
Tasya melangkah masuk keruang BAP bersama dengan Anton yang mendampingi dirinya. Seluruh orang yang berada di ruangan BAP tersebut menoleh dan menatap Tasya dan Anton. Seorang polisi berdiri dan menjabat tangan Anton seraya mengucapkan terima kasih atas kedatangan Anton dan Tasya. Disudut sana terlihat Riyanti duduk dengan wajah yang kusut. Ia turut menatap kehadiran Anton dan Tasya dengan kedua matanya yang sembab. Riyanti yang sedang dimintai keterangan oleh petugas pun langsung berdiri dan menghampiri Anton dan Tasya. Ia langsung menangis dan berlutut di kaki Anton.
"Sayang... jangan begini.. Sayang tolong aku." Ia memohon seraya mendongak menatap Anton yang berdiri dengan angkuh nya. Sedangkan Tasya hanya diam menatap gadis cantik yang sedang memohon untuk di bebaskan tersebut.
"Apa yang kamu perbuat harus kamu pertanggung jawabkan. Maaf aku tidak bisa membantu kamu." Tegas Anton.
"Tapi, ini gara-gara perempuan ini yang berniat merebut kamu dari ku! Aku khilaf sayang..."
Tasya terlihat salah tingkah karena dirinya di tuding sebagai penyebab atas kenekatan yang dilakukan oleh Riyanti.
"Sayang.. aku mohon.."
"Saya siap memberikan keterangan pak." Tegas Anton kepada petugas.
Salah satu petugas mengangguk dan menghampiri Riyanti. Riyanti meronta, mencoba melepaskan diri dari petugas tersebut.
"Sayang!"
Anton terlihat tak acuh. Ia mengikuti salah satu petugas yang hendak meminta keterangan darinya. Sedangkan Tasya ikut bersama Anton yang bersedia membela dirinya.
"Sayang...!" Terdengar jeritan histeris dari Riyanti di ruangan tersebut.
"Dasar pelakor! Perusak hubungan orang lain! Semua ini gara-gara kamu!" Riyanti terus berteriak menghardik, yang dialamatkan untuk Tasya.
Tasya hanya diam saja, sebenarnya ia tidak tega melihat Riyanti seperti itu. Tapi apa daya? Kasus ini sudah sangat keterlaluan. Merekam kegiatan orang lain secara diam-diam dan menyebarkan video, apa lagi sedang berada di tempat yang seharusnya itu tempat yang tidak untuk di publikasikan, adalah tindakan mempermalukan dan sudah ada aturan hukum nya untuk pelaku.
"Sabar ya.." Anton mencoba menenangkan Tasya.
Tasya hanya tersenyum kepada Anton dan melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan yang terpisah dari Riyanti.
.
Banyu tersenyum kala dirinya menerima pesan bergambar dari Sintia yang sedang memakai seragam SMA nya. Hari ini gadis belia itu sudah mendapatkan seragam sekolah baru nya. Banyu juga memberikan gadis itu sebuah ponsel untuk dapat berkomunikasi dengan dirinya. Hati Banyu begitu bahagia. Dirinya kini memiliki anak angkat baru. Sebenarnya Banyu memiliki banyak anak angkat yang masih tinggal dengan orang tua mereka. Itulah cara Banyu untuk membalas budi kepada almarhum boss nya yang telah memberikan dirinya kehidupan yang lebih baik seperti saat ini.
Bagus, semangat sekolah ya. Kalau tidak, om tidak akan mau membantumu lagi.
Banyu membalas pesan dari Sintia seraya tersenyum tipis.
Siap om.. Terima kasih banyak ya om. Aku tidak tahu lagi bila tidak ada om Banyu.
Balas Sintia.
Banyu kembali tersenyum dan meraih gelas kopi yang terletak di atas meja kerja nya. Lalu ia menyeruput kopi yang masih mengepulkan uap panas nya itu, secara perlahan.
Banyu meletakkan gelas nya kembali ke atas meja. Lalu ia terdiam menatap layar ponselnya yang tertera tanggal, hari dan waktu di Indonesia.
"Tiga hari lagi," Batin nya. Ya, 3 hari lagi Putra akan terbang ke Kota Solo untuk menemui kedua orang tua Tasya, dan juga akan bertunangan dengan wanita pujaan nya. Hati Banyu terasa begitu perih, terutama saat ia mengingat betapa sombong nya Putra dihadapan nya, tadi siang.
"Kenapa kamu memilih adik ku Tas?" Batin nya lagi.
__ADS_1
Banyu meraih bungkus rokok nya dan mengeluarkan sebatang rokok dari sana. Lalu ia membakar rokok itu secara perlahan dan mulai menikmati setiap asap yang dihasilkan oleh rokok tersebut.
Banyu mulai mengingat kembali ke belakang. Semua ini bukanlah salah Tasya atau Putra. Namun, dirinya lah yang bersalah. Dirinya masih saja terperangkap oleh masa lalu nya bersama Tika. Itulah yang membuat dia tidak berani mengambil keputusan untuk move on, dan mengatakan ketertarikan nya kepada Tasya terlebih dahulu. Andaikan ia lebih cepat, mungkin Tasya tidak akan terburu-buru memutuskan untuk bersama dengan Putra. Tetapi kini apa daya? Ia hanya bisa melihat Tasya dan Putra yang akan bersatu dalam ikatan pertunangan dan beberapa bulan ke depan, mereka akan resmi menikah, dan Tasya akan menjadi adik iparnya. Itu berarti, ia tidak boleh lagi memiliki perasaan kepada Tasya.
Tetapi namanya perasaan, sekeras apa pun kita berusaha untuk mengabaikan nya, tetap itu adalah perasaan. Sebelum rasa itu pergi seiring berjalan nya waktu, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menikmati rasa sakit yang begitu menyiksa. Itulah yang terjadi kini pada Banyu. Ia benar-benar merasa tersiksa, entah itu karena rasa kecewa, cinta, merasa bodoh dan lain sebagainya.
"Tasya.. Tasya..." Batin nya. Ia terus memanggil nama wanita pujaan nya, dengan hati yang terasa begitu perih.
.
Putra menghampiri mobil milik Alia yang sudah terparkir dibelakang kampus, menunggu dirinya. Setelah itu ia beranjak masuk kedalam mobil yang dikendarai oleh Alia tersebut. Ia menatap Alia yang sedang menatap dirinya dengan wajah yang terlihat datar. Sembari memasang sabuk pengaman, Putra mengangkat kedua alisnya, tanda ia tidak mengerti mengapa Alia menatap nya seperti itu.
"Ada apa?" Tanya Putra kepada Alia yang masih memasang ekspresi datar kepada dirinya.
"Apa kata a'a mu?" Alia langsung bertanya tentang rasa penasaran nya.
"Bukan urusan mu." Tegas Putra.
"Tetapi kini jadi urusan ku!"
Putra kembali menatap Alia dengan tajam. Lalu ia membuka kembali sabuk pengaman nya.
"Aku naik taksi saja, aku mau menginap di hotel saja."
"Bisa tidak kamu menganggap ku sebagai orang terdekat mu! Bisa tidak kamu mencintai aku! Bisa tidak kamu berbagi apa pun dengan ku!" Tanpa diduga, Alia langsung menaikkan nada suaranya.
Putra menahan diri untuk tidak segera turun dari mobil itu. Ia terus menatap Alia dengan tatapan yang tak kalah emosi kepada Alia.
Deg!
Putra mulai merasa gelisah.
"Putuskan hubungan mu dengan tunangan mu itu! Kamu milik ku!"
"Alia kamu...
"Aku tidak peduli!" Potong Alia.
Putra terdiam, ia melemparkan pandangan nya lurus ke depan.
"Aku berani jamin, kamu tidak akan menemukan cinta yang begitu besar, kecuali cinta ku padamu. Mohon pertimbangkan itu!" Alia mengunci mobilnya dan menjalankan mobil tersebut dengan mengebut.
Dengan wajah panik, Putra buru-buru memasang sabuk pengaman nya dan menatap Alia yang terlihat begitu kesal padanya.
"Kamu gila!"
"Memang! Sekarang katakan padaku, siapa tunangan mu! Dan apa yang kamu katakan pada a'a mu tadi!"
"Tidak semua harus aku beri tahu kamu Al!"
__ADS_1
"Aku tak peduli! Katakan!" Jerit Alia yang mulai lepas kontrol. Laju mobil itu pun semakin menggila, membuat Putra mulai merasa takut.
"Al!"
"Aku tidak peduli!"
"Ok baik!" Jerit Putra dengan nafas yang terengah-engah.
Alia menepikan mobilnya dan menatap Putra dengan seksama.
"Baik apa?"
"Baik, aku akan katakan yang sebenarnya."
"Apa!" Desak Alia.
"Aku meminta a'a ku mengatakan pada tunangan ku, bila aku sudah memiliki kamu. Aku juga meminta pertunangan ini selesai. Jadi, aku meminta a'a ku datang, untuk mengurus semuanya!" Ucap Putra, yang mencoba menipu Alia.
Sorot mata emosi Alia mulai mereda. Ia pun mulai merasa bersalah pada Putra. Lalu ia menundukkan pandangannya dan mulai menyeka air matanya yang mulai berjatuhan.
"Kamu serius?" Tanya Alia dengan suara yang terdengar serak.
"Iya, sumpah!" Sahut Putra, masih dengan nafas yang terengah-engah.
"Tidak berbohong?" Alia kembali mencoba memastikan.
"Tidak, buat apa? Aku ingin bersama denganmu Alia, jadi percayalah."
Alia menatap Putra, lalu senyum manisnya mulai terbingkai di sudut bibirnya.
"Serius?"
"Iya.." Putra mengalihkan pandangan nya dan diwaktu yang sama dirinya merasa menyesal karena memberikan Alia harapan demi keselamatan dirinya sendiri. Dalam lain kata, Putra mencoba mempermainkan perasaan Alia demi dirinya aman dari masalah. Tanpa ia sadari, masalah ini akan terus membelit dirinya hingga semua kebohongan nya terbongkar nanti.
"Terima kasih sayang..."
Alia mulai melunak, ia mendekap erat tubuh Putra yang diam mematung.
"Sa-sama-sama." Sahut Putra seraya mencoba untuk menyambut pelukan erat Alia.
Alia tersenyum puas, harapan nya bersama dengan Putra semakin besar. Cinta nya pun semakin tumbuh dengan subur di hatinya.
"Ya sudah, kita pulang dan menghabiskan waktu bersama ya.." Alia melepaskan pelukan nya dan tersenyum kepada Putra.
"Iya." Sahut Putra yang mencoba membalas senyuman Alia.
Alia kembali mengendarai mobilnya, kali ini dengan sangat berhati-hati. Ia sudah merasa tenang dengan pengakuan Putra. Tanpa ia sadari, pengakuan itu tidak sama sekali sesuai dengan faktanya.
.
__ADS_1
"Astagaaaaa...! Bodohhh!" Jerit Putra di dalam hatinya.