Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
76. Harapan yang pupus


__ADS_3

"Sini kau! Masuk!" Dengan kasar, Anton menarik kerah kemeja Batik milik Putra dan mendorong nya masuk ke dalam ruang ICU dimana Alia sedang terbaring lemah. Beberapa perawat yang berjaga di ujung lorong pun berlari untuk mencegah Anton dan rombongan nya memasuki ruang ICU tersebut. Tetapi terlambat, lelaki itu dan rombongan nya sudah masuk dan berada di dalam ruangan itu.


"Pak.. ada apa?" Tanya perawat yang tampak panik dengan keributan yang di buat oleh Anton.


"Diam sus! Saya mau memberitahu lelaki ini hasil dari perbuatan nya!"


"Tapi pak, pasien sedang....


"Diam!" Bentak Anton, seraya menunjuk para perawat itu.


"Apa kalian tau bila anak saya begini karena di sebabkan oleh lelaki bajingan ini!" Tanya nya dengan tatapan penuh emosi.


"Tapi kamu teh jangan kasar juga sama anak saya!' Ibunya Putra masih saja mencoba melindungi anaknya.


"Diam! kau wanita tua! Kau tidak tahu apa-apa! Kau lihat anak ku, apa kalian puas melihat penderitaan anak ku!"


Kedua orang tua Putra terdiam, lalu mereka melihat Alia yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. Gadis malang itu bernafas menggunakan oksigen. Di pergelangan tangan kiri nya terlihat balutan perban yang tampak noda darah nya. Sedangkan tangan kanan nya tertancap jarum untuk transfusi darah. Di kaki Alia juga terlihat jarum infus yang tertancap untuk pemulihan tubuhnya.


"Apa kalian melihatnya!" Bentak Anton lagi.


Kedua orangtua Putra terdiam membisu dan tertunduk malu.


Oma yang sejak tadi bersikeras menjaga Alia, walaupun perawat sudah melarang nya berada di ruangan itu, pun beranjak dari duduknya. Lalu ia berjalan menghampiri Anton dengan air mata yang terjatuh di pipinya. Wanita tua itu menyerahkan secarik kertas, yang dipersiapkan Alia sebagai pesan terakhir nya, bila saja ia meninggal dunia karena aksi percobaan bunuh dirinya.


Anton meraih kertas tersebut dan membacanya dengan air mata yang mulai menetes di pipinya. Tubuhnya gemetar dan kedua lututnya terasa lemas. Mulai dari menangis tanpa suara hingga anton terisak karena membaca pesan Alia di atas secarik kertas itu. Sedangkan Putra yang sudah babak belur, terlihat penasaran dengan apa isi surat tersebut. Ketakutan itu semakin menjadi, setelah Anton selesai membaca surat itu. Ekspresi Anton begitu beringas, lelaki itu seperti siap untuk membunuh dirinya.


"Selamat malam, ada apa ini?" Beberapa security memasuiki ruangan itu.


"Pak... Pak... Tolong saya pak.." Putra merangkak dan memeluk salah satu kaki seorang security. Ia mencoba mencari perlindungan dengan siapa saja, ia tahu di tangan Anton kini dirinya tidak akan diberikan kesempatan untuk hidup lagi.

__ADS_1


Anton melangkah menghampiri kedua orang tua Putra. Lalu ia menyerahkan kertas yang bertuliskan pesan Alia, untuk di baca oleh kedua orangtua Putra.


"Kalian yang selalu membela anak kalian. Kalian baca ini. Agar kalian tahu, seperti apa hasil dari didikan kalian."


Kedua orangtua Putra saling bertatapan, lalu dengan ragu ibunya Putra meraih kertas itu dari tangan Anton.


"Pak, lebih baik diselesaikan di luar. Jangan disini. Kalau memang bapak sayang pada anak bapak. Anak bapak sedang mendapatkan perawatan intensif pak. Kondisinya kritis." Perawat mencoba mengingatkan Anton sekali lagi.


Namunnitu semua percuma. Ia seperti tidak mendengar apa pun. Lelaki yang selama ininterlihat gagah dan kuat itu pun terduduk diatas lantai, sambil meremas rambutnya sekuat tenanga. Ia menangis sejadi-jadinya atas apa yang menimpa anak semata wayangnya itu.


"Aliaaaaa..." Ia memanggil nama Alia dengan derai air mata yang terus membasahi pipinya.


Sedangkan kedua orangtua Putra yang baru saja selesai membaca pesan itu pun hanya bisa terdiam. Mereka menatap Putra dengan tatapan kecewa yang luar biasa. Bukan hanya Anton yang merasa hancur. Tetapi kedua orangtua Putra pun merasa dunia ini kiamat. Harapan dan kebanggaan mereka pada Putra pun lenyap seketika. Mereka benar-benar tidak menyangka di belakang mereka, Putra memiliki kelakuan yang sangat memalukan dan mencoreng nama keluarga mereka. Ibunya Putra terduduk lemas di atas lantai. Wanita tua itu pun menangis seraya menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.


"Jang.... ya Allah jang.. ibu tidak menyangka kamu seperti ini. Kamu yang ibu banggakan.. Ibu yang selalu menaruh harapan yang setinggi-tingginya padamu, ibu yang selalu membelamu, ibu yang selalu memberimu kasih sayang dengan harapan kamu dapat menjadi orang yang membanggakan.. Ternyata kenyataan nya tidak sama sekali."


Putra terdiam, baru kali ini ia mendapatkan kata-kata seperti itu dari ibunya. Selama ini ia selalu tumbuh dengan kata-kata puja dan puji, namun kali ini tidak.


Lagi-lagi Putra hanya mampu terdiam. Di hatinya mulai muncul rasa bersalah. Ketika tidak ada lagi satu orang pun yang membela dirinya. Bahkan ibunya yang selalu membela dirinya kini juga menyalahkan dirinya. Ia mulai berpikir bila dirinya benar-benar bersalah. Ia mulai berpikir dirinya sebenar-benarnya pecundang.


"Bu... pak... aku minta maaf..." Putra merangkak menghampiri kedua orang tuanya. Tetapi kedua orangtuanya bergeming dengan tatapan yang kecewa.


"Saya juga minta maaf pak.." Putra pun merangkak ke arah Anton yang terduduk lesu di atas lantai.


Lelaki itu pun bergeming. Ia terus menatap Putra dengan tatapan penuh dendam.


"Keluar sekarang atau kami memanggik polisi?" Tanya security yang sejak tadi sudah meminta mereka semua untuk menyelesaikan masalah di tempat lain. Satu persatu pun beranjak berdiri dan keluar meninggalkan ruangan itu, sesuai arahan security yang bertanggung jawab atas keamanan di rumah sakit itu. Kecuali Anton, lelaki itu terdiam membisu, ia masih duduk diatas lantai dengan wajah yang tampak seakan hidupnya telah kiamat.


"Anton.." Panggil oma, wanita tua itu berusaha membantu Anton untuk beranjak dari duduknya. Lelaki itu pun perlahan beranjak dari atas lantai. Lalu ia berjalan menghampiri Alia yang terbaring di atas ranjang. Ia menatap wajah putri nya yang tengah berjuang untuk hidup. Lalu ia menatap luka di pergelangan tangan Alia yang sudah di perban. Hatinya hancur sehancur-hancurnya. Harapan nya pupus sepupus-pupus nya. Seorang ayah mana yang tidak hancur kala melihat putri semata wayangnya terbaring lemah seperti itu karena ulah seorang lelaki brengsek yang telah menghancurkan masa depan putrinya?

__ADS_1


"Anton.." Panggil oma lagi. Wanita tua itu menggiring Anton untuk keluar dari ruangan itu. Anton pun menurut tanpa bantahan sedikitpun. Ia berjalan meninggalkan ruangan itu dengan wajah yang terluka.


"Selesaikan masalah inj, bagaimanapun mau mu." Bisik oma kepada Anton.


Anton menatap wanita yang telah melahirkan dirinya tersebut. Lalu ia memeluk ibunya itu dengan erat.


"Anton nitipi Alia ya mam." Bisik nya.


"Ya.. selesaikan masalah ini."


"Iya mam." Ucap nya.


Anton melepaskan pelukan nya dari tubuh oma. Lalu ia menatap Putra dan kedua orangtuanya. Ia juga menatap semua orang yang berada disana satu persatu. Tatapan nya yang misterius membuat satu persatu orang yang di tatap olehnya merasa gentar dan cemas menunggu keputusan apa yang akan diambil oleh lelaki itu.


"Mari kita ke kantor polisi," Ucap Anton dengan tegas.


Deg!


Ucapan Anton barusan membuat Putra dan kedua orang tuanya mendadak cemas. Mereka tidak mau masalah ini di serahkan ke yang berwajib. Karena sudah pasti Putra akan di hukum sesuai dengan tuntutan yang diinginkan Anton.


"Pak.. tapi.. tidak bisakah kita selesaikan secara kekeluargaan? Saya bersedia untuk menikahi Alia." Putra pun bertekuk lutut dihadapan Anton.


"Menikahi putri ku?" Anton tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya apa yang baru saja di ucapkan oleh Putra.


"Iya pak.. saya bersedia berubah dan bertanggung jawab. Saya akan menyayangi Alia, dan meratukan nya."


Anton kembali tersenyum, lalu emosinya pun kembali tersulut.


Bug!

__ADS_1


Ia mendaratkan pukulan tepat di batang hidung Putra. Darah segar pun kembali keluar dari hidung Putra yang terkulai di atas lantai, dan seketika Putra tak sadarkan diri.


__ADS_2