Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
23. Debaran yang sama


__ADS_3

Banyu yang baru saja selesai mandi, tersenyum sendiri saat ia mengeringkan rambutnya yang masih basah. Lalu ia berjalan menuju ke sudut kamar hotel itu, dan membuka koper yang berisi baju-baju yang ia bawa untuk selama berdinas di Semarang. Banyu mengambil kaos putih dan celana pendek berbahan katun. Lalu ia mengenakan pakaian itu dan merapikan nya setelah pakaian tersebut melekat di tubuhnya yang atletis.


Banyu kembali tersenyum, ia melangkah menuju ke depan cermin dan merapikan rambutnya dengan jari jemari nya. Setelah itu ia melangkah ke depan pintu dan mengintip dari lubang intip pintu tersebut. Ia menatap pintu kamar Tasya yang terlihat tertutup. Tak berapa lama, ia tampak salah tingkah dan mulai menjauhi pintu tersebut dan duduk di tepi ranjang. Ia menghela nafas panjang dan menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Aku kenapa? Mengapa aku begitu ingin tahu tentang dia?" Gumam Banyu.


Banyu semakin gelisah, entah mengapa ia merasa begitu bodoh dengan sikapnya yang mulai aneh menurut dirinya sendiri.


"Tidak, ini hanya karena aku sedang rindu dengan Tika. Aku tidak mungkin memperhatikan Tasya. Putra menyukai Tasya, rasa yang aku rasakan saat ini pada Tasya, tidak lebih dari sekedar seorang calon kakak ipar dengan calon adik iparnya. Ya... itulah yang aku rasakan. Aku tidak mungkin sedang jatuh cin.....


Banyu terdiam, jantung nya berdegup kencang saat ia mengurungkan untuk mengatakan bila dirinya sedang jatuh cinta dengan Tasya.


"Apakah aku..."


"Arghhhhh...! Tidak mungkin!" Banyu mengacak rambut nya dan membenamkan wajahnya di atas bantal.


.


"Kamu kapan pulang?"


Tasya tersenyum saat Putra bertanya kapan dirinya pulang ke Jakarta.


"Maksimal tiga hari mas,"


"Lama sekali, aku rindu."


Tasya terdiam, jantungnya berdegup kencang, saat Putra mengatakan bila dirinya merindukan Tasya.


"Hmmmm mas.. a-aku.. aku mau tidur dulu ya."

__ADS_1


"Sudah ngantuk?"


"I-iya.."


"Ya sudah. Sleep well," Ucap Putra dari ujung sana.


"Te-terima kasih mas."


"I love you Tasya."


Mendengar kata cinta itu, lutut Tasya mendadak lemas. Ia terduduk di tepi ranjang dan wajahnya tampak pucat dan tak percaya.


"G-g-good night mas."


"Good night." Sahut Putra.


Tasya mengakhiri percakapan nya dengan Putra. Lalu ia menghembuskan nafas dan kembali menghirup nafas dalam-dalam. Jantungnya terus berdegup kencang. Entah mengapa ia merasa seperti itu, kala Putra berbicara seolah dirinya adalah kekasih Tasya.


Tasya mulai mengingat sosok seorang Putra, serta sikap Putra kepada dirinya dan juga Rafis. Lelaki itu sungguh sempurna untuk dijadikan pendamping hidup, dalam kaca mata Tasya. Selain tampan dan baik hati, Putra juga sangat menyayangi Rafis. Tasya juga mengingat ucapan ibunya yang mengatakan bila baiknya Tasya mencari pendamping hidup untuk menggantikan sosok bapak untuk Rafis dan juga yang benar-benar mencintai Tasya. Tetapi apakah Putra benar-benar mencintai dan tulus kepada dirinya? Tasya tidak mau banyak berharap, walaupun ia sudah mulai merasakan getaran aneh di hati nya, kala ia bersama dan juga berkomunikasi dengan Putra.


Angan Tasya tentang Putra, mendadak tergantikan oleh Banyu. Seorang lelaki yang merupakan kakak kandung Putra dan juga rekanan di perusahaan tempat dirinya bekerja. Tiba-tiba saja senyuman dan tatapan teduh yang dimiliki Banyu terlintas begitu saja, saat ia sedang mengingat sosok seorang Putra. Tasya mengerutkan keningnya dan memejamkan kedua matanya. Lalu ia menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Mengapa tiba-tiba aku ingat mas Banyu sih," Gumam Tasya.


Tasya berhenti menggelengkan kepalanya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menatap Langit-langit kamar hotel itu. Bayangan Banyu kembali mendominasi dan terlintas di pelupuk matanya. Terlebih ingatan tentang dirinya dan Banyu saat di kantor dan di gedung Lawang Sewu, terlintas bagaikan potongan-potongan adegan sebuah film romantis yang ada di televisi.


Deg! deg! deg! deg!


Jantung Tasya terasa berdetak tidak normal. Ia mencoba merasakan degup jantungnya yang tak beraturan itu dengan telapak tangan nya.

__ADS_1


"Ini pertama kalinya aku jalan dengan seorang wanita, setelah kepergian Tika."


Terngiang ucapan Banyu dan raut wajah Banyu, kala lelaki itu mengatakan hal itu kepada Tasya.


"Mengapa aku merasakan debaran yang sama saat aku mengingat mas Banyu?" Batin Tasya.


"Apa aku sedang jatuh cinta dengan dua orang secara bersamaan?" Tasya beranjak duduk di atas ranjang nya dan menatap dirinya dari pantulan cermin di depan nya.


"Gila kamu Tasya!" Tasya memukul pelan kening nya.


"Gak mungkin! Mungkin aku hanya kagum dengan kakak beradik itu. Tidak mungkin aku mencintai dua orang sekaligus! Gila saja!" Tasya beranjak dari duduknya dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar tersebut.


"Tapi, aku sedang mencari sosok pengganti mas Antoni untuk Rafis. Mas Putra lah orang yang sepertinya mendekati apa yang aku mau. Dia juga sepertinya terlihat bersungguh-sungguh kepadaku. Apa aku jalani saja ya dengan mas Putra?" Tasya menghentikan langkah nya di depan cermin dan ia mulai menatap wajahnya yang terlihat polos tanpa make up.


"Tapi... bagaimana bila mas Putra hanya lelaki yang singgah. Kasihan Rafis bila ia terlalu berharap dengan mas Putra. Itulah mengapa aku tidak mau Rafis terlalu dekat dengan mas Putra. Aku takut diriku sendiri dan Rafis kecewa, karena terlalu berharap." Tasya mengerutkan dagunya. Lalu ia kembali duduk di tepi ranjang.


"Tapi... pesona duda satu ini.. duh..!" Tasya menepuk dahi nya, kala ia mengingat tentang Banyu.


"Tidak-tidak! Mas Banyu hanya baik kepadaku karena kebetulan kita rekan kerja saja. Dan.. karena dia kakak nya mas Putra. Tidak.. aku tidak boleh memikirkan dia. Lagian dia juga belum kenal Rafis. Dan aku juga tidak tahu perasaan nya kepada ku."


"Duh... mengapa aku mulai mempertanyakan perasaan mas Banyu?


"Ah... tidak mungkin mas Banyu suka kepada ku. Dia selalu mengagungkan Tika. Sepertinya Tika tidak akan tergantikan. Apa aku fokus saja dengan mas Putra?"


Perang batin menyerang Tasya bertubi-tubi. Pertanyaan demi pertanyaan datang silih berganti di benaknya. Hingga malam semakin larut, hanya karena pertanyaan yang terus hinggap di benaknya, Tasya tidak dapat sekalipun mampu memejamkan kedua matanya. Sosok dua lelaki dengan pesona yang luar biasa selalu terlintas di pelupuk matanya. Putra yang memiliki sisi kebapakan untuk Rafis, dan juga mampu membuat jantung nya berdegup kencang. Dan Banyu dengan figur dewasa dan juga setia, yang juga mampu membuat jantung Tasya berdetak tak beraturan.


"Tuhan, mengapa dua lelaki ini datang secara bersamaan kedalam hidupku? Sungguh membingungkan!" Tasya mengusap wajahnya dengan kasar dan kembali menatap langit-langit kamar itu.


"Ya.. sepertinya aku sedang jatuh cinta dengan dua orang lelaki sekaligus! Edan kamu Tasya!"

__ADS_1


Tasya membenamkan wajahnya di atas bantal.


__ADS_2