
Laju taksi yang ditumpangi oleh Tasya dan Banyu, berhenti di depan kantor milik perusahaan tempat dimana Tasya bekerja. Suara mesin pemotong keramik menyambut mereka pagi itu. Para pekerja bangunan sudah mulai bekerja pagi-pagi sekali atas perintah mandor mereka yang menginginkan bangunan itu selesai tepat waktu, sesuai dengan perjanjian pemborong dengan pihak perusahaan tersebut.
Tasya membayar taksi tersebut dengan uang dinas yang diberikan oleh Riyanti sebelum dirinya berangkat ke Semarang. Setelah membayar, mereka berdua pun turun dari taksi tersebut dan melangkah masuk kedalam bangunan yang sebentar lagi akan selesai tersebut. Banyu terus memperhatikan ruangan demi ruangan yang harus ia tata dengan produk mabel dari perusahaan nya. Sedangkan Tasya terus memperhatikan lelaki yang jauh lebih tinggi tubuhnya dari pada dirinya itu.
Suasana di kantor itu mulai terasa panas, karena perlahan tapi pasti, matahari semakin meninggi yang membuat suhu di daerah itu terasa panas sekali. Banyu melepaskan satu kancing kemeja nya dan mengibaskan tangan nya. Peluh mulai menghiasi kening nya yang terlihat sempurna tersebut. Tasya mendekati Banyu dan menatap lelaki tampan itu seraya menyodorkan beberapa lembar tisu kepada Banyu. Banyu terpana sesaat sebelum dengan ragu ia meraih tisu tersebut dari tangan Tasya yang tampak mungil dibandingkan dengan tangan lelaki yang memiliki nama Ahmad Banyu Pratama tersebut.
"Terima kasih," Ucap Banyu seraya menatap Tasya dengan sorot matanya yang sangat teduh.
Tasya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu wanita cantik itu pun melangkah menjauh seakan mencari kesibukan untuk mengusir perasaan groginya kala berhadapan dengan Banyu. Sedangkan Banyu terus menatap Tasya yang membelakangi dirinya. Angan Banyu kembali ke belasan tahun lalu, saat dirinya bersama dengan Tika di Semarang. Kala itu hal yang sama terjadi, Tika menyerahkan beberapa lembar tisu kepada Banyu yang juga sedang merasa kepanasan.
"Mas, lap keringet nya. Itu loh sampai meleleh ke mata," Ucap Tika kala itu seraya menyodorkan beberapa lembar tisu di tangan nya.
"Terima kasih ya cantik," Ucap Banyu seraya meraih tisu tersebut dan mengelap peluh yang membanjiri kening nya.
"Kenapa dia mirip sekali dengan Tika. Hanya saja, bedanya wanita ini lebih pemalu dibandingkan Tika." Batin Banyu. Senyum tipis mulai terlihat di bibirnya yang tipis.
"Aduhhh...!" Pekik Tasya yang sedang berada di sudut ruangan tersebut.
"Tika! Ada apa?"
Saat itu juga Tasya menoleh dan menatap Banyu dengan kerut di kening nya.
"Tika?" Batin Tasya.
"Tika, kamu tidak apa kan?" Banyu merangkul Tasya yang sedang membungkuk seraya memegang betis nya yang tampak berdarah karena tergores tumpukan sisa keramik yang berada di sudut ruangan itu.
__ADS_1
"Ti-tika?"
Banyu terdiam, perlahan ia melepaskan tangan nya yang melingkar di punggung Tasya.
"Maaf.."
"Aku bukan Tika mas,"
"Aku tahu, maaf.. aku minta maaf. Tetapi kamu kenapa? Kamu tidak apa-apa kan?" Banyu berjongkok dan memperhatikan goresan memanjang di betis Tasya.
"Aku tidak apa-apa. Aku tidak melihat ada tumpukan keramik yang bekas di potong di sudut situ." Tasya melangkah menjauhi Banyu. Banyu terdiam, ia merasa bersalah kepada Tasya, karena ia sempat salah memanggil nama Tasya, menjadi Tika.
Tasya meraih kursi plastik yang terdapat di ruangan itu. Lalu ia duduk seraya mengusap darah yang muncul dari luka goresan yang disebabkan oleh tumpukan potongan keramik, dengan selembar tisu. Banyu pun bangkit dari jongkok nya dan berjalan menghampiri Tasya yang terlihat meringis menahan perih dari luka nya. Banyu kembali berjongkok di hadapan Tasya yang sedang duduk di atas kursi. Seraya mendongak dan menatap Tasya dengan seksama.
"Mau ke Dokter?"
"Atau mau aku belikan perban dan obat untuk mengeringkan luka?"
Tasya kembali menggelengkan kepalanya.
"Kalau dibiarkan, nanti infeksi loh."
Kali ini Tasya menatap Banyu dengan seksama. pandangan mereka saling bertautan.
"Apa aku mirip dengan Tika?" Tanya Tasya dengan tatapan yang terlihat berbeda dari biasanya. Saat itu juga Banyu menghela nafas panjang dan mulai menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak sengaja. Aku hanya sedang...
"Teringat Tika?" Tanya Tasya lagi. Kali ini Banyu menatap Tasya dengan seksama. Lalu ia mencoba tersenyum walaupun itu tampak canggung.
"Aku belikan obat dulu ya." Banyu beranjak dari hadapan Tasya dan melangkah nenuju ke pintu keluar ruangan tersebut.
"Mas, apakah sikap canggung mas kepadaku karena aku mirip dengan Tika? Sehingga mas selalu teringat akan dirinya.."
Banyu menahan langkahnya dan menoleh menatap Tasya. Wajah tampan nya tampak menyimpan perasaan bersalah.
"Tidak." Sahut Banyu.
"Lantas?"
Banyu terdiam beberapa saat. Peluh mulai mengalir di dahinya. Pertanyaan Tasya membuat ia berpikir keras untuk menjawab nya.
"Lantas?" Desak Tasya, setelah ia tak kunjung menerima jawaban dari Banyu.
"Karena kamu calon adik ipar ku, bila kamu serius dengan Putra. Ada batasan di antara kita, karena aku harus menjaga wanita yang sangat disukai oleh adik ku itu." Jawab Banyu seraya melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
Tasya terdiam, ada rasa kecewa di hatinya. Bukan jawaban itu yang ingin ia dengar dari bibir Banyu. Tetapi, mengapa jawaban itu yang diucapkan Banyu kepada dirinya. Tasya menghela nafas panjang. Entah mengapa, saat bersama dengan Banyu, ia merasa tidak mengingat sedikitpun tentang Putra. Bahkan, ia tidak pernah menganggap Banyu adalah kakak kandung Putra. Di pikiran Tasya adalah, Banyu adalah lelaki asing yang berkenalan dengan nya, lalu kebetulan ia dan lelaki asing ini sedang menangani tugas yang sama, yang diberikan boss nya kepada mereka berdua.
"Jadi.. bukan karena aku mirip Tika atau dia punya perasaan kepadaku? Ternyata dia hanya menganggap ku wanita yang sedang dekat dengan adiknya. Ah... geer sekali aku ini." Tasya menepuk keningnya seraya memejamkan kedua matanya. Wajah nya memerah dan tampak menahan rasa malu yang luar biasa.
"Eh.. tapi, kalau aju tidak mirip dengan Tika, mengapa dia memanggilku Tika? Apa dia berbohong? Apa kebetulan saja dia sedang mengingat Tika? Ya Allah... mengapa aku terus merasa penasaran sih!" Gumam Tasya.
__ADS_1
Tasya beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju ke jendela ruangan itu. Ia melihat keluar jendela tersebut dan menatap ke bawah. Terlihat Banyu yang baru saja sampai di depan kantor tersebut dan berjalan kaki menuju minimarket yang terletak di seberang kantor tersebut. Tasya terus menatap lelaki itu dari lantai tiga kantor tersebut.
"Apakah alasan mu hanya itu mas Banyu? Apa kamu mencoba mengalihkan perasaan mu?" Batin Tasya yang terus menatap Banyu yang kini sudah sampai di seberang jalan dan menghilang di balik pintu minimarket itu.