Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
56. Undangan keruangan meeting


__ADS_3

"Selamat pagi." Sapa Putra kepada seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang berada di kelas nya.


"Pagi paaaaaaaakkk." Sahut mereka seraya memperhatikan Putra yang masih tampak babak belur. Serta tangan yang masih di perban dan juga langkah yang terlihat pincang.


"Wah.... pak.. bapak baik-baik saja kan?" Tanya seorang mahasiswa yang duduk di bangku deretan depan.


"Menurut mu?" Tanya Putra dengan memasang wajah yang kesal. Lalu ia melirik Alia yang duduk di bangku yang sejajar dengan meja nya.


"Pak.. katanya bapak kecelakaan. Tapi kok seperti habis diii....


"Gebukin?" Potong Putra.


Seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang berada di kelas itu menahan tawa mereka. Antara mempertahankan sopan santun dan tidak tahan dengan jawaban Putra yang begitu menggelitik.


"Saya baik-baik saja. Buka halaman tujuh puluh tujuh. Buat rangkuman dan jelaskan satu persatu isi dari bab tersebut."


"Yahhhh....!" Seru seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang merasa terbebani oleh tugas yang Putra berikan pada mereka.


"Tahu begitu mending bapak di rumah saja. Istirahat lebih lama." Celetuk Alia.


Semua mata menatap Alia, hanya gadis itu lah yang berani berterus terang memprotes Putra.


"Kamu saja yang di rumah, terus menikah dan jadi ibu rumah tangga."


Alia menatap Putra dengan kedua mata yang ia bulatkan. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Putra di depan kelas tersebut.


"Ok, asal suaminya bapak ya..." Balas Alia.


Seketika Putra terdiam, disusul oleh tawa canda dari seluruh mahasiswa dan mahasiswi di kelas itu.


"Diam!"


Seketika kelas itu pun hening. Putra menatap Alia dengan tatapan yang terlihat sangat kesal pada gadis itu. Lalu ia menghampiri Alia dan membuka halaman 125.


"Saya menambah tugas mu. Lakukan hal yang sama pada bab ini. Saya tunggu sampai sore hari. Kalau tidak, saya berikan kamu nilai D!"

__ADS_1


Alia terperangah, ia menatap Putra dengan tatapan tak percaya. Masing-masing dari mahasiswa dan mahasiswi di sana pun mulai pura-pura sibuk mengerjakan tugas. Karena mereka takut akan mengalami nasib yang sama dengan Alia.


"Pak!"


"Jangan banyak protes. Itu hukuman buat kamu yang berani membantah saya."


Alia pun terdiam membisu.


"Perhatian! Ini kelas saya, saya yang berkuasa disini. Kalau tidak suka, silahkan keluar!" Tegas Putra.


Suasana menjadi hening, yang terdengar hanya suara pena yang terus bergesekan dengan lembar demi lembar kertas milik anak didik Putra.


Diam-diam Putra tersenyum puas melihat Alia yang mati kutu di kelas nya. Entah mengapa membuat gadis itu menderita, ada kepuasan tersendiri di hati Putra. Bukan karena dirinya membenci Alia. Tetapi kali ini berbeda, ia hanya merasa puas, itu saja.


.


"Ya.. bisa kamu keruangan saya sekarang?" Tanya Anton melalui sambungan telepon, pada seseorang yang berada di ruangan yang berbeda dengan nya.


"Bisa pak." Sahut lelaki yang sedang berbicara dengan Anton.


Anton menaruh gagang telepon nya. Lalu ia menatap Tasya yang sudah tampak sedikit tenang.


"Ya pak..?"


"Kita sudah dapat siapa yang menyebarkan video kamu. Tenaga ahli saya sangat mudah melakukan hal itu."


"Benarkah pak?" Tanya Tasya dengan wajah yang semringah.


"Ya.. Ayo kita ke ruang meeting."


"Ba-baik pak." Sahut Tasya, yang langsung beranjak dari duduk nya dan mengikuti Anton keluar dari ruangan tersebut.


Dari ujung lorong, terlihat Riyanti yang baru saja keluar dari pantry. Gadis itu menatap Anton dan Tasya yang baru saja keluar dari ruangan Anton. Ia menatap iri kearah Anton dan Tasya yang mulai bergerak menuju ke ruangan meeting.


Dreettt...! Dreeettt...!

__ADS_1


Riyanti dikejutkan oleh ponselnya yang tiba-tiba berdering. Ia menatap layar ponselnya, dan mendapatkan nama Anton yang sedang menghubungi dirinya


"Ada apa sih?" Batin nya. Lalu dengan ragu, ia menerima panggilan telepon tersebut.


"Halo?" Sapa Riyanti.


"Dimana kamu? Jam berapa ini?" Tanya Anton dengan nada suara yang tinggi.


"Ah.. anu mas.. aku.. aku sedang di pantry membuat kopi." Terang Riyanti.


"Memang nya tidak ada OB!"


"Bu-bukan begitu. Tadi saya dari toilet, sekalian saja. Saya pikir saya bisa membuat nya sendiri."


"Kumpulkan semua orang ke ruangan meeting. Ada yang mau saya katakan."


"A-ada apa ya mas?" Tanya Riyanti yang penasaran dengan permintaan Anton yang tidak wajar.


"Gak usah banyak tanya! Kerjakan saja!"


"I-iya mas.." Sahut Riyanti.


Tut..! Tut..! Tut..! Terdengar suara telepon yang terputus. Anton mengakhiri pembicaraan itu dengan begitu saja, yang membuat Riyanti merasa kesal pada lelaki itu. Dulu, Anton begitu romantis kepada dirinya. Namun kini perbedaan itu sangat terasa sekali. Berawal dari Tasya yang mulai bergabung dengan perusahaan ini. Itulah mengapa, Riyanti mulai memperhatikan sikap Anton pada Tasya, dan semua itu benar adanya. Riyanti mendapatkan kenyataan yang begitu pahit, yaitu Anton memiliki perasaan pada Tasya dan mulai bosan kepada dirinya. Kini Anton hanya datang padanya bila Anton membutuhkan dirinya. Ia sudah seperti boneka yang menemani Anton di ranjang. Hal itu membuat dirinya merasa khawatir dan mempunyai perasaan bila dirinya cepat atau lambat akan dicampakkan oleh Anton. Hal itu juga yang membuat rasa iri dan gelap mata Riyanti, sampai ia tega melakukan hal yang serendah itu pada Tasya.


"Heh, boss lagi kenapa sih?" Tanya Riyanti, pada salah satu karyawan yang sedang melintas di lorong itu.


"Oh.. itu mbak.. kasus Tasya."


"Kasus Tasya apa?" Tanya Riyanti yang berpura-pura tidak tahu atas kekacauan yang ia lakukan sendiri.


"Itu loh mbak.. video Tasya ganti baju di toilet. Memang nya mbak Riyanti tidak mendapatkan video itu?" Pertanyaan karyawan itu membuat Riyanti mulai merasa bodoh. Semua sudah ia lakukan dengan rapi. Ia mengirim video dengan nomor yang baru kepada seluruh karyawan di sana. Namun dia tidak mengirim video itu pada dirinya sendiri yang terhitung karyawan juga di kantor itu, dan ia juga tidak mengirimkan video itu pada Anton dan Tasya. Bila ada pertanyaan siapa saja yang mendapatkan video itu, sudah pasti dirinya tidak dapat menunjukkan bila ia tidak mendapatkan video tersebut. Sudah pasti dia lah yang akan dicurigai sebagai pelaku utama. Sedangkan Anton sudah jelas bukan pelakunya. Karena saat Tasya berganti baju di toilet, posisi Anton sedang berada di lobby kantor. Sedangkan Riyanti, ia tidak dapat memberikan alibi apapun. Karena saat itu, ia masih berada di gedung kantor tersebut dan kebetulan dia adalah wanita, yang bebas keluar masuk ke toilet wanita.


"Ah.. sial! Aku harus mengirim video itu segera ke nomor ku yang ini." Batin Riyanti. Ia pun bergegas ke ruangan nya, dan mencari ponsel milik nya dengan nomor yang ia gunakan untuk menyebar video itu.


"Eh iya... tolong bilang sama semua, pak boss meminta kita semua ke ruangan meeting. Kalau ruangan nya gak cukup, kalian bergantian masuk nya ya. Ngantri..!" Ucap Riyanti kepada karyawan tersebut sebelum ia beranjak ke ruangan nya.

__ADS_1


"Baik mbak." Sahut karyawan itu.


.


__ADS_2