
Dari dalam ruangan nya, Anton mengintip keluar jendela yang menghadap ke lorong kantor. Ia sudah tidak sabar untuk menunggu kedatangan Tasya. Padahal jam di dinding kantornya baru menunjukkan pukul 17.10 menit. Sudah pasti Tasya belum siap berdandan, karena Anton sendiri yang mengatakan bila mereka akan berangkat pukul enam sore. Sedangkan Anton sendiri, ia sudah terlihat rapi dengan setelan Jas yang baru saja ia ganti dengan yang Riyanti siapkan untuk dirinya.
Wajah lelaki itu terlihat gelisah, berkali-kali ia memainkan pena yang sedang berada diantara jari jemarinya. Berkali-kali juga ia terlihat mondar-mandir di dalam ruangan nya dan sesekali kembali mengintip melalui celah roller blind yang menutupi jendela kantornya itu.
"Lama sekali." Gumam nya dengan wajah yang terlihat semakin gelisah.
.
Tasya beranjak dari duduknya. Lalu ia berjalan kearah toilet kantor yang terletak di sudut lorong di lantai yang sama dengan ruangan nya. Ditangan nya terlihat tiga buah box yang baru saja diberikan oleh Riyanti. Dengan perlahan, Tasya berjalan hingga ke depan pintu toilet dan membuka pintu itu dengan cara mendorongnya dengan bahu mungilnya. Pintu itu pun terbuka, dengan sedikit memiringkan tubuhnya, Tasya pun berhasil masuk kedalam toilet tersebut.
Suasana toilet itu terlihat sepi, tidak satu pun ada orang lain yang sedang berada di toilet itu. Tasya pun mendorong salah satu bilik untuk ia berganti pakaian. Bilik itu pun terbuka dan Tasya memasuki bilik itu dan menaruh box yang ada di tangan nya di atas penutup closet. Dengan cepat Tasya membuka pakaian nya dan setelah itu, ia membuka sebuah box dengan merek pakaian mahal yang tertera di atas box tersebut. Terlihat sebuah gaun malam berwarna maroon, yang membuat Tasya berdecak kagum kala melihat gaun tersebut. Tasya mengangkat gaun tersebut dengan berhati-hati. Kini, gaun itu pun terlihat jelas kala lipatan nya terbuka dengan sempurna.
"Luar biasa.." Batin nya.
Dengan bersemangat, Tasya memakai gaun malam itu yang kebetulan sangat pas di tubuhnya yang indah. Tidak menunggu lama, setelah ia memakai gaun tersebut, Tasya pun keluar dari bilik itu untuk berdandan. Sebelum ia mengeluarkan makeup nya dari tas tangan milik nya, ia sempat menatap kaca besar yang terletak di dinding toilet tersebut. Ia tampak mengagumi dirinya sendiri dalam balutan gaun yang indah tersebut. Dengan wajah berseri dan terlihat bahagia, Tasya pun mulai memoles wajahnya dengan makeup miliknya.
Tidak butuh waktu lama, kini Tasya sudah terlihat sempurna dengan polesan makeup malam yang baru saja ia lukis di wajahnya. Sambil melihat arloji di tangan nya, Tasya membuka box tas tangan dan heels yang khusus dibelikan untuk dirinya itu dan memakainya dengan sedikit terburu-buru.
Beberapa menit kemudian, terlihat wanita yang sangat sempurna di depan cermin besar di toilet itu. Tasya nyaris tak percaya kala melihat bayangan dirinya sendiri lewat pantulan cermin itu.
"Wah.. ini aku?" Gumam nya seraya tersenyum malu-malu.
Dreeetttt...! Dreeeeett...!
Sedang asik mengagumi dirinya sendiri, Tasya pun di kejutkan oleh panggilan yang masuk ke ponselnya. Dengan cepat ia meraih ponselnya yang berada di dalam tas tangan lama nya, lalu ia melihat layar ponsel itu dengan seksama.
__ADS_1
"Pak Anton! Pasti dia sudah menunggu aku." Batin nya. Lalu, dengan cepat ia mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Halo pak,"
"Dimana kamu? Ini sudah pukul enam jurang lima belas menit!" Ucap Anton dengan nada suara yang terdengar panik.
"Sa-sa-saya akan segera ke ruangan bapak!" Ucap Tasya seraya menyelipkan ponselnya di antara bahu dan telinganya. Lalu ia mengemasi barang-barang pribadinya dan juga box box yang terletak di atas wastafel.
"Tidak usah, saya ada di lobby sekarang! Cepat kesini!"
"Baik pak!" Tasya pun segera meninggalkan toilet tersebut dan berjalan cepat kearah ruangan nya, untuk menaruh barang-barang pribadi dan juga box box tersebut di atas meja miliknya.
.
"Kemana sih dia!" Anton terlihat menggerutu seraya terus menoleh kearah lobby.
Ting!
Terdengar pintu lift terbuka, dengan cepat Anton melihat kearah lift yang berada tepat di samping meja resepsionis. Terlihat kaki indah yang memakai heels berwarna hitam dengan tinggi tujuh senti, melangkah keluar dari lift tersebut. Mata Anton terus mengamati dari kaki, tubuh yang dibalut oleh gaun pilihan nya, dan berakhir ke wajah Tasya yang terlihat berbeda dari biasanya.
Biasanya Tasya berdandan sederhana, menyesuaikan diri kala ia berangkat bekerja. Tetapi tidak kali ini, Tasya benar-benar berdandan dengan sempurna, walaupun dalam waktu yang sangat sempit. Rambut tasya pun dibiarkan tergerai dengan indah. Karena memang Tasya sudah memiliki rambut yang sangat indah. Tasya memiliki rambut lurus, tebal dan hitam legam. Maka dari itu, Tasya terlihat sangat sempurna dimata Anton. Lelaki itu terpana, hingga ia tidak bisa mengatakan sepatah kata pun kala Tasya menghentikan langkah nya di depan Anton.
"Maaf pak, bapak menunggu lama," Ucap Tasya seraya tersenyum kikuk.
"Ti-tidak apa-apa." Sahut Anton tanpa sekalipun mengalihkan pandangan nya dari wajah cantik Tasya.
__ADS_1
"Unbelievable!" Batin Anton yang masih terus menatap setiap inci wajah cantik Tasya.
"Pak.."
"Pak.."
"Pak.."
"Hah? Ya?" Anton terlihat malu, kala Tasya menyadarkan dirinya dari pesona wanita cantik itu.
"Sudah pukul enam."
"Oh.. iya... ayo.." Anton mempersilahkan Tasya untuk memasuki mobil miliknya. Seorang supir sudah bersiap membukakan pintu mobil tersebut. Tasya pun melangkah kearah mobil dan beranjak masuk kedalam nya. Sedangkan Anton terus mengagumi Tasya yang kini semakin menyita perhatian nya.
"Silahkan pak." Ucap supir pribadi Anton.
"Ah iya.." Anton pun menyusul masuk kedalam mobilnya dan duduk tepat di samping Tasya. Jantung nya terus berdebar dan semakin berdebar kencang kala ia mencium aroma parfum Tasya yang begitu feminim dan lembut.
"Rasanya ingin segera aku bawa pulang wanita ini." Batin Anton.
....
Riyanti tersenyum puas kala menatap rekaman video Tasya yang sedang berganti pakaian. Ia terus menatap setiap adegan Tasya di dalam video tersebut. Ya, Riyanti sengaja merekam Tasya yang sedang berganti pakaian dan berniat akan menyebarkan nya di kantor tersebut. Ia pun melangkah keluar dari toilet itu dengan wajah licik nya.
"Sebentar lagi, kamu tidak akan sanggup untuk pergi ke kantor. Lihat saja." Gumam Riyanti seraya berjalan menuju ke arah lift dan meninggalkan kantor tersebut dengan hati yang penuh rasa cemburu.
__ADS_1