
Seorang perawat yang memakai baju serba hijau, keluar dari ruang operasi. Seketika seluruh keluarga Putra menghampiri perawat tersebut.
"Sus, bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Ambu yang masih terus menangis.
"Keluarga bapak Putra?"
"Ya sus." Sahut Ambu lagi.
"Bisa ikut sebentar, cukup yang mewakili saja. Kami butuh tandatangannya dan persetujuan operasi. Kami terlanjur mengoperasikan pasien karena pasien dalam keadaan gawat. Jadi, kami tidak sempat untuk menunggu pihak keluarga." Jelas suster tersebut.
"Bagaimana keadaannya? Apa yang di operasi?" Tanya Banyu dengan raut wajah yang khawatir.
"Pasien mengalami patah tulang iga hingga menembus ke paru-parunya. Tidak ada pilihan selain mengambil tindakan operasi. Pasien sudah kesulitan bernafas dan tak sadarkan diri. Mohon bapak segera ikut saya."
Merasa anak tertua, Banyu pun langsung menyetujui untuk menjadi wakil dari Putra. Ia mengikuti suster itu untuk menyelesaikan berkas-berkas persetujuan operasi dan lainnya. Sedangkan ambu, abah dan Tasya masih setia menunggu di depan ruang operasi tersebut. Tak lama kemudian, muncullah Devonna yang tidak tahu bila di sana sudah ada keluarga Putra Ia terlihat kebingungan dan gelisah menunggu di depan ruang operasi. Berharap ada suster atau dokter yang keluar dari ruangan tersebut. Ia sempat melemparkan senyumannya kepada keluarga Putra yang tidak mengenal dirinya.
Selang beberapa saat kemudian, terlihat Banyu kembali kearah ruang operasi di susul oleh beberapa tenaga medis yang terlihat berjalan dengan cepat. Tanpa berpikir panjang, Devonna langsung mencegat suster tersebut.
"Permisi, apakah yang di operasi ini adalah lelaki bernama Putra?" Tanyanya, sontak saja keluarga Putra langsung menoleh menatap dirinya.
"Anda siapa?" Tanya ambu seraya menatap Devonna.
"Saya ibunya Alia. Saya disuruh anak saya untuk melihat Putra."
Mendengar nama Alia, sontak saja keluarga Putra saling bertatapan. Mengapa Alia menyuruh ibunya untuk melihat keadaan Putra? Bukankah mereka sudah tidak ada hubungan apapun lagi?
Batin dari masing-masing mereka.
"Apakah belum cukup Alia dan suamimu memenjarakan anak saya? Sekarang anak saya sedang bertarung hidup dan matinya. Mau apa kamu!" Tanya ambu yang terlihat mulai emosi.
Banyu yang menyadari situasi yang tidak kondusif pun langsung mencegah ambu yang hendak menghampiri Devonna yang tampak kebingungan.
"Hai halo, saya Banyu. Kakak dari Putra." Banyu memperkenalkan dirinya. Walaupun ia bersahabat dengan Anton, tapi tidak sekalipun ia pernah melihat Devonna secara langsung. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Devonna.
"Ha-hai.. saya Devonna. Kamu sahabat Anton?" Tanya Devonna yang sudah sering mendengar tentang Banyu dari suaminya.
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Banyu lagi.
"Hmmmm... Alia mengutus saya untuk melihat keadaan Putra." Jelas Devonna.
"Alia? Mengapa?" Banyu tampak tidak percaya dengan alasan Devonna yang berada di sana saat ini.
"Aku tidak tahu, dan aku juga tidak tahu darimana dirinya tahu bila Putra kecelakaan." Devonna berusaha untuk mengatakan yang sejujurnya.
Banyu terdiam, dan menatap satu persatu keluarganya.
"Apakah Putra berhubungan lagi dengan Alia? Lalu mengapa? Ada apa?" Batin Banyu.
"Dimana Alia sekarang?" Tanya Banyu.
"Dia di Zurich."
Mendengar nama Kota itu, Banyu pun tersadar bila Putra ke Zurich bukan hanya sekedar urusan bisnis yang di titipkan kepada adiknya itu. Melainkan Putra punya misi lainnya, yaitu menemui Alia. Namun, urusan apa Putra dengan Alia? Bukankah mereka tidak lagi berhubungan dan tidak ada lagi alasan untuk bersatu? Pertanyaan itu terus menggema di otak Banyu.
__ADS_1
"Apakah Alia dan Putra....
" Saya tidak tahu, saya baru tahu hari ini." Potong Devonna.
Seketika suasana pun menjadi canggung. Akhirnya Devonna hanya bisa duduk tak jauh dari keluarga Putra, untuk menghindari kemungkinan kemungkinan yang tidak diinginkan. Karena tatapan ambu tampak tidak begitu menerima Devonna yang kini berada di sana.
Butuh waktu lima jam, untuk mengoperasi Putra. Akhirnya dokter pun keluar dari ruangan operasi. Seperti biasa, semua yang menunggu akan penasaran dengan keadaan orang yang mereka cintai.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" Tanya ambu yang terlihat begitu penasaran akan kondisi buah hatinya itu.
"Ibu keluarga pasien?"
"Ya dok, saya ibunya." Jelas ambu.
"Begini bu, pasien mengalami patah tulang iga yang menembus paru parunya. Jadi, kondisi pasien saat ini cukup kritis. Tapi operasi berjalan dengan baik."
"Alhamdulillah," Ambu kembali menangis untuk mengungkapkan betapa dirinya sangat bersyukur dengan operasi yang berjalan dengan lancar.
"Setelah ini kami akan memasukan pasien ke ruang ICU. Jadi, kami mohon doanya kepada seluruh keluarga untuk kesehatan bapak Putra. Semoga beliau segera siuman dan kondisinya membaik."
"Aamiin dok, terima kasih." Masing-masing dari mereka mulai merasa lega, setidaknya Putra masih dalam kondisi bernyawa saat ini.
Mendengar penjelasan dokter, Devonna pun langsung menghubungi Alia, untuk memberitahukan keadaan Putra saat ini.
"Halo, operasinya berjalan dengan baik-baik saja. Hanya saja kondisinya kritis."
Mendengar penjelasan dari Devonna, Alia pun menangis.
"Tulang iganya patah, menembus hingga paru paru. Kamu jangan khawatir, disini sudah ada keluarganya. Mama akan kembali ke rumah secepatnya."
"Iya ma.. bisakah mama nanti saja pulangnya? Aku ingin melihat keadaan Putra."
"Jadi?"
"Ya, mama disitu saja dulu. Izinkan aku melihat dia, walaupun hanya sekedar fotonya saja."
"Alia, come on... Kamu sudah gila?"
"No! dia adalah bapak dari anakku!" Alia mulai meninggikan suaranya. Devonna pun terdiam, lalu ia mencoba untuk memahami Apa yang dirasakan oleh Alia dan Eijaz.
"Apakah disana orang-orang tahu bila mama adalah mamaku?"
"Ya..." Sahut Devonna.
"Apakah mereka...
" Mereka tidak menerimaku kecuali kakaknya."
Mendengar sindiran itu, ambu mulai tersinggung. Ia pun berjalan menghampiri Devonna dan melabrak wanita tersebut.
"Kamu! Wanita bule sia! Kurang ajar!"
"What wrong!"
__ADS_1
"Ambu.. sabar..." Abah berusaha menenangkan ambu yang mulai mengamuk.
"Itu anakmu yang menjebloskan anakku ke penjara kan! Mana dia!" Ambu mulai merampas ponsel milik Devonna.
"Hei!" Pekik Devonna. Seketika suasana rusuh mulai tercipta di lorong tersebut.
Tiba-tiba saja pintu ruangan operasi terbuka. Tampak Putra yang terbaring tak berdaya di atas ranjang dorong, lengkap dengan segala alat medis yang melekat di tubuhnya.
Pertengkaran itu pun terjeda, seluruh keluarga dan Devonna pun langsung menghampiri Putra.
"Ma! mama! ma!" Panggil Alia yang masih tersambung lewat telepon dengan Devonna.
"Kamu lihat sendiri keadaannya, setelah itu aku pulang!" Ucap Devonna yang masih terbawa emosi karena ambu. Lalu panggilan itu pun dialihkan ke mode panggilan video. Terlihat Alia dan Eijaz di layar ponsel milik Devonna. Lalu dengan cepat Devonna memutar kamera nya ke belakang.
"Ini dia.." Ucap Devonna seraya memperlihatkan keadaan Putra sambil mengikuti suster yang mendorong ranjang Putra ke arah ruang ICU.
"Mana dia! Buat apa dia ingin tahu keadaan anakku! Apa dia kurang puas menyakiti anakku!" Tiba-tiba saja ambu yang merasa terganggu karena Devonna ikut mengiringi Putra ke ruang ICU pun merampas ponsel milik Devonna. Devonna hanya bisa tercengang dan berhenti berjalan saat ponselnya di rampas oleh ambu.
"Kamu! Ada urusan apa ingin tahu keadaan anak saya!" Ucap ambu dengan perasaan benci yang begitu mendalam kepada Alia.
Alia terdiam, setelah sekian lama, akhirnya ia bertatap wajah lagi dengan ibunya Putra, meskipun itu hanya melalui video call.
"Mama, itu siapa? Kok marah marah?" Tanya Eijaz dengan polosnya.
Kini ambu yang terdiam, kala melihat anak laki-laki dengan wajah yang sangat tampan itu bertanya dan memanggil Alia dengan sebutan 'mama'.
"Hmmmm, itu...
"Mama, mana video papa? Kenapa hanya ada grandma itu?" Tanya Eijaz lagi.
"Papa?" Tangan ambu gemetar saat ia mendengar anak laki-laki itu menyebut Putra dengan sebutan 'papa'. Saking gemetarnya, ponsel yang ada di genggamannya nyaris saja terjatuh. Dengan cepat Devonna merampas lagi ponselnya seraya mengucapkan kata makian yang berasal dari Negara nya.
"A-apa maksudnya?" Tanya ambu dengan suara yang gemetar.
"Maksud apa!" Devonna yang masih emosi menanggapi pertanyaan ambu dengan nada suara yang tinggi.
"Bocah itu..."
"Dia bukan siapa-siapa! Tidak ada hubungannya dengan keluarga kalian!"
"Ma!" Alia yang masih terhubung lewat video call itu pun menegur Devonna.
"Cukup Alia, mama akan pulang sekarang!"
"Ma... biarkan kami berkomunikasi. Bagaimanapun itu keluarga Eijaz."
Devonna terdiam sesaat, ia mengurungkan niatnya untuk mematikan sambungan video tersebut.
"Ma, please. Izinkan Eijaz memperkenalkan dirinya kepada kakek neneknya."
"Tidak akan!" Devonna yang masih merasa kesal dengan ambu pun mematikan sambungan video itu. Lalu ia berjalan meninggalkan lorong rumah sakit tersebut.
Ambu terdiam, pun dengan abah. Sedang Banyu dan Tasya terlihat saling bertatapan. Mereka sangat tidak menyangka bila Putra dan Alia memiliki seorang anak, yaitu Eijaz yang kini tinggal di Zurich bersama Alia.
__ADS_1