
Keluarga Tasya kembali ke ruang keluarga. Mereka tampak terkejut saat bapak nya Tasya mengutarakan niat nya untuk menikahkan Tasya dengan Banyu. Semua saling bertatapan, karena mereka semua tidak menyangka dengan keputusan tersebut.
"Maaf mas, bukankah lelaki ini adalah kakak kandung dari lelaki yang mau bertunangan dengan Tasya?" Tanya tante Tasya, yang merupakan adik kandung dari ibunya Tasya.
"Memang, tetapi aku yakin dia adalah orang yang tepat untuk putriku."
"Tapi mas..." Mereka semuan tampak tidak rela melepaskan Tasya pada Banyu. Citra negatif yang diciptakan oleh Putra langsung melekat pada Banyu, yang belum tentu memiliki sifat yang sama dengan adik kandung nya.
"Aku ini laki-laki. Aku juga sudah lama hidup. Aku tahu betul kesungguhan dari seorang lelaki. Sorot mata tidak akan pernah berdusta. Karena mata adalah cerminan hati sang pemilik tubuh," Ucap bapak nya Tasya.
Semua kembali terdiam, tanpa ada yang berani protes kembali.
"Menikkkk... apa mbak Tasya sudah siap?"
"Sebentar lagi kata tukang riasnya pak.." Ucap Menik yang tergopoh menghampiri lelaki tua itu.
Tasya kembali di rias oleh penata rias. Riasan wajag Tasya harus disempurnakan kembali, setelah beberapa bagian terhapus karena air mata.
Bapak nya Tasya mengangguk kepada Menik, lalu ia menatap Banyu yang duduk di depan nya.
"Untuk sementara kalian menikah dibawah tangan dahulu. Setelah itu, kalian urus surat-suratnya sendiri. Bila ingin di rayakan, monggo saja. Bila tidak, tidak apa-apa. Yang penting hakikat dari pernikahan itu sendiri. Orang yang menghabiskan uang ratusan juta juga tidak menjamin rumah tangga mereka bebas dari prahara dan perceraian. Lebih baik kalian pikirkan yang terbaik setelah ini."
"Baik pak." Sahut Banyu seraya tersenyum canggung pada lelaki yang kini akan menjadi mertua nya itu.
"Mahar apa yang akan kamu berikan pada anak saya?" Tanya bapak nya Tasya lagi.
Banyu terdiam, ia belum memikirkan tentang mahar, karena semua serba dadakan.
"Coba kamu pikirkan dulu, sebelum Kiyai datang dan acara di mulai." Ujar bapak nya Tasya.
Banyu kembali mengangguk. Ia berpikir keras apa yang akan ia berikan untuk dapat menghalalkan wanita pujaan nya itu. Seperangkat alat sholat, sudah pasti akan ia berikan. Walaupun wujud dari seperangkat alat sholat itu belum ada di tangan nya. Namun apakah hanya itu?
Tiba-tiba saja Banyu teringat akan janjinya yang akan membantu Tasya membuka toko kue. Ia pun memiliki ide untuk menyebut itu sebagai mahar. Ia akan membelikan Tasya sebuah toko beserta isinya. Dan nanti, Tasya tinggal menjalankan bisnis itu yang kelak akan menjadi kesibukan calon istri nya itu.
"Seperangkat alat sholat dan sebuah toko kue pak! " Seru Banyu.
Bapak nya Tasya tersenyum melihat Banyu yang begitu bersemangat.
"Kalau kamu ikhlas, kami terima." Sahut bapak nya Tasya.
"Insya Allah, saya ikhlas. Walaupun saya tahu, seorang Tasya lebih dari hanya sekedar apa yang saya berikan. Tetapi saya berjanji untuk memberikan apa saja untuk nya kelak," Ucap Banyu.
"Insya Allah. Aamiin.. semoga rezeki kamu selalu baik nak."
"Aamiin." Sahut Banyu seraya tersenyum menatap calon mertuanya itu.
"Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam." Sahut semua yang ada di ruangan itu.
"Wah pak Kiyai sudah datang. Silahkan duduk pak.."
Satu persatu orang di ruangan itu, termasuk Banyu pun menyalami pemuka agama itu. Lalu lelaki sepuh itu duduk di samping bapak nya Tasya.
"Saya dengar ada yang mau menikah."
"Betul pak Kiyai.."
"Siapa?"
"Putri saya pak."
"Oh... baik, mana calon suami nya?"
"Ini pak.." Ucap bapak nya Tasya seraya menunjuk Banyu yang duduk di depan nya.
"Kamu?"
"Saya pak Kiyai." Sahut Banyu.
"Sudah siap menjadi suami?"
"Insya Allah pak Kyai,"
"Insya Allah sudah pak Kiyai.."
"Oh.. sudah pernah menikah sebelumnya?"
"Sudah pak Kiyai."
"Sekarang istrinya mana?"
Banyu terdiam, seiring tatapan curiga dari semua orang yang berada disana.
"Sudah kembali ke pangkuan Ilahi, pak Kiyai.."
Pak Kiyai menghela nafas dan mengucapkan kalimat istirja, sebagai bentuk duka nya saat mendengar berita itu.
"Pak," Bapak nya Tasya menoleh saat Menik memanggil dirinya. Wanita paruh baya itu menghampiri dirinya setelah meminta izin pada sang majikan. Lalu ia membisikkan sesuatu di telinga majikan nya itu. Tampak bapak nya Tasya mengangguk dan mempersilahkan Menik untuk kembali ke kamar Tasya.
Sedangkan Banyu terlihat tegang saat ia melihat Menik berbisik dengan sang calon mertua. Ia takut bila sesuatu yang buruk terjadi. Contoh nya Tasya melarikan diri karena belum siap menikah, persis di cerita sinetron-sinetron yang biasa ibunya tonton selepas Maghrib.
"Kamu sudah siap?" Tanya bapak nya Tasya.
Saat itu juga Banyu terlihat lega, dengan nafas yang memburu ia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Saya siap." Tegas nya.
Saat itu juga Tasya muncul, sang pujaan hati tampak menundukkan wajahnya dalam-dalam. Di samping Tasya, terlihat Rafis memegangi tangan ibunya itu dengan erat. Wajah tegang tidak hanya milik Tasya., melainkan Rafis juga. Tampak sekali bocah laki-laki itu takut bila hal yang sama dengan sebelum nya kembali terjadi. Yaitu kerusuhan saat acara dimulai.
Tasya di tuntun oleh beberapa orang sepupunya, untuk duduk di samping Banyu yang terus menatap calon istrinya itu. Bagaikan mimpi disiang bolong, Banyu masih belum percaya bila hari ini ia akan menikahi pujaan hatinya itu.
"Masya Allah.." Gumam Banyu.
Tasya yang baru saja duduk di sampingnya, menatap Banyu dengan tatapan mata yang berbinar, lalu di iringi senyuman manis yang luar biasa.
Jantung Banyu berdegup kencang, beberapa detik dunianya teralihkan oleh keindahan ciptaan sang Maha Kuasa. Ia merasa tidak sabar untuk segera mengecup kening Tasya dan memeluk nya dalam dekapan nya yang hangat.
"Ehemmm.." Sang Kiyai pun mendehem, kala melihat tatapan Banyu yang sedang menikmati wanita yang belum halal baginya.
Banyu mengerjapkan kedua matanya, lalu ia menatap sang Kiyai dan juga kedua orang tua Tasya yang sedang memperhatikan dirinya.
"Bismillahirrahmanirrahim," Ucap sang Kiyai. Lalu ia menuntun tangan bapak nya Tasya untuk menjabat tangan Banyu.
"Bapak ikuti apa yang saya bilang ya."
Bapak nya Tasya yang tampak grogi pun, menganggukkan kepalanya.
"Dan kamu, sudah tahu kan apa yang akan kamu ucapkan?"
"Sudah pak Kiyai." Sahut Banyu.
"Baik... ikuti saya."
Sang Kiyai pun mengucapkan kata Ijab yang segera di ikuti oleh bapak nya Tasya, sebagai ucapan penyerahan anak perempuan nya kepada Banyu. Sesaat setelah bapak nya Tasya mengucapkan kata Ijab, Banyu pun langsung menyambutnya dengan Kabul, tanda ia menerima sang pujaan hati menjadi halal baginya.
"Sah!" Ucap beberapa saksi yang di minta untuk bersaksi atas pernikahan dibawah tangan tersebut.
"Alhamdulillah.." Sahut sang Kiyai, sebagai bentuk syukur dan mengesahkan proses Ijab dan Kabul tersebut.
Mereka pun langsung berdoa bersama. Mendoakan kebaikan untuk kedua mempelai yang baru saja sah menjadi suami istri. Lalu sang Kiyai pun menuntun Banyu untuk berdoa dengan cara menyentuh puncak kepala sang istri.
“Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.”
Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya.
Tasya meraih tangan Banyu, dan mengecup punggung tangan lelaki yang baru saja menyandang status suami baginya.
Jantung Banyu berdegup kencang kala Tasya yang baru saja mengecup punggung tangan nya berdiri di hadapan dan menatap kedua matanya. Dengan ragu, ia meraih kedua pundak Tasya, lalu ia memberanikan diri untuk mengecup kening sang istri.
.
"Pernikahan terjadi karena kehendak sang Kuasa. Bila dirinya diperuntukkan untuk mu, maka dari belahan dunia manapun atau ia pergi kemanapun, dirinya akan berlabuh dipelukan mu. Namun, bila dirinya bukan diperuntukkan untuk mu, sekeras apapun kamu menentang takdir, itu semua tidak akan berhasil." -De'rini-
__ADS_1