Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
94. Dua opsi


__ADS_3

"Dengan ini, saudara Putra dinyatakan bersalah dan di jatuhi hukuman tiga tahun empat bulan di potong dengan masa tahanan sebelum nya. Terima kasih,"


Tok! Tok!


Hakim mengetuk palu. Seiring Putra yang tertunduk lesu di kursi pesakitan itu. Air mata terjatuh di pipinya. Ia melirik Anton yang duduk di jejeran penuntut, dengan tajam nya. Terlihat Anton belum juga merasa puas dengan keputusan yang diberikan sang Hakim. Namun bagaimana lagi, keputusan adalah keputusan, dan harus di hargai dan di terima dengan baik. Setidaknya orang yang telah menghancurkan buah hatinya akan di penjara untuk menebus kesalahan yang telah lelaki itu perbuat terhadap Alia.


Putra beranjak dari kursinya, di bantu oleh beberapa petugas yang akan membawa dirinya ke ruangan lain, untuk menunggu mobil yang akan mengantarkan dirinya kembali ke Rumah Tahanan. Terlihat ambu dan abah mengiringi Putra dengan air mata yang terus bercucuran. Hati orang tua mana yang tidak hancur melihat buah hati nya akan di penjara selama itu.


"Sabar ya jang..." Ucap ambu, seraya pipi kepala Putra yang kini telah duduk di ruangan tunggu.


Putra hanya diam membisu, ia hanya mampu menatap bulir air mata yang terus mengalir di pipi sang ibu.


"Jalani, sekaligus merenungi kesalahan dan hidup di dalam sana. Anggap saja proses pendewasaan diri, jang..." Ucap abah.


"Jangan lupa sholat jang.. bertaubat lah nak.. Tuha tidak mungkin memberikan jalan seperti ini, tanpa maksud apa pun. Kamu teh harus belajar, bila sesuatu itu ada sebab akibatnya." Sambung abah lagi.


Putra tertunduk mendengar ucapan abah.


Selama tiga bulan ia mendekam di Rumah Tahanan, sebelum sidang keputusan. Dirinya terus bertanya tentang kehidupan, mengapa ia bisa sampai di titik kehancuran. Tidak seperti Banyu, yang hidup nya terkesan tanpa masalah dan semakin bahagia, menurut cerita dari kedua orang tuanya.


Putra kerap meminta orang tuanya untuk bercerita bagaimana rumah tangga Banyu dan Tasya, setiap orang tuanya mengunjungi dirinya di Rumah Tahanan. Awal mula, ia kerap merasa cemburu dan marah, mendengar cerita-cerita tentang kakak kandungnya yang menikahi wanita yang pernah ia cintai. Makin kesini, ia mulai merasa ikhlas dengan kehidupan yang harus ia jalani, pun dengan cerita tentang kebahagiaan Banyu dan Tasya.


Lambat laun Putra mulai di tempa tentang kedewasaan dalam hidup. Ia banyak merenung di sel nya. Pun dengan cerita para narapidana lain nya yang kerap bertukar pengalaman hidup dengan dirinya. Kesimpulannya adalah, tidak ada orang yang tidak pernah salah. Semua orang pernah bersalah dan bila kesalahan yang fatal, akan mengakibatkan seseorang itu terjerat hukuman di penjara.


Tetapi ada satu yang mengganjal di hati Putra, selama persidangan ataupun proses hukum berjalan, ia tidak pernah bertemu dengan Alia. Ia hanya dapat melihat sosok Anton dan pengacaranya saja yang terus hadir dalam setiap proses, tanpa absen sekalipun. "Kemana Alia?" ia kerakerap bertanya di dalam hatinya.


"Saudara Putra, saat nya kembali ke tahanan." Ucap seorang sipir yang mendampingi dirinya menghadiri sidang keputusan itu.


Putra pun beranjak dari duduknya, seraya menatap kedua orang tuanya yang harus rela melepaskan dirinya untuk menebus segala kesalahan. Lalu ia memelui abah dan ambu yang terus menangisi nasib anak kesayangan mereka itu.


"Abah, ambu.. aku pergi dulu. Doakan aku ya bah, ambu..." Ucap Putra. Lalu ia mengecup punggung tangan kedua orang tuanya.


Abah dan ambu hanya bisa mengangguk dan melepaskan Putra dengan keikhlasan.


"Oh iya, salam buat a'a dan Tasya. Katakan pada mereka, bila aku sangat berterima kasih atas bantuan nya. Baik itu pengacara, makanan, cake yang di berikan Tasya, dan barang-barang yang aku perlukan selama di tahanan. Mereka orang-orang yanh baik. Sampaikan juga pada mereka, bila aku meminta maaf atas segala kesalahan yang telah aku perbuat. Juga....


Putra terdiam, mengenang sosok bocah kecil yang terus menghantui dirinya, yaitu Rafis. Ia sangat menyayangi bocah kecil itu, tanpa kemunafikan. Cinta nya pada rafis memang benar adanya tanpa di buat-buat karena ingin mendekati Tasya. Sampai kini pun rasa cinta nya pada Rafis tidak pernah padam. Ia sudah menganggap Rafis sebagai anak kandung nya sendiri.

__ADS_1


"Juga apa jang?" Tanya ambu penasaran.


"Sampaikan salam ku untuk Rafis. Semoga dia tumbuh dewasa dengan hati yang baik. Bilang juga padanya bila papa Putra sangat merindukan dirinya." Air mata tumpah di pipi Putra yang tampak cekung. Ya, lelaki itu lehilangan banyak berat badan. Yang tadinya tubuh nya tampak proporsional, namun kini tampak sangat kurus dan tak terawat.


"Iya jang, nanti ambu sampaikan pada Rafis."


"Bilanh juga sama Rafis, rajin-rajin belajar. Jangan sampai tidak naik kelas." Sambung Putra dengan ujung suara yang tercekat.


"Iya jang.." Sahut ambu lagi.


"Ya sudah, aku pamit ya ambu abah. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam.."


Putra pun beranjak dari hadapan kedua orangtuanya. Diiringi tangisan pilu dari kedua belah pihak. Rasa tak rela menyelimuti perpisahan tersebut. Namun apa daya, semua memang harus dilalui dengan hati yang mau tak mau harus ikhlas.


"Bu, pak... monggo saya antarkan pulang," Ucap pengacara Banyu.


"Iya nak.." Abah dan ambu pun mengikuti langkah kaki sang pengacara menuju ke parkiran.


"Dia mendapatkan hukuman tiga tahun."


Alia terdiam mendengar berita yang baru saja ia dengar dari Anton, lewat sambungan telepon.


"Semoga kamu puas, dan baik-baik disana dengan mama mu ya.." Ucap Anton lagi.


"Iya pa." Sahut Alia.


Panggilan itu pun berakhir. Alia terdiam di bangku taman sebuah kampus di Swiss. Ya, alia sudah menjadi mahasiswi di kampus itu. Setelah dirinya dinyatakan sembuh, ia pun memutuskan untuk mendaftarkan diri di Universitas di Negara itu dan ternyata dirinya di terima di salah satu kampus di sana. Sejak saat itu, ia mulai sibuk mempersiapkan segala kebutuhan nya untuk pindah ke Negara itu di dampingi oleh Devonna, mama nya.


Tepat satu setengah bulan masalah ini berlalu, ia pun terbang ke Negara itu. Dan mulai sibuk dengan lingkungan baru nya. Tanpa ia sadari, dirinya telah terlambat datang bulan. Awalnya ia mengira dirinya hanya sedang stress, karena sedang banyak masalah. Ternyata ia salah, hingga menginjak bulan ketiga, ia tak juga datang bulan.


Alia memberanikan diri untuk membeli alat uji kehamilan di apotik dan mencoba mencari tahu kebenarannya saat ia berada di kamar mandi kampus itu. Namun kenyataan begitu memukul dirinya. Dua garis merah terlihat begitu jelas di alat uji kehamilan tersebut. Ya, dia sedang mengandung buah cinta nya dengan lelaki yang kini mendekam di penjara. Alia terduduk lemas di atas closet. Ia hanya mampu menangis tanpa suara, pada pagi tadi.


Alia beranjak dari duduk nya dan melangkah ke arah mobil yang baru saja tiba. Terlihat Devonna melambaikan tangan kepada dirinya dari dalam mobil tersebut.


"Bagaimana harimu di kampus?" Tanya Devonna dengan tatapan yang begitu bersemangat. Tetapi tidak dengan Alia yang terlihat lebih diam saat memasuki mobil tersebut.

__ADS_1


"Alia.. Are you ok?" Tanya Devonna lagi.


Alia menatap mama nya dengan air mata yang mulai mengembang di pelupuk matanya.


"Ada apa?" Devonna terlihat mulai khawatir saat melihat air mata yang mulai menetes di pipi Alia.


"Apa kamu sudah mendengar keputusan hukuman untuk lelaki itu?"


Alia bergeming, yang justru membuat Devonna semakin khawatir kepada dirinya.


"Alia.. tell me.. what wrong baby?"


Alia menatap Devonna dengan seksama, lalu ia mengeluarkan alat uji kehamilan tersebut dari dalam tas nya. Devonna menatap alat tersebut dan dengan ragu ia meraih alat tersebut dan melihatnya dengan seksama.


"Oh.. Alia.. sayangku.." Devonna langsung memeluk Alia yang mulai menangis tersedu-sedu.


"Jangan khawatir ada mama disini."


"Tetapi bagaimana dengan anak ini?" Tanya Alia di sela tangisan nya.


"Apa mau mu? Mama akan turuti."


Alia melepaskan pelukan nya, dan menatap Devonna dengan seksama.


"Apakah harus aku gugurkan? Tetapi dia adalah anak ku. Dia tumbuh di rahim ku.."


"Come on Alia, disini bebas melakukan aborsi bila kita berkonsultasi dahulu sama dokter. Kita punya alasan nya, bila anak yang kamu kandung adalah anak dari seorang yang tidak kamu inginkan."


"Tapi ma..."


"Alia.. apa yang kamu inginkan? Merawat bayi ini? Bagaimana dengan kuliah mu?"


Alia terdiam, ia cukup merasa tertekan pada saat ini.


"Lebih baik kita ke dokter saja." Ucap Devonna seraya melajukan mobil nya.


Alia hanya diam membisu, sungguh perang batin baginya untuk memutuskan dua opsi, melanjutkan atau merelakan anak yang tengah ia kandung.

__ADS_1


__ADS_2