Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
50. Mengapa?


__ADS_3

"Pak Anton sama siapa?" Tanya Banyu dengan ramah kepada Anton yang merupakan sahabat dan juga mantan kakak kelasnya tersebut.


"Hei.. Banyu.. apa kabar?"


"Baik.."


"Kamu sama siapa datang nya? Kalau saya dengan calon istri."


Banyu tercengang saat Anton menyebutkan calon istri.


"Serius? Wah.. sudah ada calon.." Seloroh Raka kepada Anton, Banyu dan Tria.


"Mana orang nya?" Tanya Raka yang terlihat sangat penasaran.


"Orang nya cantik sekali." Sahut Tria.


"Ah.. kalau pak Anton, saya yakin gandengan nya cantik-cantik. Tidak mungkin seleranya yang biasa saja. Ngomong-ngomong, yang mana orang nya?" Tanya Raka lagi.


"Orang nya....hmmmm..." Anton mencoba mencari sosok Tasya yang tiba-tiba saja menghilang. Raka dan Banyu juga terlihat penasaran. Lalu mereka ikut mencari sosok siapa calon istri dari Anton di tengah keramaian para tamu undangan.


"Ah.. iya... tadi dia bersama istrinya pak Raka. Ternyata mereka saling kenal," Ucap Anton.


Deg!


Raka terpaku. Pun dengan Banyu yang langsung berpikir orang yang dimaksud oleh Anton adalah Tasya.


"Maksudnya? Tasya?" Tanya Banyu yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran nya.


"Hahahaha.. tahu saja kamu Banyu.. iya.. dia calon istri ku."


"Hah? Tasya? Bukan nya....." Gumam Banyu.


"Iya, Tasya adalah sahabat istri saya."


"Kebetulan sekali pak Raka. Kita bisa sering bertemu, kalau saya menikah nanti. Kita membicarakan bisnis, para istri akan berbincang hobby mereka." Anton tertawa lepas dan menepuk punggung Raka yang terlihat ikut bahagia dengan kabar tersebut. Mengapa Raka turut berbahagia? Karena ia tidak tahu cerita yang sesungguhnya antara Banyu, Tasya dan juga Putra.


"Hmmm, permisi, saya mau ke toilet dulu." Banyu mencoba mencari alasan untuk dapat pergi dari perkumpulan tersebut.


"Silahkan.." Ucap Anton, Raka dan juga Tria.


Banyu pun melangkah meninggalkan perkumpulan tersebut dan mencoba mencari sosok Tasya dan Queen yang tiba-tiba saja menghilang dari ballroom tersebut. Tempat pertama yang Banyu datangi adalah toilet, ia berdiri lama di depan toilet wanita. Berharap Tasya dan Queen berada di sana. Tetapi nihil, setelah tiga puluh menit ia berdiri di sana, ia pun meninggalkan toilet tersebut dan mencoba keluar dari ballroom itu. Matanya terus mencari ke sana kemari, berharap ia melihat sosok dua wanita yang sedang ia cari.


"Kemana kalian..?" Batin nya.


Hingga kaki Banyu berhenti diparkiran hotel tersebut. Ia melihat Queen dan Tasya sedang berbicara serius tepat di samping mobil milik Queen. Banyu menghela nafas panjang, lalu ia berjalan menghampiri dua wanita itu. Dari kejauhan, terlihat Queen dan Tasya mendadak grogi, saat Banyu berjalan mendekati mereka berdua.


"Tas.. mas Banyu.." Ucap Queen seraya menyenggol tangan Tasya dengan siku nya.


Tasya hanya mengangguk, karena ia sudah melihat Banyu sebelum Queen memberitahu dirinya.


"Apa yang harus aku lakukan? Dia pasti tahu berita itu. Kalau tidak, tidak mungkin dia repot-repot mencari kita."


"Bisa jadi.." Ucap Queen yang sama tegang nya dengan Tasya.


"Ternyata kalian disini. Queen, aku boleh pinjam Tasya nya sebentar?" Tanya Banyu.


Queen hanya tersenyum canggung dan menganggukkan kepalanya. Lalu ia menatap Tasya yang mulai mengeluarkan keringat jagung di dahinya.

__ADS_1


"Aku tinggal dulu ya.." Ucap Queen seraya menyentuh tanga Tasya yang terasa mulai mendingin.


"I-iya." Sahut Tasya. Tasya hanya mampu melihat Queen yang berjalan menuju ke dalam hotel tersebut. Lalu ia menundukkan pandangan nya, kala Queen sudah menghilang dibalik pintu hotel.


Kini, tinggal lah mereka berdua, Tasya dan Banyu di lahan parkir hotel tersebut.


"Bisa kita berbicara?" Tanya Banyu seraya menarik tangan Tasya ke arah mobil nya.


"Ki-ki-kita mau kemana mas?"


"Ikut saja."


Mau tidak mau, Tasya mengikuti langkah kaki Banyu yang lebar. Sedangkan ia terlihat kesulitan mengimbangi langkah kaki lelaki tersebut.


"Mas pelan-pelan.." Ucap Tasya, namun tampaknya lelaki itu tidak peduli dengan ucapan Tasya. Ia membuka mobilnya dan menyuruh Tasya untuk masuk kedalam mobil tersebut. Lalu setelah itu ia pun menyusul masuk kedalam mobil itu.


"Kita mau kemana mas?" Tanya Tasya lagi.


"Tidak kemana-mana, kita hanya berbicara disini."


"Bicara apa?" Tanya Tasya yang berpura-pura tidak paham dengan ekspresi yang di tampakkan oleh Banyu.


Banyu menatap Tasya dengan seksama. Lalu ia kembali menatap ke depan dan menghela nafas panjang.


"Mas..."


"Apa benar kamu dan pak Anton...


"Tidak." Potong Tasya, sebelum Banyu menyelesaikan kalimat pertanyaan nya.


"Lalu mengapa Anton mengatakan bila kamu adalah calon istrinya?"


"Aku tidak tahu, itulah yang sedang aku bicarakan dengan Queen, mas!"


Banyu mulai terlihat risau, ia terus menatap kedua mata Tasya yang terlihat tidak menyembunyikan apa pun disana. Banyu sudah cukup paham, bila ini semua hanya Anton yang memiliki perasaan kepada Tasya. Pasalnya, kemarin Anton sudah pernah blak-blakan kepada Banyu, bila ia memiliki rasa dan berniat akan menikahi Tasya.


"Apa kamu mencintai adik ku? Jujur Tasya..."


Tasya terpaku, ia tidak menyangka pertanyaan itu kembali dilontarkan oleh Banyu, setelah beberapa waktu lalu, Banyu sempat bertanya kepada dirinya.


"A-aku....


"Jujur saja.. kalian sudah akan bertunangan. Aku berhak tahu tentang perasaan mu."


"Mengapa mas berhak tahu? Apakah kehidupan adik mas begitu penting bagi mas Banyu?"


Deg!


Pertanyaan Tasya membuat Banyu terdiam tanpa daya untuk menjawab nya.


"Jawab mas..!" Desak Tasya.


"Karena dia adik ku."


"Apa hanya karena itu?" Tanya Tasya lagi.


Kali ini Banyu benar-benar mati kutu. Ia tidak menyangka bila ia sedang menghadapi sosok wanita yang begitu cerdas.

__ADS_1


"Lalu arti pelukan mas kemarin, dan...


"Tas..." Potong Banyu seraya menempatkan jari telunjuknya di bibir Tasya. Tasya terdiam, ia terus menatap Banyu dengan seksama.


"Aku minta maaf, kamu calon adik iparku. Tidak mungkin aku melakukan itu."


"Tapi mas..." Tasya menepis tangan Banyu dan menatap Banyu dengan ekspresi yang mulai terlihat emosi.


"Apa karena aku mirip Tika?"


Banyu kembali terdiam, ia benar-benar terpojokkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Tasya.


"Jawab mas.."


"Bukan." Jawab Banyu dengan wajah yang mulai terlihat memerah menahan rasa di hatinya.


"Lantas?"


"Tak perlu aku katakan. Kalau akhirnya kamu dan Putra akan segera menikah."


"Lalu kenapa selama ini kamu diam saja?" Desak Tasya.


Nafas Banyu mulai terasa sesak, kala ia memahami bila Tasya juga tahu tentang perasaan dirinya terhadap wanita itu.


"Aku..."


"Apa kamu mau terus terperangkap dengan masa lalu!"


Banyu menatap Tasya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak sanggup menahan gejolak dihatinya yang tengah ia rasakan saat ini.


"Tas..., aku bertanya tentang perasaan mu dengan Putra. Bukan yang lain nya.."


"Terus saja bersembunyi dengan masa lalumu mas!" Tasya mencoba membuka pintu mobil milik Banyu, ia berniat meninggalkan Banyu begitu saja. Namun dengan cepat, Banyu mengunci mobilnya dan menahan tangan Tasya untuk tidak meninggalkan dirinya.


"Mau kemana?"


"Kedalam, aku malas membahas ini semua." Tegas Tasya.


"Ok! Apa yang ingin kamu tahu dariku?" Tanya Banyu yang mulai menampakkan emosinya.


"Dari tadi loh kita berbicara, aku pun sudah jelas bertanya. Lantas kamu masih bertanya lagi?" Tanya Tasya yang tidak kalah emosi dengan Banyu.


Banyu terlihat panik, lalu dengan cepat ia mengecup bibir Tasya dengan lembut. Sesaat suasana di dalam mobil itu pun hening. Yang terdengar hanya suara nafas kedua insan yang memiliki rasa yang sama, namun tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa saling mengagumi tersebut.


Banyu menyudahi kecupan nya, lalu ia menatap Tasya dengan seksama.


"Aku mencintaimu. Aku jatuh cinta padamu, bukan karena kamu mirip dengan Tika. Tidak sama sekali! Aku benar-benar mencintai kamu, tetapi adik ku lebih dahulu lah yang mencintaimu. Aku harus apa?" Tanya Banyu dengan lirih.


"Dan sekarang, kalian akan bertunangan. Kamu telah memilih dia, dan dia memilih kamu. Aku tahu ini terlambat untuk mengatakan nya. Tetapi, aku rasa kamu berhak tahu perasaan ku. Tasya, aku mencintaimu dengan segenap hatiku. Tetapi kita tidak bisa bersama, satu sisi dia adalah adik kandungku. Satu sisi lagi, kamu sudah memilih dia. Aku hanya menjadi duri didalam daging. Aku tidak mau mematahkan hati adik ku. Tasya, maafkan aku."


Tasya terdiam, ia menitikkan air mata. Ia tidak menyangka, malam ini akhirnya ia mendengar kata cinta dari Banyu, yang telah lama ingin sekali ia dengar. Namun apa daya, semua terlambat. Ia telah memilih Putra, dan sudah terlanjur membicarakan Putra kepada kedua orang tuanya.


Tasya pun berusaha membuka pintu mobil itu, lalu ia melangkah meninggalkan Banyu begitu saja dan ia kembali ke ballroom, dimana Anton sedang mencari-cari dirinya yang tiba-tiba saja menghilang dari sana.


Malam itu, Tasya tidak lagi melihat Banyu di antara para tamu undangan. Entah kemana perginya lelaki yang baru saja memberikan kecupan di bibirnya. Rasa sesak di dada Tasya semakin tidak tertahankan, kala ia mengingat beberapa hari lagi ia akan bertunangan denga Putra.


"Mengapa? Mengapa baru sekarang?" Batin nya.

__ADS_1


__ADS_2