
"Assalamu'alaikum..."
"Waalaikumsalam.." Sahut ambu, abah, Banyu, Tasya dan juga Putra. Mereka semua langsung menoleh ke pintu ruangan itu, terlihat Alia, Eijaz, Devonna dan Anton memasuki ruangan itu. Seketika suasana terasa tegang. Bukan karena keluarga Putra tidak menyukai kehadiran Alia dan keluarganya, hanya saja mereka semua mencoba mengukur situasi yang bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sedangkan keadaan Putra yang baru saja dipindahkan ke ruangan rawat inap belum begitu stabil. Tentu saja mereka semua mempertimbangkan keadaan Putra, bila keributan terjadi atau lain sebagainya.
"Ah, Anton.." Banyu berusaha memecahkan keheningan, ia beranjak dari duduknya dan menyambut kehadiran Anton dengan ramah dan hangat. Anton mencoba tersenyum dan menyambut pelukan hangat dari Banyu. Lalu ia menatap abah, ambu, Tasya dan Putra, yang sudah lama tidak berjumpa dengannya. Terakhir kali Anton berjumpa dengan mereka karena kasus yang menimpa Putra, yang mengantarkan lelaki itu mendekam di hotel prodeo.
"Apa kabarnya pak, bu?" Tanya Anton kepada abah dan ambu. Dengan sikap yang canggung, abah dan ambu menerima uluran tangan Anton. Mereka mencoba tersenyum dan menjawab pertanyaan basa badi dari lelaki yang pernah memenjarakan putra mereka.
"Baik, Alhamdulillah." Sahut abah, sedangkan ambu hanya menyambut uluran tangan Anton tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Kini Anton menatap Tasya yang sedang memangku bocah perempuan yang berusia kurang lebih satu tahun. Anton mencoba tersenyum dan memberikan anggukkan ramah tamah kepada perempuan yang pernah ia sukai, yang kini menjadi istri dari sahabatnya, Banyu.
Tasya membalas anggukkan ramah tamah dari Anton dan berusaha tersenyum. Setelah itu lelaki itu menatap Putra dengan seksama. Lalu ia menghela nafas panjang dan lalu melemparkan pandangannya kepada Alia dan Eijaz.
"Pak.." Sapa Putra.
Anton kembali menatap lelaki yang sebenarnya sangat sulit untuk ia maafkan. Apalagi harus ia jenguk pada hari ini. Tetapi demi anak dan cucunya, ia harus menahan perasaan tidak sukanya dan emosinya kepada Putra.
"Ya." Sahut Anton dengan nada suara yang terdengar dingin.
"Papa!" Seru Eijaz.
"Anak papa.." Seketika Putra meringis saat ia berusaha untuk duduk dan menyambut putra semata wayangnya itu.
"Tidur saja, jangan dipaksakan," Ucap Alia seraya mencegah Putra yang masih berusaha untuk duduk.
"Apa kabar kamu sayang?" Tanya Putra seraya menatap Alia dengan tatapan penuh dengan kasih sayang. Sangat berbeda dari beberapa tahun silam. Tatapan Putra kali ini terlihat sekali bila Alia adalah wanita yang sangat berharga di dalam hidupnya. Tatapan ketulusan itu pun terlihat jelas dimata semua orang yang sedang menyaksikan pertemuan antara Putra dan Alia. Terlihat juga senyuman manis dan tulus dari wajah kedua insan tersebut.
"Harusnya aku yang bertanya kabarmu. Mengapa kamu yang bertanya?" Tanya Alia seraya menatap perban di dada Putra dengan tatapan yang khawatir.
"Aku baik-baik saja. Oh iya, itu ibu dan bapak ku. Kamu belum pernah bertemu kan?"
Alia menatap ambu dan abah yang terus menatap dirinya.
__ADS_1
"Kalau kakak ku kamu tahu kan? Nah, itu istrinya, Tasya," Sambung Putra.
Alia menatap Banyu dan Tasya. Ia baru menyadari bila wanita yang pernah Putra cintai, kini menjadi kakak ipar Putra.
"Ah iya.." Sahut Alia seraya tersenyum dan menghampiri abah dan ambu.
"Bu, pak, saya Alia," Ucap Alia seraya menyalami kedua orang tua Putra.
Abah dan ambu menyambut tangan Alia dengan ragu, lalu mereka hanya mengangguk dan berusaha tersenyum.
"Dan ini Eijaz, cucu ibu dan bapak." Sambung Alia.
"Eijaz, sini." Panggil Alia. Eijaz yang sedang berdiri di samping ranjang Putra pun menghampiri mamanya. Lalu ia menatap kedua orangtua Putra dengan tatapan polosnya.
"Ini adalah Kakek dan nenekmu," Ucap Alia lagi.
Eijaz tersenyum dan meraih tangan abah dan ambu, dan lalu mengecup punggung tangan mereka. Abah dan ambu terlihat bingung akan bersikap apa. Yang jelas mereka tak menyangka bila cucu mereka yang sebelumnya tidak pernah mereka ketahui keberadaannya, ternyata sudah tumbuh besar dan sangat tampan.
"Abah.." Ambu menatap abah dengan genangan air mata di pelupuk matanya. Abah tersenyum dan mengangguk, lelaki tua itu mempersilahkan ambu untuk melepaskan perasaannya kepada bocah yang hampir berusia empat tahun itu.
"Ya nenek." Sahut Eijaz.
"Ya Allah.." Ucap ambu, seraya mengusap wajah Eijaz dan memperhatikan setiap detil wajah bocah itu.
"Abah... Eijaz teh mirip sekali sama Putra waktu kecil!" Seru ambu. Wanita tua itu menangis dan memeluk Eijaz dengan erat.
"Eijaz cucu nenek!" Serunya saat Eijaz berada di pelukannya.
Suasana terasa begitu mengharukan. Siapa saja berusaha untuk menahan air mata mereka yang berusaha dan terus mendesak untuk membanjiri pipi mereka. Tetapi hal itu sangat mustahil, karena pertemuan itu sangat dramatis yang membuat siapa saja tidak kuasa untuk membendung tangis.
Puas meluapkan perasaan, kini Eijaz sudah berada di pangkuan ambu. Sedangkan seluruh keluarga duduk saling berhadapan. Sedangkan Alia masih setia berada di sisi Putra yang terlihat lebih semangat untuk sembuh saat melihat sang bidadari datang jauh-jauh dari Zurich ke Indonesia hanya untuk menjenguk dirinya.
"Hmmm.. sekarang kita tidak usah membahas masa lalu dan siapa yang salah dan siapa yang harus meminta maaf." Banyu berusaha membuka obrolan untuk kedua belah pihak keluarga yang sedang berusaha untuk memulai menjalin silaturahmi kembali.
__ADS_1
"Dari pertemuan saya kemarin dengan mas Anton, kami sudah menemui titik temu, bila kedua keluarga bersedia untuk saling memaafkan. Bukan begitu mas Anton?" Tanya Banyu kepada Anton. Karena menghargai Anton sebagai calon mertua adiknya, Banyu pun terpaksa memanggil sahabatnya itu dengan sebutan lelaki yang lebih tua darinya.
Menanggapi ucapan Banyu, Anton hanya mengangguk dan tersenyum kepada Banyu.
"Tetapi, karena kita sudah berkumpul semua disini. Saya sebagai wakil dari keluarga, sekali lagi meminta maaf kepada mas Anton dan istri, juga kepada Alia. Maafkan kesalahan saya dan keluarga, ataupun adik saya Putra," Ucap Banyu lagi.
Lagi-lagi Anton hanya mengangguk tampa mengeluarkan sepatah katapun.
"Saya juga sebagai orang yang paling bersalah dan bertanggung jawab atas kekacauan ini semua, saya mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya kepada bapak dan ibu, juga kepada seluruh keluarga saya." Tiba-tiba saja Putra menimpali ucapan Banyu.
Anton menatap Putra yang masih terbaring di ranjang. Tatapan yang masih terbesit amarah itu pun mulai memudar ketika ia melihat keadaan Putra yang terbaring tak berdaya diatas ranjang itu.
"Saya bertobat. Saya tidak akan mengulangi hal-hal yang buruk lagi. Saya benar-benar meminta maaf atas segala kelakuan buruk saya. Kedepannya, saya hanya ingin berbuat baik dan berusaha membahagiakan Alia dan Eijaz. Bila saya melakukan kesalahan lagi, saya bersedia menerima apa pun konsekuensinya. Karena saya sadar, tidak akan ada lagi kepercayaan dan kata maaf untuk saya, bila saya tidak berubah."
Semua terdiam, bahkan Alia pun terdiam dan menatap Putra dengan seksama. Seolah ia mencoba sekali lagi melihat kejujuran dan kesungguhan dari lelaki yang sangat ia cintai itu.
"Kami sekeluarga juga meminta maaf, dengan apa yang pernah kami lakukan. Dan kesalahan yang paling berat adalah, kami. menyembunyikan keberadaan Eijaz. Kami benar-benar minta maaf," Ucap Anton setelah sekian menit suasana menjadi hening setelah permintaan maaf yang diucapkan oleh Putra.
"Sama-sama pak.." Sahut abah seraya tersenyum ramah kepada Anton.
"Jadi?" Tanya Banyu.
Mereka saling bertatapan, lalu semua. melemparkan pandangan mereka kepada Putra dan Alia. Merasa ini adalah giliran mereka, Alia dan Putra pun saling tersenyum dan membalas tatapan keluarga mereka yang sedang menunggu rencana baik dari mereka.
"Setelah saya sembuh, saya ingin mempersunting anak bapak yang cantik ini. Saya tidak akan menyia-nyiakan dirinya. Dia wanita yang baik, sudah sepatutnya saya meratukan dirinya. Apakah bapak mengizinkan saya menikahi Alia?" Tanya Putra, setelahnia berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal itu kepada Anton.
Anton dan Devonna saling bertatapan. Lalu mereka menatap Alia dan Eijaz yang juga sedang menunggu jawaban dari dirinya. Suasana kembali terasa tegang, ketika menunggu jawaban dari Anton. Anton menghela nafas panjang dan menundukkan wajahnya. Sebagai seorang ayah, ada rasa tak rela bila Alia menikah dengan lelaki yang pernah menyakiti hati anaknya itu. Tetapi itulah cinta, cinta selalu ada kata maaf untuk orang yang pernah mengecewakan ataupun yang menyakiti. Tetapi tidak ada salahnya bila memberikan kesempatan kepada orang tersebut, bila orang tersebut benar-benar diyakini sudah berubah lebih baik.
"Datanglah kerumahku dengan mahar mu, aku akan menunggu," Ucap Anton dengan singkat, padat dan tepat.
"Alhamdulillah..!" Seru Putra dan keluarganya.
Putra menatap Alia dengan tatapan suka cita. Pun dengan Alia yang terus tersenyum bahagia. Akhirnya cinta itu menjadi milik mereka. Akhirnya restu itu di berikan kepada mereka. Kini mereka hanya menunggu waktu untuk bisa melangkah bersama dalam ikatan perkawinan yang sah dimata Agama dan Negara.
__ADS_1
Pertemuan itupun dilanjutkan kepada pembahasan yang lebih serius lagi, yaitu tanggal pernikahan mereka yang akan dilaksanakan dua bulan lagi dan setelah mereka menikah, mereka berencana untuk menetap di Zurich dan melanjutkan usaha Alia di Negara itu.