
Anton dan dua orang Polisi memasuki ruangan rawat inap, dimana Putra sedang dirawat di sana. Kedua orang tua Putra terlihat panik saat melihat Anton membawa dua orang petugas Polisi dengan seragam yang lengkap. Mereka juga membawa beberap berkas yang menyatakan bila Putra sudah dilaporkan oleh Anton secara resmi ke pihak kepolisian untuk mempertanggung jawabkan segala kesalahan yang ia perbuat.
Saat itu juga ambu dan abah berjalan mendekati Anton yang tampak tidak peduli pada kedua orangtua Putra. Alih-alih akan menghadang mereka, dengan kasar, Anton mendorong tubuh tua kedua orangtua Putra.
"Pak, saya mohon, jangan jebloskan anak saya ke penjara. Dia masih sakit pak!" Ambu memohon kepada Anton. Namun lelaki paruh baya itu bergeming. Ia dan dua orang petugas kepolisian menghentikan langkah kaki mereka tepat di depan ranjang tempat tidur Putra. Putra terlihat panik saat melihat Anton dan dua orang petugas kepolisian menatap dirinya.
"Saudara Putra?"
"I-iya sa-saya pak." Sahut Putra saat dengan gugup saat menjawab sapaan dari salah satu Polisi.
"Anda telah dilaporkan oleh saudara Anton, ayah kandung dari korban anda yang bernama Alia."
Putra terdiam, ia sadar betul bila dirinya tidak bisa mengelak lagi.
"Iya pak." Sahut Putra yang terlihat pasrah.
"Berhubung karena anda masih sakut dan sedang dirawat. BAP akan kami laksanakan di sini," Ucap seorang Polisi lagi seraya mengeluarkan sebuah laptop dari tas nya.
"Pak, saya mohon.. jangan jebloskan anak saya ke penjara. Kasihani lah dia pak.." Ambu memohon dengan segala kerendahan hatinya. Hingga ia rela berlutut di kaki Anton. Anton menatap ambu dengan tatapan yang datar. Lalu ia mencoba menghindari wanita tua itu. Tetapi ambu langsung memeluk kaki Anton seraya menangis tersedu-sedu.
"Pak..."
"Minggir!" Dengan kasar, Anton mendorong ambu hingga wanita tua itu terjungkal di atas lantai.
Melihat hal itu, bapak hanya mampu memeluk istrinya. Sedangkan Putra terlihat terkejut dengan sikap kasar Anton kepada orangtuanya.
"Apa benar anda memperkosa putri dari bapak Anton yang bernama Alia?"
"Tidak," Jawab Putra.
Anton terbelalak, dengan emosi ia mencoba menghampiri Putra. Namun seorang Polisi mencoba menahan dirinya.
"Sabar pak.." Ucap Polisi itu.
"Bagaimana saya bisa sabar! Dia telah merusak anak saya, namun dia tidak mengakuinya! Dasar lelaki bajingan!" Hardik Anton dengan wajah yang penuh dengan emosi.
__ADS_1
"Sabar pak.." Ucap Polisi itu lagi.
"Sumpah saya tidak melakukan itu. Tetapi, kalau bapak bertanya, apakah kami suka sama suka, itu benar adanya," Ucap Putra dengan berterus-terang. Memang benar adanya apa yang dikatakan oleh Putra. Apa yang terjadi antara dirinya dan Alia pada malam itu tidak ada paksaan sama sekali. Semua terjadi begitu saja. Hal yang membuat Alia melakukan percobaan bunuh diri, bukan karena Alia kehilangan kesuciannya dengan cara di rampas oleh Putra. Melainkan Alia merasa menyesal dengan apa yang telah terjadi dan juga faktor Putra yang merendahkan dirinya dan juga meninggalkan dirinya setelah apa yang paling berharga dalam hidupnya ia serahkan begitu saja dengan cuma-cuma kepada lelaki yang tidak pernah mencintai dirinya.
"Bila bapak tidak percaya, bapak bisa bertanya pada Alia." Sambung Putra dengan kedua mata yang berkaca-kaca menahan tangis.
"Nona Alia belum sadarkan diri. Ia masih dalam keadaan kritis."
Putra terdiam, bagaimanapun ia turut merasa bersalah atas segala yang terjadi. Terutama melihat keadaan Alia yang begitu putus asa hingga nekat mencoba mengakhiri hidupnya sendiri.
"Apa benar anda juga melecehkan saudari Alia, saat di kampus?"
"Tidak, kami melakukan semua atas dasar suka sama suka." Jawab Putra lagi. Apa yang dikatakan Putra benar adanya. Ia hanya mencoba jujur, namun apa yang terucap dari bibir nya membuat Anton terus merasa emosi kepada Putra.
"Bajingan! Penipu! Kamu memfitnah anak saya ya!" Hardik Anton.
"Sumpah pak, tidak sekalipun saya memaksa Alia. Kami melakukan nya atas dasar suka sama suka. Tidak ada paksaan sama sekali."
Anton terdiam. Kedua Polisi itu pun terus berusaha meminta Anton untuk bersabar.
Putra terdiam dengan pertanyaan pemungkas dari Polisi tersebut Kali ini ia tidak dapat menghindar dari kebenaran, karena Anton memegang surat perjanjian antara dirinya dan juga Alia.
"Ya.. benar." Sahut Putra. Ia pun tertunduk lesu. Ia tahu semua ini salah dirinya.
"Bisa berbicara sebentar pak?" Tanya Polisi itu pada Anton. Anton pun menuruti permintaan salah satu Polisi. Sedangkan Polisi yang satunya melanjutkan pertanyaan nya pada Putra.
Anton dan salah satu Polisi berjalan ke luar ruangan. Mereka pun mulai berbincang di depan ruangan tersebut.
"Pak, bagaimana nya, lebih baik kita menunggu nona Alia siuman. Karena kami butuh kecocokan pengakuan dari tersangka dan juga korban."
Anton terdiam, ia menatap Polisi tersebut dengan tatapan tak puas.
"Tidak bisakah dia langsung di penjara saja?" Tanya Anton.
"Kalau masalah pemerkosaan, tidak ada bukti otentik pak. Bapak melaporkan kasus ini karena dugaan pemerkosaan. Tetapi bila bapak melaporkan dengan dasar kasus yang lain, baru dia bisa kami tahan."
__ADS_1
"Contohnya?" Tanya Anton yang terlihat bersemangat.
"Bapak bisa melaporkan atas dasar melanggar perjanjian."
Anton terdiam, ia menghela nafas panjang.
"Semua ada undang-undang nya pak. Bila bapak melaporkan masalah perjanjian, karena dia sudah melakukan hal itu pada Putri bapak, kami baru bisa memproses nya. Bila kedepannya nona Alia sadarkan diri, dan terbukti bila ia melakukan tidak rudapaksa, barulah dia bisa kami jerat dengan hukuman yang sesuai dengan undang-undang rudapaksa." Jelas sang Polisi.
Anton mengangguk paham. Lalu ia mencoba menghubungi pengacaranya dan meminta pengacaranya untuk melaporkan Putra dengan kasus yang baru.
Kali ini Putra tidak akan bisa melepaskan diri dari jeratan Anton yang bisa melakukan apa pun. Bukan hanya itu, karena memang dirinya pun bersalah kepada Alia. Semua selalu ada konsekuensi yang harus di bayar dari apapun tindakan kita. Tidak hanya di dunia, di akhirat pun akan berlaku tentang hukum tabur dan tuai.
Selama dua jam, Putra terus di ajukan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut kesalahan nya pada Alia. Putra pun berusaha untuk kooperatif dengan pihak kepolisian. Hingga akhirnya proses BAP itu pun berakhir. Dua petugas itu pun berpamitan dengan Putra dan juga kedua orangtuanya. Kini diruangan itu tinggal Putra, kedua orangtuanya dan juga Anton beserta dua bodyguard nya. Anton menatap Putra dengan emosi yang tengah susah payah ia bendung. Rasanya ingin sekali ia membunuh lelaki yang telah membuat putri nya sengsara hingga ingin mengakhiri hidup nya.
"Saya mohon maaf pak. Saya bersedia untuk bertanggung jawab dengan Alia. Apa pun itu. Bila harus menikahi...
"Tidak akan..! Saya pernah memberikan kamu kesempatan untuk menikahi putri saya. Namun kamu tidak bisa dipercaya! Tidak ada kata damai, bagaimanapun, tidak afa kata maaf bagimu! Kamu harus mendekam di penjara!" Potong Anton.
"Pak saya mohon... Saya akan berubah dan mencoba menjadi lelaki yang....
"Jangan bermimpi! Kesempatan hanya datang satu kali. Bodohnya kamu sudah membuat kepercayaan saya menghilang! Kamu harus saya pendam selama-lamanya di penjara!" Seakan tidak memberikan kesempatan Putra untuk berbicara, Anton terus memotong kata-kata dari Putra.
"Pak.. saya mohon. Biar saya saja yang masuk penjara, tetapi jangan anak saya.. pak..." Ucap ambu seraya berlutut di kaki Anton.
"Ambu.. sudah ambu..." Bapak mencoba menenangkan ambu. Tetapi semua seakan tidak dihiraukan oleh wanita tua itu. Ia terus memohon hingga bersujud di kaki Anton.
"Ambu sudah, Putra teh memang bersalah. Biar Putra yang menebus kesalahan sendiri. Tidak perlu ambi seperti itu." Dengan wajah yang putus asa dan juga iba kepada ibunya, Putra mencoba meyakinkan ambu.
"Kamu teh harapan ambu jang. Mengapa kamu membuat ambu malu? Mengapa kamu tidak bisa seperti Banyu, jang? A'a mu itu terus melakukan hal yang baik walaupun ambu tidak pernah membela dirinya. Tetapi teh mengapa kamu seperti ini jang? Ambu teh kecewa sama kamu!" Ambu menangis meraung di atas lantai ruangan itu. Sedangkan Putra hanya bisa terdiam membisu. Ia baru tahu rasanya disalahkan dan di bandingkan dengan saudara kandungnya sendiri. Tetapi hatinya juga tidak bisa mengalahkan ucapan ibunya. Memang kenyataan nya bila Banyu lah yang selama ini selalu berbuat baik kepada dirinya dan juga keluarganya.
"Ambu menyesal selalu membela kamu jang! Kalau pada akhirnya teh, kamu tidak tahu disayang dan di bela. Kamu teh sudah terlalu jauh terlena dan merasa selalu benar! Ambu teh kecewa jang!"
Putra semakin merasa terpuruk dan stress. Kini tidak ada satupun orang yang mau berpihak kepada dirinya. Pada akhirnya, dirinya pun tidak juga bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
.
__ADS_1
"Berusahalah untuk tidak melakukan hal-hal yang buruk, karena apapun akan di tanggung diri sendiri. Baik atau buruk, semua ada karmanya. Karma apa ya yang mau kita dapat? Itu adalah pilihan hidup kita sendiri." -De'rini-