Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
75. Saya Bersedia


__ADS_3

Kursi berserakan di atas lantai, dekorasi hancur, meja terbalik, barang-barang antaran dari Putra terlihat tergeletak begitu saja di atas panggung kecil dengan tinggi 20 sentimeter dan lain sebagainya. Begitulah pemandangan di acara pertunangan Tasya yang gagal. Bapak nya Tasya mengusap wajahnya dengan gusar. Ibunya terlihat melemah dan hanya mampu menangis di atas sofa di ruang keluarga. Bukan karena kerugian materi yang mereka pikirkan, melainkan rasa malu yang tak terhingga kepada sanak famili yang sudah hadir dan juga para tetangga yang masih mencoba mengintip dari halaman rumahnya.


Tasya dan kedua orangtuanya, Banyu dan Rafis masih berada di ruangan itu. Tasya dan Rafis masih berpelukan menangisi kegagalan itu. Sedangkan Banyu hanya mampu terdiam melihat kekacauan yang diakibatkan oleh Putra adik kandung nya itu. Rasa kesal kepada Putra dan juga keadaan membuat dirinya hanya mampu diam untuk meredakan emosinya sendiri.


"Setelah ini bagaimana Tas?" Tanya ibunya dengan suara yang melemah. Sesekali wanita tua itu mencoba menghela nafas nya yang pendek.


"Menikkkk... Tolong ambilkan oksigen buat ibu.." Perintah bapak nya Tasya kepada seorang pekerja yang sudah setia mendampingi mereka selama sepuluh tahun di rumah itu.


"Ngih pak.." Sahut wanita berusia 40 tahun itu. Lalu ia bergegas ke kamar kedua orangtua Tasya dan kembali membawa tabung oksigen berukuran sedang dan segera membantu ibunya Tasya memakai oksigen itu di hidung nya, untuk membantu ibunya bernafas dengan lega.


Banyu menatap ibunya Tasya yang tampak bersusah payah bernafas. Lalu ia kembali menatap sekeliling nya dan berakhir menjatuhkan pandangan nya kepada Rafis dan Tasya yang sedang menangis tersedu.


"Bapak tidak tahu lagi harus bagaimana." Bapak nya Tasya melepaskan peci nya, lalu menaruh peci itu di atas meja.


"Maafkan Tasya pak, bu. Tasya salah memilih laki-laki. Akhirnya Tasya hanya membuat malu keluarga. Setelah perceraian yang membuat malu bapak dan ibu. Kini, aku kembali membuat malu keluarga. Mungkin setelah ini aku tidak akan pulang kampung dahulu. Aku...


"Sudah lah nak... ibu sudah tidak peduli dengan omongan orang. Ibu hanya ingin kamu segera menikah.. itu saja. Tetapi bila memang desakkan ibu membuat kamu jadi terburu-buru memilih lelaki, ibu minta maaf. Ibu lah orang yang bersalah kepadamu." Potong ibunya Tasya.


Tasya beranjak mendekati ibu dan bapak nya. Lalu ia bersimpuh di lantai dan menenggelamkan wajahnya di paha ibunya.


"Tasya malu dan merasa bersalah bu."


"Sudahlah nak.." Ibunya meraih kedua bahu Tasya, lalu memeluk Tasya dan mereka berdua pun kembali menangis dengan pilu.


Banyu tertunduk, ia tidak kuat melihat pemandangan pilu itu.


"Saya mewakili keluarga saya, meminta maaf yang sebesar-besarnya atas tingkah adik saya. Saya akan mengganti segala kerugian yang di akibatkan oleh kekacauan ini. Sekali lagi saya meminta maaf yang sebesar-besarnya." Ucap Banyu dengan ekspresi wajah yang penuh dengan penyesalan.


"Ngomong-ngomong, kita belum berbicara. Apa benar kamu kakak kandung dari Putra?" Tanya bapak nya Tasya seraya menatap Banyu dengan seksama.


"Betul pak. Saya adalah kakak kandung dari lelaki yang telah mengecewakan Tasya dan keluarga. Sekali lagi saya minta maaf."


Bapak nya Tasya menghela nafas panjang. Lalu ia mengangguk paham.


"Maaf bukan nya lancang dengan membicarakan ganti rugi. Tetapi, entah bagaimana caranya saya yang mewakili keluarga untuk meminta maaf. Saya paham betul, ini tidak termaafkan. Tetapi setidaknya saya ingin menebus kesalahan ini." Terang Banyu dengan sikapnya yang terlihat sangat sopan dan santun.


Kedua orang tua Tasya menatap Banyu dengan seksama. Lalu mereka berdua saling bertatapan tanpa mampu siapa saja menebak apa pikiran mereka berdua.


"Mengapa kamu sangat berbeda dengan adikmu?" Tanya ibunya Tasya kepada Banyu.


Banyu tersenyum kecil, lalu ia menghela nafas panjang dan kembali menatap kedua orangtua Tasya.


"Bukankah setiap orang berbeda-beda bu, pak? Walaupun terlahir dari rahim yang sama. Saya dibesarkan dengan perhatian yang minim. Sedangkan adik saya penuh dengan kasih sayang. Saya terbiasa mengalah dan lain sebagainya. Bila orangtua saya tidak percaya kalau saya mampu membanggakan mereka, Satu-satunya cara ya, saya harus bersikap baik dan menjadi anak yang baik, juga berbakti. Itulah pikiran saya bu, pak.." Terang Banyu.


Ibu dan bapaknya Tasya kembali saling bertatapan. Lama mereka terdiam, hingga suasana begitu kikuk bagi Banyu yang sendirian menghadapi keluarga Tasya.


"Hmmm, saya akan mengganti semua mebel disini. Kebetulan saya punya usaha mebel. Dalam satu minggu, saya pastikan semua sudah di ganti. Maaf bukan menganggap enteng dengan permasalahan ini. Tetapi izinkan saya untuk menebus kesalahan ini dengan apa yang bisa saya lakukan."


"Punya usaha mebel?" Tanya ibunya Tasya.

__ADS_1


Banyu terdiam, ia kelepasan berbicara. Selama ini ia selalu mengaku bila ia hanya pekerja, dan tidak pernah ada yang tahu bila usaha itu adalah usahanya sendiri.


Tasya mengangkat kedua alisnya dan menatap Banyu dengan seksama.


"Mas?" Ucap Tasya.


Banyu terlihat salah tingkah, lalu ia menundukkan pandangannya.


"Hmmm, saya juga sudah membicarakan ini pada Tasya. Kalau dirinya tidak perlu lagi ke kantor dan bekerja dengan Anton. Saya ingin Tasya mewujudkan impiannya sendiri."


"Memang kamu mau apa nduk?" Tanya ibunya Tasya kepada Tasya yang kini duduk di sampingnya.


Tasya menatap Banyu dan lalu menatap kedua orangtuanya.


"Sa-saya.. saya ingin sekali membuka toko kue," Ucap Tasya dengan terbata.


Kedua orangtuanya mengangguk paham dan kembali menatap Banyu dengan seksama.


"Mengapa kamu mau membantu anak saya? Apakah benar yang dikatakan adikmu, kalau kamu juga mencintai anak saya?" Tanpa berbasa-basi, bapak nya Tasya langsung bertanya tentang hal yang membuat dirinya penasaran sejak Putra mengatakan hal yang sama dengan apa yang sedang ia pertanyakan.


Banyu terdiam, ia melirik Tasya yang mendadak menundukkan pandangan nya. Lalu ia menatap Rafis yang menatap dirinya dengan seksama. Pun dengan kedua orang tua Tasya yang terlihat tak sabar menunggu jawaban darinya.


"Aku harus menjawab apa?" Batin Banyu.


"Nak.."


"Sa-saya.."


"Jadi.. Rafis tidak jadi punya papa?" Tiba-tiba saja si kecil Rafis bertanya dengan nada suara yang terdengar pilu.


Banyu menjatuhkan tatapan nya kepada Rafis yang mulai menangis kembali. Entah mengapa hatinya terasa pilu, dan mengutuk Putra sejadi-jadinya. Seorang anak kecil yang menaruh harapan besar kepada Putra, kini kecewa. Hati Banyu pun tersentuh dan ia pun berjongkok di depan Rafis yang duduk di kursi sebelah nya. Lalu dengan lembut ia meraih tubuh kecil itu dan memeluk bocah laki-laki itu dengan erat.


"Nak, maafkan papa Putra ya," Ucapnya dengan ujung suara yang tercekat.


"Iya om.. Tapi apa papa Putra akan kembali dan menikah dengan mama?" Pertanyaan bocah itu kembali membuat siapa saja merasa terluka.


"Rafis, mama sama papa Putra tidak bisa bersama. Jadi, Rafis hidup berdua saja sama mama ya..." Bujuk Tasya dengan berlinang air mata.


"Rafis ingin memiliki papa, Rafis tidak punya papa! Di sekolah, Rafis selalu merasa iri kalau melihat teman Rafis di antar dan di jemput oleh papa mamanya!" Tegas bocah laki-laki itu seraya melepaskan pelukan nya dari Banyu dan menatap Tasya dengan tatapan yang menentang mamanya itu.


Tasya tertunduk pilu, ia tidak kuat lagi menahan kekecewaan itu. Pikiran nya kacau dan putus asa. Ia sudah mengecewakan kedua orangtuanya dan juga anak semata wayangnya itu. Ia kembali terisak pilu dan mengusap air matanya yang terus terjatuh membasahi kain jarik nya.


"Om bersedia menjadi papa mu nak." Ucap Banyu seraya menatap Rafis dengan seksama.


Dan suasana pun hening...


Sejurus kemudian, Banyu kembali duduk di bangkunya. Ia menatap kedua orangtua Tasya dengan tatapan yang tampak serius dan bersungguh-sungguh.


"Kalau bapak bertanya, apakah saya mencintai putri bapak. Jawabannya adalah, saya sangat mencintai putri bapak. Saya mencintai Tasya tanpa syarat. Saya mencintai putri bapak yang cantik, dengan sepenuh hati. Dia adalah wanita terhormat dan yang terbaik di mata saya."

__ADS_1


"Saya tahu ini bukan waktu yang tepat. Atau saya tidak pantas mengatakan ini, karena sebelumnya Tasya adalah calon dari adik saya, Putra. Sebelumnya saya membiarkan Putra bersatu dengan Tasya, bukan karena saya tidak mencintai Tasya. Hanya saja, saya mencintai keduanya. Sebagai seorang kakak, saya menginginkan yang terbaik untuk adik saya. Bila adik saya mengecewakan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dan saya bersedia menebus semua nya dengan cara apapun." Sambung Banyu.


Masih hening, kedua orangtua Tasya kembali saling bertatapan. Pun dengan Tasya yang terlihat shock dengan pengakuan berani dari Banyu.


"Saya mengatakan ini bukan karena saya ingin menutupi malu. Tetapi cinta saya pada Tasya itu benar adanya." Banyu menjatuhkan pandangan nya pada Tasya yang terlihat gugup saat bertemu pandang dengan dirinya.


"Om.. tidak akan meninggalkan mama kan?" Tanya Rafis.


Banyu menatap Rafis dengan seksama. Lalu senyum mengembang di bibirnya.


"Tidak akan. Apapun yang terjadi, kamu dan mama akan selalu bersama dengan om, bila om di izinkan menjadi papa Rafis,"


"Tapi nanti adikmu dan orangtuamu..."


"Pak, yang menjalani hidup adalah saya. Saya sudah memberikan kesempatan kepada adik saya untuk membahagiakan orang yang saya cintai. Nyatanya dirinya menyianyiakan kesempatan itu. Sebagai lelaki, saya tidak mau kehilangan Tasya. Saya hampir saja membiarkan dia dimiliki adik saya. Tetapi tidak kali ini."


"Bila bapak merestui saya dan Tasya, saya berjanji sebisa mungkin saya tidak akan membiarkan air mata jatuh di pipinya, kecuali air mata bahagia." Dengan bersungguh-sungguh Banyu mengatakan itu semua di hadapan kedua orangtua Tasya.


"Mas..." Tasya semakin gugup, ia merasa canggung dengan situasi di ruangan itu.


"Tas, maukah kamu menikah denganku?"


"Menikah?" Pertanyaan itu muncul dari bibir kedua orangtua Tasya dan juga Tasya sendiri.


"Aku tidak ingin membuang waktu. Bukan juga mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tetapi, inilah yang ingin aku katakan pada malam pertemuan kita beberapa waktu lalu di ballroom hotel. Aku mencintaimu, dan aku tidak ingin kamu dimiliki orang lain. Tetapi apa daya.. aku baru bisa mengatakan nya saat ini. Bukankah kamu ingin mendengarkan yang sesungguhnya apa yang ada di hatiku? Ini lah yang sesungguhnya isi hatiku."


Tasya terdiam, jantungnya berdegup kencang.


"Menikah? Tidak bertunangan?" Tanya ibunya Tasya, masih dengan tatapan yang bingung.


"Ya bu, pak.. Menikah adalah ibadah, saya tidak ingin menundanya dengan bertunangan. Saya berjanji untuk membahagiakan putri ibu dan bapak. Juga Rafis," Tegas Banyu.


Bapak nya Tasya tersenyum, lalu ia meraih peci nya yang tadi ia letakkan diatas meja. Lalu ia memakai peci itu dan menyodorkan tangan nya kehadapan Banyu.


"Kamu lelaki yang tepat untuk anak saya. Kamu saya izinkan untuk menikahi anak saya."


Banyu menelan saliva nya. Ia tidak menyangka aksi nekat nya di sambut baik oleh orangtua Tasya.


"Te-terima kasih pak," Ucap Banyu dengan nafas yang terlihat memburu dan menyambut tangan bapak nya Tasya.


"Menikkkk... suruh seluruh keluarga masuk kembali ke dalam!" Perintah lelaki tua itu.


"Hari ini pak?" Tanya Tasya dengan ekspresi wajah yang panik.


"Ya hari ini.. saat ini juga." Tegas bapak nya Tasya.


"Mas..." Tasya terbelalak dan menatap Banyu dengan panik.


"Saya bersedia dan saya siap." Tegas Banyu seraya tersenyum penuh kemenangan kepada Tasya yang tampak shock dengan kenyataan yang tak terduga ini.

__ADS_1


__ADS_2