
Banyu memarkirkan mobilnya di halaman parkir kampus tempat Putra mengajar. Setelah ia menarik hand rem nya, Banyu pun meraih ponselnya yang selalu ia taruh di atas kursi penumpang disebelah nya. Banyu menghubungi Putra, untuk memberitahukan kepada adik nya itu, bila ia sudah sampai di kampus tersebut dengan tepat waktu, sesuai waktu yang di janjikan Putra untuk bertemu di sana.
Putra yang baru saja keluar dari ruang kelas setelah mengajar, meraih ponselnya yang berdering dari saku celana nya. Lalu ia menerima panggilan tersebut, setelah memastikan bila panggilan itu dari Banyu.
"Ya a'," Sapa Putra, sesaat setelah ia menerima panggilan telepon tersebut.
"Kamu dimana? aku sudah sampai."
"Baru saja keluar dari kelas. Tunggu lima menit lagi ya a', aku akan segera turun."
"Ya. Aku diparkiran." Tanpa basa basi, Banyu mengakhiri panggilan tersebut dan merebahkan bangkunya. Ia mencoba memejamkan mata untuk lima menit saja, sambil menunggu Putra. Semalaman suntuk ia tidak bisa memejamkan kedua matanya, karena ia selalu terbayang wajah Tasya. Pun dengan hari pertunangan Tasya dan Putra yang semakin dekat, yang membuat jam tidur Banyu terganggu karena pikiran dan kecemasan nya sendiri.
.
"Sayang...!" Alia berlari dan menepuk pundak Putra yang berjalan ke arah parkiran.
"Innalillahi!" Putra terkejut dan menoleh ke samping nya, terlihat Alia tersenyum lebar seraya menatap Putra dengan mata yang berbinar. Terlihat jelas bila gadis itu sangat mencintai dan mengagumi Putra, walaupun Putra tidak pernah sekalipun berpikir untuk membalas cinta Alia.
"Kamu itu mengejutkan saja!"
"Buru-buru amat, baru juga bubaran.." Alia ikut berjalan di samping Putra yang kembali melanjutkan langkah nya yang tertatih.
"Kamu ngapain sih? Gak enak dilihat orang!" Putra menoleh ke sekelilingnya dan lalu kembali menatap kedua mata Alia yang cantik.
"Bodoamat.." Alia menjulurkan lidah nya dan lalu tersenyum manis kepada Putra yang menatap nya dengan raut wajah yang kesal.
"Sudah sana! Aku mau ketemu dengan A'a ku."
"Beneran a'a? Awas kalau yang lain.."
"Yang lain siapa?"
__ADS_1
"Tunangan mu!"
Putra menelan saliva nya dan kembali berjalan dan mengacuhkan Alia.
"Kan, diam saja! Aku jadi curiga!"
"Subhanallah! Apa lagi! Kamu itu seperti anak Monyet yang selalu mengikuti induknya kemana-mana!" Hardik Putra.
Alia terdiam, lalu ia mengerutkan dagunya dan menatap Putra dengan tatapan yang membuat Putra merasa menyesal karena telah menghardik gadis itu.
"Sorry.. Kamu juga sih.. bandel banget!"
"Tapi gak harus begitu kan sayang.. Aku manusia loh yang punya hati."
Putra menatap Alia sejenak, lalu dengan tak acuh ia berlalu dari hadapan Alia. Alia hanya bisa menatap Putra dengan raut wajah kecewa.
.
Banyu yang hampir saja tertidur, pun tersentak saat mendengar kaca mobil nya di ketuk oleh Putra. Ia membuka kedua matanya dan menoleh kearah kaca yang baru saja di ketuk oleh Putra. Tanpa pikir panjang, Banyu membuka kunci mobil nya dan membiarkan Putra memasuki mobil tipe sedan miliknya tersebut. Ia terus menatap wajah Putra yang terlihat masih memar di mana-mana.
"Menginap dimana kamu?" Tanya Banyu yang tidak mau menyia-nyiakan waktunya. Ia langsung bertanya pada Putra yang sudah beberapa hari ini hanya berkomunikasi lewat pesan pada dirinya.
"Di rumah teman a',"
"Keterlaluan, kamu menumpang di rumahku. Pulang dalam keadaan babak belur! Lalu keluar dari rumah sakit tanpa sepengetahuan ku. Parahnya, kamu memintaku untuk mengurus acara pertunangan mu. Memang tidak tahu di untung!"
Putra menatap Banyu yang baru sekali ini mengeluhkan tentang kelakuan nya. Ia pun mulai menundukkan pandangan nya, kala Banyu membalas tatapan nya dengan wajah yang terlihat serius.
"Kamu itu benar-benar mau bertunangan apa tidak! Otak mu tolong dipakai! Aku ini sibuk! Aku capek!"
Putra semakin tak percaya melihat Banyu yang terus mengeluh.
__ADS_1
"Katakan, dimana kamu selama ini? Apa kamu di rumah pacar mu itu?"
"Pacar yang mana?" Putra berpura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan Banyu.
"Pacarmu itu! Mahasiswi mu yang kapan hari datang ke rumah sakit! Siapa namanya? Alia?"
Putra mulai grogi dengan pertanyaan dari Banyu.
"Sebenarnya kamu ini benar-benar berpacaran dengan dia atau tidak? Apa kamu begini ada hubungan nya dengan dia? Apa kamu dalam ancaman? Apa kamu...
" A'..." Potong Putra seraya menatap Banyu yang terlihat mulai emosi.
Banyu pun menghentikan ucapan nya, ia membalas tatapan adik semata wayangnya itu. Lalu dirinya mencoba istighfar karena rasa emosi nya yang mulai tak terkendali.
"Aku tidak ada hubungan apa pun dengan Alia. Bahkan menganggap nya ada pun tidak. Aku sangat mencintai Tasya. Kalau a'a khawatir dengan Tasya, aku paham karena memang a'a juga mencintai dia. Tapi, aku akan tetap menikahi Tasya. Aku sangat mencintai Tasya, dan tidak boleh satu orang pun yang bisa memiliki dia, kecuali aku." Tegas Putra.
Banyu terdiam, ia meremas kemudinya untuk menahan rasa emosi yang kini semakin membara di hatinya karena jawaban Putra yang tidak sama sekali menghargai dirinya. Baru kali ini ia merasakan bila Putra berbicara kepada dirinya layaknya sebagai seorang lelaki. Tepat nya sebagai lelaki lain yang yakin akan menang bersaing dengan dirinya.
"A', aku mengucapkan terima kasih atas bantuan a'a. Tetapi aku mohon, jangan pernah ikut campur dengan hidup ku. Apa lagi mencoba mengambil Tasya dariku."
Banyu mengerutkan keningnya dan menatap Putra dengan tatapan yang tajam.
"Aku sudah transfer kekurangan biaya lamaran ke rekening a'a. Jadi setelah ini, aku yang urus dan a'a cukup hadir di acara pertunangan ku. Oh iya satu lagi, Tasya mencintai ku dan akan selama nya bersama dengan ku."
Banyu tersenyum kecil, lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Andaikan kamu bukan adik ku, sudah ku buat kamu babak belur!" Batin nya.
"Ya sudah a', aku mau kembali kedalam. Aku ada jam lagi setelah ini." Putra beranjak dari dalam mobil Banyu, tanpa mampu Banyu cegah. Ia hanya dapat menatap punggung Putra yang berjalan dengan tertatih kedalam gedung universitas tersebut. Lalu Banyu kembali tersenyum hambar, ia masih belum percaya bila adik kandung nya sendiri baru saja mengancam dan merendahkan dirinya, terutama masalah Tasya, wanita yang juga ia cintai.
"Kamu tidak tahu kan? Kalau Tasya sebenarnya juga punya hati padaku? Ya Allah... andaikan dia bukan adik ku!" Banyu memukul kemudinya dan mendengus kesal seraya menatap Putra yang baru saja menghilang di keramaian gedung tersebut.
__ADS_1
Banyu pun menyalakan mobilnya, lalu ia meninggalkan kampus tersebut dengan rasa kesal di dadanya.