Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
79. Roller coaster


__ADS_3

"Astaghfirullahalazim!" Tasya menepuk dadanya pelan saat ia hampir saja menabrak tubuh Banyu yang berdiri tepat di belakang nya.


Banyu hanya diam tanpa ekspresi sama sekali dan menatap Taysa yang terus menepuk dadanya.


"Ngapain malam-malam begini di dapur mas?" Tanya Tasya seraya mencoba memberanikan diri menatap lelaki yang tadi sore baru saja menikahi dirinya.


"Aku mendengar suara di dapur, aku pikir ada apa." Sahut Banyu tanpa ekspresi di wajahnya.


"Oh.. itu.. aku membuat teh, dingin sekali malam ini," Ucap Tasya, sambil mengangkat gelas teh yang baru saja ia buat.


"Mas mau?" Sambung Tasya.


Banyu hanya menggelengkan kepalanya dan terus menatap istrinya tersebut. Tatapan Banyu membuat Tasya salah tingkah. Baru kali ini ia di tatap oleh Banyu dengan begitu dalam.


"Nambah kopi?" Tanya Tasya lagi.


Lagi-lagi Banyu menggelengkan kepalanya, tanpa membuant tatapan nya sekalipun pada Tasya.


"Oh ya sudah. Aku kedepan dulu ya.." Dengan grogi, Tasya mencoba menghindari Banyu.


"Rafis sudah tidur?" Tanya Banyu.


Langkah kaki Tasya tertahan, ia menoleh kebelakang dan menatap Banyu dengan seksama.


"Sudah," Jawab nya, yang nyaris tidak terdengar di telinga Banyu.


"Oh.." Sahut Banyu seraya mengangguk.


"Aku ke depan dulu ya mas." Tasya kembali berjalan meninggalkan Banyu sendirian di dapur.


Banyu tersenyum kala Tasya sudah berlalu dari hadapannya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu ia berjalan menyusul Tasya yang baru saja duduk di ruang keluarga. Televisi berukuran 32 inch masih menyala di ruangan tersebut. Seorang presenter tengah membicarakan berita kriminal pada malam yang beranjak larut ini.


"Eh.. mas.. duduk sini." Ajak Tasya saat menyadari Banyu yang menyusul dirinya di ruang keluarga tersebut.


Tanpa kata, Banyu duduk disamping Tasya yang mulai kembali grogi saat Banyu duduk disamping dirinya.


"Ba-bapak mana mas?" Tasya memulai pembicaraan diantara mereka berdua.


"Sudah masuk ke kamar." Sahut Banyu.


"Oh.." Tasya meraih gelas teh nya, lalu menempelkan kedua telapak tangan nya pada dinding gelas yang terasa hangat tersebut.


"Kedinginan?" Tanya Banyu seraya terus memperhatikan Tasya.


"Sedikit. Mas tidak kedinginan?" Tanya Tasya seraya menatap suaminya tersebut.


Mereka pun bertemu pandang. Lalu tanpa kata, wajah mereka pun terlihat sama-sama mulai memerah, karena malu dan salah tingkah.


"Malam-malam ku selaku terasa dingin.." Celetuk Banyu.


"Heh?" Tasya mengerutkan keningnya seraya terus menatap Banyu dengan tatapan yang terlihat bingung.


"Eh.. anu.. itu.. maksudnya.. ac di kamar ku dingin. Jadi aku selalu kedinginan." Pipi Banyu terlihat semakin memerah. Sedangkan Tasya mulai terlihat semakin canggung.


"Memang tidak bisa di naikan suhunya?"


"Naikan? Eh.. maksudnya suhunya di naikan?" Tanya Banyu dengan wajah yang terlihat polos.


"I-iya.. terus apa yang di naikan?" Tanya Tasya kembali.


"Hmmm.. ya suhu nya." Sahut Banyu.


Mereka berdua terdiam dan sama-sama mengalihkan pandangan mereka ke televisi yang masih menyala.


"Sepertinya ada yang mau mas tanyakan," Ucap Tasya tanpa melepaskan pandangan nya pada acara televisi tersebut.


"Bertanya?"


"Ya.." Sahut Tasya.


"Hmmm.. apa ya?"

__ADS_1


"Loh.." Tasya mengerutkan keningnya dan menatap Banyu dengan seksama. Sedangkan Banyu terlihat bingung dengan dirinya sendiri sambil membalas tatapan Tasya.


"Tidak ada yang mau di pertanyakan?" Tanya Tasya lagi.


"Ada sih.."


"Apa?" Tasya tampak begitu bersemangat.


Banyu terdiam beberapa saat, lalu ia mencoba tersenyum simpul.


"Bagaimana perasaanmu?"


Mendengar pertanyaan Banyu, Tasya pun terdiam membisu. Ia menundukkan pandangan nya dari Banyu.


"Perasaan apa?" Tanya nya, mencoba untuk terlihat tidak mengerti dengan arah pertanyaan dari Banyu.


"Perasaan kamu saat ini. Seperti yang kita tahu, awalnya kamu mau bertunangan dengan Putra, dan tanpa rencana ternyata kamu menikah denganku."


Tasya menyeruput teh nya dan kembali meletakkan gelas teh nya di atas meja. Lalu ia memberanikan diri menatap Banyu yang terus menatap dirinya.


"Aku tidak tahu."


Banyu menelan saliva nya dan menundukkan pandangan nya, kala Tasya menjawab di luar ekspektasi yang ingin ia dengar dari Tasya.


"Bisakah kita tidak usah membahasnya lagi? Yang terpenting saat ini, aku sudah menjadi istrimu."


Banyu kembali terdiam, ia menatap sorot mata Tasya yang tampak lelah.


"Maafkan aku," Ucap nya dengan penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa." Tasya kembali menyeruput teh miliknya dan kembali melemparkan pandangan nya pada acara di televisi di depan nya.


"Ada yang mau aku tanyakan lagi. Boleh?" Tanya Banyu dengan memasang wajah yang tampak serius.


Tasya menoleh dan kembali menatap kedua mata Banyu yang teduh.


"Apa?" Tanya Tasya dengan jantung yang berdebar kencang.


"Memangnya mau nanya apa?"


"Apa ya..." Banyu mengigit bibirnya, tangan nya mulai gemetar tidak menentu.


"Mas.." Desak Tasya.


"Ya?" Banyu menatap Tasya dengan wajah yang terlihat bingung.


"Mau tanya apa?"


"A-aku ti-ti-tidur dimana?"


Deg!


Tasya terdiam, tetapi ia juga ingin tertawa terbahak-bahak saat mendengar pertanyaan polos dari Banyu.


"Kok diam?" Tanya Banyu.


Tasya mengerjapkan kedua matanya dan menghela nafas panjang. Lalu ia menoleh kearah pintu sebuah kamar.


"Disana mas." Tasya menunjuk pintu kamar tersebut.


"Sendiri? Eh.. maksudnya.. itu.. apa.. aku mau tidur.. sudah ngantuk." Banyu terlihat semakin grogi.


"Itu kamarku mas." Ucap Tasya.


Banyu dan Tasya kembali bertemu pandang. Lalu tak lama kemudian mereka saling tersenyum malu-malu.


"Mas capek? Mau tidur duluan?"


"Kamu tidak capek?" Banyu balik bertanya.


"Capek sih, tapi aku mau menghabiskan teh ku dulu."

__ADS_1


"Mau aku bantu habiskan?" Tanya Banyu, seraya meraih gelas teh milik Tasya. Tanpa sempat Tasya menjawab pertanyaan nya, Banyu sudah menenggak habis sisa teh tersebut. Tasya terdiam saat Banyu meletakkan gelas teh itu kembali di atas meja.


"Biar cepat habisnya," Ucap Banyu seraya ngusap bekas teh di bibirnya.


Tasya tampak semakin grogi, lalu ia menundukkan pandangan nya.


"Ayo tidur."


Tasya mengerutkan keningnya dan menatap Banyu dengan seksama.


"Mas.. aku..."


"Kamu belum ngantuk?"


"Bukan.."


"Belum siap?"


"Hah?" Tasya memasang wajah konyol saat mendengar pertanyaan dari Banyu.


"Lalu?" Banyu terliat tidak sabar menunggu jawaban dari sang istri.


"A-aku.. hnmm.. jadi begini.. kita kan awalnya...


"Ya?" Banyu semakin tidak sabar ingin segera mendengar jawaban dari istrinya itu.


"Iya.. mas dengar dulu.." Tasya memasang wajah cemberut, namun terlihat sangat menggoda di mata Banyu.


"Ok, Ok, mas dengarkan," Ucap Banyu seraya mendehem, serta menggeser posisi duduknya, hingga ia semakin dekat dengan Tasya.


"Jadi kan kita awalnya tidak niat menikah.."


"Terus..." Banyu terus memasang wajah yang tampak begitu penasaran.


"Iya.. jadi, ya.. aku belum bisa tidur bersama dengan mas. Eh, bukan.. maksudnya bisa tidur bersama, tetapi tidak bisa...."


Banyu terlihat mulai kecewa, ia terus menatap sang istri dengan tatapan matanya yang teduh.


"Sebenarnya aku sedang haid. Ini baru hari kedua."


Banyu menelan saliva nya. Ia menghela nafas panjang dan tertawa kecil dengan wajah yang tampak malu.


"Maaf mas."


"Tidak apa... Kalau begitu kenapa tidak bicara to the point saja dari tadi."


"Mas marah?" Tanya Tasya dengan wajah yang mulai tampak khawatir.


"Bukan sayang.."


Tasya terkejut saat Banyu memanggil dirinya dengan sebutan 'Sayang'.


"Terus kenapa?"


"Apa ya.. hmmm.. pokonya roller coaster dari tadi."


"Maksudnya?" Tasya tampak semakin bingung.


"Naik turun. Ya sudah, jangan di bahas lagi. Ayo kita istirahat." Banyu berdiri dan mengulurkan tangan nya ke hadapan Tasya.


"Naik turun apa nya mas?" Tasya masih belum mengerti dengan apa yang Banyu katakan kepada dirinya.


"Pokoknya naik turun. Sekarang sudah turun kok. Yuk.. mau di pijat? Haid kan pasti pegal-pegal."


Tasya menggelengkan kepalanya dan menyambut tangan Banyu.


"Aku mau tidur saja."


"Ya sudah, kita istirahat saja."


Tasya tersenyum dan berjalan mengikuti langkah kaki Banyu yang membawanya ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2