
Dreettt...! Dreettt...! Dreeettt...!
Putra dan Banyu dikejutkan oleh bunyi ponsel milik Putra. Saat itu juga Alia tampak ikut melirik ke ponsel milik Putra. Dengan cepat, Putra menyambar ponsel nya, agar Alia tidak sempat membaca nama dari orang yang sedang menghubungi dirinya.
"Siapa?" Tanya Alia dengan tatapan yang tampak penasaran. Tentu saja sikap nya yang seperti itu membuat Putra tampak gelagapan. Pun dengan Banyu yang terlihat tidak suka melihat sikap yang ditampakkan oleh Alia kepada adik nya, Putra.
"Bu-bukan siapa-siapa."
"Mana coba lihat." Alia mengulurkan tangan nya, kala ia meminta Putra menyerahkan ponsel itu kepada dirinya.
"Alia, tolong jaga sikapmu. Ada A'a ku disini." Tegur Putra dengan agak sedikit keras.
Alia melirik Banyu yang tampak sedang menatap dirinya. Lalu ia menghela nafas dan kembali menatap Putra dengan seksama.
"Ya sudah, nanti kamu aku hubungi. Aku pergi ke kampus dulu ya. I love you sayang..."
Banyu memalingkan wajahnya saat Alia mengecup mesra pipi Putra.
"Saya pergi dulu ya kakak ipar," Ucap Alia pada Banyu. Banyu hanya mengangguk pelan dengan wajah yang dingin.
Alia berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Kini, tinggallah Banyu dan Putra berdua saja di ruangan itu. Sepeninggal Alia, Putra tampak panik dan segera menghubungi Tasya yang panggilan nya sempat ia tolak.
Tuttttt... Tuttttt... Tuttt...
Tidak perlu menunggu lama, pada nada panggilan ketiga, Tasya pun menerima panggilan dari Putra.
"Halo!" Sapa Putra dengan nada suara yang terdengar panik. Ia takut sekali bila Tasya marah kepadanya, karena dia sempat menolak panggilan dari wanita yang sangat ia cintai itu.
"Halo mas," Sapaan lembut dari Tasya membuat Putra sedikit lega. Karena ia tahu bila wanita itu tidak sedang marah kepada dirinya.
"Maaf tadi sedang ada pengunjung. Begitu dia pulang, aku langsung menghubungi kamu. Ada apa sayang?"
Banyu yang sedang menatap Putra, langsung membuang pandangan nya, kala Putra memanggil Tasya dengan panggilan 'sayang'.
"Mas, aku mau bicara."
"Bicara apa?" Tanya Putra yang tampak penasaran. Karena Tasya terdengar begitu serius saat berbicara kepadanya melalui sambungan telepon tersebut.
"Mas..."
"Ya?"
"Mas serius akan menikahi aku?"
Deg!
Jantung Putra berdegup kencang. Ia merasa ada harapan lebih, kala Tasya mulai membahas tentang lamaran nya kemarin kepada wanita cantik tersebut.
"Aku serius, demi apapun aku serius." Tekan Putra.
"Kalau menikah, apakah mas berniat untuk tinggal di Solo denganku?" Tanya Tasya lagi.
"Justru itu yang aku mau! Aku mau tinggal jauh dari Kota ini!" Sahut Putra dengan nada suara yang penuh bersemangat.
__ADS_1
Pembicaraan Putra yang tampak serius dengan Tasya, menarik perhatian Banyu yang sedang duduk di sofa.
"Tas, percayalah kepadaku. Aku sangat mencintaimu. Aku serius denganmu. Aku juga sudah meminta restu pada orangtuaku dan juga A' Banyu."
Deg!
Banyu mengerutkan kening nya. Pandangan matanya tidak sekalipun beranjak dari Putra yang tampak bersemangat.
"Mas..."
"Ya sayang?"
"Hmmm... bagaimana ya ngomong nya.."
Putra tampak gelisah kala Tasya terdengar bimbang kepada dirinya.
"Ngomong saja, tidak masalah. Aku akan mendengarkan nya. Apa pun itu aku terima. Oh iya.. bagaimana kabar anak ku?"
Pertanyaan Putra yang begitu menyentuh membuat Tasya memejamkan kedua matanya. Lalu ia menghela nafas panjang dan melemparkan pandangan nya kembali ke arah pengunjung rumah sakit yang semakin siang semakin tambah ramai.
"Rafis?"
"Ya.."
"Dia baik.."
"Syukurlah."
"Mas.."
"Ya?"
Horeeeeeee...!
Batin Putra bersorak gembira, kala Tasya meminta dirinya untuk segera melamar dirinya, sebagai tanda keseriusan nya.
"Baik, aku akan segera melamar kamu. Beri aku waktu satu minggu. Besok aku akan segera keluar dari rumah sakit dan mempersiapkan segala kebutuhan untuk menggapai kamu. Percayalah, aku tak akan ingkar janji!"
"Baiklah, aku akan menunggumu mas."
"Ok... baik-baik disana.. Aku segera mempersiapkan segalanya."
"Iya mas."
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
.
"Yes! Aku akan segera menikah!" Seru Putra, saat panggilan telepon itu berakhir.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Tasya menerima lamaran ku A'..!"
Deg!
Bagaikan tertusuk sembilu. Kenyataan itu membuat sebagian dinding di hati Banyu terasa tercabik-cabik.
"Menerimamu?" Banyu kembali mencoba memastikan ucapan Putra.
"Iya...! Dia memintaku untuk segera melamarnya ke Solo. A', kabar baik ini akan segera aku beritahukan kepada Abah dan Ambu..!"
"Tapi... bagaimana Alia?" Sorot mata Banyu menatap lurus dan tajam pada Putra yang kini mendadak terdiam. Seperti tersadar dari mimpi, lelaki otu tampak berpikir keras tentang Alia, gadis yang sudah ia janjikan pernikahan di atas kertas bermaterai. Disaksikan oleh papa Alia dan juga beberapa bodyguard yang bekerja pada lelaki itu.
"Apa kamu seperti ini karena Alia? Siapa dia sebenarnya? Apa hubunganmu dengan nya? Mengapa dia berani sekali terhadapmu? Mengapa dia mengaku sebagai calon istri kamu? Bagaimana Tasya?" Pertanyaan yang dilontarkan Banyu bertubi-tubi itu membuat wajah Putra terlihat pucat pasi dengan seketika.
"A..."
"Put, kalau kamu mau menikahi Tasya, nikahi dia dengan baik. Jangan pernah beri dia masalah. Kamu tidak tahu kan? Kalau banyak lelaki yang berlomba untuk membahagiakan dia. Kalau kamu terpilih menjadi lelaki yang ia percayakan untuk cinta terakhirnya, jangan pernah kamu kecewakan hal itu! Kalau tidak...
Banyu menghentikan ucapan nya yang terdengar begitu emosi. Yang membuat Putra sedikit bertanya-tanya tentang sikapnya itu.
"Kalau tidak apa A'?"
"Hmmm..." Banyu terlihat salah tingkah. Ia beranjak dari duduknya dan menghela nafas panjang. Lalu ia menatap Putra dengan seksama dan menghampiri adik nya itu.
"A'a kok tahu kalau Tasya banyak yang suka?" Tanya Putra lagi.
"Begini, bos nya Tasya adalah rekanan ku. Tentu saja aku tahu. Tasya wanita baik-baik dan cantik, siapa yang tidak tertarik kepada dia? Bahkan, bos nya pun menyukai dia. Sainganmu berat, kalau kamu sia-siakan dia, tidak menutup kemungkinan dirimu akan dibenci banyak lelaki diluar sana."
Putra mengerutkan keningnya. Ia baru kali ini melihat Banyu begitu peduli dengan sosok wanita yang sedang ia dekati. Hal itu mengundang pertanyaan dalam hatinya. Ia membalas tatapan Banyu yang menatap dirinya dengan tatapan dingin, namun tersirat kemarahan yang terpendam didalam nya.
"Apa A' Banyu juga menyukai Tasya?" Pertanyaan itu terus muncul di benak nya.
"Sudahlah, aku mau ke workshop dulu. Mau melihat orang bekerja dan memastikan jumlah pesanan yang sudah bisa dikirim ke Semarang." Banyu melangkah menuju pintu ruangan itu.
"Apakah salah satunya A' Banyu?"
Langkah kaki Banyu tertahan, saat ia hendak membuka pintu ruangan tersebut.
"Apakah A'a juga mencintai Tasya?"
Pertanyaan Putra kali ini membuat Banyu menoleh dan menatap adik nya tersebut.
"Apakah benar A'?" Putra menatap Banyu dengan tatapan yang menyelidik.
Banyu menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya.
"Aku rasa kepalamu itu terbentur keras saat kamu dipukuli orang." Banyu membuka pintu ruangan itu dengan kasar, lalu ia keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan Putra begitu saja.
.
Putra termenung dipinggir ranjang nya. Ia begitu yakin bila sikap Banyu tidak seperti biasanya. Biasanya Banyu tidak begitu peduli dengan wanita mana saja yang sedang ia dekati.
Angan Putra kembali ke beberapa minggu yang lalu. Kala ia menyampaikan ingin serius mendekati Tasya, kepada Banyu. Terlihat jelas Banyu menanggapi dingin namun juga tersirat kegelisahan di wajah Banyu. Kala itu Putra hanya menyimpulkan bila Banyu tidak ingin dirinya terus mempermainkan wanita. Tetapi kini ia sadari, sikap Banyu bukan karena peduli pada masa depan dirinya. Melainkan Banyu sedang mengkhawatirkan Tasya yang sedang ia dekati.
__ADS_1
"Jadi?" Batin nya.