
Tasya baru saja memarkirkan mobilnya di halaman parkir kantor. Pagi ini sebenarnya ia sangat malas untuk pergi ke kantor, karena kejadian semalam membuat ia sedikit enggan untuk bertemu dengan Anton. Tapi apa daya, ia harus tetap bekerja, sebelum ia benar-benar mendapatkan pekerjaan baru di luar sana. Sebagai orang tua tunggal, ia tidak boleh gegabah dalam mengganti pekerjaan atau keluar dari pekerjaan nya begitu saja. Karena tanggung jawab yang ia pikul sendirian atas Rafis begitu besar. Sedangkan keluarga Antoni tidak mau tahu tentang biaya Rafis dan bagaimana cara Tasya menghidupi anak semata wayangnya itu.
Setelah selesai mengemasi barang-barangnya yang berada di dalam mobil milik nya, Tasya pun beranjak keluar dari mobilnya. Saat itu juga hampir semua orang yang berada di halaman parkir itu menatap dirinya seraya tersenyum penuh arti. Tasya tidak mengerti mengapa hari ini rekan-rekan satu kantor nya menatap dirinya dengan tatapan aneh.
"Selamat pagi.." Sapa Tasya kepada setiap rekan-rekan yang berjumpa dengan nya dari halaman parkir hingga ke lobby kantor. Namun, tak satupun rekan yang mau membalas ucapan selamat pagi darinya. Masing-masing dari mereka hanya tersenyum dan menatap dirinya dengan tatapan yang aneh. Pun dengan tawa mereka yang seakan merendahkan Tasya.
"Ada apa sih? Apa karena kemarin aku jalan dengan pak Anton?" Batin Tasya.
Tasya menekan tombol lift, setelah ia mengisi absen karyawan. Saat ia menunggu pintu lift terbuka, banyak karyawan dan karyawati yang berbisik dibelakang nya. Tasya pun menoleh dan menatap mereka yang mendadak diam saat Tasya menatap mereka satu persatu dengan tatapan yang menyelidik.
Ting!
Pintu lift pun terbuka. Tasya bersama beberapa karyawan dan karyawati di kantor itu pun memasuki lift tersebut. Suasana hening saat Tasya dan beberapa orang berada di lift itu. Tetapi semua mata terus menatap Tasya. Tasya pun mulai merasa bingung, hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya kepada mereka semua yang berada di dalam lift itu.
"Hmmm, maaf.. ada apa ya?" Tanya Tasya seraya menatap semua orang yang berada di dalam ruangan 2 x 2 meter tersebut.
"Tidak.. tidak ada apa-apa," Sahut seorang karyawati seraya menahan tawanya.
Tasya terdiam, ia mulai merasa tidak nyaman berada di sana. Beruntung, pintu lift pun terbuka. Tasya dan semua yang berada di dalam lift itu pun beranjak keluar. Sama seperti mereka yang di lobby kantor dan di dalam lift. Mereka yang berada di ruangan Tasya pun mendadak tersenyum saat melihat kehadiran Tasya. Tasya mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres, terjadi di kantor itu. Ia pun mulai mendekati Nur yang sedang menatap dirinya dengan tatapan yang iba.
"Mbak Nur." Sapa Tasya. Nur yang sedang terpaku menatap Tasya pun, terlihat mulai gelagapan. Dengan tergesa, ia menyimpan ponselnya kedalam laci meja kerjanya.
"Ya Tas?" Sahut Nur disusul dengan mendehem untuk mengusir rasa groginya kala Tasya menghampiri dan menyapa dirinya.
"Orang-orang kok melihat saya seperti itu? Apakah penampilan saya buruk hari ini? Apakah ada yang aneh?" Tanya Tasya dengan wajah lugunya.
Nur menelan saliva nya, lalu ia menggelengkan kepalanya dengan perlahan.
"Lantas?" Tanya Tasya seraya menatap Nur dengan seksama. Lalu ia melemparkan pandangan nya kearah orang-orang yang masih saja menatap dirinya dengan sunggingan senyum di wajah mereka.
Nur terdiam, ia masih menatap Tasya dengan tatapan yang terlihat iba, namun cukup canggung untuk mengatakan nya apa yang sebenarnya terjadi.
"Mbak.. aku penasaran, ada apa sih?" Tasya mulai mendesak Nur untuk berbicara.
"Tas.. aku.. aku mau kasih tahu kamu sesuatu."
"Apa itu mbak?" Tanya Tasya dengan jantung yang mulai berdebar. Ia tahu bila sesuatu yang buruk terjadi kepada dirinya.
"Sek.." Nur mengeluarkan ponselnya dari dalam laci meja, lalu ia menggenggam ponsel tersebut sambil menatap Tasya dengan ragu.
"Tapi sampean jangan marah yo.."
"Memang ada apa mbak? Kok aku penasaran ya..." Tasya mendekati Nur yang masih terlihat ragu.
"Aku.. aku dapat whatsapp seperti ini Tas."
"Seperti apa?" Tasya mulai beranjak kesamping Nur.
Mau tidak mau, Nur membuka aplikasi whatsapp nya dan memperlihatkan video yang baru saja ia terima tadi pagi, sebelum ia berangkat ke kantor.
"Ini.. ini sampean toh?" Nur memberikan ponselnya kepada Tasya. Tasya pun meraih ponsel milik Nur dan mulai menonton video yang tersebar ke semua karyawan dan karyawati di kantor itu.
"Ini video sudah tersebar kesemua orang Tas.."
__ADS_1
Tasya membulatkan kedua matanya, kala ia melihat video dirinya yang sedang berganti pakaian di toilet kantor itu.
"Astaghfirullahalazim..!" Nafas Tasya terasa sesak, ia mulai merasa malu kepada semua orang.
"Ini dari siapa mbak?" Tasya berhenti menonton video dirinya dan memberikan ponsel itu kepada Nur.
"Aku gak ngerti Tas, semua orang yang mendapatkan video ini, dari nomor yang tak dikenal atau tidak tersimpan di nomor kontak mereka." Terang Nur.
"Ya Allah.. aku malu mbak.. siapa yang tega sekali melakukan ini? Apa ada kamera tersembunyi di toilet wanita?"
"Kami sudah memeriksa Tas. Tapi tidak ada. Kalau dilihat dari rekaman nya, ini video sengaja direkam oleh orang yang tidak bertanggung jawab." Nur mulai merasa khawatir dengan Tasya yang terduduk lemas di bangku nya.
"Pean gak popo toh Tas?"
"Gak mbak, aku gak apa. Hanya saja alu sedikit shock." Tasya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan nya. Lalu ia menatap langit-langit kantor itu seraya menghela nafas dalam-dalam.
"Pagi pak.." Sapa seluruh karyawan dan karyawati, saat melihat Anton melintas di Koridor ruangan itu.
"Pagi," Sahut Anton dengan wajah yang acuh tak acuh.
Saat itu juga Tasya menatap Anton dengan tatapan curiga. Terlebih gelagat Anton tampak canggung saat bertemu pandang dengan dirinya. Tasya terus memperhatikan Anton, hingga lelaki itu menghilang di balik pintu ruangan nya.
"Mbak, aku pinjam ponsel mu."
"Untuk apa Tas?" Nur mulai terlihat panik saat Tasya menggenggam ponselnya dan berjalan menuju ke ruangan Anton.
"Pokoknya aku pinjam. Mbak disini saja," Ucap Tasya dengan ekspresi wajah yang menahan emosi. Tak bisa berbuat apa-apa, akhirnya Nur hanya mampu memandangi Tasya yang berjalan dengan tergesa-gesa ke ruangan Anton.
Brakkkk...!
"Apa-apaan kamu?"
"Ini apa?" Tanya Tasya seraya memperlihatkan aplikasi chat itu dengan video yang terpampang di sana.
"Itu apa?" Tanya Anton yang memang belum mengerti ada kejadian apa yang menghebohkan kantor pada pagi ini.
"Ini bapak yang ngirim? Katakan!"
Anton semakin tercengang saat melihat Tasya yang anggun dan tidak banyak berbicara, mampu seperti Singa betina yang terlihat sangat marah.
"Ngirim apa?"
"Bapak jangan pura-pura bodoh! Bapak sakit hati sama saya? Bapak yang merencanakan ini semua? Jujur saja pak!" Mata Tasya mulai memerah menahan tangis nya. Antara malu dan marah yang berbaur menjadi satu.
"Rencana apa? Saya tidak tahu apa-apa. Bisakah saya melihat video nya?"
"Bapak jangan pura-pura bodoh!"
Brakkkk..! Tasya menggebrak meja kerja Anton dengan emosi yang tak terkendali.
"Innalillahi! Sumpah saya tidak tahu apa-apa!" Kali ini Anton terpaksa menaikan nada bicaranya, agar Tasya dapat mengendalikan emosinya.
"Tidak kah bapak sadar? Hal ini mempermalukan saya!"
__ADS_1
"Tas... Tasya.. aduhh... ponselku remukkkk..!" Tiba-tiba saja Nur menyusul Tasya seraya merebut ponsel nya dari genggaman Tasya.
"Sabar... gak mungkin pak Anton melakukan hal serendah itu Tas!" Nur mencoba menenangkan Tasya yang kini terduduk di bangku yang berada tepat di depan meja Anton.
"Nur, memang video apa?" Tanya Anton dengan wajah yang terlihat polos.
"Anu pak bos.. itu.. Tasya sedang berganti baju di toilet. Pagi-pagi sekali kami semua, karyawan dan karyawati disini menerima pesan video itu pak." Terang Nur.
Anton terdiam, lalu ia menatap Tasya yang terlihat masih emosi kepada dirinya. Lalu Anton paham, betapa malunya Tasya, kala anggota tubuh pribadinya dapat dilihat oleh semua orang yang berada di kantor tersebut.
"Tasya.. sumpah demi Tuhan, aku tidak melakukan hal rendah tersebut. Aku mohon percaya kepadaku." Anton mencoba meyakinkan Tasya.
Tatapan emosi Tasya kepada dirinya pun mulai meredup, seiring Tasya yang melihat kejujuran dimata Anton.
"Saya pemilik perusahaan ini. Saya mencintai kamu dan kamu pasti tahu, saat kemarin saya menunggu kamu di lobby. Jadi, tuduhan kamu terhadap saya tidak beralasan Tas."
"Astaghfirullah.." Tasya menutupi wajahnya dan mulai menangis karena merasa malu kepada semua orang dan juga sudah gegabah menuduh Anton tanpa alasan.
"Berikan nomor penyebar videonya. Biar saya cari orang ini sampai dapat. Orang ini ada di kantor. Kalau saya tahu siapa orang nya, saya akan pecat dia dengan tidak hormat dan saya penjarakan dia sekarang juga! Setelah itu, saya minta semua karyawan dan karyawati untuk berkumpul di ruangan meeting! Saya akan interogasi satu persatu!" Perintah Anton kepada Nur.
"Ba-baik pak. Ini nomornya." Nur mencatatkan nomor ponsel iseng tersebut di atas selembar kertas. Lalu ia menyerahkan kertas itu kepada Anton.
"Ya sudah sana! Buatkan teh untuk Tasya, biar dia tenang. Saya mau bicara sama Tasya berdua."
"I-i-iya pak." Nur pun berjalan meniggalkan ruangan tersebut.
Kini di ruangan itu hanya ada Tasya dan Anton. Lelaki itu pun menutup pintu ruangan itu, tidak peduli ada beberapa pasang mata yang mencoba mencari tahu dan menatap ke ruangan nya dari luar. Anton juga menutup semua vertikal blind di jendelanya. Agar tidak ada satupun orang yang mencoba mengintip dari jendela tersebut.
Anton berjalan menghampiri Tasya dan menatap Tasya yang masih menangis seraya menutupi wajah cantiknya dengan kedua telapak tangan.
"Tas.."
Tasya bergeming, wanita itu terus menangis.
Dengan lembut, Anton meraih tubuh Tasya dan memeluk nya dengan erat.
"Jangan Takut. Aku mendukung kamu." Bisik Anton.
.
Nur berjalan di lorong kantor menuju ke pantry yang terletak di ujung lorong tersebut. Sambil berjalan, ia pun mengingat-ingat ucapan Anton, kala berusaha meyakinkan Tasya bila dirinya bukan lah pelaku dari menyebar nya video tersebut.
"Saya pemilik perusahaan ini. Saya mencintai kamu dan kamu pasti tahu, saat kemarin saya menunggu kamu di lobby. Jadi, tuduhan kamu terhadap saya tidak beralasan Tas."
"Heh!"
Nur menoleh kebelakang, tepatnya kearah pintu ruangan Anton.
"Lah..." Ia kembali terdiam seraya mendelik kan kedua matanya.
"Jadi? Lah.. pak Anton suka sama Tasya? Loh.. kok semprulll..? Bukan nya dia sama nenek sihir? Si Riyanti sok cantik itu?" Gumam Nur.
"Eh.. tapi.. itu kan toilet cewek, apa jangan-jangan......."
__ADS_1
Nur terlihat gemas dengan pikiran nya sendiri.