
"Anaknya tidak aktif teh.. Jangan-jangan si Banyu teh cacat.." Ucap seorang tetangga yang suka sekali ikut campur urusan orang lain dan berkomentar buruk terhadap orang lain. Saat itu tetangga tersebut sedang duduk di depan rumah orang tua Banyu yang kala itu masih tinggal di perkampungan kumuh hampir 38 tahun silam.
Ibunya menatap Banyu yang masih berusia 3 bulan dan tertidur nyenyak di dalam dekapan nya. Hatinya terasa sakit sekali kala hampir semua tetangga mengatakan bila Banyu tidak sesempurna seperti yang terlihat. Pasalnya Banyu kecil sangat jarang terdengar menangis. Banyu kecil juga kerap tidur dengan tenang dan tidak banyak bergerak.
"Rata-rata bayi teh, sering menangis. Jangan-jangan si Banyu teh bisu. Terus masa tidak aktiv, minimal tangan kaki nya teh bergerak gitu.." Timpal sepupu dari abah nya Banyu.
Seorang ibu yang kala itu hanya lahir dan besar di kampung, serta tidak mengenyam pendidikan sebagaimana semestinya dan tidak mendapatkan penyuluhan masalah kesehatan dan parenting, sangat mudah mempercayai hal-hal yang di katakan orang-orang yang langsung memvonis apa pun tanpa memegang data atau pengetahuan yang menyangkut hal tersebut. Hal itulah yang membuat ibunya Banyu mulai merasa menyesal memiliki Banyu.
Sejak kelahiran Banyu, ibunya kerap di bully oleh para tetangga dan juga saudara suaminya. Maka itu juga ibunya Banyu sempat menderita postpartum depression. Apa itu postpartum depression?
postpartum depression adalah, depresi yang terjadi pasca melahirkan. Hal itu karena sang ibu merasa tidak ada satupun orang yang mendukungnya atau bisa juga disebabkan karena kelelahan yang luar biasa.
__ADS_1
Memang Banyu tidak seperti bayi pada umumnya. Banyu begitu malas bergerak. Tetapi tidak ada yang salah dari dirinya. Karena setiap bayi berbeda-beda pembawaannya. Tetapi balik lagi karena minimnya pengetahuan dan tidak ada penyuluhan tentang parenting dan kesehatan ibu dan bayi, maka ibunya Banyu dengan gampangnya percaya dengan ucapan-ucapan tanpa perasaan yang dilontarkan orang sekitarnya. Sejak saat itu juga, Banyu mulai diabaikan oleh ibunya. Banyu pun di asuh oleh nenek nya yang tinggal tidak jauh dari kediaman orangtuanya.
Hampir usia 2 tahun, Banyu belum juga dapat berjalan. Ia masih asik merangkak dan berpegangan pada dinding. Saat itu ibunya Banyu sedang mengandung Putra. Sejak dalam kandungan, Putra sangat aktiv, hingga Putra dianggap anak yang lebih baik dari Banyu.
Benar saja, begitu Putra lahir ke dunia, Putra terlihat lebih pintar dan aktiv daripada Banyu. Putra ibarat pelipur lara hati ibunya Banyu yang sudah merasa lelah karena di bully. Putra memang terlihat lebih cerdas. Bagaimana tidak, Putra sudah bisa berjalan di usia sebelas bulan. Mulai saat itu, Putra selalu menjadi anak yang dibanggakan oleh orang tuanya, dibandingkan Banyu.
Tidak sampai di situ, sejak sekolah dasar, Banyu kembali dirawat oleh kedua orangtuanya. Karena nenek Banyu meninggal dunia. Itulah awal kesenjangan kerap di terima oleh Banyu. Putra kerap dibelikan pakaian baru, sedangkan Banyu hanya satu kali setahun. Itupun bila hari raya tiba. Banyu kerap di suruh-suruh dan dimarahi, sedangkan Putra tumbuh seperti seorang pangeran. Putra tidak mengerti kesusahan orangtuanya ataupun bersedia membantu orangtuanya. Yang lebih menyakitkan, Banyu kerap di bully oleh ibunya sendiri. Hanya karena Banyu tidak pernah mendapatkan ranking di kelas nya. Sedangkan Putra, selalu mendapatkan ranking di kelasnya. Hal itu membuat ibunya Banyu yakin bila Banyu bukanlah anak yang bisa di banggakan apalagi dapat sukses seperti apa yang dia harapkan.
Rasa tidak suka Putra semakin menjadi pada Banyu, kala Banyu berhasil menikah terlebih dahulu dari pada dirinya. Alasan lain nya adalah, Putra merasa Banyu terlihat lebih sukses dari dirinya yang lulusan universitas terbaik di luar negeri. Putra pun merasa kalah dari Banyu yang selama ini ia anggap tidak selevel dengan nya. Walaupun tidak suka, terkadang Putra juga bersikap manis kepada Banyu. Dengan catatan dirinya hanya sedang membutuhkan Banyu, seperti ia butuh tempat tinggal atau lain sebagainya.
Banyu yang tumbuh dalam hinaan, cacian dan perbedaan yang di hadiahkan oleh ibunya sendiri. Bahkan Banyu dipaksa selalu mengalah kepada Putra yang selalu di agungkan. Bila Banyu mendapatkan hadiah mainan dari seseorang yang baik hati, dan Putra juga menginginkannya, maka ibunya Banyu memaksa Banyu untuk memberikan nya pada Putra. Tetapi hebatnya Banyu, ia tidak pernah menyimpan dendam kepada keluarganya yang bisa dibilang menganggap dirinya bukan apa-apa.
__ADS_1
Perbedaan itu terus berlangsung hingga saat ini. Itulah yang membuat Banyu kerap merasa rendah diri dan percaya bila dirinya bukan apa-apa. Banyu juga selalu grogi bila berhadapan dengan lawan jenis. Ia juga menjadi sosok yang pendiam dan jarang tersenyum. Hanya Tika yang mampu membuat dirinya merasa berarti. Tika lah yang membuat rasa percaya diri Banyu perlahan mulai membaik dan terus membaik. Hal itu juga yang membuat Banyu merasa hancur kala Tika meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Peran Tika dalam hidup Banyu begitu berarti. Kurang lebih sepuluh tahun mereka bersama, membuat Banyu belajar banyak hal dari Tika yang begitu percaya diri dan ceria. Awalnya Banyu merasa ia tidak akan pernah lagi mendapatkan wanita secantik dan sebaik Tika. Nyatanya dirinya salah, Ternyata ada wanita yang mampu membuka pintu hatinya yang sempat dirinya tutup rapat-rapat. Dia adalah Tasya, wanita yang akan di lamar oleh adiknya sendiri. Wanita yang harus rela ia lepaskan untuk Putra, sang pangeran di keluarganya.
.
Hancur, itulah yang kini Banyu rasakan kala ia mendarat di Bandara Adi Soemarmo pada pukul setengah sebelas siang. Meskipun begitu, Banyu tetap berusaha terlihat tegar. Ia sudah biasa dihadapi oleh kekecewaan di dalam hidupnya. Hal itu tidak lagi membuat dirinya takut menghadapi kenyataan pahit sekalipun. Terkadang ada hikmahnya bagi anak-anak yang tumbuh seperti Banyu. Mereka tidak menjadi penakut apalagi pecundang yang lemah, karena mereka berani menghadapi situasi apa pun di depan mereka.
Banyu beranjak keluar dari terminal kedatangan di bandara tersebut. Sepasang kacamata hitam menghiasi wajahnya yang tampan. Kemeja berwarna navi, celana slim fit berwarna dark grey serta sepatu pantofel berwarna hitam melengkapi penampilan nya yang membuat para wanita di sekitarnya menoleh dan menatap dirinya dengan tatapan yang kagum. Banyu pun melangkah dengan percaya diri menuju ke deretan taksi yang akan ia tumpangi untuk mengantarkan dirinya ke rumah Tasya.
"Bismillahirrahmanirrahim.. kuat..." Gumam nya saat taksi yang ia tumpangi bergerak meninggalkan Bandara Adi Sumarmo.
__ADS_1