
Dengan wajah lesu dan terlihat babak belur, dengan tertatih Putra melangkah masuk kedalam kediaman Banyu. Rumah yang ia tumpangi untuk sementara waktu selama ia memilih untuk menetap di Jakarta. Sesekali ia mengigit bibirnya untuk menahan rasa sakit yang tengah ia rasakan di sekujur tubuhnya.
"Uhuk! Uhuk!" Buta terbatuk dan terduduk di lantai ruang tamu rumah itu. Kedua tangan nya memeluk erat perutnya yang terasa sangat sakit. Ia tertunduk hingga ia kembali mengeluarkan air mata penyesalan atas sikap nya sendiri.
Nanar, Putra memandang ruang keluarga yang lampunya tampak menyala. Ia paham bila Banyu sudah ada di rumah setelah perjalanan dari luar Kota. Ia berusaha bangkit tetapi ia merasa tidak kuat untuk menopang tubuhnya.
Brukkkkkkk! Putra pun terjatuh pingsan di ruang tamu itu.
.
Banyu yang sedang asik menatap foto Tika di ponselnya mendengar suara yang mencurigakan dari arah ruang tamu. Seketika ia mengecilkan volume televisi yang sengaja ia nyalakan untuk membunuh suasana sepi di ruang keluarga, dimana ia biasa bersantai untuk melepas penat yang tengah ia rasakan setelah seharian bekerja. Setelah suara gaduh berubah menjadi hening, Banyu pun mulai curiga, bila ada seseorang yang tengah berusaha masuk kedalam kediaman nya. Ia pun mencoba mencari tahu dengan berjalan perlahan menuju ke ruang tamu. Lelaki 37 tahun tersebut memasang sikap siaga, bila saja ada pencuri yang ia temui di dalam rumahnya.
Saat ia mengintip ke ruang tamu, ia melihat seseorang tergeletak di samping sofa dengan rangka jati milik nya. Dalam temaram sinar lampu dari teras, ia mencoba memperhatikan sosok tersebut. Beberapa detik ia tidak melihat pergerakan dari sosok itu, ia pun memberanikan diri untuk berjalan menuju saklar lampu ruang tamu itu dan langsung menyalakan lampu melalui saklar tersebut.
Setelah lampu menyala, ia pun terbelalak kala melihat ternyata Putra lah sosok yang terbaring di samping sofa ruang tamu itu. Ia pun bergegas menghampiri Putra yang kini sudah tak sadarkan diri.
"Put!" Panggil Banyu, seraya menggoncang tubuh Putra yang terlihat lemah tak berdaya.
"Putra! Kamu kenapa? Bangun!' Ucap nya panik, tatkala ia melihat wajah adiknya itu penuh luka lebam. Merasa ada yang tidak beres, Banyu pun bergegas menyambar kunci mobilnya yang terletak di gantungan kunci di balik pintu rumah nya. Lalu ia berlari ke halaman parkir rumah itu. Dengan sigap, ia membuka pintu mobilnya dan kembali berlari ke rumah untuk membawa Putra masuk kedalam mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Ada apa? Kamu kenapa? Bangun Put!" Ucap Banyu dengan kepanikan yang tengah ia rasakan seraya membopong tubuh Putra dan menidurkan nya di kursi penumpang.
Tak banyak membuang waktu, Banyu langsung mengendarai mobil miliknya untuk mencari perawatan untuk adik satu-satunya yang ia miliki tersebut.
.
Dreeeetttt...! Dreeeettt...! Dreeeettt...!
Ponsel milik Tasya berdering saat Tasya sedang asik melepas rindu dengan Rafis.
"Mama, ponsel mama berbunyi," Ucap Rafis yang menghentikan kegiatan bermain nya seraya menatap Tasya yang terlihat enggan untuk menerima panggilan dari ponselnya.
"Biar saja, paling itu dari rekan kerja mama," Ucap nya seraya tersenyum kepada anak semata wayangnya itu.
__ADS_1
Dreeeetttt...! Dreeeettt...! Dreeeettt...!
Panggilan kembali masuk setelah ponsel itu sempat berhenti berdering beberapa detik. Merasa ada yang begitu mendesak, Tasya pun mulai beranjak dari karpet yang terletak di ruang keluarga di kediamannya.
Tasya menghampiri meja dimana ponsel miliknya tergeletak di atas meja tersebut. Lalu ia menatap layar ponsel itu dengan kerut di kening nya.
"Mas Putra?" Batin nya. Sebenarnya ia malas sekali menerima panggilan tersebut. Karena ia ingin menghabiskan waktu malam itu dengan Rafis, setelah ia meninggalkan Rafis selama hampir dua hari karena bekerja di luar Kota. Tetapi karena panggilan itu terus menerus masuk, akhirnya ia pun menerima panggilan dari nomor ponsel milik Putra, lelaki yang tengah dekat dengan dirinya.
"Halo?" Sapa Tasya saat ia baru saja menerima panggilan tersebut.
"Tasya?" Terdengar suara berat dari ujung sana, yang berbeda sekali dari suara sang pemilik nomor ponsel itu.
"Ya.." Sahut nya, masih dengan wajah yang terlihat bingung.
"Ini saya mas Banyu. Kamu dimana?"
"Oh.. mas Banyu, kok pakai nomor mas Putra?" Tanya nya dengan ekspresi yang semakin penasaran.
"Kamu dimana? Bisakah kamu ke rumah sakit sekarang?"
"Ya.. sesuatu terjadi dengan Putra." Terdengar suara panik Banyu yang tersampaikan jelas ditelinga Tasya.
"Ada apa dengan mas Putra?"
"Bila ada waktu, kamu datang saja ya. Mungkin kehadiran mu bisa menyemangati Putra."
"Dimana mas?" Tanya Tasya yang kini mulai khawatir dengan keadaan Putra.
"Saya akan share lokasi nya."
"Baik mas,"
Panggilan itu pun berakhir, dengan gelisah Tasya menunggu pesan dari Banyu yang berjanji akan memberikan alamat dari rumah sakit dimana Putra sedang dirawat.
__ADS_1
"Ada apa sih mas Putra.... Kenapa?" Batin nya terus bertanya-tanya, dengan gelisah.
Tringggg..!
Sebuah pesan baru saja ia terima, dengan cepat Tasya membuka pesan tersebut dan membaca alamat rumah sakit yang diberikan oleh Banyu.
Aku akan segera ke sana! Balas nya melalui pesan tersebut.
"Mama mau kemana?" Rafis yang ternyata menyimak obrolan Tasya dan Banyu melalui sambungan telepon tadi, pun bertanya.
"Hmmm... mama.. mau pergi sebentar. Kamu sama si mbak dulu aja ya."
"Gak mau, Rafis mau ikut ma.... Ada apa dengan papa?"
Tasya terdiam, saat Rafis bertanya tentang Putra kepada dirinya.
"Ma... Rafis mau ketemu papa." Desak Rafis.
Tasya terlihat bingung harus bagaimana, hingga akhirnya ia pun menyerah dengan Rafis yang terus menerus memaksa untuk ikut dengan nya.
"Ya sudah, sekarang Rafis ganti baju dulu ya. Jangan lupa pakai jaket. Minta tolong mbak, mama mau siap-siap juga."
"Iya ma..." Rafis pun berlari menghampiri pengasuhnya dan meminta sang pengasuh untuk menggantikan pakaian nya. Sedangkan Tasya beranjak ke kamarnya untuk mengganti pakaian tidur nya dengan pakaian yang layak untuk ke rumah sakit.
Selama ia berganti pakaian, pikiran Tasya terus tertuju pada Putra. Rasa khawatir dan panik terus menyerang dirinya. Tidak bisa ia pungkiri, kehadiran lelaki itu begitu membuat dirinya yang sudah lama tidak merasa berarti, kini menjadi merasa berarti. Terlebih untuk Rafis yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Putra adalah lelaki yang saat ini menyayangi putra semata wayangnya. Tentu saja ia menganggap Putra adalah lelaki yang berarti di hidup nya untuk saat ini. Walaupun perasaan nya tidak begitu yakin kepada Putra, namun ia tetap merasakan Putra adalah lelaki yang tengah memperjuangkan dirinya dan itu semua patut ia hargai. Kini, Putra membutuhkan dirinya. Sudah sepatutnya ia berada di sana untuk menyemangati Putra yang ia sendiri pun belum tahu, apa yang terjadi pada lelaki itu.
"Rafis... Sayang..." Panggil Tasya saat ia baru saja keluar dari kamar nya.
"Ya ma..."
"Sudah siap sayang?" Ucap Tasya seraya meraih kunci mobil milik nya.
"Sudah.. ayo kita melihat papa!" Ucapan Rafis membuat hati Tasya bergetar. Rafis begitu mencintai Putra, hingga bocah itu pun terlihat tidak sabar untuk mencari tahu keadaan lelaki itu.
__ADS_1
"Iya sayang. Ayo..." Tasya menggandeng tangan Rafis dan berjalan menuju ke halaman rumah nya, dimana mobil miliknya sedang terparkir di sana.
"Mbak.. nitip rumah ya.." Pesan Tasya sebelum ia pergi meninggalkan kediaman nya menuju ke rumah sakit tempat Putra sedang di rawat.