
Ting!
Bunyi lonceng yang tersenggol pintu toko kue milik Tasya yang sudah resmi berjalan selama 3 bulan belakangan ini. Terlihat Rafis berlari menghampiri Tasya yang sedang melayani para pelanggan yang hendak membeli kue buatan nya.
"Mama!" Seru Rafis seraya memeluk pinggang Tasya.
"Hai sayang, sudah pulang."
"Sudah ma." Rafis mengecup punggung tangan Tasya. Lalu mencium kedua pipi Tasya yang baru saja mengecup puncak kepala bocah laki-laki itu.
"Mbak nya mana?" Tanya Tasya seraya mencari sosok baby sitter yang membantunya mengasuh Rafis sejak ia pindah ke Jakarta.
"Sedang mengeluarkan barang di mobil sama papa."
"Papa? Papa menjemput kalian?" Tanya Tasya seraya mengerutkan keningnya.
"Iya ma, tu papa..!" Seru Rafis lagi, saat Banyu dan baby sitter masuk kedalam toko kue itu.
Tasya menatap Banyu dengan tatapan yang begitu memuja. Bagaiy tidak, semakin hari ia semakin mengagumi sosok suaminya itu. Banyu terlihat begitu perhatian pada dirinya dan juga Rafis. Semakin ia mengenal pribadi Banyu, ia pun semakin jatuh cinta pada lelaki itu.
"Hai sayang," Ucap Banyu seraya mengecup kening Tasya.
"Kamu tidak kerja mas?"
Banyu hanya menggelengkan kepalanya, lalu ia mempersilahkan Tasya untuk kembali melayani pelanggan yang sedang mengantri di depan kasir.
"Layani saja dulu. Nanti aku ingin berbicara kepadamu."
"Ah iya... baik mas, sekarang duduk dulu disana ya.." Ucap Tasya seraya menunjuk kursi yang berada di sisi kiri toko kue itu.
Banyu hanya mengangguk dan berjalan menuju bangku itu.
"Wah.. suami nya romantis sekali ya mbak." Ucap salah satu pelanggan.
Tasya hanya tersenyum menanggapi ucapan pelanggan nya itu dan segera mengemasi pesanan sang pelanggan.
"Semua empat ratus ribu ya bu."
"Ini mbak." Pelanggan itu menyerahkan kartu debit nya kepada Tasya untuk Tasya proses pembayaran nya. Setelah pelanggan itu pergi, Tasya harus kembali melayani tiga pelanggan lagi sebelum ia menghampiri Banyu yang sedang asik memakan cake bersama dengan Rafis, yang baru saja di ambilkan oleh seorang pegawai yang bekerja di toko milik Tasya itu.
"Enak pa!" Ucap Rafis dengan bersemangat.
Banyu mengangguk dan tersenyum kepada anak sambungnya itu. Sedangkan Tasya tersenyum dari balik meja kasir, kala mendengar pujian dari anak semata wayang nya itu.
Setelah selesai melayani pelanggan, Tasya pun datang menghampiri Banyu dan Rafis yang sedang asik menghabiskan sisa cake yang mereka makan.
"Lapar ya?" Tanya Tasya kepada Banyu dan Rafis.
"Sedikit," Sahut Banyu.
"Rafis, sebentar ya.. papa mau bicara sama mama. Rafis sama mbak dulu ya." Pinta Banyu, seraya menurunkan Rafis dari pangkuan nya.
"Iya papa." Sahut Rafis. Bocah laki-laki itu pun berlari menghampiri baby sitter nya yang sedang duduk di dekat pintu masuk toko itu.
"Itu barang-barang apa mas?" Tanya Tasya seraya menatap beberapa bungkusan belanjaan yang Banyu letakkan di atas meja.
__ADS_1
"Oh.. untuk kamu."
"Untuk ku?" Tanya mengerutkan keningnya seraya menatap Banyu dengan tak percaya.
"Ya.."
"Apa itu?"
"Baju tidur," Bisik Banyu.
Tasya mengulum senyumnya dan menepuk lengan Banyu dengan manja.
"Bisa-bisanya kamu belanja tanpa aku," Ucap Tasya malu-malu.
"Bisa dong.." Sahut Banyu.
"Memang tidak malu?"
"Ngapain malu? Kan membelikan istri sendiri."
Tasya kembali tersenyum dan menatap bungkusan lain nya.
"Sebanyak ini?" Tanya nya penasaran.
"Tidak semua,"
"Lalu?" Tasya pun semaki penasaran.
"Itu dress untuk mu, ada sepatu juga, tas juga ada.. dan.. make up.."
"Make up?" Tasya menatap Banyu tak percaya.
"Ya.."
"Tahu dong, tinggal di foto saja, bawa ke gerainya. Beli deh.." Banyu tersenyum memperlihatkan deretan gigi nya yang putih.
"Ya Allah mas, meleleh aku.." Ucap Tasya seraya memeluk Banyu dengan erat.
"Terima kasih ya mas,"
"Sama-sama sayang..." Sahut Banyu seraya mengecup puncak kepala Tasya.
"Memangnya ada apa mas? Kok tumben banget..."
Banyu melepaskan pelukan nya dan menatap Tasya dengan seksama.
"Aku hanya lagi bahagia,"
"Karena" Tanya Tasya penasaran, seraya mencoba untuk melihat ke dalam kantong belanjaan itu.
"Kantor Urusan Agama sudah menyetujui pendaftaran pernikahan kita. Begitu aku mendapatkan beritanya dari pengacara ku, aku begitu bahagia. Maka dari itu aku langsung belanja untuk mu."
"Benarkah?" Tasya tak kalah bahagia mendengar berita yang Banyu sampaikan kepada dirinya.
"Ya..," Sahut Banyu seraya membuka tas nya dan mengeluarkan dua buah buku bersampul cokelat dan hijau.
__ADS_1
"Mas.." Tasya menatap buku itu dengan tatapan tak percaya.
"Sekarang kita sah menurut hukum dan Negara, selamat ya sayangku," Ucap Banyu.
"Ahhhh... Alhamdulillah!" Tasya melompat senang dan menyambar kedua buku nikah tersebut.
"Ya Allah mas... seperti mimpi bagiku!" Sambung Tasya lagi.
"Untuk merayakan nya, mari kita makan malam berdua saja nanti malam."
"Siap!" Tasya tampak begitu bersemangat dan menatap Banyu dengan mata yang berbinar.
"Dan... ada satu lagi.."
"Apa?"
"Sebentar," Banyu mencoba mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya.
"Ini.." Banyu menyerahkan sebuah amplop yang baru saja ia keluarkan dari dalam tas nya.
"Ini apa mas?" Tanya Tasya, lalu dengan ragu ia menerima amplop tersebut.
"Buka saja," Pinta Banyu.
Tasya pun membuka amplop tersebut dengan sesekali melirik Banyu dengan tatapan curiga. Sejurus kemudian dirinya pun tampak terkejut saat melihat isi dari amplop tersebut.
"Honeymoon?" Ucap nya dengan tak percaya.
"Ya.." Banyu mengangguk membenarkan ucapan Tasya.
"Tokyo?"
"Iya.." Sahut Banyu lagi.
"Aaaaaaaa... mas Banyu! I love you!" Tasya melompat ke tubuh Banyu, reflek saja Banyu menyambut tubuh istrinya itu dengan kedua tangan nya. Hingga Banyu seperti sedang menggendong tubuh Tasya, layaknya sedang menggendong seorang bocah di dalam pelukan nya.
"Makin cinta, cinta, cinta, cinta deh sama mas!" Seru Tasya seraya mengecup pipi Banyu dengan bertubi-tubi.
"Apa pun yang membuat kamu bahagia, aku akan wujudkan itu semua." Bisik Banyu seraya mengecup lembut bibir Tasya.
"Papa.. mama... Rafis ikut tidak?"
Tasya menoleh kepada Rafis dan segera turun dari gendongan Banyu.
"Mas.." Tasya pun menatap Banyu dengan tatapan yang memohon.
"Tanpa di minta pun, papa pasti akan mengajak mu. Itu ada tiga tiket kok. Mari kita berlibur!" Seru Banyu.
"Asyikkkkkkkk!" Rafis menepuk tangan nya dan melompat ke tubuh Banyu, seakan ia tidak mau kalah dengan sang ibu.
"Terima kasih ya mas.." Tasya menatap Banyu dengan tatapan haru nya.
"Menikahimu, berarti menikahi hidup mu.. baik itu masa lalu dan masa depan mu." Pungkas Banyu.
Mereka pun berpelukan bertiga dengan erat. Saat ini kebahagiaan benar-benar Tasya rasakan. Setelah sekian lama ia memimpikan kehidupan seperti ini, sekarang semua seakan dikabulkan oleh sang Pencipta.
__ADS_1
Dulu, Tasya sempat merasa iri dengan Queen yang mendapatkan pasangan yang sangat baik. Tetapi rasa irinya itu ia bawa kedalam doa yang baik. Dengan mendoakan kebahagiaan Queen dan juga harapan nya yang sama kepada sang Pencipta. Karena doa baik nya, ia pun kini mendapatkan hal yang serupa dengan apa yang sangat ingin ia rasakan.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah..." Batin Tasya.