Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
113. Pamit


__ADS_3

Waktu yang ditakuti oleh Eijaz pun tiba. Mau tidak mau, Eijaz harus melepaskan sang ayah untuk kembali ke tanah air. Eijaz berdiri di hadapan Putra yang hendak masuk ke pintu keberangkatan di bandara. Sambil mengusap air mata, bocah laki-laki itu memberikan buah tangan untuk ayahnya. Dengan raut wajah yang sedih, Putra menjatuhkan lututnya di atas lantai dan lalu menerima pemberian dari putra semata wayangnya itu.


Sedangkan Alia, tampak menahan air matanya yang nyaris saja terjatuh. Disamping kebersamaan dirinya dan Putra beberapa hari ini sangat berkesan, ia juga sedih melihat pemandangan ayah dan anak itu yang seperti tidak rela untuk saling meninggalkan.


"Papa janji, papa akan kembali lagi. Terima kasih buah tangannya ya Eijaz," Ucap Putra dengan ujung suara yang tercekat.


"Iya papa, aku akan menantikan papa di sini." Ujar Eijaz.


Putra tersenyum dan memeluk Eijaz dengan erat. Setelah puas melepaskan segala rasa di hatinya dengan Eijaz, kini Putra beranjak berdiri dan menatap Alia yang kini berdiri di hadapannya. Sorot mata lelaki itu terlihat sendu, pun dengan Alia yang tampak bersusah payah menahan air mata yang terus mendesak keluar.


"Hati-hati ya.." Ucap Alia.


"Terima kasih, pasti.." Sahut Putra. Lalu tanpa banyak kata, mereka pun saling berpelukan dengan erat.


"Alia, ingat janji ku, aku akan kembali apapun yang terjadi. Setelah ini aku akan mendatangi papa mu dan meminta maaf padanya. Aku ingin kita menikah..."


"Maksudmu?" Alia melepaskan pelukannya dan menatap Putra dengan tatapan tak percaya.


"Alia, maukah kamu menikah denganku?" Putra merogoh mantelnya dan mengeluarkan kotak cincin berwarna merah hati. Ia menyempatkan untuk membeli cincin itu kemarin malam, saat detik-detik toko perhiasan yang ia tuju akan tutup. Walaupun sempat berdebat dengan pemilik toko, namun ia berhasil meyakinkan bila ia membeli cincin untuk melamar seseorang yang sangat ia cintai. Yaitu ibu dari anak laki-laki nya. Tentu saja hal itu membuat pemilik toko menjadi luluh dan membiarkan Putra membeli salah satu koleksinya yang terpampang di jejeran etalase perhiasan di toko itu.


Alia terperangah, ia menatap cincin itu dan lalu menatap Putra dengan tatapan tak percaya. Lalu ia melihat Eijaz yang tampak sangat berharap bila ibunya itu menerima lamaran dari sang Ayah.


"Aku tidak akan bermain-main lagi. Aku sangat mencintaimu dan anak kita. Izinkan aku menjadi bagian dari kalian dan membahagiakan kalian."


Alia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Air mata yang sedari tadi ia tahan, kini berlinang di pipinya.


"Apa kamu serius?" Tanya Alia yang masih mengira ini hanyalah candaan semata.


"Aku serius." Tegas Putra.


"Ma..." Eijaz tampak memohon untuk Alia menerima lamaran dari sang ayah. Sedangkan Putra tampak gelisah menunggu jawaban dari Alia.


"Ya, aku mau." Ucap Alia tanpa keraguan.

__ADS_1


"Yeay!" Pekik Eijaz. Sedangkan Putra langsung memeluk Alia dengan erat dan mengucapkan terima kasih kepada Alia. Semua mata menatap mereka dan sebagian dari mereka menepuk tangan, tanda mereka juga merasa bahagia dengan apa yang tengah mereka saksikan pada siang ini.


Keluarga kecil itu pun berpelukan, tangis dan tawa pun mewarnai perpisahan mereka pada hari ini.


.


Di atas pesawat, Putra termenung dan mulai merasakan sepi yang melanda hatinya. Tekatnya pun kembali membara, bila dirinya harus bisa memiliki Alia dan Eijaz, dengan ataupun tanpa restu dari Anton. Apapun konsekuensinya akan ia hadapi, meskipun harus mempertaruhkan nyawanya. Kini, tujuan hidup pria berusia 40 tahun itu hanyalah keluarga. Adanya Eijaz dan penyesalan masa lalu lah yang membuat ia merasa bila dirinya kini harus benar-benar berubah.


"Sesampainya di Jakarta, aku harus memberitahukan kepada keluargaku bila aku memiliki seorang anak dari Alia. Dan... setelah itu aku akan menemui Anton, terserah dia setuju atau tidak, aku akan kembali ke pelukan Alia dan anakku Eijaz," Batin nya.


Dua puluh sembilan jam perjalanan, akhirnya Putra tiba di bandara Soekarno-Hatta. Tidak ingin membuang waktu, Ia pun bergegas untuk keluar dari terminal kedatangan dan menumpangi sebuah taksi yang akan membawa dirinya ke kediaman Banyu. Putra memang sengaja tidak kembali ke Jepara, ia ingin sekali langsung bertemu dan mengabarkan kepada keluarganya prihal Alia dan Eijaz. Sedangkan ambu dan abah, sudah lebih dahulu ia kabarkan dan berjanji bertemu di Jakarta.


Saat di perjalanan, Putra menyempatkan diri memberikan kabar kepada Eijaz dan Alia yang memang sedang menunggu kabar darinya.


"Halo sayang..." Sapa Putra kepada Alia, Alia pun tersenyum manis dan pipinya mulai tampak memerah, karena sapaan 'sayang' dari Putra.


"Halo papa!" Seru Eijaz, yang tiba-tiba saja muncul di layar handphone.


"Hai anak ganteng..., sedang apa kamu?"


"Papa sudah sampai Jakarta, sekarang papa sedang berada di dalam taksi dan menuju ke rumah Om Banyu dan tante Tasya."


"Siapa mereka?" Tanya Eijaz yang memang belum mengenal seorangpun dari keluarga papanya.


"Mereka adalah kakak kandung dan kakak ipar papa. Nanti, kapan-kapan, papa akan mengajak kamu ke Jakarta untuk menemui mereka."


"Benar ya papa.."


"Iya.. pasti." Janji Putra.


"Papa sangat rindu denganmu Eijaz."


"Kami juga rindu sama papa," Ucap Eijaz seraya tersenyum kearah kamera.

__ADS_1


"Dan aku sangat rindu denganmu bidadariku." Sambung Putra, yang ditujukan untuk Alia.


Alia kembali tersenyum tanpa mampu berkata-kata, matanya terus menatap kelayar ponselnya dengan sorot mata yang terlihat sama rindunya dengan apa yang dirasakan oleh Putra. Namun tiba-tiba ia mengerutkan keningnya, saat mendengar hentakan keras dan disusul dengan sorot kamera ponsel yang menangkap atap taksi yang terlihat remuk. Terdengar rintihan sendu yang terus mengucapkan nama sang Pencipta.


"Allah.. Allah... Allah.. Allahu akbar.."


'Putra!" Panggil Alia dengan panik. Disampingnya terlihat Eijaz yang terlihat tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Putra!" Panggil Alia lagi.


Namun rintihan itu tak terdengar lagi dan terganti dengan riuh suara yang panik dan memanggil supir taksi dan penumpangnya. Tidak hanya sampai disitu, terdengar juga amukan orang-orang pada supir bus yang mengalami rem blong yang telah menyebabkan kecelakaan dan menghantam taksi yang di tumpangi oleh Putra.


"Woi bantu keluar korban nya! bantu keluar! Amankan supir taksinya! Amankan dia! Nanti lari!"


"Mommy, apa yang terjadi?" Tanya Eijaz.


"Putra!" Pekik Alia seraya memeluk Eijaz dan menangis histeris.


.


Taksi yang ditumpangi oleh Putra melaju dengan kecepatan maksimum di jalan tol yang terlihat ramai lancar. Lagu yang berjudul 'Selamat jalan kekasih' dari penyanyi lawas Rita efendy sedang terputar di radio taksi tersebut. Semua terlihat baik-baik saja, hingga sebuah bus berlari dengan kecepatan tinggi yang menuju kearah taksi tersebut. Sang supir sudah berusaha untuk menginjak rem, namun usahanya sia-sia. Rem bus yang sedang ia kendarai itu mengalami rem blong. Karena panik dan pecah konsentrasi, supir bus itu tidak sempat untuk membanting stir ke pinggir jalan dan beberapa detik kemudian, bus itu menghantam taksi yang ada di depannya.


Brakkkkkk...!


Taksi di depannya itu pun terhantam keras dari arah belakang taksi itu. Taksi itu pun hilang kendali dan terputar beberapa kali hingga menabrak pembatas jalan. Taksi itu pun tersangkut dipembatas jalan, dan ditambrak sekali lagi oleh bus yang masih belum bisa berhenti tersebut, hingga bus itu menabrak beberapa mobil lain nya dan berakhir terguling di tepi jalan.


Pemandangan di jalan tol pada siang menjelang sore hari ini pun terlihat memilukan. Banyak korban jiwa yang bergelimpangan di atas aspal, diantaranya masih ada yang bernafas dan merintih menahan rasa sakit yang luar biasa.


'Selamat jalan kekasih... Kau lah cinta dalam hidupku...'


'Aku kehilanganmu.. untuk selama-lamanya.'


Pandangan mata Putra yang terjepit diantara kursi dan remukan body taksi mulai meredup. Ia masih sempat mendengar suara Alia yang terus memanggil dirinya dengan panik.

__ADS_1


"Allah.. Allah... Allah.. Allahu akbar.." Rintihnya.


__ADS_2