
Ponsel milik Putra berdering saat dirinya sedang terlelap. Dengan segera Putra membuka kedua mata dan langsung meraih ponselnya. Sebelumnya Putra memang sedang menunggu seseorang menghubungi dirinya, yaitu Greta sang sekretaris yang bekerja di perusahaan Alia. Karena tak kunjung ada yang menghubungi dirinya, Putra pun tertidur di ranjang hotel nya karena kelelahan.
"Halo," Sapa nya dengan bersemangat.
"Halo, Mr. Putra."
"Yes, i'm." Sahut nya masih dengan wajah yang terlihat sangat bersemangat.
"Tenang Mr Putra, saya bisa berbahasa Indonesia."
Putra pun menarik nafas lega, karena ia tidak perlu repot-repot memikirkan tiap bait kata dalam berbahasa Inggris ataupun bahasa Jerman dan lain nya yang merupakan bahasa nasional dari negara itu.
"Kami dari pihak Eijaz, mohon maaf sebesar-besarnya karena pimpinan kami, Ibu Alia tidak bisa menemui anda malam ini." Terang Greta.
"Maksudnya? Batal?" Tanya Putra yang merasa kecewa.
"Iya pak, masalahnya pimpinan kami ada makan malam keluarga, malam ini."
Putra terdiam, apakah makan malam keluarga yang dimaksud adalah makan malam Alia dan pasangan barunya? Atau makan malam keluarga besar Alia, yaitu bersama dengan Anton. Putra merasa malas bila ada Anton di pertemuan dirinya dan Alia. Ia sadar betul, bila lelaki itu akan membunuhnya bila saja lelaki itu melihat wajahnya lagi.
"Kapan ibu Alia ada waktu?"
"Saya belum bisa memastikan pak.."
Putra tampak sangat kecewa dengan jawaban Greta.
"Waktu saya tidak banyak di sini. Bisa saya meminta alamat rumah nya saja? Atau.. bolehkah saya bertemu dengan anda saja nona Greta?"
Greta terdiam beberapa saat di ujung sana. Ia merasa tidak tega dengan Putra yang terdengar sangat memohon kepada dirinya.
"Nona Greta.. saya mohon.."
Greta merasa bimbang, namun ini masalah perjuangan. Putra sudah jauh-jauh dari Indonesia untuk datang ke Swiss hanya untuk menemui Alia. Namun Alia tidak merespon sama sekali.
"Ada yang ingin saya sampaikan, dan... saya membawa sedikit buah tangan dari Indonesia untuk anda. Apakah anda mau makan malam bersama dengan saya?" Bujuk Putra lagi.
Greta menghela nafas panjang, bukan karena buah tangan yang akan diberikan kepada dirinya. Melainkan rasa tidak tega yang hinggap dibenaknya. Greta adalah wanita yang berhati lembut, berbanding terbalik dengan Alia yang sangat keras kepala. Hatinya pun mulai tersentuh dengan permohonan Putra yang terkesan begitu mengemis kepada dirinya.
"Pukul berapa pak?" Tanya Greta.
"Sekarang saya akan menunggu anda di restoran. Saya akan berangkat sekarang dan memberikan anda alamat nya." Tegas Putra.
"Baik.. saya akan bersiap-siap."
"See you soon."
"See ya.." Sahut Greta.
Tanpa pikir panjang, Putra langsung bergegas untuk menemui Greta. Tidak lupa ia membawa serta buah tangan yang akan ia berikan kepada Greta, yang sengaja ia bawa dari Indonesia. Ini bukan trik untuk meluluhkan Greta sebagai sekretaris Alia. Namun, etika dalam berbisnis yang pernah diajarkan Banyu kepada dirinya benar-benar di terapkan oleh Putra dalam membantu bisnis kakak kandungnya itu.
Tiga puluh menit kemudian, Putra sudah sampai di restoran yang ia pilih sebagai tempat pertemuan antara dirinya dan Greta. Ia juga sudah memberikan Greta alamat restoran tersebut. Dengan gelisah, ia menunggu kedatangan wanita keturunan Jerman itu. Hingga dua puluh menit kemudian, muncul lah seorang wanita cantik berambut cokelat terang dengan tinggi badan 185 sentimeter, yang berjalan menghampiri dirinya.
"Halo, saya Greta." Sapa wanita itu dengan senyuman nya yang khas. Mungkin, bila Greta bertemu dengan Putra di jaman dulu, Putra akan segera menyukai wanita itu. Karena memang Putra tidak tahan saat melihat wanita-wanita cantik. Namun entah mengapa, sekarang tidak ada wanita yang menarik dimata Putra. Semua terlihat sama dan cantik sudah tidak lagi menjadi tujuannya.
"Hai, saya Putra." Sahut Putra seraya mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan wanita yang sedang berdiri dihadapannya itu.
Setelah berjabat tangan, Putra mempersilahkan Greta untuk duduk didepannya. Wanita cantik itu pun beranjak duduk, sembari terus menatap Putra dengan seksama. Ia seperti pernah melihat wajah lelaki itu, tetapi entah dimana dan kapan ia pernah melihatnya. Sambil menunggu Putra membuka obrolan dengan nya, Greta terus mencoba mengingat-ingat sosok yang sedang berada dihadapannya itu.
__ADS_1
"Ehemmm.., begini Miss Greta."
"Panggil saya Greta saja pak," Potong Greta.
"Ah, maaf. Ok, Greta.. saya ingin bertemu dengan Miss Alia. Ada yang ingin sekali saya sampaikan padanya," Ucap Putra to the point.
Greta mengerutkan keningnya dan menatap Putra lekat-lekat.
"Oh maaf, mau pesan apa?" Putra tersadar bila dirinya belum menawarkan apa pun pada Greta, setelah melihat ekspresi Greta yang cukup terkejut melihat dirinya yang terlalu cepat membahas inti dari pertemuan ini.
"Hmmm, saya wine saja."
"Tidak makan? Bagaimana dengan steak?"
"Hmmm, boleh," Sahut Greta lagi.
Lalu Putra memanggil pelayan yang berdiri tidak jauh dari dirinya, dan memesan apa yang di pinta oleh Greta.
"Sepertinya saya pernah bertemu dengan anda, tapi di mana? Saya lupa." Ucap Greta secara berterus terang.
Kini giliran Putra yang mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka bila ada kata-kata itu yang keluar dari bibir Greta, wanita yang baru saja ia kenal.
"Bertemu dengan saya? Maaf, tapi saya tidak pernah ke Zurich sebelumnya." Terang Putra.
"Iya juga sih, tapi... izinkan saya mengingat- ingat lagi," Ucap Greta seraya tampak sedang mencoba mengingat di mana dirinya pernah berjumpa dengan Putra.
"Ah!"
Nyaris saja Putra melompat karena terkejut mendengar hentakan suara Greta. Sebagian orang menoleh kearah mereka berdua, karena ikut terkejut dengan suara Greta yang menggema di ruangan itu.
"Apa dia pernah menjadi korban ku di masa lalu?" Batin Putra. Melihat lagi ke masa lalu Putra, sudah terlalu banyak wanita yang sukar ia ingat lagi karena dirinya kerap berganti pasangan di waktu yang lalu.
"Saya pernah melihat anda di sebuah poto milik nona Alia!" Seru Greta.
"Poto?" Putra tampak tak percaya dengan apa yang Greta sampaikan kepada dirinya.
"Dimana poto nya? Apakah Alia menyimpan poto saya?" Tanya Putra dengan penasaran.
"Ya! Saya pernah menemukan poto diri anda di laci meja kerjanya!" Ucap Greta dengan penuh semangat. Lalu ia tampak mulai berpikir dan kembali mengerutkan keningnya.
"Ngomong-ngomong, apa hubungannya anda dengan nona Alia?"
Deg!
Kini Putra tampak gelisah dengan pertanyaan kritis dari Greta.
"Sa-sa-saya.."
"Ya?" Tatapan Greta seakan menyelidiki Putra, yang membuat Putra semakin gelisah.
"Saya teman masa lalunya." Ujar Putra.
"Teman? Mengapa anda tidak memiliki nomor ponsel nona Alia?" Tanya Greta lagi.
"Sa-sa-saya.. saya.. saya sudah lama lost kontak dengan dirinya."
Greta menatap Putra dengan tatapan yang tajam, lalu ia menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Come on pak Putra.. jujur saja pada saya. Barangkali saya bisa membantu anda."
Putra menelan saliva nya, lalu ia menatap Greta dengan seksama.
"Apakah Alia sudah menikah?"
Greta menggelengkan kepalanya sembari menatap Putra dengan tatapan yang semakin tampak menyelidik.
"Apakah anak itu.."
"Eijaz?"
"Ya.. bocah laki-laki itu. Siapa bapaknya?"
Greta tercenung, ia mengingat kembali masa dimana ia pertama kali mengenal Alia dan Eijaz. Masa itu saat Eijaz masih bayi, berumur sekitar lima bulan. Alia kerap membawa Eijaz ke kantor yang baru saja ia rintis. Tetapi, tidak sekalipun Greta melihat ayah dari bayo tersebut. Tanpa bertanya pun, Greta sudah tahu bila Eijaz tidak memiliki ayah. Dengan kata lain, Alia tidak pernah dinikahi oleh ayah dari bayi tersebut.
"Nona Greta..." Panggil Putra.
Greta mengerjapkan kedua matanya dan kembali menatap Putra dengan seksama. Lalu ia menggelengkan kepalanya dengan ragu.
"Aku tidak tahu," Sahut nya seraya meneguk wine yang baru saja dihidangkan oleh pramusaji.
"Apa anda mengenalnya setelah ia memiliki bayi itu?"
Greta menganggukkan kepalanya dengan pasti.
"Ya." Tegas nya.
Putra menghela nafas lega, lalu ia menatap Greta dengan seksama.
"Boleh aku minta alamat rumah mereka?"
Greta kembali mengerutkan keningnya. Memberikan alamat seseorang tanpa seizin sang pemilik rumah adalah hal yang tidak sopan bagi Greta. Namun pertanyaan dan permintaan Putra sangat menggelitik bagi Greta. Ia pun merasa ingin lebih banyak tahu tentang Putra.
"Apakah anda ayah dari Eijaz?"
Deg!
Putra terdiam, ia menundukkan pandangan nya.
"Apa yang anda lakukan selama ini? Sehingga nona Alia harus berjuang sendirian?" Cecar Greta.
"Sa-sa-saya.."
"Mengapa kini anda mencari nona Alia dan Eijaz?" Seakan Greta tidak memberikan kesempatan Putra untuk menjawab semua pertanyaan nya, Greta terus menerus mencecar Putra.
"Nona, bisakah anda mendengarkan cerita saya?"
"Bisa, tetapi izinkan saya sambil menyantap daging ini," Ucap Greta dengan ketus.
"Silahkan.. saya sambil cerita ya.."
"Silahkan saja." Greta menatap Putra dengan tatapan sinis nya.
Bagaimanapun Greta sudah menganggap Alia sebagai adiknya sendiri. Alia adalah orang yang baik sekali. Bahkan saat itu Greta baru saja di pecat dari perusahaan tempat dirinya bekerja. Dengan senang hati, Alia lah yang membantu perekonomian dirinya dan anak tunggalnya dari kekasih yang telah meninggalkan dirinya begitu saja.
Malam itu, Greta merasa sedikit kesal hingga ia menghabiskan steak nya dengan cepat tanpa ia sadari, seraya mendengarkan cerita Putra tentang dirinya dan Alia.
__ADS_1