Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
39. Apakah ini pertanda?


__ADS_3

Tasya berjalan di lorong rumah sakit bersama dengan Rafis, menuju ke ruang rawat inap ibu nya. Kakinya berhenti di sebuah ruangan yang bertuliskan 'Ruang rawat inap Anyelir 311'. Setelah memastikan bila itu adalah ruangan tempat ibu nya dirawat, Tasya pun mulai mengetuk dan menggeser pintu tersebut. Terlihat seorang lelaki tua dengan kemeja batik nya menoleh kearah Tasya.


"Mbah!" Seru Rafis, seraya berlari menghampiri lelaki tua tersebut.


"Hai cucu mbah!" Seru lelaki tua itu, seraya merentangkan kedua tangan nya. Tasya pun menyusul dengan langkah yang terburu-buru. Diwajahnya terlihat kekhawatiran yang begitu besar, saat melihat ibu nya yang terbaring di ranjang yang berada di ruangan VIP tersebut.


"Bu, pak.." Ucap nya. Tasya mengecup punggung tangan kedua orang tuanya tersebut, lalu ia pun menatap ibu nya yang juga sedang memandangi dirinya dengan wajah yang tampak kuyu.


"Apa kabar kamu nduk?"


"Baik bu.. Ibu sakit apa?" Tanya Tasya dengan ekspresi wajah yang tampak semakin khawatir.


"Ibu tidak apa-apa. Namanya sudah tua, ya... wajarlah begini. Ada saja yang dirasakan."


Tasya menghela nafas dan mulai memijat kaki ibundanya tersebut.


"Ibu jangan capek-capek toh.. Banyakin istirahat."


"Ibu kalau tidak bergerak, malah lebih gampang sakit nduk. Bagaimana pekerjaan mu? Maaf ibu merepotkan, sehingga kamu harus cuti untuk melihat ibu."


"Kerjaan ku lancar bu. Ini baru saja aku dipindahkan bagian. Alhamdulillah..."


"Alhamdulillah kalau begitu. Terus bagaimana dengan calon suami?"


Tasya terdiam saat ibundanya mempertanyakan tentang calon pendamping nya. Setelah bercerai dengan Antoni hampir dua tahun silam, Tasya tidak sekalipun pernah memulai kisah asmara baru dengan lawan jenis nya. Ia selalu fokus dengan apa yang menjadi tujuan nya saat ini. Yaitu, membuat Rafis hidup dengan layak dengan hasil keringat nya sendiri. Karena pihak keluarga Antoni, mantan suaminya tidak sekalipun mau memberikan tunjangan dana untuk pendidikan dan keseharian untuk anak semata wayangnya.


"Nduk... ibu sudah tua. Ibu ingin melihat kamu menikah lagi. Dengan begitu, rasanya hati dan pikiran ini tenang. Kita tidak tahu, usia sampai dimana. Kalau saja hari ini atau esok ibu meninggal dunia. Ibu akan merasa menyesal sekali bila tidak sempat melihat kamu bahagia dengan pendamping baru mu."


Bibir Tasya terkunci rapat. Ia benar-benar merasa terpukul dengan ucapan ibu nya. Mencari jodoh dengan status orang tua tunggal tidak lah mudah. Walaupun kini ada seseorang yang baru saja melamar dirinya, tadi malam. Tetapi hatinya masih bimbang. Karena saat ini hatinya merasa risau dengan dua perasaan yang tumbuh dihatinya.


"Rafis punya papa mbah..." Celetuk bocah polos itu. Seketika Tasya dan kedua orang tuanya terperangah dan menatap Rafis dengan tak percaya. Terutama kedua orang tua Tasya yang kini melemparkan tatapan mereka pada Tasya yang masih diam terpaku.


"Papa Rafis ganteng sekali. Dia baik, dia sayang sama Rafis. Dia sering datang dan membawakan Rafis mainan. Terus, dia juga membawa Rafis ke arena bermain." Lagi-lagi bocah polos itu seakan membuat Tasya semakin terpojok.

__ADS_1


"Maksudnya apa Tasya? Kamu sudah menikah lagi?" Tanya ibunya dengan mimik wajah yang tak percaya.


"Bu-bu-bukan begitu bu.."


"Lalu apa? Mengapa Rafis memanggilnya dengan sebutan 'papa'?"


Tasya menghela nafas panjang dan memejamkan kedua matanya. Kepalanya terasa pusing, saat memikirkan kata apa yang akan ia katakan kepada kedua orang tuanya, agar mereka tidak salah paham kepada dirinya.


"Rafis mau papa Putra jadi papa nya Rafis. Rafis mau papa Putra hidup sama Rafis di rumah Rafis." Tambah Rafis dengan wajah yang tampak penuh harap.


"Siapa lelaki yang dimaksud Rafis, Tas?" Tanya Bapak Tasya dengan wajah yang menyelidik.


"Dia teman ku pak, bu."


"Lantas mengapa Rafis memanggil nya papa, kalau hubungan kalian tidak serius?"


Tasya terdiam, pikiran nya semakin kacau dan entah bagaimana ia untuk menjelaskan kepada kedua orang tuanya itu.


"Bapak dan ibu tidak marah Tasya..., hanya saja... bila kamu sudah ada calon, buat apa kamu berlama-lama sendiri? Apa lagi sepertinya Rafis sangat menyukai sosok lelaki itu." Ibunya berusaha untuk meyakinkan Tasya yang masih terdiam membisu.


"Jadi hasil dari pemeriksaan dokter apa bu? Ibu sakit apa?" Tasya berusaha mengalihkan pembicaraan yang membuat dirinya mulai merasa tertekan.


"Jangan alihkan pembicaraan Tas..." Ucap ibu nya dengan ekspresi wajah yang tampak serius.


"Hasilnya akan keluar hari ini." Sahut bapak nya Tasya, karena ia sadar bila Tasya tidak ingin membahas masalah pendamping kepada dirinya dan juga istri tercintanya yang sedang terbaring lemas.


Srekkkkk!


Tiba-tiba saja seorang dokter masuk kedalam ruangan VIP tersebut dengan sebuah amplop yang sedang ia pegang.


"Selamat pagi bapak, ibu, mbak.." Sapa dokter itu dengan wajah yang ramah.


"Pagi.." Sahut Tasya dan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Hasil pemeriksaan sudah keluar. Saya ingin berbicara kepada salah satu keluarga. Bisa bapak atau mbak nya."


"Sa-saya saja dok!" Tasya beranjak dari duduknya dan bergegas menghampiri dokter tersebut.


"Kenapa tidak disini saja dok. Saya berhak tahu,"


Dokter itu menghela nafas dan menatap ibu nya Tasya dengan tatapan bimbang. Lalu ia mencoba tersenyum dan mempertimbangkan ucapan ibu nya Tasya.


"Sepertinya ada yang serius ya dok?" Tanya Ibu nya tasya lagi.


"Bagaimana?" Tanya Dokter itu kepada Tasya dan juga bapak nya.


Bapak nya Tasya tampak bimbang, hingga akhirnya ia pun menyetujui sang dokter untuk membuka dan membacakan hasil pemeriksaan penyakit yang di derita oleh istrinya itu.


"Baiklah dok."


"Baik." Dokter itu mengangguk dan membuka hasil pemeriksaan tersebut. Lalu ia menatap ibunya Tasya dengan seksama, sebelum ia membaca hasil pemeriksaan yang kini siap untuk ia bacakan.


"Dari hasil pemeriksaan, ibu mengalami kangker paru-paru stadium tiga A. Sel kangker sudah menjalar ke kelenjar getah bening dan sudah menyebar ke dinding dada."


Deg!


Semua terdiam, kecuali ibu nya Tasya yang kini tangisan nya mulai meledak.


"Lalu bagaimana dok? Apakah bisa sembuh? " Tasya tampak sangat khawatir dengan keadaan ibundanya.


"Tindakan yang harus diambil adalah, ibu harus terapi. Kemungkinan sembuh bisa saja. Tetapi, kami harus memastikan tidak ada lagi sel kangker nya, dan itu semua butuh waktu mbak."


Tasya terdiam, dengkul nya pun mulai melemas. Ia terduduk di tepi ranjang dan menatap cemas kepada ibundanya yang terus menangisi penyakitnya.


"Bu... ibu yakin sembuh ya.." Ucap Tasya, mencoba memberikan dukungan moril kepada ibundanya yang masih memakai selang oksigen.


Hari ini adalah hari yang tidak menyenangkan bagi Tasya. Selain ia di desak untuk segera menikah, kenyataan yang ia hadapi semakin berat dengan berita penyakit yang di derita oleh ibu nya. Hatinya mulai bimbang dan terguncang. Ia mulai memikirkan ucapan ibu nya sebelum ini. Yaitu, menikah dan hidup bahagia dengan pasangan barunya. Seakan ibu nya meminta harapan terakhir kepada Tasya. Hal itu membuat Tasya merasa semakin terbebani dan tidak bisa berpikir jernih. Ia pun menatap Rafis, lalu bapak nya dan kembali berakhir kepada ibundanya yang masih menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Apakah ini pertanda aku harus menerima lamaran mas Putra?" Gumam nya.


__ADS_2