Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
96. Aroma kebebasan


__ADS_3

8 bulan kemudian.


"Saudara Putra." Panggil seorang sipir yang sedang membuka kunci sel tahanan dimana Putra menghabiskan masa tahanan nya selama tiga tahun belakangan ini.


"Ya pak," Sahut Putra, seraya beranjak dari duduk nya. Putra tampak sangat bersemangat pada hari ini, karena hari ini adalah hari kebebasan nya.


"Ikut saya." Ucap sipir penjara dengan ekspresi wajah yang terlihat datar.


"Iya pak." Sejenak Putra menatap teman-teman nya yang satu sel dengan dirinya. Selama tiga tahun di sana, tentu saja banyak cerita yang terukir bersama narapidana lain nya. Dinding sel menjadi saksi bisu, entah berapa kali penghuni yang berisi delapan orang tersebut, datang silih berganti.


"Baik-baik di luar bro.." Ucap seorang narapidana, seraya memeluk Putra dengan erat.


"Kalian juga ya." Sahut Putra seraya menepuk bahu sang narapidana.


"Bang, kalau di luar jangan lupakan kita ya." Ucap seorang narapidana yang masih berusia sembilan belas tahun.


"Tenang saja." Sahut Putra seraya tersenyum.


"Nak, jangan tinggalkan sholat. Jangan lupa kita disini untuk bertaubat. Kalau sudah keluar, jangan pernah lupa, kalau hukuman lebih berat. Jadi, baik-baik di luar dan jangan pernah tinggalkan sholat mu," Terpidana seumur hidup karena telah membunuh tetangganya itu beranjak dari duduk nya. Lalu ia memeluk Putra dengan erat. Lelaki itu hampir seusia dengan abah, dan sudah di anggap bapak sendiri oleh Putra.


"Baik pak.. saya pamit dulu," Ucap Banyu, seraya memeluk erat tubuh renta itu.


"Dek, rajin-rajin lah kau nengok kami disini. Jangan lupa kau belikan kami rokok ya!" Ucap narapidana yang di hukum selama dua tahun, karena telah mencuri sesuatu dari rumah tetangganya. Lelaki bernama Togar, dengan tubuh yang tegap dan kepala plontos itu terpaksa mencuri. Karena saat itu istrinya akan melahirkan anak keempat mereka. Togar baru saja di PHK dari pekerjaan nya dan disudutkan oleh keadaan yang membuat dirinya gelap mata.


"Siap bang, Insya Allah." Sahut Putra yang beranjak memeluk lelaki bertubuh tegap itu.


"Kamu teh jangan lupa ya Put, kalau saya bebas jangan tidak mau dihubungi. Saya teh satu kampung sama kamu." Ucap Asep yang di hukum karena membegal di jalan Kota Jakarta. Asep adalah perantauan yang tengah putus asa, sudah beberapa bulan ia berada di Jakarta, tetapi tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Saat itu Asep salah pergaulan dan di ajak untuk membegal. Sialnya, lelaki itu tertangkap warga dan nyaris saja nyawanya melayang. Sedangkan teman Asep dapat lolos dengan sepeda motor yang mereka gunakan untuk memburu para korban.


"Iya Sep, kamu teh jangan khawatir." Putra tersenyum dan memeluk Asep.


"Lu jangan lupain kita. Awas saja kalau lupain... ketemu di jalan, gue gundulin lu..!" Canda seorang narapidana dengan logat Betawi yang kental.


"Tenang Pik," Sahut Putra seraya tersenyum.


"Nek sukses ojok lali karo aku. Rekrut aku jadi anak buah mu toh Put.. Put.." Ucap mas Leo yang memiliki tatto kelinci di lengan nya. Lelaki itu terpaksa nendekam di penjara karena kesalahan nya sendiri. Beberapa tahun yang lalu ia adalah seorang kuli bangunan di sebuah komplek mewah. Karena silau melihat harta benda milik rumah yang berada tepat disebelah rumah yang tengah ia bangun, Leo pun memanfaatkan situasi sepi di rumah yang menjadu target nya. Bukan tanpa alasan, Leo melakukan itu semua karena desakan dari kampung halaman nya. Leo memiliki tanggung jawab yang luar biasa. Ibu nya sakit, sedangkan anak-anaknya butuh biaya untuk masuk sekolah.


"Tenang mas.." Sahut Putra seraya memeluk Leo yang terlihat sangat menyayangi Putra.

__ADS_1


Kini Putra sudah berpamitan dengan seluruh penghuni sel itu. Ia menatap teman-teman satu sel nya itu dengan tatapan yang haru. Lalu ia melambaikan tangan nya dan berjalan meninggalkan sel tersebut, mengikuti sang sipir penjara yang sudah menunggu dirinya.


Putra berjalan ke kantor penjara, untuk melengkapi berkas dan mengambil surat kebebasan nya. Setelah semua urusan selesai, ia pun diberikan kemeja putih dan celana yang sudah di persiapkan oleh pihak penjara. Sebagai hadiah untuk para narapidana yang akan meninggalkan Rumah tahanan itu.


Setelah mengganti pakaian, Putra pun di bawa ke gerbang Rumah Tahanan itu. Melihat gerbang setinggi empat meter dengan penjagaan yang ketat itu, bagaikan melihat harapan baru. Dibalik gerbang itu adalah dunia kebebasan. Tinggal selangkah lagi Putra dapat menghirup wangi nya udara kebebasan.


Setelah memberikan tanda tangan dan juga memperlihatkan surat kebebasan, Putra pun di izinkan untuk meninggalkan Rumah Tahanan itu lewat pintu besi yang akan segera di bukakan oleh sipir.


Cklekkk!


Kunci pun di buka dan pintu itu di dorong ke arah luar. Terlihat sinar matahari pagi begitu indah membias dari luar. Putra pun melangkah keluar setelah mengucapkan terimakasih kepada bapak sipir yang telah membukakan pintu untuk nya.


Putra menghirup aroma kebebasan dalam-dalam seraya memejamkan kedua matanya. Lalu ia mencoba mencari sosok yang ia kenal diantara beberapa orang yang tengah menunggu kebebasan sanak saudaranya. Hingga matanya tertuju pada seorang wanita tua dan lelaki renta yang sedang menghampiri dirinya.


"Ya Allah jang... Akhirnya kamu bebas."


"Ambu..!" Putra memeluk ambu dengan erat. Air mata mengalir deras tak tertahankan.


"Jang... apa kabar mu? Semoga setelah ini kamu lebih baik ya jang. Akhirnya kamu bisa keluar juga." Ucap abah yang juga menangia terharu.


Mereka bertiga pun saling berpelukan, melepaskan rindu yang begitu menyiksa diantara orang tua dan anak nya.


Putra tertegun saat melihat Rafis berlari menghampiri dirinya. Saat itu juga ia melepaskan pelukan nya dari abah dan ambu. Lalu ia menyambut Rafis dengan ragu.


"Rafis," Gumam nya. Bocah laki-laki itu kini baru saja naik kelas empat di sekolah dasar. Terlihat sekali banyak perubahan yang ada pada Rafis. Anak itu semakin tinggi dan tampan. Dengan ragu, Putra membalas pelukan Rafis yang terasa begitu erat memeluk tubuhnya.


"Ra-rafis.." Gumam nya lagi.


Mengapa bocah itu tidak melupakan dirinya? Padahal tidak sekalipun Rafis datang menjenguk Putra.


"Kenapa Rafis masih mengenal ku ambu?" Tanya Putra dengan ekspresi wajah yang tak percaya.


"Jang, a'a mu tidak pernah mengajarkan kebencian. Bahkan foto mu masih ada di rumahnya. Rafis terus mengenalmu dan kenangan mu dengan nya lewat foto itu. Bersyukurlah jang... a'a mu itu orang baik." Terang ambu.


Putra terdiam, terasa sesak di dadanya. Selama tiga tahun ia merenung tentang kesalahan nya dan egonya sebagai manusia dari balik jeruji besi, ia pun sudah menyadari apa yang salah dari dirinya sendiri.


"Kamu sudah besar nak.." Ucap Putra seraya menatap kedua mata Rafis yang masih tampat tetap sama seperti dulu kala menatap dirinya.

__ADS_1


"Iya pa... papa apa kabar?" Tanya bocah polos itu.


"Baik sayang... Papa rindu sekali padamu." Putra kembali memeluk Rafis dengan erat. Rasa haru dan bahagia menyeruak masuk kedalam kalbunya. Ia benar-benar merasa bersyukur, dikala ia melakukan kesalahan, tetapi tidak satupun keluarganya mau meninggalkan dirinya. Bahkan dukungan selalu mengalir kepada dirinya yang jelas-jelas terlalu egois.


"A'a teh mana ambu?" Tanya Putra saat ia teringat dengan sosok Banyu, di balik rasa yang benar-benar merasa bersalah pada kakak kandungnya itu.


"Banyu teh lagi dirumah sakit. Kami kesini sama supir."


"Siapa yang sakit ambu? Tasya?" Putra tampak khawatir.


"Bukan sakit atuh jang, tapi Tasya teh mau melahirkan."


"Hah?" Putra tampak terkejut, pasalnya dirinya tidak pernah mendengar bila Tasya sedang mengandung keponakannya.


"Iya jang, ato kita langsung ke rumah sakit."


"Tapi ambu..."


"Kenapa? Tidak apa-apa atuh."


"Apa Tasya mau melihat ku?" Tanya Putra lagi, dengan wajah yang terlihat begitu takut saat akan menjumpai Tasya.


"Tasya teh bukan tipe orang seperti itu jang. Kamu teh tenang saja. Dia orang baik dan pemaaf. Yang lalu teh biarkan saja berlalu. Yang terpenting saat ini teh kamu harus tahu, bila kami semua, keluarga yang sangat menyayangi kamu jang.." Ucap abah.


Putra terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum tipis dan menatap ambu, abah dan Rafis, satu persatu.


"Baik, kita ke rumah sakit. Ayo kita berangkat!" Ucap Putra seraya menggendong Rafis dan berjalan ke parkiran Rumah Tahanan itu.


"Woghhh.. kamu berat sekali sekarang!"


"Papa juga kumisan sekarang!" Balas Rafis.


"Hahahahaa.. tapi ganteng kan...?"


"Gantengan dulu deh."


"Hahahhaa.. ok, nanti papa akan cukur kumis dan jenggot nya. Biar kembali ganteng lagi seperti dulu," Ucap Putra dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia dengan Rafis yang sedang berada di gendongan nya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa bila pada akhirnya aku tidak dapat menjadi papa mu. Tetapi, aku tetap bisa memiliki kamu, walaupun hanya sebatas kamu menjadi keponakan ku." Batin Putra yang terus menatap Rafis dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


__ADS_2