
Ting!
Putra yang sedang termenung di balkon kamar hotel itu pun tersadar dari lamunan panjangnya tentang segala kesalahan yang pernah ia buat kepada Alia. Sejak ia berada di Zurich, ia terus mengingat semua yang telah terjadi dan terus merasa menyesal dengan apa yang telah ia lakukan kepada wanita yang pernah dengan sangat tulus mencintai dirinya. Hingga Putra kini tersadar bila tidak akan ada lagi wanita yang setulus dan sebaik Alia. Mau ia mencari ke belahan dunia manapun mungkin tidak akan ada yang mampu menggantikan Alia. Penyesalan demi penyesalan membuat dirinya terus berdoa kepada yang Maha Kuasa, agar ia mendapati maaf dari Alia yang sudah jauh-jauh ia sambangi dari Jakarta ke Zurich.
Putra meraih ponselnya dan membaca pesan yang baru saja ia terima.
Hai, kamu mendapatkan undangan makan malam di kediaman Alia. Jangan sampai terlambat, pukul lima 5 Pm.
Putra nyaris saja melompat dari duduknya kala membaca pesan dari Greta. Sekali lagi ia membaca pesan itu, agar ia merasa pesan itu memang benar adanya. Dan ternyata itu semua memang benar, dirinya sedang tidak bermimpi. Lalu ia segera menghubungi Greta, untuk mengkonfirmasi lagi atas pesan yang baru saja ia baca.
Setelah nada panggilan ketiga, wanita itu menerima panggilan dari Putra dan menyapanya dengan ramah.
"Hai,"
"Hai, good afternoon!" Sahut Putra dengan nada suara yang begitu bersemangat.
"Good afternoon Mr Putra." Sahut Greta.
"Apakah benar undangan itu? Apa aku hanya sedang bermimpi?"
Greta tertawa mendengar pertanyaan dari Putra.
"Ya! Dia mengundangmu. Apakah kau sudah ready?"
"Ya...! Sangat ready!"
"So? Tunggu apalagi? Alia sudah dalam perjalanan pulang."
"Baik, aku akan segera kesana." Ucap Putra.
"Good luck ya."
"Thanks Greta."
Putra pun mengakhiri panggilan tersebut. Lalu ia bersiap-siap untuk datang kerumah Alia.
Beberapa menit kemudian, Putra pun sudah berada di lobby hotelnya. Dengan tidak sabar, ia menunggu taksi yang akan mengantarkan dirinya ke rumah Alia.
Taksi pun tiba, Putra dipersilahkan untuk naik kedalam taksi tersebut setelah seorang pegawai hotel membukakan pintu taksi itu untuk dirinya. Setelah ia naik, ia pun meminta sang supir untuk segera menuju alamat rumah Alia.
.
Di kediamannya, Alia tampak sedang sibuk memasak masakan yang akan ia suguhkan untuk Putra. Terlihat Eijaz juga sedang duduk di meja makan sambil bermain robot yang baru saja ia dapatkan dari ibunya. Sejenak Eijaz menatap Alia yang tampak terburu-buru mempersiapkan makan malam tersebut.
__ADS_1
"Mom, apakah ada yang datang?" Tanya Eijaz. Biasanya Alia terlihat santai saat membuat makan malam. Tetapi tidak kali ini, yang membuat muncul pertanyaan dari bibir bocah kecil itu.
Ali menata Eijaz, lalu ia tersenyum manis kepada anak semata wayangnya itu.
"Ada kejutan untuk kamu sayang."
"Kejutan apa?" Tanya Eijaz lagi.
"Lihat saja nanti."
"Aku sedang tidak berulang tahun mom."
"Memang tidak." Sahut Alia seraya kembali mengaduk sup yang sudah tampak mendidih.
"Lalu?"
"Ini kejutan, apakah aku harus mengatakannya sekarang?" Tanya Alia, seraya melirik Eijaz.
"Hmmmm, baiklah." Sahut Eijaz yang kembali larut dalam permainannya.
.
Satu jam berlalu, Eijaz sudah tampak rapi dengan pakaian terbaiknya. Sedangkan Alia yang baru saja selesai mandi, langsung memakai pakaiannya dan berdandan untuk menyambut kedatangan lelaki dari masa lalunya. Alia yang sedang memakai bedak pun menatap bayangan wajahnya lewat pantulan cermin di depannya. Kini, ia sudah tampak jauh lebih dewasa dari terakhir kali dirinya bertemu dengan Putra. Ya, kini usianya sudah dua puluh tiga tahun, dengan seorang anak yang akan menginjak usia empat tahun.
"Apakah dia sudah benar-benar berubah?" Gumam Alia. Lalu ia kembali berdandan sambil menunggu bell di rumahnya berbunyi.
.
.
.
Ting tong...!
Eijaz melirik kearah tangga, ia tidak melihat Alia di sana. Ia pun paham bila ibunya itu belum selesai berdandan. Lalu ia memutuskan untuk mencari tahu siapa yang sedang berada di balik pintu rumahnya.
Eijaz mengintip dari jendela rumah, ia melihat sosok seorang lelaki dengan seikat bunga yang indah dan juga kado yang dibungkus dengan motif salah satu tokoh di film Marvel yang berukuran medium. Eijaz pun mengerutkan keningnya, ia seperti mengenal lelaki itu, hingga ia pun mengingat kejadian saat malam dimana ibunya menangis karena lelaki itu.
"Dia orang jahat yang membuat mom menangis malam itu. Mengapa dia kesini lagi! Apakah dia ingin membuat mom menangis lagi?" Batinnya.
Eijaz kembali menoleh kearah tangga, ia tak kunjung melihat Alia turun dari lantai atas. Sekali lagi ia kembali mengintip dari balik jendela.
Ting tong..!
__ADS_1
Lelaki itu seperti tidak sabar ingin seseorang segera membukakan pintu untuk dirinya. Akhirnya Eijaz pun merasa gemas dan memutuskan untuk membuka pintu rumahnya.
"Siapa anda!" Tanyanya dengan nada suara yang terdengar begitu sinis.
Putra menatap Eijaz dengan seksama dan mendadak matanya mengembun kala dirinya dapat menatap versi kecil dirinya sendiri yang kini berdiri tepat di depannya. Malam itu ia tidak dapat melihat Eijaz dengan jelas, karena Eijaz berada di dalam mobil. Kini ia dapat melihat Eijaz dengan seutuhnya. Jantungnya berdebar kencang, ia pun berjongkok sambil terus menatap Eijaz.
"Hai Eijaz.." Sapanya.
"Kamu siapa! Kamu yang membuat ibuku menangis pada malam itu bukan?" Eijaz masih saja menatap Putra dengan tatapan menghakimi. Meskipun begitu, Putra merasa bangga sekali dengan didikan Alia yang membuat Eijaz tampak seperti anak laki-laki yang penuh tanggung jawab kepada keluarga, terutama kepada ibunya.
"Perkenalkan, nama saya adalah Putra."
"Eijaz..." Panggil Alia yang baru saja turun dari lantai atas.
Eijaz dan Putra pun menoleh kearah tangga yang dapat terlihat dari pintu depan rumah itu. Saat itu juga Putra terpana kala melihat Alia yang terlihat sangat cantik dengan dress berwarna hijau pupus yang sedang melekat di tubuh indahnya.
"Alia.." Gumamnya dengan tatapan penuh kerinduan.
"Eijaz.." Alia kini berdiri di hadapan Putra seraya merangkul buah hatinya dengan wajah yang tampak khawatir.
"Ah... kamu, silahkan masuk." Akhirnya Alia mempersilahkan Putra untuk masuk kedalam rumahnya, setelah ia sempat tertegun menatap Putra yang sedang memegang buket bunga dan juga sebuah kado.
"Terima kasih. Oh iya, ini untukmu dan ini untuk Eijaz." Putra menyerahkan buket bunga itu seraya terus menatap Alia dengan seksama. Dengan ragu, Alia menerima buket bunga itu dan mencoba untuk tersenyum.
"Terima kasih," Ucap Alia.
"Sama-sama," Sahut Putra.
Melihat ibunya menerima buket bunga itu, Eijaz pun memberanikan diri untuk menerima juga kado dari lelaki asing itu.
"Thanks," Ucap Eijaz dengan nada suara yang datar.
"You're welcome. Semoga kamu menyukainya ya Eijaz."
Eijaz hanya diam dan membuang pandangannya seraya memeluk kado tersebut.
"Hmmm... aku.."
"Kita bicara di ruangan makan saja. Aku sudah memasak untuk kita." Potong Alia.
"Oh, Ok." Sahut Putra yang kini mengikuti langkah kaki Alia yang berjalan menuju ke ruangan makan.
"Bismillah.. semoga ini adalah awal yang indah." Batin Putra.
__ADS_1