
Ting! Tong!
Bell berbunyi di rumah Anton. Seorang asisten rumah tangga keluar dari kamarnya dan beranjak ke ruang depan rumah mewah itu untuk membukakan pintu rumah dan melihat siapa yang mengunjungi rumah itu di jam yang mulai larut malam ini. Asisten tersebut langsung tersenyum ramah, kala melihat Banyu berdiri di depan pintu yang baru saja dibukakan oleh asisten tersebut.
"Ada bapak?" Tanya Banyu berbasa basi.
"Oh, sebentar ya pak. Maaf dengan bapak siapa?" Tanya asisten rumah tangga itu.
"Bik, biarkan tamu ku masuk," Ucap Anton yang baru saja muncul di ruangan depan.
"Ah, baik pak." Asisten rumah tangga itu pun menggeser tubuhnya dan mempersilahkan Banyu untuk memasuki rumah dengan cat yang dominan putih tersebut.
Banyu tersenyum dan menghampiri Anton yang juga tersenyum dan menghampiri dirinya.
"Apa kabar bro.." Anton memeluk Banyu dengan erat. Pun dengan Banyu yang membalas pelukan mantan kakak kelas, sekaligus sahabat nya itu.
"Baik-baik.. apa kabar?" Tanya Banyu kembali.
"Baik. Silahkan.." Anton melepaskan pelukan nya dan mempersilahkan Banyu mengikuti dirinya ke ruang tamu rumah tersebut. Banyu mengangguk dan mengikuti langkah kaki Anton yang terlihat begitu gagah seperti biasanya.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di ruang tamu yang cukup luas. Anton mempersilahkan Banyu untuk duduk di sofa mahal miliknya, yang juga ia pesan dari Banyu sendiri. Banyu tersenyum puas kala melihat sofa yang Anton pesan padanya masih terlihat awet dan kokoh.
"Masih bagus." Ucap Banyu seraya mencoba empuknya dan kokoh nya sofa tersebut dengan menekan busa sofa itu dengan tangan nya.
"Itulah yang aku suka darimu. Apa saja yang kau jual, itu sangat berkwalitas. Harga sebanding dengan kwalitas. Bukan begitu bro?"
Banyu tersenyum menanggapi ucapan Anton.. Lalu ia mencoba melihat ke sekeliling ruangan tersebut. Terlihat lukisan-lukisan mahal tergantung di dinding ruangan. Serta guci-guci yang sengaja di import dari luar negeri. Disana juga terpampang jam dinding raksasa berbentuk box yang juga berasal dari negara Eropa.
"Menarik sekali jam nya." Banyu menunjuk kearah jam yang berdiri di atas lantai marmer itu.
"Ah.. nanti kita bahas, kau mau minum apa?"
Banyu tersenyum dan menatap asisten rumah tangga Anton yang berdiri disana.
"Kopi saja," Ucap Banyu.
"Baik, kopi dua ya bik." Pinta Anton pada asisten nya itu.
"Baik pak," Asisten rumah tangga itupun langsung bergegas menuju ke dapur, untuk membuatkan dua gelas kopi, sesuai dengan perintah majikan nya.
Anton beranjak duduk di sofa, tepat di depan Banyu yang sedang menatap dirinya. Terlihat jelas di sorot mata Banyu yang menantikan cerita dari Anton tentang Tasya. Itu juga yang membawa dirinya datang ke rumah Anton, walaupun sudah menjelang larut malam.
"Ada apa?" Tanya Banyu yang tidak sanggup menahan rasa penasaran nya.
"Wow.. wow.. wow.. sangat agresif dan terburu-buru." Anton tertawa geli dan di balas tawa juga oleh Banyu yang terlihat mulai salah tingkah.
"Kopi belum keluar, nanti saja kita bahas. Ada kopi, maka ada cerita. Lebih baik kita membahas masalah pesanan ku untuk kantor yang di Semarang. Bagaimana progres nya?"
"Ah.. tinggal packing dan diantar oleh container kami. Besok sudah mulai di antar ke tujuan nya." Terang Banyu.
"Wow.. cukup cepat ya... hahahaha.. saya senang berbisnis denganmu Banyu."
"Untuk kakak kelas tersayang, saya upayakan secepatnya."
"Hahahaha.. bisa saja kau ini."
"Oh iya, bagaimana wanita-wanita?" Sambung Anton.
"Wanita?" Banyu menatap Anton. Ia paham maksud Anton yang bertanya seperti itu pada dirinya. Karena Anton cukup tahu kisah Banyu yang baru saja menikah dan terpaksa harus sendiri lagi, karena sang istri harus berpulang ke rahmatullah. Dan kini, Banyu adalah pria bebas, sudah pasti Anton berasumsi bila Banyu mulai happy dengan kehidupan nya yang bebas, tanpa pasangan yang sah. Dalam arti lain, tidak mungkin ada lelaki yang tahan dengan kesendirian.
__ADS_1
Terkadang manusia berpikir tentang orang lain menurut pikiran nya atau kebiasaan nya sendiri. Anton yang tidak bisa lepas dari wanita, menganggap Banyu akan melakukan hal yang sama seperti apa yang telah ia lakukan. Yaitu bersenang-senang dengan banyak wanita.
Banyu hanya tersenyum, ia merasa percuma bila menjelaskan kepada Anton, kalau dirinya tidak pernah menyentuh wanita manapun setelah kepergian istrinya. Itulah yang sebenarnya dilakukan oleh Banyu. Karena Banyu tahu, ia tidak boleh melakukan hal itu, karena wanita adalah diatas segalanya. "Menghormati wanita sama dengan menghormati ibumu sendiri." Begitulah pesan dari kedua orang tua Banyu.
Banyu sangat menghormati kedua orangtuanya, terutama ibunya. Walaupun ia tahu, orang tuanya hanya memikirkan Putra, adik nya saja. Tetapi tugasnya sebagai anak tetap ia lakukan, semua itu karena Banyu memiliki hati yang begitu luas.
"Ah.. biasalah.." Hanya itu yang keluar dari mulut Banyu, untuk menjawab pertanyaan Anton tentang wanita.
Tak lama kemudian, muncullah asisten rumah tangga dari arah dapur dengan membawa baki dan makanan ringan untuk dihidangkan di atas meja ruang tamu itu. Setelah selesai, asisten tersebut meninggalkan ruang tamu itu dan membiarkan Anton dan Banyu berbincang.
"Silahkan.." Anton mempersilahkan Banyu untuk menyicipi makanan kecil dan kopi pesanan nya. Banyu hanya tersenyum dan mengangguk, lalu ia meraih gelas kopinya dan menyeruput nya dengan perlahan. Setelah itu ia kembali meletakkan gelas itu diatas meja dan kemudian menatap Anton dengan seksama.
"Jadi?" Tanya Banyu seraya tersenyum penuh arti.
Anton tertawa geli dan membalas tatapan Banyu.
"Kamu ingat Tasya kan?" Tanya Anton, memulai pembicaraan nya pada Banyu. Walaupun ia tahu, Banyu tidak akan melupakan wanita yang pernah mendampingi Banyu ke Semarang.
"Ingat," Ucap Banyu dengan sikap yang mencoba biasa saja. Padahal jantung nya berdegup kencang kala siapa saja atau dirinya mengingat sosok seorang Tasya.
"Kamu tahu kan aku sangat menyukai dirinya?" Tanya Anton lagi.
Banyu terdiam beberapa saat. Lalu ia mencoba mengangguk dan tersenyum tipis.
"Ya, kamu kan pernah mengatakan nya padaku bro."
"Nah.. aku sedang dekat dengan nya dan dia adalah calon istriku."
Deg!
Walaupun Banyu tahu, Anton terus berkhayal bila dirinya adalah calon suami Tasya, tetapi tetap saja jantung nya berdegup kencang, setiap Anton membuat pengakuan seperti itu.
"Maaf bro, Tasya pernah bilang bila ia sudah akan bertunangan saat aku dan dia di Semarang. Apakah yang dia maksud adalah dirimu?" Banyu terpaksa melayangkan pertanyaan itu, untuk membunuh rasa penasaran yang kian menguasai hatinya.
"Hah?" Anton tampak terkejut, ia tidak tahu bila Banyu tahu, kalau Tasya bertunangan. Sedangkan orang terdekat Tasya, Nur, tidak tahu menahu tentang pertunangan itu.
"Tasya bilang begitu padamu? Seberapa dekat kamu dengan Tasya?" Anton mulai menatap Banyu dengan tatapan yang menyelidik.
"Maaf, jangan salah paham dulu. Kami hanya berhubungan saat di Semarang saja. Setelah itu tidak ada lagi." Jelas Banyu.
"Hubungan seperti apa?" Desak Anton.
"Ya.. kami sempat makan berdua di salah satu restoran dan membicarakan sedikit hal pribadi. Dia berbicara tentang nya dan aku berbicara tentang wanita tang aku cintai." Jelas Banyu. Ia sengaja mengatakan "Tentang wanita yang ia cintai" Agar Anton tidak salah paham pada dirinya.
"Oh.." Anton mengangguk dan tersenyum. Ia paham bila Banyu dan Tasya hanya sebatas kenal saja. Lalu tatapan matanya pun terlihat mulai kembali bersahabat.
"Ya.. aku tunangan nya."
Deg!
Banyu benar-benar bingung dibuat Anton. Walaupun akal sehatnya paham bila Anton sedang mengarang cerita. Hanya saja, Anton terlihat begitu meyakinkan. Sehingga ia mulai merasa khawatir dengan obsesi Anton pada Tasya yang akan bertunangan dengan Putra, adiknya.
"Oh begitu..." Banyu hanya bisa mengangguk dan berpura-pura paham saja.
"Hari ini dia mendapatkan masalah. Ada seseorang di kantor yang merekam dirinya berganti pakaian di toilet kantor. Lalu menyebarluaskan nya ke seluruh karyawan. Hal ini aku seret ke jalur hukum. Aku tidak mau wanita ku di permalukan."
"Hah? Tasya? Bagaimana keadaan nya sekarang?" Banyu terlihat sangat khawatir denga berita yang baru saja ia dengar.
"Dia baik-baik saja."
__ADS_1
"Siapa pelakunya?" Tanya Banyu yang mulai terlihat geram.
"Sekretaris ku. Si Riyanti."
Banyu menghela nafas panjang, kala Anton menyebutkan nama Riyanti. Karena Banyu tahu betul kedekatan Anton dan Riyanti. Sudah dapat dipastikan bila Riyanti memiliki dendam pada Tasya yang di sukai oleh Anton.
"Latar belakang?"
"Asmara." Sambung Anton seraya tertawa geli.
"Video nya bagaimana?" Tanya Banyu lagi.
"Aku sudah meminta seluruh karyawan untuk menghapus nya."
"Apa kau sempat melihatnya?" Tanya Banyu.
"Ya.. di kantor polisi dan ternyata dia.....
"Cukup.." Potong Banyu yang mulai terpancing emosi. Ia tidak mau Anton menggambarkan betapa indahnya tubuh Tasya di depan dirinya.
"Hahahhaa.. kau ini kenapa?"
"Tidak apa-apa. Hanya saja, katamu dia tunanganmu. Tidak baik kamu menjabarkan tubuhnya di depan ku."
Anton terdiam, ia mulai merasa malu dengan Banyu yang bisa menghormati Tasya, walaupun Banyu tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita yang ia cintai itu.
"Terus? Apa lagi yang mau kamu bicarakan tentang nya?"
Anton terlihat mulai serius. Ia menatap Banyu dengan seksama. Lalu ia menghela nafas panjang dan menundukkan wajahnya.
"Aku risau, karena ada lelaki lain yang ia cintai."
"Maksudnya?" Tanya Banyu yang terlihat tidak sabar dengan cerita Anton.
"Ya.. ada lelaki yang berusaha mendekati dirinya. Yang merusak hubunganku dengan nya."
Banyu tahu bila orang yang dimaksud adalah Putra, adiknya. Tetapi Banyu tidak tahu bila Anton tahu sosok Putra itu sendiri.
"Apakah kamu tahu bila lelaki itu ada sebelum kamu mendekati dirinya?"
Anton mengernyitkan dahinya dan menatap Banyu dengan tatapan yang begitu menyelidik.
"Ah, maksudnya apakah orang itu ada sebelum kamu ada atau orang itu muncul setelah ada kamu." Terang Banyu.
"Tampaknya kamu tahu betul tentang Tasya. Apakah orang itu kamu?"
Banyu tersentak saat Anton nenuduh dirinya.
"Bu-bukan begitu bro. Aku sebagai orang luar hanya bertanya. Karena kamu sudah membicarakan hal ini padaku, jadi wajar saja bila aku menyumbangkan pikiran dan kemungkinan sesuai hematku." Banyu mencoba menyangkal dengan bahasa yang terpelajar.
Anton kembali menghela nafas dan terus menatap Banyu dengan tatapan yang mencoba menilai lelaki itu.
"Kau memanggilku kesini karena butuh teman bicara, tetapi aku sampai disini, kau menuduh ku." Keluh Banyu.
"Hahahaha.. maaf maaf.. namanya aku mencintai dia. Aku sangat takut kehilangan dia. Apalagi di tikung sahabat sendiri." Anton mesih berusaha menyinggung Banyu, hanya karena ia ingin melihat ekspresi wajah Banyu.
Banyu tersenyum, dan meraih gelas kopinya.
"Kau tak asik!" Protes nya.
__ADS_1
"Hahahaha.. ok skip, kita bicara yang lain saja." Kali ini Anton mulai merasa tidak ada hubungan apa-apa antara Banyu dan Tasya. Ia kembali mencair dan berusaha mengalihkan pembicaraan, hanya untuk membuat Banyu kembali nyaman bersama dirinya.