Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
40. Calon istri


__ADS_3

"Sayang.. bangun.." Terdengar bisikan lembut di telinga Banyu.


"Suara itu..." Batin nya.


"Nanti terlambat bekerja loh.." Suara itu terdengar kembali. Perlahan Banyu membuka kedua matanya yang terasa berat. Samar terlihat sosok seorang wanita yang duduk di tepi ranjang dan tersenyum kepada dirinya.


"Ti-Tika!" Sontak ia beranjak duduk dan menatap Tika dengan tatapan yang bingung. Kedua matanya kini berkaca-kaca dan menatap lurus kearah wajah wanita yang sangat ia rindukan tersebut.


"Kenapa? Kok melihatku seperti itu? Ayo bangun, mandi dan sarapan bersama denganku."


"Tika..."


"Iya sayang?" Tika mengurungkan niat nya yang hendak beranjak dari duduk nya, lalu ia menatap Banyu yang masih saja terperangah menatap dirinya.


"Ada apa?" Tanya Tika lagi.


"Ka-kamu... A-apa aku bermimpi? A-aku ti-tidak pe-percaya ini.. Ka-kamu masih hidup?" Banyu mencoba mendekatkan wajah nya, untuk melihat detil setiap inci ukiran sempurna sang Pencipta di wajah istrinya tersebut.


"Sayang... kamu kenapa sih?" Tika tersenyum manis dan menyentuh kedua pipi Banyu dengan tangan nya yang terasa amat dingin bagi Banyu.


"Ta-tanganmu dingin sekali, ka-kamu sakit?" Tanya Banyu yang masih terus menatap Tika dengan seksama.


"Ti-tidak! Ini mimpi.. pasti ini mimpi.. kamu sudah meninggal dan..." Banyu berusaha melepaskan kedua tangan Tika dari pipi nya.


"Sayang... dengar..." Potong Tika, Banyu pun terdiam. Tubuhnya gemetar dan perasaan kacau mulai menyerang batin nya. Antara shock dan bahagia kala ia melihat kehadiran Tika di kamar nya.


"Aku minta maaf karena tidak bisa berpamitan kepadamu sebelum aku pergi. Tetapi, kamu harus melanjutkan hidupmu. Mas, dunia kita sudah berbeda. Kamu tidak mungkin selamanya seperti ini. Aku mencintaimu, kamu adalah cinta terakhir ku. Inginku, kita selalu bersama. Tetapi, manusia hidup membutuhkan manusia lain nya. Entah itu untuk bersosialisasi, berbagi, ataupun mencintai."


Banyu terdiam, ada rasa sesak yang terasa amat menyiksa di hatinya.


"Mulailah hidup baru. Aku pun mulai dengan dunia baru ku. Bahagia lah mas, hanya itu yang ingin ku lihat darimu."


Air mata tak terbendung lagi dan terjatuh di pipi Banyu. Lelaki tampan itu menangis sesenggukan. Ia merasa, kunjungan nya ke makam Tika kemarin dan apa yang ia katakan saat di makam Tika, mendapatkan jawaban langsung dari Tika.


"Aku akan tenang, kalau kamu bisa bahagia dan melanjutkan hidupmu mas. Tolong lah membuka diri, jangan siksa dirimu sendiri. Aku sudah jauh... dan tidak akan mungkin kembali lagi. Lupakan aku dan mulailah dengan mencintai wanita lain. Hidup berkeluarga dan memiliki anak. Aku hanya ingin melihat mu bahagia dari sana."


"Bagaimana mungkin aku bisa melupakan kamu? Mustahil Tika..!"


"Ssssttt...!" Tika mendaratkan jari telunjuknya di bibir tipis Banyu.

__ADS_1


"Mas, terkadang Tuhan memilihkan jalan yang terbaik untuk kita. Tetapi, kita lah yang kerap membangkang. Kalau kita menikmati setiap alur yang diberikan oleh sang Pencipta, kita pasti akan selalu bisa menerima. Entah itu tentang kesedihan, kekecewaan, kegagalan, cinta, bahagia, atau apa saja. Percaya pada ku, percaya apa yang dipilih Tuhan untuk takdir mu. Kalau kamu mencintai aku, mulailah hidup yang baru. Kamu ingin aku bahagia seperti janjimu yang selalu ingin membuat aku bahagia?"


Banyu menatap Tika dengan tatapan penuh kesedihan, lalu ia mengangguk dengan perlahan.


"Kalau iya, aku akan sangat bahagia bila kamu mulai memikirkan masa depanmu lagi."


Banyu terdiam, ia menundukkan wajah nya dalam-dalam.


"Sayang... jangan pernah merasa mengkhianati aku. Melangkah lah... lanjutkan hidupmu."


.


Banyu tersentak dari tidurnya, dengan dada yang terasa sesak dan mata yang bergerak liar memandangi sekeliling kamar tidurnya. Nafas nya terengah-engah dan kedua matanya terasa basah.


"Tika!" Pekik nya. Lalu ia beranjak dari ranjang nya dan berjalan menuju ke ruang tamu sembari memanggil-manggil nama almarhumah istrinya itu.


"Tika! Tika!" Panggilnya dengan intonasi suara yang terdengar begitu kehilangan.


Semua ruangan ia masuki satu persatu, hingga langkah kakinya berhenti di teras rumah tersebut. Kedua matanya terpaku pada tanaman bunga Anggrek peninggalan Tika. Bunga itu tampak layu tanpa sebab. Sontak ia terduduk di atas lantai tepat di teras tersebut. Ia meremas rambutnya dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua lutut nya.


"Tika...." Bisik nya lirih.


.


Pagi menjelang siang ini iya berpikir keras tentang nasib nya. Saat ini, hanya ada satu lelaki yang siap untuk menikahi dirinya. Tentang perasaan? tentu saja Tasya belum begitu yakin. Putra memang baik dan sangat cocok untuk menjadi pengganti ayah bagi Rafis. Tetapi, entah mengapa Tasya terus merasa ragu.


"Apa karena mas Banyu?" Batin Tasya yang tengah mempertanyakan tentang keraguan nya untuk menerima lamaran Putra.


Tasya mengusap wajahnya dengan panik dan menghela nafas panjang. Lalu ia meraih gelas kopi miliknya dan mulai menyeruput kopi nya.


"Mas Banyu, dia tidak mencintai kamu Tas...! Dia itu hanya menganggap kamu sekedar calon adik ipar nya saja. Jadi jangan pernah punya perasaan apa pun kepada dirinya. Lupakan semua, mulailah melangkah demi masa depan. Pilihlah yang pasti-pasti saja. Toh, Putra juga sudah mapan fan baik terhadap kamu dan anak mu."


Kata hati itu menggema di sudut ruang hati Tasya. Ia terdiam seraya menaruh gelas kopinya secara perlahan.


"Pilih yang pasti.. karena wanita butuh diperjuangkan. Jangan lagi berjuang demi lelaki. Lihat hasilnya? Antoni tidak sama sekali menghargai kamu!"


Kata hati Tasya terus menggema menghasut akal sehat nya.


"Mas Putra.. Mas Banyu... Mas putra.. Mas Banyu..." Tasya bergumam cepat seraya menyebut kedua nama pria yang kini kerap mengusik malam-malam nya.

__ADS_1


Seperti sedang mempertimbangkan sebuah pilihan, akhirnya Tasya meraih ponsel nya dan mulai mencari sebuah nama yang ia sematkan untuk lelaki yang kini menjadi keputusan dari hasil pertimbangan nya.


Pemilik senyuman manis


.


Putra sedang duduk di tepi ranjang dan menatap langit biru pada siang hari ini. Ia pun menoleh kebelakang, kala ada seseorang yang membuka pintu ruangan nya dan melangkah masuk kedalam ruangan itu. Terlihat Alia tersenyum kepada dirinya. Sontak wajah Putra terlihat pucat. Entah mengapa ia merasa gadis itu menjadi teror yang sangat mengganggu dirinya.


"Hai sayang, bagaimana kabar kamu hari ini?" Tanya Alia seraya mengecup pipi Putra saat ia menghentikan langkah kakinya di depan Putra.


"Ba-baik.." Sahut Putra dengan gugup.


"Oh iya.. aku dan papa belum sempat meminta maaf kepadamu. Maaf ya.. kalau papa membuat kamu seperti ini."


Dengan wajah yang terkesan dungu, Putra pun mengangguk pelan seraya terus menatap wajah Alia yang kini terlihat sangat berkuasa atas diri Putra.


"Sebagai permintaan maaf dari kami, biaya rumah sakit ini sudah dibayar oleh papa. Dan satu lagi.. aku mencintaimu. Jangan lupa janjimu ya sayang..." Alia mengecup lembut pipi Putra yang terlihat semakin pucat karena menahan rasa takut nya.


Sreekkkk!


Putra terkejut saat seseorang membuka pintu ruangan nya. Ia menoleh kebelakang dan sedangkan Alia tampak menatap lurus kedepannya.


Terlihat Banyu terdiam diambang pintu, saat melihat Alia yang berdiri begitu dekat di depan Putra. Sorot mata Banyu pun kini mengarah kepada Putra yang terlihat gugup kala menerima tatapan Banyu.


Lelaki itu melangkah masuk dan menutup pintu dengan perlahan. Lalu ia berjalan menghampiri Putra dan Alia yang tampak tidak asing dimatanya. Ia seperti mengenal gadis muda itu, tetapi entah dimana.


"Apa aku mengganggu?" Tanya nya dengan suara khasnya yang terdengar berat.


"Ti-tidak A'," Sahut Putra dengan terbata.


"Kamu siapa?" Tanya Banyu seraya menjatuhkan pandangan nya kepada Alia.


"Hai om.. perkenalkan saya Alia." Alia menyodorkan tangan kanan nya di hadapan Banyu.


"Yang saya tanya kamu siapa? Pacar Putra kah? Mahasiswi nya kah? Teman kerjanya kah? Atau..."


"Calon istri..."


Deg!

__ADS_1


Suasana pun mendadak hening.


__ADS_2