Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
51. Pupus


__ADS_3

"Terima kasih pak," Ucap Tasya, saat mobil mewah milik Anton berhenti di depan rumah nya. Tasya membuka sabuk pengaman dan bergegas untuk membuka pintu mobil tersebut.


"Tas.." Anton mencegah Tasya, dengan menahan tangan Tasya yang hendak beranjak dari mobil miliknya tersebut.


"Ya pak?" Tanya Tasya, seraya menatap Anton yang terlihat bingung dengan sikap Tasya yang lebih banyak diam kepada dirinya. Namun tidak juga mau membahas tentang pengakuan Anton yang mengatakan Tasya adalah calon istrinya.


"Tasya.. hmmm.. aku... aku... aku minta maaf atas pengakuan ku tadi, semua itu aku lakukan karena.... hmmmm karena... karena aku mencintai kamu."


Tasya terperangah tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Anton. Kepalanya mulai terasa pening dan perutnya mulai merasa mual. Ia benar-benar tidak menyangka sama sekali bila Anton menaruh hati kepada dirinya.


"Tasya, aku sedang tidak bercanda, aku sungguh mencintai kamu. Maukah kamu menjadi istriku?"


Tasya menghela nafas panjang dan membuang tatapan nya keluar jendela mobil tersebut. Ia


"Maaf, sekali lagi aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf kalau aku mengakui kamu adalah calon istriku sebelum kita berbicara tentang ini semua. Aku hanya...


"Pak.. aku sudah akan bertunangan."


Anton terdiam, seketika raut wajahnya berubah menjadi tidak suka, karena kenyataan yang baru saja ia dengar.


"Bertunangan? Sama siapa!"


Tasya terkejut dengan perubahan suasana hati dan emosi Anton yang begitu cepat. Sudah dapat dipastikan bila Anton adalah lelaki yang tempramental. Tasya mulai takut dengan tatapan Anton yang seperti membuat dirinya seperti sosok seorang yang jahat.


"Sa-sama pa-pacar saya pak."


"Kamu sudah punya pacar? Siapa namanya!" Intonasi suara Anton semakin meninggi, membuat Tasya semakin gugup karenanya.


"Su-su-sudah pak."


Brakkkkk...!


Anton memukul sandaran kursi di depan nya, membuat supir yang di balik kemudi mobil tersebut terkejut dan suasana pun menjadi hening.


"Siapa dia? Beritahu aku. Aku akan memohon kepadanya untuk membatalkan semua, dan menikahlah denganku Tas.." Anton semakin tidak terkendali, sikapnya justru membuat Tasya merasa sangat ketakutan.


"Pak... bapak kenapa? Kenapa tiba-tiba bapak mengatakan seperti itu? Saya takut pak! Kenapa tiba-tiba saja bapak ingin saya menikah dengan bapak?"


"KARENA AKU MENCINTAI KAMU!" Bentak Anton.


Tasya terdiam, sikap Anton yang seperti itu membuat ia ingin segera turun dari mobil itu dan melarikan diri dari hadapan Anton yang semakin tak terkendali.


"Sorry... sorry.. aku hanya..


"Apa begitu cara bapak mencintai seorang wanita? Jujur, saya takut sekali.." Ucap Tasya dengan suara yang terdengar bergetar.


Anton menatap Tasya dan meraih kedua bahu Tasya.

__ADS_1


"Aku minta maaf.. Aku sudah lama mencintai kamu. Dari tatapan pertama kita di ruanganku dulu. Namun, aku tidak berani mengatakannya. Aku rasa, ini lah waktu yang tepat dan aku yakin kamu akan menerima aku. Nyatanya aku salah, ternyata kamu sudah punya kekasih."


"Selamat malam," Ucap Tasya, seraya membuka pintu mobil tersebut dan melangkah masuk ke halaman rumah nya.


"Tas..!" Anton beranjak mengejar Tasya dan mencoba menghentikan langkah kaki Tasya dengan menghadang Tasya dan berdiri dihadapan wanita itu dengan tatapan yang memohon.


"Aku mohon, menikahlah denganku. Tinggalkan dia." Anton kembali meraih kedua bahu Tasya, untuk meyakinkan wanita dambaan nya itu.


Tasya tersenyum kecut, lalu ia memberanikan diri untuk menatap Anton.


"Tidak menjadi apa-apa bapak saja, saya sudah penuh dengan ancaman dan perlakuan tidak baik dari wanita yang sering bersama dengan bapak. Apalagi bila saya menerima bapak? Mungkin akan ada ancaman pembunuhan. Atau... Jangan-jangan saya benar-benar akan terbunuh. Pak, saya tahu hubungan bapak dengan Riyanti. Maaf, saya tidak bisa bersama bapak." Tasya menurunkan kedua tangan Anton dari pundak nya, lalu ia melangkah masuk kedalam rumahnya dan mengunci pintu rapat-rapat. Sedangkan Anton, lelaki itu terdiam membisu. Ia tidak menyangka bila hubungan isengnya dengan Riyanti diketahui oleh Tasya dan tidak menutup kemungkinan sudah diketahui oleh banyak karyawan nya di kantor.


"Apa Riyanti berkoar tentang dirinya dan aku?" Batin Anton.


"Mengapa Riyanti mengancam Tasya? Apa dia tahu bila aku menyukai Tasya?"


"Siapa lelaki yang akan meminang Tasya? Aku akan mencarinya.. dan aku akan mematahkan tulang-tulangnya. Tasya harus menjadi milik ku seutuhnya. Aku mencintai dia, dan tidak ada yang menolak ku selama ini.. Sombong sekali wanita ini." Batin Anton lagi.


Lalu dengan gontai Anton berjalan menuju ke mobilnya dan meninggalkan kediaman Tasya, karyawati pertama yang dengan tegas menolak cinta nya.


.


Banyu duduk menatap deburan ombak di tepi pantai. Ia meraih sebatang rokok terakhir dari bungkus nya, lalu membakar rokok tersebut dengan sebuah pemantik. Hatinya terasa patah dan kacau malam itu. Ia sengaja melarikan diri dari acara tersebut hanya untuk memenangkan hatinya yang sedang berperang batin antara akal sehat dan rasa cinta yang tengah ia rasakan pada Tasya. Wanita yang sama, yang membuat dirinya dan adik kandung nya jatuh cinta.


Tiba-tiba saja seorang gadis berusia sekitar lima belas tahun, dengan keranjang berisi bunga-bunga segar, menghampiri dirinya. Gadis itu menghentikan langkahnya tepat di depan Banyu yang sedang asik berdiam diri dengan sebatang rokok di tangan nya.


"Om.. beli bunganya om.." Ucap gadis itu dengan tatapan yang memohon.


"Kamu masih sekolah?" Tanya Banyu, yang kembali menatap gadis itu.


"Masih om."


"Kelas berapa?"


"baru lulus SMP om." Sahut gadis itu.


Banyu menghela nafas dalam-dalam dan menundukkan pandangan nya.


"Kenapa jam segini masih di luar?" Tanya Banyu lagi.


"Saya butuh uang buat menebus ijazah om. Disekolah, saya banyak tunggakkan om."


"Orang tuamu kemana? Apa masih ada?"


"Masih om. Bapak saya pengangguran, ibu saya hanya buruh cuci di rumah tetangga yang membutuhkan bantuan ibu saya om."


Banyu menatap gadis itu, mencoba mencari kejujuran di kedua mata gadis itu.

__ADS_1


"Kamu berapa bersaudara?" Banyu semakin ingin tahu.


"Lima om."


"Kamu anak ke berapa?"


"Pertama om. Terkadang saya cari uang untuk kebutuhan dapur juga om. Habisnya, uang dari ibu saya gak cukup buat sehari-hari. Makanya saya bantu cari uang om."


Banyu mematikan rokoknya dan kembali menatap gadis itu.


"Dimana rumah mu?"


"Tidak jauh dari sini om."


"Berapa tunggakan di sekolah?"


"Empat juta lima ratus ribu rupiah om."


"Saya beli semua bunga kamu. Ayo saya antar pulang."


"Om serius?"


"Ya.." Banyu beranjak dari duduknya dan berjalan di depan gadis itu.


"Om.. gak bohong kan? Saya mau di bawa kemana?"


"Tenang, saya bukan orang jahat. Kita pergi ke minimarket dulu. Baru saya antar kamu ke rumah kamu. Nanti saya bayar bunga-bunga itu di rumah mu. Kalau sekarang, saya khawatir kamu kenapa-kenapa dijalan." Tegas Banyu.


Gadis itu pun mengangguk, lalu ia mengikuti Banyu yang berjalan menuju ke mobilnya.


"Ini mobil om?"


"Iya."


"Bagus om."


Banyu tersenyum dan menatap gadis itu. Lalu ia membukakan pintu mobil itu dan mempersilahkan gadis itu untuk masuk kedalam mobilnya. Gadis itu pun memasuki mobil Banyu dan disusul oleh Banyu.


"Suatu saat, kamu akan memiliki mobil yang lebih bagus daripada mobil saya. Asalkan, kamu mau bersekolah dengan benar. Ngomong-ngomong siapa nama kamu?"


"Sintia om."


"Ok Sintia, saya Banyu. Keranjang bunga nya taruh saja di bangku belakang. Setelah ini kita ke minimarket dan masalah biaya menebus ijazah dan masuk sekolah di SMA biar om yang tanggung. Yang penting kamu sekolah, jangan berkeliaran di jalan seperti ini malam-malam. Bagaimanapun, kamu anak perempuan."


"Yang benar om?" Tanya gadis itu dengan mata yang berbinar.


"Ya.., saya tidak pernah ingkar janji. Makanya saya mau ikut kamu ke rumah kamu. Saya mau lihat, kamu berbohong atau tidak."

__ADS_1


"Siap om! Saya tidak berbohong kok om."


Banyu tersenyum lebar, lalu ia menyalakan mobil nya dan membawa gadis tersebut pulang ke rumah nya.


__ADS_2