalau saya izin satu hari." Terang Tasya.
"Mereka tidak mengatakan nya pada saya."
"Saya minta maaf pak, tetapi saya benar-benar sudah meminta izin. Karena dadakan, jadinya saya tidak mungkin menunggu pagi untuk ke kantor. Jadi...
"Sudah.. saya paham." Potong Anton.
"Te-terima kasih pak."
"Ya." Sahut Anton seraya beranjak dari duduknya. Lalu ia berjalan kearah jendela kantor tersebut dan menatap gedung-gedung tinggi di seberang sana. Sedangkan Tasya hanya bisa terdiam, menunggu intruksi apa yang akan diberikan kepada dirinya dari Anton.
"Tasya.." Panggil Anton, setelah beberapa menit mereka saling diam di ruangan tersebut.
"Ya pak.."
"Saya mau kamu menemani saya makan malam."
Tasya terperangah dan menatap Anton yang masih asik menatap gedung-gedung tinggi di seberang sana.
"Ya pak.."
__ADS_1
"Saya ada pertemuan para pengusaha muda, jadi.. saya ingin di temani kamu."
"Mbak Riyanti...
"Saya mau kamu." Tegas Anton seraya berjalan mendekati Tasya dan menatap Tasya dengan tatapan nya yang begitu tegas.
"I-i-iya pak."
"Good... Nanti saya minta Riyanti menyiapkan gaun untuk kamu."
"Duh..." Batin Tasya. Ia tahu betul bagaimana sikap Riyanti kepada dirinya.
"Tapi pak..."
"Tidak ada tapi-tapi... dan jangan banyak bertanya. Pukul enam sore kita jalan dari kantor ini."
Tasya terdiam membisu, ia hanya mampu menatap Anton yang juga sedang menatap dirinya dengan tatapan yang serius.
"Baik pak."
"Ya sudah, kembali ke ruangan kamu."
Di dalam ruangan itu, kini hanya tinggal Anton sendiri. Ia terduduk lemas di atas kursinya dan mengusap wajahnya dengan gelisah. Baru kali ini ia memberanikan diri untuk mengajak Tasya untuk menghindari sebuah acara. Walaupun acara tersebut berhubungan dengan acara kantor, tetapi tetap saja ia merasa grogi kala memerintahkan Tasya untuk ikut bersama dengan dirinya. Biasanya ia selalu mengajak Riyanti yang merupakan sekretaris pribadinya. Tetapi, ia mulai bosan dengan Riyanti dan dia mulai berpikir untuk mulai mendekati Tasya, wanita yang sudah beberapa bulan ini ia sukai tanpa seorangpun tahu di kantor itu, kalau ia memiliki perasaan kepada wanita itu.
Sebenarnya ada hal yang mendorong Anton untuk mulai memberanikan diri mendekati Tasya. Yaitu, karena Anton sehari saja tidak melihat Tasya di kantor. Ada perasaan khawatir yang tidak biasa, hingga ia mulai merasa takut kehilangan wanita berkulit eksotis tersebut. Anton sudah memutuskan, bila ia harus mulai mendekati Tasya, dan berterus terang kepada wanita itu, kalau ia memiliki perasaan kepadanya.
"Harus, kamu harus menjadi istriku." Batin Anton.
.
"Iya bu... untuk minggu depan." Ucap Banyu kepada seseorang di seberang sana, melalui sambungan telepon.
"Baik pak, kami akan memberikan contohnya melalui pesan. Tinggal bapak kabarkan saja, mana yang mau bapak order."
"Baik bu. Terima kasih."
"Sama-sama pak."
__ADS_1
Panggilan tersebut pun berakhir. Kini Banyu hanya terdiam di meja kerjanya sambil menunggu pesan dari jasa pembuat bingkisan untuk lamaran dan hantaran pernikahan yang baru saja ia hubungi.
Dreeettt...! Dreeettt...!
Selang beberapa menit, Banyu dikejutkan oleh pesan-pesan bergambar yang baru saja ia terima dari jasa pembuat bingkisan tersebut. Dengan cepat ia membuka pesan tersebut dan melihat-lihat produk yang mereka tawarkan kepada Banyu. Banyu memperhatikan satu persatu pruduk dan bentuk dari bingkisan tersebut. Lalu ia tersenyum sendiri, membayangkan dirinyalah yang sedang bersiap untuk melamar Tasya, sang pujaan hati. Seketika senyum nya pun memudar, kala ia mengingat dirinya hanya sedang membantu adiknya untuk memesan produk-produk tersebut, untuk melamar Tasya minggu depan.
"Hhhhhh...! Bodohnya aku mau saja diperintah adik ku sendiri. Dan sialnya, ini untuk Tasya!" Keluhnya seraya memijat pelipis nya yang terasa pusing.
"Kemana anak itu? Ia tidak seperti biasanya. Apa yang terjadi dengan nya? Apakah dia sedang dibawah ancaman.. atau...
Tiba-tiba saja Banyu mengingat sosok Alia, gadis yang menjenguk dan berpelukan dengan Putra di rumah sakit, kemarin siang. Lalu, ia mencoba mengingat-ingat wajah gadis tersebut.
"Seperti kenal, tapi dimana?"
"Apa aku pernah berjumpa dengan nya?"
"Alia... hmmmm... Alia..." Banyu mengerutkan keningnya dan terus mencoba mengingat sosok Alia.
Tiba-tiba saja ia mengingat sosok gadis kecil yang begitu lincah, berusia sepuluh tahun, beberapa tahun silam. Ya, dia adalah anak dari Anton, sahabat yang merupakan mantan kakak kelas nya saat di sekolah menengah atas, dulu.
"Apa dia... Arghhh, tidak mungkin." Batin Banyu lagi.
Sosok Alia dan tatapan Alia yang begitu mengintimidasi, walaupun terlihat lembut kepada Putra, cukup membuat Banyu begitu penasaran dengan sosok gadis tersebut. Bagaimanapun, Banyu begitu mengenal Putra, adiknya yang tidak pernah mengenal takut saat bermain api dengan banyak wanita. Tapi ada perasaan berbeda kali ini di kacamata Banyu. Putra terlihat begitu tunduk kepada Alia, sedangkan Putra sendiri berniat akan menikahi Tasya. Sikap yang Putra tampakkan kemarin begitu ganjil, hingga Banyu pun mulai menghubungkan kejadian Putra yang di keroyok dengan sosok Alia itu sendiri.
"Apakah gara-gara gadis itu, hingga Putra menerima pengeroyokan?"
"Aku harus mencari tahu. Bagaimanapun juga, anak sialan itu adalah adik kandungku. Aku tidak ingin dirinya celaka. Cukup kemarin saja dia hampir mati, tidak untuk kali ini. Aku harus tahu duduk permasalahan nya. Mengapa dia menghilang begitu saja dari rumah sakit, dan memintaku untuk mempersiapkan acara lamaran nya? Pasti ada sesuatu yang ridam beres."
Banyu mulai mengetik nama Alia di internet. Ia mencoba berselancar di dunia maya, hanya untuk mencari tahu sosok gadis yang terlihat dominan kepada Putra.
"Alia... Alia.. Alia.." Gumam Banyu.
Satu persatu dari ribuan nama, mulai mengerucut kala Banyu mengetik nama universitas tempat Putra bekerja. Banyu terus berusaha mencari tahu, hingga muncul lah sebuah foto dari aplikasi Facebook. Tampak Alia yang Banyu maksud, sedang tersenyum kearah kamera.
"I got it!" Seru Banyu seraya mengepalkan tangan kirinya.
Banyu menekan profil Alia dari layar ponselnya. Lalu muncul lah halaman media sosial milik gadis tersebut. Banyu mulai mencari tahu, sayangnya media sosial milik Alia cukup sulit di untuk di cari tahu informasi pribadinya. Karena Alia cukup protect dengan menyembunyikan informasi pribadi dan postingan-postingan nya.
__ADS_1
"Sial..." Gumam Banyu. Lalu ia beranjak dari duduk nya dan mulai mondar mandir di ruangan nya.
"Aku harus ke universitas tempat Putra bekerja," Batin nya.