Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
117. Doa Eijaz


__ADS_3

Raut wajah Alia tampak begitu bahagia, kala ia mendengar kabar dari Devonna, yang menyampaikan bila dirinya diizinkan kembali ke Indonesia oleh Anton. Dengan senyum diwajahnya, ia beranjak dari duduknya dan meletakkan ponsel yang sedang ia genggam ke atas meja. Ia pun beranjak ke kamar Eijaz, untuk menyampaikan berita bahagia tersebut.


Saat ia hendak membuka pintu kamar Eijaz, tidak sengaja ia mendengar bocah laki-laki itu sedang berdoa sambil menangis, hal itu tentu saja membuat hatinya merasa iba seketika.


"Ya Allah... berikanlah kesembuhan untuk papa. Eijaz baru saja bertemu dengan papa. Eijaz tidak mau kehilangan papa lagi."


"Ya Allah, Eijaz janji, bila papa sembuh nanti, Eijaz akan menjadi anak yang baik dan nurut sama kedua orang tua. Eijaz benar-benar tidak mau kehilangan papa Ya Allah.."


Sesekali terdengar isak tangis di sela doa yang sedang Eijaz panjatkan.


"Satu lagi Ya Allah.. Eijaz mohon, Eijaz mau opa dan oma mengizinkan papa kembali dengan mama. Dan juga mengizinkan Eijaz dan mama tinggal di Indonesia. Eijaz juga ingin bertemu dengan kakek dan nenek Eijaz yang dari papa. Juga om dan tante, juga sepupu sepupu Eijaz. Eijaz ingin berteman dengan mereka Ya Allah."


Tidak terasa air mata meleleh di pipi Alia. Ia pun mengharapkan hal yang sama seperti doa anak semata wayangnya itu. Siapa yang tidak ingin orang yang ia cintai segera sembuh dan bisa kembali seperti dahulu lagi. Apalagi kini Alia dan Putra secara tidak langsung sudah bertunangan. Karena Alia sudah menerima lamaran dari Putra, saat lelaki itu akan meninggalkan Zurich.


"Aamiin." Batin Alia. Lalu menyeka air matanya dan dengan perlahan membuka pintu kamar Eijaz. Terlihat bocah kecil itu baru saja selesai sholat dan sedang melipat sajadahnya.


"Hai," Sapa Alia seraya memasuki kamar Eijaz, lalu ia menutup pintu kamar itu sambil terus menatap kedua mata Eijaz yang terlihat memerah karena habis menangis.


"Hai mama," Sahut Eijaz seraya menyeka air matanya.


Alia pun tersenyum dan menghampiri Eijaz, lalu ia memegangi kedua pundak Eijaz dan berlutut di depan putranya tersebut.


"Eijaz baru selesai sholat ya?"


"Iya mama."


"Wah.. pintar sekali."


Eijaz hanya tersenyum dan menaruh sajadahnya di atas meja.


"Mama ada kabar baik untuk Eijaz,"


"Apa itu mama?" Tanya Eijaz, seketika raut wajah bocah itu terlihat penuh harap.


"Hmmm... opa dan oma mengizinkan kita kembali ke Indonesia," Ucap Alia seraya tersenyum.


Eijaz terperangah seraya menatap Alia dengan kedua matanya yang terlihat membesar.


"Serius ma!" Serunya, seperti dirinya tidak mampu untuk membendung rasa bahagianya. Seakan Tuhan langsung menjawab doa seorang anak kecil seperti dirinya.


Alia pun mengangguk dan segera memeluk tubuh mungil Eijaz.

__ADS_1


"Serius! Alhamdulillah ya ma! Mama Eijaz bahagia sekali!"


"Mama juga sayang..."


"Tapi...


Eijaz melepaskan pelukan Alia dan menatap sang ibu dengan ekspresi wajah yang tampak khawatir.


"Apa itu sayang?" Tanya Alia, seraya mengerutkan keningnya.


"Apakah opa dan oma mengizinkan kita melihat papa?" Tanya Eijaz dengan polosnya.


"Of course sayang..."


"Yeay...! Terima kasih Ya Allah! Terima kasih oma, Terima kasih opa!" Serunya seraya melompat girang.


Melihat ekspresi Eijaz yang begitu bahagia, Alia terlihat begitu haru. Ia tidak menyangka, dibalik musibah terselip makna yang begitu luar biasa bagi kehidupannya dan Eijaz.


"Terima kasih Ya Allah.." Gumamnya seraya memeluk Eijaz kembali.


.


Putra berjalan di lorong yang begitu gelap. Saking gelapnya, ia hanya mampu merambat dengan memegangi dinding yang nyaris tak terlihat oleh pandangan mata. Ia terus berjalan tak tentu arah. Yang ia tahu, saat ini ia hanya ingin mencari jalan keluar dari lorong yang tak berujung tersebut. Ia merasa sudah beberapa hari ia terus berjalan. Kakinya terasa pegal dan tenggorokannya terasa kering.


Tiba-tiba saja ia terbentur sebuah pintu, ia tahu itu pintu walaupun ia tidak mampu melihatnya dengan jelas. Karena selama ini ia hanya bertemu dinding semen, baru kali ini ia bertemu pintu yang terbuat dari bahan kayu. Dengan cepat ia mencoba mencari gagang pintu tersebut, hingga akhirnya ia dapat memegang gagang pintu itu dan langsung membukanya dengan penuh harap.


Krekkkk..!


Suara pintu itu sedikit mengganggu di telinganya. Kini di hadapannya terlihat sebuah ruangan dengan lampu yang remang. Ia melihat beberapa wanita yang berdiri di dalam ruangan itu. Wanita-wanita itu menatap dirinya dengan tatapan yang tajam. Ya, mereka semua adalah korban Putra dimasa lalu. Tatapan tidak bersahabat membuat Putra merasa bimbang untuk memasuki ruangan tersebut. Tetapi, untuk mundur pun tidak mungkin. Ia sudah terlanjur berjalan begitu jauh hingga akhirnya ia menemui pintu tersebut.


Perlahan, akhirnya Putra memutuskan untuk memasuki ruangan itu. Para wanita itu pun tampak tidak menyukai Putra memasuki ruangan itu.


"Maaf.. aku mau lewat." Ucap Putra, seraya menunjuk pintu keluar di belakang para wanita-wanita itu.


"Tidak semudah itu!" Ucap seorang wanita, yang memakai pakaian merah dengan pita hitam yang mengikat erat rambut panjangnya.


Putra terdiam, ia menata wanita itu dengan tubuh yang gemetar. Lalu ia melihat seorang wanita lain nya yang sedang memegang sebuah teko yang berisi penuh air.


"Air.. aku mau air.." Ucap Putra seraya mendekati wanita tersebut.


"Tidak akan ku berikan!" Bentak wanita itu seraya menumpahkan seluruh air tersebut di lantai.

__ADS_1


Putra terperangah menatap wanita itu, lalu ia melihat air yang membasahi lantai kotor tersebut. Tidak ada pilihan lain, tenggorokan Putra terasa perih dan kering. Ia pun berbaring dilantai seraya menyeruput air yang tergenang di lantai kotor itu.


Para wanita itu pun tertawa melihat Putra yang sedang meminum genangan air tersebut. Seketika Putra menghentikan aktivitasnya dan menoleh kearah para wanita itu.


Bug!


Tiba-tiba saja ia menerima hantaman keras di wajahnya. Kini tidak terlihat lagi wanita-wanita yang pernah menjadi korban patah hatinya, melainkan yang terlihat kini adalah para orang tua dari korban-korbannya dari masa lalu.


Para orang tua mereka terlihat membawa benda-benda yang tampak sangat berbahaya bagi Putra. Terlihat pemukul baseball, cangkul, pisau, palu, gunting dan batu. Putra pun berusaha bangkit dengan maksud ingin melarikan diri. Namun para orang tua tersebut langsung menarik pakaiannya sehingga ia kembali terjatuh di atas lantai.


"Kau! Kau perusak! Kau pendosa! Kau bajingan! Kau patut mati!" Ucap mereka dengan penuh amarah.


"Ma-maafkan saya... Maafkan saya..." Putra berusaha untuk meminta maaf kepada para orang tua dari gadis-gadis korbannya itu.


"Kau! Lelaki tidak bertanggungjawab. Gara-gara kau, anak ku rusak! Gara-gara kau! anak ku bunuh diri! Gara-gara kau memberikan harapan palsu, anak ku pergi dari rumah! Kau patut di hukum!" Ucap mereka satu persatu.


Dugggg..!


Percikan darah yang berasal dari mulut Putra, menodai dinding yang berwarna kusam itu. Sejenak Putra sempat kehilangan kesadaran, tetapi ia tetap berusaha untuk mengembalikan kesadarannya. Putra merangkak dan memegangi satu persatu kaki para orang tua itu.


"Saya minta maaf pak, bu... saya menyesal. Saya patut dihukum, tetapi izinkan saya tetap hidup. Saya ingin menjadi orang yang baik. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya minta maaf kepada ibu, bapak dan anak ibu dan bapak semua." Putra memohon seraya menangis tersedu-sedu.


"Tidak ada ampunan untuk kamu!" Seru mereka seraya terus menyiksa Putra di ruangan itu.


.


Empat hari sudah terlewati pasca kecelakaan yang dialami oleh Putra. Lelaki itu masih terbaring tak bergerak, ia masih koma dan masih terlihat beberapa alat medis yang masih menempel di beberapa bagian tubuhnya untuk menunjang kehidupannya saat ini. Banyu yang sedang menunggu putra, terlihat terkantuk-kantuk di sofa yang ada di dalam ruangan itu. Malam ini adalah giliran Banyu yang menunggui Putra. Karena malam-malam sebelumnya ia kerap bergiliran menunggui Putra dengan abah. Hanya boleh Banyu dan abah saja yang bergantian menunggu. Karena di ruangan ICU, tidak diperbolehkan sembarangan orang yang menunggui. Hanya boleh keluarga kandung dan itu hanya satu orang saja.


Tiba-tiba saja ia mendengar hentakan keras dari arah ranjang Putra. Dengan cepat ia membuka matanya dan menatap kearah Putra yang sedang twrbaring diatas ranjang.


"Astaghfirullah!" Banyu melompat dari sofa dan langsung menghampiri Putra yang tampak sedang kejang.


"Put! Putra!" Serunya memanggil nama sang adik. Namun tidak ada reaksi apapun dari Putra selain terus memperlihatkan tubuh yang mengejang.


"Astaghfirullah, Astaghfirullah!" Dengan panik, Banyu menekan tombol emergency call, dengan maksud untuk meminta pertolongan paramedis.


Tak lama kemudian, paramedis yang sedang berjaga pada malam itu pun segera memasuki ruangan tersebut. Dengan cepat mereka mengambil tindakan untuk Putra yang terlihat sudah mulai sulit bernafas.


"Bapaknya tunggu diluar saja ya.." Pinta seorang suster seraya menutup tirai.


Banyu hanya mampu menuruti apa permintaan paramedis, demi maksimalnya tindakan medis untuk adik semata wayangnya itu.

__ADS_1


"Ya Allah.. Ya Allah.." Banyu meninggalkan ruangan itu dengan raut wajah yang gelisah.


__ADS_2