Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
103. Saatnya meratukan istriku!


__ADS_3

"Papa.." Bocah lucu dengan pipi yang tembam serta rambut yang di kuncir dua itu menghampiri Banyu yang sedang memakai sepatu kerjanya.


"Eh.. Nadira.." Banyu memeluk Nadira dan mengecup puncak kepala bocah tersebut.


"Hmmmm, wangiiii.." Ucap Banyu yang terlihat begitu gemas pada Putri kecilnya itu.


Dari dalam rumah terlihat Tasya berjalan di samping Rafis yang sudah rapi dengan pakaian sekolahnya. Pagi ini, seperti biasa Banyu selalu mengantar Rafis ke sekolah anak sambung nya itu.


"Sudah siap?"


"Sudah pa." Sahut Rafis.


"Makin ganteng saja anak papa," Puji Banyu pada Rafis.


Rafis tersipu malu saat mendapatkan pujian dari ayah sambung nya itu. Sedangkan Tasya terlihat hanya tersenyum seraya memijat pelipis nya.


"Kamu kenapa sayang?" Banyu tampak khawatir saat melihat Tasya yang sedang memijat pelipis nya dengan wajah yang terlihat pucat.


"Gak tau nih mas, kayaknya aku masuk angin."


"Kok bisa? Mungkin kamu terlalu sibuk bekerja hingga lupa makan?" Tanya Banyu seraya merangkul istri tercintanya itu.


"Aku memang akhir-akhir ini malas sekali makan mas."


"Kenapa?" Tanya Banyu dengan wajah yang terlihat semakin khawatir.


"Gak tahu mas, rasanya kok mual... mual.... hah..!"


Tasya dan Banyu saling bertatapan dengan wajah yang tampak tegang. Lalu dengan cepat Tasya mengajak Tasya kembali ke dalam dan berbicara di ruang keluarga, sedangkan kedua anak mereka menunggu di beranda rumah itu.


"Kamu sudah haid?" Tanya Banyu dengan wajah yang terlihat serius.


"Hmmm.. belum. Kan biasa seperti itu mas, aku kan masih menyusui. Kalau ibu yang menyusui, ada yang tidak haid dan ada yang tetap haid. Atau bahkan seperti aku, sering telat dan gak teratur. Memangnya kenapa ya mas?" Tanya Tasya dengan wajah yang tampak polos.


"Kamu ngidam-ngidam apa gitu?" Wajah Banyu terlihat mulai antusias.


Tasya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang masih tampak polos.


"Gimana mau ngidam, aku kan tidak hamil. Lagi pula mungkin aku hanya masuk angin."


"Sayang... coba di test!"


Tasya mengerutkan keningnya dan menatap Banyu dengan seksama.


"Tapi mas..."


"Kamu kan tidak KB. Coba di test ya.." Pinta Banyu lagi.


"Iya, tapi kan..."


"Tapi apa?"


"Kita kan KB tanggal." Tasya mengerutkan dagunya.


"Ah.. gak ngaruh.. coba test saja. Aku ingin tahu... Tau gak sayang, aku itu ingin sekali punya anak lagi."


"Tapi mas..."

__ADS_1


"Sudah, mau dibelikan alat test nya?"


"Ta-tapi.. Nadira masih kecil mas.."


"Ya kalau kamu hamil kan, tau lebih cepat lebih baik."


Tasya tampak ragu, namun rasa penasaran juga mulai menyelimuti hatinya.


"Nanti saja aku beli sendiri mas, mas antar Rafis saja terus mas ke kantor. Nanti aku ke apotek sendirian."


"Benar ya..." Banyu terlihat sangat antusias.


"I-iya mas." Tasya menganggukkan kepalanya dan meraih tangan Banyu, lalu ia mengecup punggung tangan suaminya itu. Banyu pun langsung mengecup kening Tasya dengan lembut.


"Semoga kamu hamil, aku ingin sekali punya anak lagi. Biar rumah kita ramai." Bisik Banyu.


"Hmmmm, baru juga satu tahun.."


"Aku janji, setelah ini tidak lagi. Kita tinggal membesarkan anak-anak dan setelah anak-anak mandiri, kita bebas kemana saja berdua," Ucap Banyu seraya mengusap lembut pipi Tasya.


"Ya sudah, Hati-hati ya mas," Ucap Tasya seraya berjalan mengiringi Banyu, kembali ke beranda rumah itu.


"Iya, assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam," Sahut Tasya seraya melambaikan tangan nya kepada Banyu dan Rafis.


"Dah mama!"


"Dah sayang.." Sahut Tasya seraya memberikan senyuman terbaiknya untuk Putra pertama nya itu.


"Mbak, saya keluar dulu ya."


"Baik bu.." Sahut baby sitter yang sudah bekerja dengan Tasya sejak Rafis masih kecil.


"Titip Nadira ya mbak."


"Siap bu.. Hati-hati ya bu.."


"Terima kasih mbak." Sahut Tasya seraya menyambar kunci mobilnya.


Sepanjang perjalanan menuju ke apotek, jantung Tasya terus berdegup kencang. Satu sisi ia tidak ingin hamil lagi. Namun satu sisi ia terbayang ekspresi Banyu yang begitu bersemangat saat menduga dirinya sedang mengandung buah hati mereka.


"Duh, malah Nadira baru berusia satu tahun.." Gumam Tasya.


Tasya menepikan mobilnya persis di depan sebuah apotek, dengan ragu ia beranjak turun dari mobilnya dan melangkah menuju ke dalam apotek tersebut.


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya pegawai apotek itu, saat melihat Tasya memasuki apotek tersebut.


"Mbak, saya butuh alat test kehamilan." Bisik Tasya.


"Apa bu?" Pegawai apotek itu meminta Tasya untuk mengulangi ucapan nya.


"Alat test kehamilan." Bisik Tasya lagi.


"Oh.. alat test kehamilan." Ucap pegawai tersebut dengan suara yang lantang.


"Ssssttt...!" Tasya terlihat panik, seolah dirinya merasa malu membeli alat tersebut. Tanpa ia sadari, sebenarnya sah sah saja bila ia membeli alat tersebut, karena dirinya sudah menikah dan ini bukan pertama kalinya ia membeli alat tersebut. Tetapi rasa malu itu tercipta begitu saja, karena memang ia merasa ia baru saja melahirkan Nadira, namun sekarang ia harus menerka-nerka dirinya tengah mengandung atau tidak. Saking paniknya, wajah Tasya terlihat konyol di mata pegawai apotek tersebut.

__ADS_1


"Pertama mbak?" Tanya pegawai apotek itu.


"Ya?"


"Oh pantesan..." Pegawai apotek itu terlihat menatap Tasya dengan menyelidik. Sedangkan Tasya terlihat semakin bingung dengan tatapan wanita itu.


"Bu-bu-bukan.." Tasya mengangkat kedua tangannya.


"Makanya KB! Kalau gak, Pacarnya pakai pengaman!" Ucap pegawai apotek tersebut seraya menyerahkan alat uji kehamilan tersebut. Tasya mengerutkan keningnya, seraya menyerahkan selembar uang lima puluh ribu rupiah kepada pegawai tersebut. Dengan wajah menghakimi, pegawai tersebut memberikan uang kembalian kepada Tasya.


Tasya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan melangkah meninggalkan apotek tersebut.


"Masih sekolah kok sudah begituan." Ucap pegawai apotek tersebut kepada rekan nya yang sedang duduk di sudut ruangan itu.


Tasya semakin bingung, hingga ia tidak tahu mau marah atau tertawa saat dirinya di sangka masih sekolah oleh pegawai apotek tersebut.


"Ish... jutek banget ini pegawai apotek. Gak akan aku kesini lagi!" Tasya menggelengkan kepalanya dan beranjak masuk kedalam mobilnya.


.


Baru saja Tasya sampai di rumah, ia langsung beranjak ke kamar kecil. Dengan wajah yang tampak penasaran dan gelisah, ia langsung membuka alat uji test kehamilan tersebut dan langsung menggunakan nya. Tasya mengusap peluh yang mulai mengalir di dahinya. Setelah ia mencelupkan ujung alat tersebut ke dalam urine nya, Tasya menaruh alat tersebut di atas wastafel dan menunggunya dengan wajah yang terlihat cemas.


"Negatif! Negatif! Negatif!" Ucapnya dengan wajah yang terlihat penuh harap.


"Boleh positif kalau dua tahun lagi!" Sambung nya lagi.


Tasya meraih jedai, dan menggulung rambutnya untuk mengurangi rasa panas nya udara yang mungkin hanya dirinya yang tengah merasakannya. Setelah ia menggulung rambutnya ia melirik kembali alat uji test kehamilan tersebut, seketika ia pun terdiam.


Cukup lama ia terdiam, hingga suara notifikasi di ponselnya menyadarkan dirinya dari lamunan nya yang panjang. Tasya menghela nafas panjang dan meraih ponselnya. Ternyata ia baru saja menerima pesan dari Banyu, sang suami.


Hai sayang, bagaimana? Sudah di test?


Kamu tahu gak? Kalau kenapa aku ingin sekali kamu hamil lagi?


Sayang, aku itu sudah tua. Sudah menjelang 44 tahun. Kalau kita dikasih rezeki lagi, aku sangat senang sekali. Setelah ini, kita tinggal membesarkan anak-anak kita dengan penuh kasih sayang. Jangan takut, aku akan selalu mendampingi kamu dan jadi suami siaga. Bahkan, untuk memijat kamu sepanjang malam atau mengurus Nadira dan Rafis yang lagi rewel pun aku mau. Aku janji, aku akan selalu meratukan kamu hingga akhir hayat ku. Jangan cemas, jangan ragu dengan suamimu ini. Aku akan selalu ada untuk kalian, terutama kamu, istriku yang tercinta.


Tasya, aku mencintaimu hingga akhir hayat ku. Karena kamu wanita sempurna dan terbaik. Ibu dari anak-anak ku yang tampan dan cantik. Semangat ya sayang.. beri tahu aku apa pun hasilnya.


Tasya terdiam, ia mengangkat alat test tersebut yang tertera garis dua berwarna merah jambu di atas nya.


"Astaghfirullah, mengapa aku harus khawatir? Mengapa aku tidak bersyukur?" Batin Tasya.


Lalu ia memotret alat test tersebut dan mengirimkan nya kepada Banyu, diiringi dengan senyum di bibirnya.


Halo papa, doakan aku sehat selalu ya di dalam perut mama.


.


Ting!


Banyu yang baru saja memulai meeting nya bersama dengan para pegawai, menghentikan kegiatannya sejenak. Lalu ia meraih ponselnya dan mulai membaca pesan dari Tasya.


"Meeting kita tunda, saya ada urusan yang lebih penting. Saya pulang dulu," Ucapnya seraya berjalan meninggalkan ruangan meeting tersebut.


"Saatnya meratukan, istriku!" Teriak nya di lorong kantor tersebut.


Semua pegawai tersenyum melihat tingkah Banyu yang berjalan dengan semangat saat meninggalkan kantor miliknya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2