Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
43. Jati diri Banyu


__ADS_3

"Tau gak rasanya galau tingkat dewa?" Tanya Abas, seorang pekerja di workshop.


"Enggak," Sahut Poniman asisten nya Abas.


"Sampeyan liat saja wajah nya pak Boss," Ucap Abas sambil menunjuk kearah Banyu yang sedang duduk termenung menghadapi kopi nya yang sudah dingin.


"Sampeyan bayangkan saja. Minta kopi, dikasih kopi malah gak diminum-minum sudah sejam lama nya, malah bengong saja."


Poniman mengangguk membenarkan apa yang diucapkan Abas.


"Kira-kira pak Boss kenapa ya Bas?"


"Mbuh.. mana aku tahu. Tanya sendiri...."


"Gak wani aku Bas.."


"Halah.. mental mu cuilik men.."


"Jiammmmmmpyutttttt...!" Maki Poniman, seraya mengepalkan tangan nya kearah Abas.


"Hahahahah... aku baru dua kali lihat pak boss galau kayak gini. Pertama, waktu istrinya pak boss meninggal dunia. Kedua, ya sekarang ini."


"Kangen kali sama istrinya..." Celetuk Poniman.


"Bukan, asal sampeyan tau, kemarin si Andi lihat si Boss di kantor deket banget sama cewek. Terus di ajak ke gudang.. dan...


"Dan opo Bas?!" Tanya Poniman dengan bersemangat, diiringi rasa penasaran yang luar biasa.


"Nah... bubar kan Orang-orang pada makan siang."


"Trus..!" Poniman semakin penasaran.


"Yo mbuh... apa yang terjadi mana ku tahu. Takon dewe!"


"Owalah... jingaaaannn jingaaaannn...!" Maki Poniman lagi.


Abas hanya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Poniman yang terlihat kecewa.


"Lah, koe berharap opo toh? Si boss ehem ehem di gudang ngunu?"


"Yo... barangkali."


"Utek mu iku yo Ponnn Ponnn..." Abas menggelengkan kepalanya.


Pranggggggg...!


Poniman dan Abas sontak menoleh kearah suara tersebut, lalu mereka berdua melihat Banyu yang tampak terkejut karena baru saja menyenggol gelas kopi nya yang kini sudah pecah di atas lantai Workshop.

__ADS_1


"Hayoloooohhh..." Ucap Poniman seraya menatap Abas dengan seksama.


"Saat nya cari muka. Yuk bereskan.. mana tau kita naik gaji," Ucap Abas seraya menepuk pundak Poniman.


"Wuih.. serem koe Bas...! Cara naik gaji e dengan cari muka."


"Owghhh jelassss..." Abas tertawa dan beranjak mendekati Banyu.


"Ada apa boss?"


"Ah.. mas, ini.. saya tidak sengaja menyenggol gelas."


"Oh... tenang, selama ada Abas di sini, biar Abas yang membereskan nya," Ucap Abas dengan percaya diri.


"Tidak apa mas, biar saya saja. Tapi saya minta tolong ambilkan sapu dan pengki, juga pel ya mas.."


"Ashiaaaappp pak boss.."


Abas berlari kearah pantry, untuk mengambil yang di pinta oleh Banyu. Lalu ia kembali lagi dengan alat-alat yang sesuai dengan pesanan Banyu.


"Terima kasih mas," Ucap Banyu dengan ramah. Lalu ia berusaha meraih alat-alat kebersihan itu dari tangan Abas.


"Tidak usah, biar saya saja pak boss. Kayak nya pak boss terlihat capek dan sedikit galau. Jadi izinkan saya..


" Untuk cari muka..." Potong Poniman seraya tertawa di sudut sana.


Banyu hanya tertawa dan mempersilakan Abas untuk membereskan pecahan gelas kopi nya. Lalu Banyu kembali duduk dan terdiam, tenggelam dalam pikiran nya yang semrawut.


"Boss..." Panggil Abas.


"Boss.." Panggil Abas lagi.


"Bosss..."


"Hah?" Banyu menatap Abas yang sedang memunguti pecahan gelas tersebut.


"Apa mas..?"


"Berat banget kayak nya boss.. sini berbagi sama Abas."


"Apanya yang berat?"


"Pikiran nya boss lah... itu kelihatan sekali." Abas Tersenyum dan beranjak berdiri. Lalu ia mulai membersihkan sisa kopi di atas lantai dengan pel yang berada di genggaman tangan nya.


"Ada apa boss? Apa perusahaan kita mau bangkrut?"


"Hust!" Banyu mendadak panik dengan pertanyaan Abas.

__ADS_1


"Eh, bukan ya boss? Berarti aman... saya bisa minta naik gaji setelah ini." Abas mengulum senyumnya.


"Sembarangan saja kalau ngomong."


"Ya maaf boss. Terus boss kenapa?"


"Tidak apa-apa."


"Cerita dong boss... mana tahu saya ada bahan untuk gosip nantinya. Eh....!" Abas buru-buru menutup mulutnya dan menepuk-nepuk pelan bibir nya.


"Mas Abassss mas Abaaasss... Saya kok jadi berniat mau memecat mas Abas ya.."


"Eh.. bercanda boss, sumpah.. Ya sudah, saya gak bicara lagi. Saya mengepel saja." Abas buru-buru membersihkan sisa kopi dan beranjak kembali ke pantry untuk meletakkan peralatan kebersihan yang ia bawa.


"Piye? Naik gajimu?" Tanya Poniman seraya tertawa menggoda Abas, saat Abas kembali duduk bersama dirinya.


"Ngerti ngunu, biar koe saja yang membersihkan!" Abas menghentakkan kakinya.


"Wong urip itu kudu sabar Basss Bass. Oh iya, ngomong-ngomong, memangnya pemilik perusahaan ini sopo toh..? Aku gak tau ngerti boss asline."


"Gosip nya sih, ya itu.." Abas menunjuk kearah Banyu dengan bibirnya.


"Koe serius?"


"Gosip nya... tapi gak tahu juga.. nek di tanya, selalu bilang bukan dia. Selalu bilang dia ada boss lagi, dan dia disini hanya orang kepercayaan saja."


"Owalah... iyo mungkin pak Banyu sendiri. Dia takut di tagih kenaikan gaji, makanya gak mau ngaku boss."


"Kerjaaaaaaa!" Teriak Banyu dari ujung sana.


"Ngeh pak Banyu...!" Sahut mereka berdua. Lalu mereka beranjak dari duduk nya dan kembali bekerja.


.


Siapa pemilik perusahaan tempat Banyu bekerja?


Tentu saja pemilik nya adalah Banyu sendiri. Hanya saja ia tidak pernah mengakui bila perusahaan itu adalah miliknya. Baik pada keluarganya ataupun siapa saja. Enam tahun yang lalu, Banyu mendapatkan kepercayaan oleh seseorang warganegara asing yang sudah menganggap Banyu sebagai anak nya sendiri, untuk mengelola usaha tersebut, karena pemilik aslinya kembali ke negara asal nya.


Tiga tahun kemudian, pemilik asli perusahaan itu meninggal dunia karena sakit kronis. Maka, semua yang ada di sana di berikan kepada Banyu secara cuma-cuma, sebagai bentuk apresiasi kejujuran Banyu terhadap usaha yang ia serahkan kepada Banyu untuk di kelola. Saat itu juga perusahaan itu sah menjadi milik Banyu. Karena dianggap cukup, maka Banyu memberanikan diri untuk menikahi Tika satu tahun kemudian, pasca ia sah memiliki perusahaan tersebut.


Tidak ada yang tahu.. Banyu menyembunyikan semua itu dari semua orang, termasuk Tika. Alasan nya adalah.. pertama, ia tidak ingin orangtuanya terus meminta dirinya membantu Putra. Karena ia dianggap sudah sukses dan banyak duit. Dipikirkan orangtuanya hanya ada Putra dan hanya Putra. Bahkan ia sendiri pun tidak pernah di tanya mau nya apa. Tidak pernah ditanya ada duit atau tidak. Tidak pernah ditanya, hidup pakai apa. Hal itulah yang membuat dirinya ingin menyembunyikan semuanya dari orangtuanya. Tetapi ia tetap membantu orangtuanya dalam kebutuhan ekonomi di kampung halaman.


Yang kedua, kepada Tika. Sebenarnya Banyu sudah ingin jujur kepada wanita yang sudah cukup lama bersama dengan dirinya itu. Tetapi, ia berencana akan jujur di hari jadi mereka yang pertama. Ia ingin memberikan surprise kepada istrinya itu. Tetapi apa daya? Sebelum ia jujur, istri tercintanya itu sudah pergi menghadap Ilahi.


Pun dengan Putra, adik semata wayangnya. Ia tetap mengatakan bila dirinya hanya bekerja di sana. Agar Putra tidak merasa di bawah dirinya. Ia membiarkan orangtuanya menyanjung Putra yang sukses menjadi seorang dosen. Memiliki titel pendidikan tinggi. Padahal, kesuksesan Putra tidak akan bisa diraih tanpa bantuan keuangan dari Banyu.


Bahkan saat Tasya bertanya pun, ia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak ingin terlihat sombong di hadapan wanita itu. Karena baginya, semua adalah titipan dan itu semua hanya kebetulan nasib baik baginya mendapatkan warisan dari mantan boss nya. Tetapi lagi-lagi Bajyu berniat untuk membukakan toko kue untuk Tasya. Entah mengapa, ia merasa Tasya perlu ia bantu. Tetapi agar Tasya mau menerima bantuan darinya, ia harus memikirkan cara yang elegant, agar Tasya tidak merasa tersinggung kepada dirinya.

__ADS_1


Begitulah Banyu, lelaki rendah hati yang tetap membumi. Ia tetap membantu dengan caranya sendiri, tanpa orang beranggapan dirinya sombong ataupun merendahkan yang telah ia bantu.


__ADS_2