Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
46. Come to mama


__ADS_3

Tok! Tok!


Pintu kamar yang ditempati Putra terbuka. Terlihat dua orang perempuan berseragam asisten rumah tangga, memasuki kamar tersebut dengan membawa masing-masing sebuah baki di tangan mereka.


"Makan siang nya mas." Ucap seorang asisten rumah tangga yang masih berusia sekitar dua puluh tahunan. Putra hanya mengangguk dan kembali melemparkan pandangan nya keluar jendela kamar mewah tersebut.


Kamar yang di dominasi warna emas tersebut cukup luas. Lengkap dengan perabotan yang serba mahal di dalam nya, membuat Putra tampak seperti seorang pangeran. Tetapi wajah Putra tetap terlihat gelisah. Lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu kembali menatap layar ponselnya yang berada di genggaman tangan nya. Ia baru saja membaca pesan yang dikirimkan oleh Banyu, kakak kandung nya. Banyu mengirimkan pesan bergambar, contoh bingkisan lamaran yang Banyu serahkan kepada Putra untuk ia pilih sendiri untuk hari lamaran nya dan Tasya.


Bukan gambar bingkisan itu yang membuat Putra terdiam di atas ranjang mewah itu. Melainkan pertanyaan Banyu yang cukup penasaran dimana keberadaan Putra saat ini. Banyu mengajukan banyak pertanyaan untuk Putra.


Di mana kamu?


Sama siapa kamu?


Siapa Alia?


Apa kamu bersama dengan Alia?


Bagaimana acara lamaran mu?


Kalau iya kamu sedang bersama dengan Alia, bagaimana wanita yang akan kamu lamar? Apa kanu tidak memikirkan perasaan nya?


Apa Tasya tahu tentang Alia?


Woiii...! Kenapa tidak kamu balas!


Putra!


Kamu pilih sendiri bingkisan nya.. aku pusing!


Kamu di mana? Tolong di balas pesan ku!


Putra menghela nafas panjang dan ia pun mulai mengetik pesan untuk Banyu.


A', aku baik-baik saja. Mengenai pilihan bingkisan, aku serahkan kepada A'a. Aku sudah transfer uang nya. Maaf A', aku merepotkan a'a. A', acara lamaran pasti berjalan. Jadi a'a tidak usah khawatir, aku pasti datang. Tetapi aku tidak bisa mengurus semuanya. Aku mohon, a'a yang urus. Aku akan menemui a'a besok sore ya...


Balas Putra.


"Silahkan di nikmati mas," Ucap salah satu dari dua orang asisten rumah tangga itu.

__ADS_1


"Ya, terima kasih." Sahut Putra.


Kedua asisten rumah tangga itu pun tersenyum dan mengangguk, lalu mereka pun berjalan menuju ke arah pintu kamar tersebut.


"Eh... mbak!" Panggil Putra.


Dua orang asisten rumah tangga itu pun menghentikan langkah mereka dan menoleh kepada Putra.


"Ya mas?"


"Alia mana?" Tanya Putra yang masih tampak pucat.


"Ada di halaman belakang mas."


"Dia lagi apa?" Tanya Putra lagi.


"Sedang duduk saja, sambil menikmati segelas teh, mas,"


"Oh..."


"Mau dipanggilkan?"


Beberapa kali nada panggil berbunyi, namun Taysa tidak kunjung mengangkat panggilan dari nya. Putra mulai terlihat panik, ia pun terus menerus mencoba menghubungi Tasya. Namun hasil nya tetap nihil. Hingga langkah kaki terdengar dari luar kamar tersebut, membuat suasana terasa mencekam bagi Putra. Benar saja, sesaat setelah ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang, terlihat Alia memasuki kamar tersebut sambil tersenyum lebar, menatap Putra dengan tatapan nya yang terlihat begitu menyeramkan di mata Putra.


"Hai sayang.. belum makan?" Tanya Alia seraya beranjak menghampiri Putra.


"I-i-ini baru saja mau makan." Sahut Putra seraya beranjak menghampiri hidangan yang terletak diatas meja dari kayu Jati di kamar tersebut.


"Oh, mau aku suapin?" Tanya Alia lagi.


"Tidak usah," Putra berusaha bersikap biasa saja, lalu ia mulai mencicipi hidangan yang memang khusus dimasakkan untuk dirinya.


"Enak?" Tanya Alia seraya beranjak duduk di depan Putra.


"E-enak." Putra menatap Alia seraya mencoba untuk tersenyum kepada gadis tersebut.


"Syukurlah. Habis makan, jangan lupa makan obat nya ya.." Alia meraih kantong plastik yang berisi obat-obatan dari rumah sakit untuk Putra. Lalu, ia mencoba mengambilkan Putra obat-obatan tersebut sesuai dosis yang tertera, untuk Putra konsumsi setelah makan nanti.


"Nih, biar cepat sembuh." Alia tersenyum tulus, seraya menyodorkan Putra obat-obatan yang baru saja ia taruh diatas piring kecil.

__ADS_1


"Terima kasih." Putra menyambut piring berisi obat-obatan itu dan meletakkan nya di samping gelas miliknya.


"Makan yang banyak ya... ini makanan bergizi khusus untuk penyembuhan. Aku sendiri yang meminta asisten untuk memasakkan nya buat kamu." Alia kembali tersenyum memamerkan deretan gigi putih dan rapi milik nya.


Putra terpana, ia terus menatap Alia dan mencoba membalas senyuman gadis cantik itu.


Putra bukan terpana karena kecantikan Alia. Melainkan di samping sisi obsesi nya Alia kepada dirinya, ternyata Alia benar-benar tulus untuk merawat dirinya yang masih dalam proses penyembuhan. Ketulusan itu dapat Putra rasakan sendiri, mulai dari sorot mata Alia dan cara bicara Alia yang terlihat lebih santai daripada biasanya.


"Terima kasih ya..." Ucap Putra, seraya mulai menyantap hidangan tersebut.


.


Tepat pukul lima sore, sebagian dari para karyawan dan karyawati mulai meninggalkan ruangan. Kini, di ruangan tersebut hanya tinggal Tasya dan dua orang lain nya yang masih asik duduk di depan komputer mereka.


Brakkkkk..!


Tiba-tiba saja tiga buah kotak dilemparkan dan mendarat di atas meja kerja Tasya. Tasya yang sedang melamun pun terkejut karena nya. Ia menatap tiga kotak yang tertera tiga merek terkenal yang berbeda-beda tersebut, lalu ia menatap Riyanti yang berdiri sambil melipat kedua tangan nya dengan angkuh.


"Tuh! Pakai!" Ucap Riyanti dengan tatapan penuh rasa cemburu.


"A-apa ini mbak?" Tanya Tasya dengan lugu nya.


"Kamu bertanya? Bukan kah kamu sengaja mendekati pak Anton, agar kamu bisa mendapatkan ini semua dengan cuma-cuma? Kamu tahu harga nya? Ini semua melebihi harga diri kamu. Kamu tidak layak memakainya." Ucap Riyanti seraya mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Tasya.


"Astaghfirullah mbak.."


"Astaghfirullah? Perempuan murah seperti kamu mengucapkan kata itu? MUNAFIK!"


Dua karyawan refleks melihat kearah Riyanti dan Tasya, kala mendengar ucapan Riyanti yang begitu menyakitkan bagi Tasya.


"Mbak... saya..."


"Sudah! Jangan banyak omong. Cepat pakai, atau aku campakkan semua ke tempat sampah!" Riyanti melotot kepada Tasya, lalu ia segera meninggalkan ruangan itu dengan nafas yang sesak karena menahan emosi nya kepada Tasya yang ia tahu akan jalan bersama dengan Anton untuk menghadiri acara para penguasa sukses di sebuah Ballroom di hotel berbintang di Jakarta.


"Kenapa bukan aku!" Keluh Riyanti seraya menekan tombol lift dengan kasar.


"Apa si tua bangka itu mulai ingin menyingkirkan aku? Apa si perempuan gatal itu berhasil mencari perhatian dari si tua bangka?" Gumam nya.


"Tidak bisa! perempuan itu harus menerima konsekuensinya dari kelakuan nya yang gatal! Aku akan memberikan dia pelajaran!" Batin Riyanti. Ia mengurungkan niatnya untuk memasuki lift yang baru saja terbuka. Lalu ia berjalan menuju ke toilet wanita di lantai tersebut dan menunggu Tasya datang untuk mengganti bajunya dengan gaun yang sudah ia persiapkan atas permintaan dari Anton.

__ADS_1


"Come to mama..." Gumam Riyanti dengan wajah licik nya.


__ADS_2